Peluru Cinta Sang Jenderal Hafidz

Peluru Cinta Sang Jenderal Hafidz
Diam


__ADS_3

Meskipun bersungut-sungut, dituruti juga kehendak orang tuanya .


"Baiklah Pa," jawabnya dengan setengah terpaksa. Dia pun berlalu, masuk ke dalam rumah, tak lama kembali dengan menggandeng pria kecil yang tersenyum gembira.


"Asyiiiik, jalan-jalan," teriaknya dengan wajah ceria.


Siapa lagi dia. Mahluk imut dan lucu ini ... Gemes. Sayangnya bukan waktu yang tepat untuk ikut serta. Ini urusan orang dewasa. Tapi sayang aku tak berdaya. Begitulah kehendak camer. Yang membuat diriku gemeeees .... Pada orang yang ku panggil Papa itu. Sudahlah, ambil hikmahnya saja. Si imut itu bisa jadi pemanis dalam perjalanan. Sabaaaar ....


"Jangan bawa putriku lama-lama. Setengah jam harus sudah kamu antarkan pulang."


Setengah jam?!


Mana mungkin ... Ah, kok pusing-pusing amat. Yang penting Jamilah bisa ku ajak. Masalah nanti melampaui batas waktu, bisa dinegosiasikan saat sudah kembali. Hehehe ....


Aku pun mengangguk dan tersenyum, membayangkan rencana yang berputar-putar di kepala ini.


"Se ... te ... ngah ... jam!" Ucapnya dengan wajah setengah mengancam.


Kembali aku harus dibuat tersenyum. Mengapa Papa Hasan tahu saja isi kepalaku. Pengalaman mungkin ya ...? Menyerah saja dech. Apa kata nanti. Kalau lah tanpa sengaja melebihi, jangan salahkan diriku. Karena memang benar-benar tak sengaja,. Tak ada niat untuk mengingkari. Oke!


"Kami pergi, Pa. Assalamualaikum," pamit kami bersama-sama.


Kami berangkat, disertai senyum kebanggaan dan kepuasan dari Papa Hasan. Dia tampak begitu gembira menatap kami yang merasa aneh dengan keadaan ini. Pergi berombongan, beserta krucil pula. Bisa dibayangkan ramai sekali dan heboh. Benar-benar tega.


Tapi kalau dipikir-pikir, benar juga. Kami belum halal. Meskipun hanya sekedar ingin mengenal lebih mendalam. Tetap saja itu masuk katagori ihtilat. Bisa-bisa terseret dosa.


Seharusnya aku patut bersyukur, punya calon mertua yang sangat perhatian. Tak segan mengarahkan kami yang kadang-kadang berkeinginan pada hal yang bisa membuat kami terlena pada hal yang nyrempet-nyrempet dosa.


Tak hanya diriku yang merasa aneh dengan suasana ini. Mang Umar pun tertawa melihat kami datang secara rombongan.


"Kita mau piknik kemana, Den?"


"Jangan ngledek, Mang. Aku juga pusing ... Dah, yuk jalan!" ucapku setengah dongkol. Sedangkan Kak Malika dan Jamilah tertawa kecil menikmati suasana hatiku yang agak galau. Hanya satu mahluk saja yang terlihat gembira, tak terpengaruh dengan suasana ini, lelaki kecil itu.


Begitu masuk mobil, lelaki kecil itu bermain-main sejenak dengan Jamilah. Tampak hangat dan menyenangkan. Puas dengan itu, Dia memainkan kaca jendela mobil, mulailah melihat-lihat keluar. Hampir saja kepala kecilnya keluar, kalau Kak Malika tidak mencegahnya.


"Ayo, Abid. Nggak boleh itu."


Tingkahnya yang tak bisa diam, membuat Kak Malika merasa sungkan.


"Abid, duduklah!"


Yang diberi peringatan, tak mengindahkan. Bahkan dia melewati sela-sela tempat dudukku dengan Mang Umar.


"Abid!" Ucapnya dengan agak lebih keras.

__ADS_1


"Sudahlah, Kak. Biarkan saja. Namanya juga anak-anak."


Benar juga ide Papa Hasan, menyertakan mahluk kecil ini ikut serta. Bisa menjadi penghiburku. Karena ku lihat Jamilah dan Kak Malika masih enggan bicara.


"Sini yuk!"


Dia tak sungkan denganku. Berdiri di depanku sambil menghitung mobil yang berpapasan dengan kami.


"Sini, yuk. Duduk sama Om."


Ku raih tubuh mungilnya dalam pangkuanku.


"Tidak, Ah. Abid mau lihat mobil."


"Nanti Om belikan es krim," rayuku.


"Benel lho, Om." Ia menatapku tajam disertai senyum gembira.


Mempan juga rayuanku dengan modus es krim. Dia kini tak lagi memberontak. Dia duduk tenang bersamaku, meski masih menghitung mobil-mobil di jalanan. Mungkin dia bercita-cita punya showroom mobil. Sekarang dihitung dulu berapa mobil yang akan dimasukkan ke dalamnya. Hehehe ....


Sebenarnya itu hanya pengalihan pikiranku yang lagi galau-galau gimana. Belum bisa membuka pembicaraan dengan wanita yang ada di samping Kak Malika. Dia tampak diam saja, semenjak Abid berpindah tempat. Ingin menegurnya, tapi tak tega. Sudahlah, nanti kalau ada kesempatan aku akan bicara. Aku penasaran, sesaat lalu terlihat ceria, dalam perjalanan ini mengapa diam. Apa ....


"Kak. Toko perhiasan dimana?"


Aku mencoba fokus ke tujuan semula.


Dia menyerahkan handpone-nya. Dia menandai tempat yang akan kami tuju.


"Mang, ke sini."


"Baik, Den."


Mang Umar segera membelokkan mobilnya ke arah.yang ku tunjukkan. Kompleks pertokoan yang cukup modern di kawasan ini.


"Ini Kak. Terima kasih." Ku serahkan kembali handphone-nya.


Begitu mobil berhenti, lelaki kecil ini membuka pintu mobil sendiri dan berlari keluar menuju kedai es krim. Dengan panik Kak Malika mengejarnya.


"Eh ... Aku tinggal dulu, ya."


"Eh ... ya Kak." Belum sempat Aku mengeluarkan dompet dari dalam sakuku. Mereka sudah menghilang. Ingin mengejar, tapi ingat kata Papa Hasan. Ku urungkan saja untuk mengikutinya. Khawatir waktuku habis. Totalannya belakangan saja dengan Kak Malika tentang es krim Abid.


Aku melirik sejenak ke arah Jamilah yang terlihat tertawa menyaksikan tingkah si kecil itu yang menggoda Kak Malika.


"Yok, kita pilih cincin. Aku khawatir waktu yang dikasih Papa, tak cukup untuk kita."

__ADS_1


"Hehehe ... Kak Bara, ada-ada saja." Hanya itu saja suara yang keluar. Setelah itu sunyi senyap tak ada percakapan lagi. Kurasa Itu lebih baiklah dari pada tadi.


Kami pun berjalan menuju toko perhiasan yang berada tepat di hadapan kami. Meninggalkan Mang Umar yang juga menyusul keluar menuju kedai kopi.


"Kamu mikir apa, dari tadi diam?"


"Eeggh ... Bingung," ucapnya dengan suara agak sendu. Hingga membuatku mengeryitkan dahi.


"Mikiran apa juga. Apa kamu masih ragu?"


"Eee ... Ragu itu wajarkan, Kak. Cuman bukan itu yang aku pikirkan."


Sejenak dia menatapku. Lalu menundukkan pandangannya kembali pada etalase yang berisikan perhiasan.


"Wajar saja. Apalagi soal yang begini. Sudah bismillah belum?"


"Sejak awal."


"Syukurlah. Lalu kamu mikir apa."


Dia diam sejenak, seperti ragu ingin mengatakannya. Setelah mengambil nafas panjang dan melepaskannya berlahan, dia berhenti memilih perhiasan. Dia beralih menatapku.


"Kalau sudah menikah, apa Ayu harus ikut Kakak."


Ooo ... Ternyata ini yang dipikirkan. Good ... good ... good.


"Oh itu ... Bagaimana ya ...."


Kalau boleh jujur, maunya seperti itu. Tapi kalau mendengar cara bicaranya, sepertinya dia masih berat meninggalkan orang-orang yang menyayanginya selama ini.


"Kita pikirkan nanti. Sekarang kita nikmati dulu prosesnya. Biarkan orang tua kakak ke rumahmu dulu. Melamarmu secara resmi ... Oke."


"Terima kasih, Kak."


Dia kini tampak lebih bersemangat. Terlihat dari sinar matanya yang berbinar. Dan terlihat antusias memilih perhiasan yang dia inginkan.


Mungkin kalau Ayu sudah mengenal arti rindu, dia akan mengikutiku dengan kesadarannya. Tak perlu aku memaksa-maksa dengan alasan apapun.


"Jadi nanti malam?"


"Ya, insyaallah. Semoga tak ada halangan lagi."


"Aamiin."


KAKKK AYUU ...

__ADS_1


Itu seperti suara anak kecil yang memanggil nama Ayu. Dari kaca yang terpasang di dinding toko itu, Ku lihat tangan kecil menggapai-gapai, keluar dari pintu mobil jip berwarna hitam yang melaju kencang


Aku tersentak. Jangan-jangan ....


__ADS_2