Peluru Cinta Sang Jenderal Hafidz

Peluru Cinta Sang Jenderal Hafidz
Papa dan Akmal


__ADS_3

Untuk sesaat dia diam, lalu berkata, "Oh ya ... Kejadian ini seperti pola penculikan yang akhir-akhir ini Papa tangani. Penculiknya selalu bebas, dan Papa selalu dapat teguran dari atasan."


"Benarkah itu, Pa."


Hasan membuang nafasnya dengan kasar. Seakan ingin menghilangkan masalah yang kini membelenggu diriya sejauh mungkin. Kasus-kasus yang dia tangani tak menemukan titik terang, bahkan kini putranya sendiri hampir menjadi korban. Apakah ini sengaja, karena mungkin saja dia menjadi target sasaran. Atau hanya suatu kebetulan saja. Sungguh ini sesuatu yang tak bisa dimengerti olehnya.


"Entahlah, Akmal. Papa tak tahu apa yang sebenarnya terjadi."


Akmal tak mengucapkan sepatah katapun. Dia diam, mencoba mencerna ungkapan isi hati dari lelaki yang ada di sampingnya. Bukannya tak punya solusi, namun tak mungkin dia bertindak yang bukan wilayahnya.


"Tak ada lagi kabar berita. Semua hilang begitu saja, bak ditelan bumi."


"Orang tuanya nggak mencari."


"Sudah, tapi belum ditemukan."


Akmal diam. Sesekali dia memainkan jari-jarinya. Ada sesuatu yang dirasa salah. Tapi tak ada keberanian untuk mengungkapkannya.


"Akmal berharap suatu saat Papa akan menemukan titik terang masalah ini. Dan penculikan-penculikan semacam ini tak terjadi lagi."

__ADS_1


"Papa juga berharap begitu."


Akmal berpikir, Apakah mereka diculik oleh orang sama dengan yang menculik Abid. Jika demikian amat berbahaya sekali. Seperti yang disaksikan saat dirinya menyelamatkan Abid. Mereka sudah bertindak terlalu jauh dengan menggunakan manusia sebagai media eksperimen. Itu sangat biadab.


Abid, Tazkia, lalu siapa lagi yang belum diketahuinya. Ini semakin rumit. Hingga dirinya bingung harus mulai dari mana, untuk menyelesaikan masalah ini. Dari Tazkia-kah, dari Abid-kah atau dari Papa Hasan yang menyelidiki penculikan anak-anak itu. Agar lebih banyak anak yang terselamatkan dari percobaan yang tidak perlu itu, pikir Akmal.


Terbersit penyesalan atas mengapa dia mengadakan eksperimen seperti itu kalau digunakan seperti ini. Bukan maksudnya untuk mengganggu masyarakat sipil, dia hanya ingin melindungi. Dan tak ada sedikitpun keinginan untuk mengganggu manusia yang tak berdosa. Ini benar-benar di luar kendalinya.


Terbayang lagi peristiwa 10 tahun lalu, tentang tanaman itu yang beberapa bagiannya telah dicuri orang.


Nuraninya tak terima, sehingga tanpa sadar Akmal berucap kata, "Ah."untuk menepis segala bayangan-bayangan yang membuat hatinya semakin khawatir. Tak sangka akan menarik perhatian lelaki di sampingnya.


Akmal mengangkat kepalanya.


"Tidak ada apa-apa, Pa. Hanya saja Akmal masih kepikiran dengan anak-anak yang diculik itu. Bagaimanakah nasib mereka?"


"Papa juga kepikiran," sahutnya kemudian. Sepintas Hasan melirik ke arah Akmal yang tak bisa menghilangkan kegusaran di wajahnya.


"Sudah jangan kau pikirkan. itu adalah urusan Papa."

__ADS_1


Akmal tersenyum. Dia tak ingin menampakkan kegusarannya di depan Hasan. Bisa-bisa dia akan menduga yang tidak-tidak. Dan akan bertanya lebih jauh tentang sesuatu yang kini belum waktunya untuk disampaikan. Tentang keadaan Abid yang sebenarnya.


"Alhamdulillah Abid selamat. Semoga yang lainnya segera dapat ditemukan."


"Aamiiin," sahutnya pelan.


"Oh ya ... sampaikan maaf Papa pada Papa mamamu. Tak bisa menerima kalian malam ini."


"Insyaallah Papa akan mengerti ... Tapi ini bukan berarti Papa menolak saya untuk mempersunting adik Ayu."


"Kalau kamu bersungguh-sungguh dan Setyawati menerimanya, apa hak Papa untuk menghalangi kalian. Tapi ingat, sebelum ijab qobul jangan macam-macam!"


"Siap, Pa."


Kembali seulas senyuman tampak tersungging di bibir Akmal. Selangkah lagi keinginan yang selama telah dipendamnya, akan segera terwujud.


Jamilah yang sudah mendapatkan kunci mobil dari Kakak Iparnya, menghampiri mereka.


"Pa, kami pergi dulu," pamit mereka beriringan.

__ADS_1


__ADS_2