
Serangan Tazkia yang beruntun, tanpa jeda dan amat mematikan. Untuk sesaat Akmal terdesak dan benar-benar dibuat hampir tak berdaya.
Namun Akmal tetap tenang sehingga mampu mengimbangi serangan Tazkia. Bahkan kini mampu membalikkan keadaan. Tazkia mulai terdesak. Serangannya sering tak mengenai sasaran. Tapi kadang kala secara tiba-tiba Tenaga Tazkia bertambah dengan sendirinya. Kembali Akmal harus berfikir ulang agar bisa menaklukannya tanpa harus melukainya atau menyebabkan dia terbunuh.
Setiap serangan Tazkia, mencoba untuk dipelajarinya. Karena dirinya sadar betul bahwa kini dia berhadapan dengan manusia robot. Yang tentu ada sesuatu yang membuatnya hidup.
Ada suatu saat, tanpa sengaja, dirinya menyentuh tangan Tazkia, bola matanya membiru, gerakannya melambat. Bahkan tangan Tazkia balik memegang kepalanya erat.
"Jenderal, tolong aku." Tangan satunya mencoba mencari suatu dibelakang tengkuknya. Belum juga menemukannya, kembali terlihat kesakitan dan menjerit. Pada detik berikutnya, Tazkia kembali menyerangnya dengan ganas.
Setelah beberapa saat, Akmal memberikan serangan mengunci, agar bisa mengakhiri pergulatan ini dengan cepat. Akmal memegang tangan Tazkia membaliknya kebelakang. Dan mendekap tubuhnya Terlihat mata Tazkia mulai terpejam. Tapi sebelum itu, dia berkata pelan, "Terima kasih, Jenderal." Dia tertidur pulas.
Dengan leluasa, Akmal menyibak rambut belakangnya dan menemukan sesuatu yang ditanamkan ke dalam tubuh Tazkia. Sebuah chip yang teramat kecil berada di sana.
Saat itu juga, Akmal ingin segera menarik chips itu, tapi benda itu seakan hidup dan berakar. Ada reaksi saat disentuhnya. Tak mau ambil resiko, dia pun mengurungkan niatnya.
Abbas, lelaki yang bersamanya kini keluar dari kegelapan.
"Kamu menemukan sesuatu?"
"Ya. Kita bawa ke laboratorium."
"Kamu lelah, biar aku yang bawa."
"Ya."
Akmal pun menyerahkan tubuh Tazkia pada Abbas. Namun baru saja tangannya menyentuh tubuhnya, Tazkia sadar. Cepat-cepat, dia melepaskannya dan memberikan pada Akmal.
"Sepertinya dia manja sama kamu."
Akmal tersenyum tipis. Robot ini antik. Dia memiliki perasaan. Bisa saja pilih-pilih. Begini ini yang membuat teman-teman bisik-bisik. Bahkan bisikan itu sampai ke Papa pula. Sampai-sampai Papa menyangka aku ada sesuatu dengan dirinya.
Mau tak mau, Akmal yang harus menggendongnya kembali sampai di laboratorium.
Sampai di sana, Akmal meletakkannya di meja observasi yang cukup besar, dalam keadaan Tazkia masih tertidur pulas.
"Bagaimana sekarang?"
"Kita ambil chipsnya. Aku ingin tahu reaksinya. Apa dia akan kembali menjadi manusia atau menjadi mayat. Atau dia akan musnah."
"Baiklah. Berarti besok baru bisa kita lakukan. Saat ini teman-t.eman sedang istirahat."
"Tidak, lebih baik sekarang. Ada beberapa orang di sini."
"4 dengan kita."
__ADS_1
"Kurasa sudah cukup. Siapkan semuanya."
Sementara Abbas memanggil teman-temannya yang masih ada. Serta menyiapkan peralatannya. Akmal mencatat secara detail keadaan tubuh Tazkia saat ini. Dia masih belum bisa percaya kalau Tazkia adalah manusia yang sudah diubah menjadi robot.
"Sudah siap, Jenderal."
"Baiklah."
Belum juga mulai, tiba-tiba Tazkia terjaga. Dia menatap satu persatu orang yang ada disekitarnya.Dia nampak bingung dengan keadaan di sekitarnya. Seperti ingin berontak
Tapi dia lemah, tak bisa bangkit. Apalagi posisi tangan dan kaki terkunci.
"Mana Jenderal?"
Saat itu, Akmal tengah berdiri di atas kepalanya sedang membelakanginya, tak menyadari kalau Tazkia terjaga. Begitu namanya disebut, Dia pun menengok.
"Aku di sini, Tazkia. Tenanglah."
Akmal segera menyentuh kepalanya berlahan. Dia kembali tenang dan tidur. Kini mereka bisa melanjutkan rencana. Mengambil chips dari tubuh Tazkia.
Ternyata tak semudah dibayangkan untuk mengambil benda itu. Dicabut tak bisa, digoyang-goyang tak bergerak. Mau tak mau mereka melakukan tindakan operasi.
Mereka pun melakukan penyayatan di daerah sekitar chips itu. Tak ada darah yang keluar, hanya ada cairan bening yang baunya sangat menyengat menetes dari alat yang mereka gunakan. Ini mengingatkan Akmal pada eksperimen yang pernah dilakukannya, 10 tahun yang lalu.
Akmal berhenti sejenak dan terus membaui cairan itu.
"Akmal, sepertinya benda ini sudah mengakar ke dalam tubuhnya."
"Benarkah?"
Kembali Akmal konsentrasi pada chips itu. Dan menyadari dengan kesulitan yang dihadapi timnya.
Akmal pun mendekati Tazkia dan berbisik berlahan, "Tazkia, bisakah kamu bantu kami."
Tak ada reaksi apapun dari tubuhnya. Bahkan kulit yang sudah tersayat. Kini kembali tertutup.
"Sepertinya kita gagal."
Kedua teman mereka menghentikan kegiatannya. Mereka berdiam memandang hasil kerjanya yang seperti sia-sia, tak ada guna. Dan tak berbekas. Mereka membereskan peralatan bedahnya. Namun mereka berhenti. Saat melihat chips itu keluar berlahan-lahan di atas kulit teluk Tazkia.
"Akmal, dia mengeluarkan benda itu sendiri."
"Benarkah."
Ini menunjukkan perkembangan kecerdasan mahluk ini yang luar biasa. Semula dikendalikan, sekarang mampu mengendalikan dirinya sendiri. Masyaallah ....
__ADS_1
Akmal mendekati tubuh Tazkia untuk membisikkan kata-kata di telinganya.
"Kamu hebat, Tazkia. Teruslah berjuang, kalahkan dirimu sendiri."
Akmal melihat seksama wajah Tazkia. Berlahan-lahan memucat. Lalu dia mencoba meraba tangan dan kakinya, terasa dingin. Tapi bukankah dia manusia robot. Bukan hal aneh bila demikian.
Hidup manusia robot ini sepertinya akan berakhir. Tapi benarkah dia akan berakhir? Masih tanda tanya besar baginya. Namun tetap saja membuatnya tak tega.
"Tazkia, kalau kamu tak ingin, bisa kamu hentikan sekarang."
Tubuh Tazkia tak memberikan reaksi apa-apa. Proses keluarnya chips itu terus berlanjut sampai akhirnya benda itu keluar dengan sendirinya.
Namun akar-akar nya tak bisa dia keluarkan dari tubuhnya. Dia masih tertancap kuat dalam tubuhnya.
"Maaf Tazkia. Aku harus lakukan ini."
Dengan hati-hati, Akmal mencabut akar-akar yang masih menancap kuat di tubuh Tazkia. Akarnya sangat halus dan panjang. Akmal dibuat geleng-geleng kepala menyaksikan akar itu kok masih saja berlanjut meskipun sudah hampir 50 cm dia menariknya. Luar biasa ....
Sayang akar itu semakin lama semakin tipis dan kecil. Mungkin karena rasa lelah yang sangat, menyebabkan Akmal secara tak sadar menariknya agak kuat, sehingga akar itu terputus.
"Ah ...." Bibir Tazkia berteriak lirih.
"Astaghfirullah al adzim."
Kini yang ada dihadapan mereka adalah sesosok tubuh tanpa napas yang tertidur pulas.
Mereka membereskan peralatan operasinya, keluar dari ruangan itu. Membiarkan Tazkia tetap berada di meja observasi. Akmal menekan sebuah tombol. Dinding-dinding kaca Yang berbentuk tempurung keluar dari lantai yang mereka tinggalkan. Menyebabkan meja observasi itu terkurung dalam sebuah ruang kaca.
"Semoga tak terjadi apa-apa."
"Aamiin ...."
Semua tampak lelah. Tak terkecuali Akmal. Kedua temannya sudah berpamitan lebih dulu. Kini tinggal mereka berdua.
"Kamu tinggal?"
"Ya. Aku piket."
"Nanti aku lihat catatannya."
"Beres. Jangan khawatir, aku akan selalu menjaganya untukmu."
Sudah capek, ngantuk, digoda pula.
"Aku serius."
__ADS_1
"Bahkan Aku dua rius," jawab Abbas sambil senyum nyengir kuda.
Begini memang suasana kalau kami sedang bertugas. Kadang suka bercanda. Untuk sekedar melepas penat. Maklumlah berhadapan dengan data-data yang kadang membuat pusing tujuh keliling. Tapi kalau sudah suka, apa mau dikata. Itu semua tak terasa.