
"Aku khawatir tentang chips itu, sepertinya dia hidup."
"Besok kita bahas lagi. Sekarang waktunya istirahat."
"Kamu?"
"Jangan khawatir. Sebentar lagi staffku akan datang."
Akmal pun meninggalkan Abbas sendiri di ruangan tersebut dengan Tazkia yang terkurung dalam meja observasi. Tujuannya hanya satu. Mengistirahatkan tubuhnya yang sangat penat.
Saat kakinya akan melangkah keluar, Terlintas kembali maksud tujuan semula datang ke sini
"Astaghfirullah al adzim ... berkas-berkas Jamilah. Aku benar-benar lupa. Belum sempat ku urus," gumamnya.
Akmal menengok ke kembali ke gedung itu. Semua sudah tertutup. Termasuk ruang administrasi. Mengapa sesuatu yang penting sampai terlewat.
Atau aku tunda dulu rencana mengantar Jamilah. Selain surat-suratnya belum jadi,Tazkia masih dalam tahap observasi. Khawatir terjadi apa-apa dengannya.
Akmal melanjutkan langkahnya menuju rumah dinas yang hanya berjarak beberapa meter dari kompleks gedung tersebut.
"Tidur sini, Jenderal," sapa Satpam saat melintas di depannya. Satpam itu merasa heran. Beberapa hari ini tuannya tak pernah tidur di rumah dinasnya. Tahu-tahu sekarang datang dan menginap
"Ya," jawabnya singkat. Satpam itu cukup mengerti. Dia membiarkan lewat, dan tak bertanya lagi.
Akmal teramat suntuk kali ini. Tak tertarik lagi untuk sekedar berbasa-basi. Dia pun langsung menuju ke dalam rumah. Dan membuka pintu kamarnya yang sekarang masih tampak gelap.
Setelah menghidupkan saklar lampu، dia pun menuju ke kamar mandi untuk berwudhu. Agar wajah menjadi segar, dan dapat melakukan salat 2 rokaat sebagaimana dia biasa lakukan. Yaitu salat hajat atau sholat Sunnah mutlak.
Lalu kemudian dia menuju tempat tidurnya dengan wajah segar dan juga ringan. Siap untuk menjelajahi alam mimpi. Lupakan sejenak permasalahan-permasalahan yang ada. Agar nanti bisa bangun malam kembali untuk tahajjud.
Bismika allahumma ahya wabismika amut ...
ZZZzzzzzz ....
🌟
Pagi ini terlalu sayang untuk dilewatkan begitu saja. Seperti biasa Akmal mau memulainya dengan olahraga ringan sekedar jogging menuju gedung tersebut untuk menemui Abbas. Siapa tahu ada perkembangan terbaru tentang Tazkia.
"Bagaimana dia?"
"Sejauh ini baik-baik saja."
"Alhamdulillah."
"Meskipun dia tidak bernafas tapi sepertinya masih hidup. Apakah karena chips itu yang masih bersinar?"
__ADS_1
Akmal mengangguk-ngangguk. Mengamati apa yang sudah ditunjukkan oleh Abbas. Ingatannya kembali lagi pada saat dia mencabut akar itu. Bukankah masih ada sisa akar yang tertinggal di sana. Mungkin beberapa senti. Dia melihat ada pergerakan dalam tubuh Tazkia di tempat tertentu.
"Kita tunggu saja beberapa hari mungkin ada petunjuk yang lain yang bisa kita gunakan"
"Seandainya kamu, aku tinggal beberapa hari, bisa kan?"
"Jangan. Aku nggak begitu ahli tentang hal ini."
"Hm ...." Akmal tidak mengiyakan atau pun menolaknya. Dia terlalu sibuk dengan tabung kecil yang kini dia pegang bersama pipet kecilnya.
Akmal meletakkan setetes cairan itu ke bawah mikroskopnya.
"Ada apa?"
"Aku curiga dengan zat ini." Akmal terus mengamati zat itu, "Sepertinya zat ini sangat ku kenal."
"Zat apa?"
"10 tahun yang lalu aku mengadakan eksperimen tentang buah yang ku bawa dari Meksiko. Cuman aku tambahkan zat tertentu pada buah itu. Karena Jamilah, buah itu menjadi hidup begitu luar biasa. Sayang, saat akan ku bawa ke sini dicuri seorang. Aku khawatir zat itu digunakan pada eksperimen Tazkia ini. Sehingga menyebabkan dia hidup seperti manusia robot."
"Jamilah. Maksudnya?"
"Pohon yang aku buat eksperimen dulu itu benar-benar hidup. Begitu buahnya dipetik dia langsung menjadi pohon lagi dan menyerang."
"Itu yang aku khawatirkan, kalau jatuh kepada orang yang enggak benar."
"Kamu punya penangkalnya."
"Kurasa ... Mungkin sudah saatnya aku bisa uji cobakan zat penangkalnya itu. Tapi tidak sekarang."
"Mengapa?"
"Sore nanti aku akan mengantar Jamilah ke Indonesia?"
"Jamilah? Tadi kamu sebut nama Jamilah juga. Apa dia Letkol. Jamilah?"
Akmal tersenyum. Terlupa kalau tanpa sengaja dia menyebut nama seseorang yang masih ingin dia rahasiakan.
"Berarti kamu sudah kenal lama dengan Letkol. Jamilah?"
"Tetanggaku di Indonesia." Untuk apa ditutup-tutupi, toh hanya menyebutkan nama.
"Oh ....." Abbas manggut-manggut dan senyum-senyum. Sedangkan Akmal tetap serius memperhatikan zat yang ada di bawah mikroskop.
Setelah merasa cukup untuk meneliti zat yang ada di bawah mikroskop itu Akmal membereskan peralatannya dan mencucinya dengan bersih. Lalu dia mengambil sebuah botol yang berisi cairan putih seperti susu dengan sebuah pipet. Dia mengambil setetes cairan itu diberikan pada chips yang ada akarnya.
__ADS_1
"Bagaimana Akmal?"
Akar-akar itu pun sepertinya menyusut dan menyusut yang akhirnya menghilang. Kini yang nampak hanya sebuah chips saja. Yang masih bersinar terang.
"Apa aku bisa mencobanya pada Tazkia?"
"Kurasa ... kalau itu kita harus meminta izin pada Atasan."
"Ya, aku mengerti."
Akmal kembali membereskan botol kecil itu beserta pipetnya menyimpannya di tempat yang aman.
"Kamu nggak pulang?"
"Aku lagi nunggu petugas piket penggantiku."
Tak lama kemudian datang dua orang laki-laki yang memang tugas piket di ruangan tersebut. Setelah memberikan data akhir dan tugas-tugas yang seharusnya dilakukan pada mereka, keduanya pun meninggalkan ruangan itu.
"Akmal ingat! jangan kamu pergi dulu!"
Bagaimana ini? Haruskah Aku batalkan rencanaku untuk ke Indonesia. Semoga saja Jamilah bisa mengerti. Karena tak ada pilihan lain. Terlalu riskan untuk meninggalkan observasiku yang belum tuntas ini. Tazkia terbangun dan membuat ulah. Atau melarikan diri atau ... Aku menjadi was-was.
Ambil baiknya saja. Mungkin dengan ini ku temukan jawaban yang selama ini ku cari. Tentang mengapa buah itu menjadi hidup dan melukai.
"Aku usahakan." Akhirnya Akmal tak kuasa untuk menolak permintaan Abbas. Mereka pun berpisah. Abbas menuju ke rumah dinasnya. Sedangkan Akmal menuju gedung yang berada di sebelahan dengan gedung saat ini. Kantor admistrasi Departemen pertahanan. Untuk mengurus dokumen yang Jamilah perlukan.
Jamilah ... Satu nama kini mulai mengusik ketenangan angannya. Tapi dengan itu ditemukan kehangatan bila bertemu. Haruskah ku tunda kehadiranmu saat ini. Tidak!!
Tuhan,
Aku mohon perlindungan padamu dari rasaku yang mulai menguasai angan ini
Jika memang dia jodohku, ijinkan kami untuk segera bersama.
Agar diri kami bisa terjaga dari rasa dan angan sesat yang menjauhkannya dariMu.
Setelah menunggu sesaat, akhirnya dia mendapatkan apa yang dia inginkan. Surat-surat itu beres. Tinggal diberikan pada empunya.
Kini dirinya siap meluncur ke rumahnya, dimana Jamilah berada. Agar bisa kembali berkonsentrasi dengan Tazkia. Semakin dia temukan jawaban, semakin tenang dirinya.
🌟
Sementara itu, Jamilah sudah sejak semalaman merasa gelisah. Ada yang sangat mengganggu pikirannya. Bahkan tidur pun menjadi kurang tenang. Hari masih sangat gelap, pukul 1 malam, dirinya terbangun. Dan tak dapat tidur lagi.
Selesai sholat malam dan tilawah, baru kepikiran untuk menghubungi lagi Papa Hasan. Mau tak mau, dia harus menyampaikan hal ini. Tentang keseriusan Akmal yang ingin meminangnya.
__ADS_1