
Aku tak mengerti apa maksudnya dengan pemberian itu. Apakah dia menganggap diriku istimewa. Atau bagaimana ... Yang pasti aku tak pernah ada berfikir macam-macam dengan Komandan. Baru ku tahu belakangan ini, kalau dia bernama komandan Santoso.
Ingin ku tolak, tapi Kak Akmal menyuruhku menerimanya meskipun kadang kala tertangkap olehku kilatan matanya yang tak suka. Tapi setiap kali aku ingin mengatakan untuk tidak memberi ku lagi. Dia selalu geleng kepala. Katanya,"Eman. Coklatnya enak."
Begitulah Kak Akmal. Setiap coklat yang ku terima, dia yang menghabiskanya. Tak menyisakan sedikit pun untukku. Katanya, " Ini tak baik untuk penyembuhanmu." Aku yakin itu hanya akal-akalan nya saja. Aku benar-benar gemes dibuatnya. Untungnya, dia bawa buah-buahan sebagai gantinya. Buah yang aneh, tapi lezat-lezat. Impas ... Dia dapat coklatnya. Aku dapat buahnya. Tak jadi marah dech ....
Dasar Kak Akmal. Tak tahu kah dirinya kalau aku jadi tak enak hati dengan komandan. Seolah-olah aku memberi harapan. Padahal sedikitpun aku tak ada rasa. Ini membuatku dalam dilema.
Dan tentang bunganya mawar itu. Dia hanya boleh sehari bertengger di vas yang sudah dia bawakan. Besoknya sudah berpindah pada sebuah pot. Entah apa maksudnya. Setiap ku tanya. Jawabnya selalu sama, "Kasihan bunga ini. Dipetik untuk senang-senang saja. Andaikan dibiarkan hidup, dia semakin cantik."
Batang yang hampir layu itu dia rawat. Aku hanya bantu menyemprotnya saja di pagi, siang dan sore hari. Tak sangka dia bisa tumbuh kembali. Dalam waktu 2 hari sudah bertunas. Pada hari ketiga sudah ada kuncup kecil-kecil. Hari ke 4 sudah bermekaran kembali. Agak berbeda sich, ukurannya. Makin imut, tapi makin cantik dan indah. Apalagi dalam jumlah banyak, bergerombol pula. Membuat para perawat kagum dan ingin memiliki. Sayang, bunga itu hanya untukku seorang. Maaf ya ... Kalian tak boleh.
Saat bunga itu datang lagi. Dia bawa vas yang lain lagi. Makin banyak koleksi bungaku dari Kak Akmal. Walau asal nya dari komandan. Tapi kan sudah layu di hari kedua. Jadi ini murni dari Kak Akmal.
Andai Kak Akmal itu Kak Bara. Kakak yang kurindukan selama ini ....
"Hayo, melamunkan komandan ya ...."
"Bukan."
Entahlah, kalau sama Kak Akmal ngomong apapun terasa nyaman. Tapi jangan sampai aku terjebak. Malu ....
"Lalu?"
"Udah Kak. Aku mau habiskan sarapanku dulu."
Jawabnya hanya senyum. Lalu kami melanjutkan sarapan yang sempat tertunda. Setelah selesai semua aku membereskan peralatan makan. Membawanya ke pancuran yang ada di taman depan kamar. Mencucinya dan merapikannya kembali agar Kak Aisye kalau ke sini nanti sudah tak repot lagi.
Sedangkan Kak Akmal mengamati bunga mawar tanamannya yang ada di atas tembok kecil yang memisahkan antara beranda dan taman kecil yan ada di depan kamarku. Dia mengamatinya secara seksama. Serius banget, lalu mencatatnya pada buku saku yang selalu dibawa kemana-mana. Kalau seperti ini seolah-olah diriku melihat Kak Akmal adalah Kak Bara. Hingga tak sadar, aku pun memanggilnya.
"Kak Bara."
Ya Allah apa yang baru saja ku ucapkan.
Untungnya bersamaan dengan Komandan datang menghampiri kami. Hingga Kak Akmal tak sempat mendengar panggilanku.
"Assalamualaikum ... Letjen Akmal."
"Wa alaikum salam ... Komandan."
__ADS_1
Komandan tak berhenti. Dia melanjutkan langkahnya menghampiriku.
"Bagaimana keadaanmu, Jamilah?"
"Alhamdulillah. Sudah lebih baik."
Dan seperti biasa, dia tak melupakan untuk membawa bunga dan juga coklat. Yang langsung diberikan padaku. Wah ... Kalau begini, sekali lagi aku harus dilema. Menerimanya dengan memberi harapan palsu, atau menolaknya rasanya tak tega.
"Terima kasih, Komandan." Aku pun tak kuasa menolaknya. Sedangkan Kak Akmal melirikku sambil tersenyum. Tapi yang kurasakan senyum itu tak indah. Apa sih yang Kak Akmal sembunyikan padaku. Penasaran ....
"Jamilah, ini nanti jam 7 aku harus pergi. Ada tugas baru."
" Jamilah hanya bisa ucapkan ... selamat bertugas, Komandan. Semoga sukses ... "
"Terima kasih, Jamilah. Cepat sembuh ya ... Aku tunggu di Indonesia. Dan ini tolong dibaca." Dia menyerahkan sepucuk surat padaku.
Mengapa harus pakai surat? Kalau akan ngomong, langsung saja kenapa? Bukankah aku ada di depannya. Memangnya apa isinya. Laki-laki di sekitarku ini pandai membuat teka-teki. Mereka tak berperasaan. Mereka tahu kalau untuk mengenal diriku saja, aku perlu bimbingan. Tapi baiklah, dari pada menyakiti.
"Ini tentang apa, Komandan?"
"Ya, kamu baca saja. Nanti juga tahu. Tapi jangan sekarang."
Dia tersenyum lalu bangkit. Melihat arloji yang melingkar di tangannya. Dan menghampiriku yang masih memegang bunga darinya.
"Sudah, aku antar kamu ke Letjen Akmal."
"Nggak usah, biar Jamilah sendiri."
Dia memaksa. Diriku benar-benar tak nyaman dengan kebaikannya. Tapi untuk menolaknya takut menyinggung perasaannya. Dia pun mendorong kursi rodaku ke arah Kak Akmal.
Baru beberapa langkah, kulihat Kak Akmal berjalan menghampiri kami. Dia pun berhenti,
"Letjen, aku titip Jamilah."
"Tenang saja, Komandan. Bukan begitu Indah Ayu Jamilah."
Indah Ayu Jamilah. Sepertinya aku pernah mendengarnya. Tapi dimana? Yang jelas baru kali ini Kak Akmal mengucapkannya.
"Ya, sudah. Assalamualaikum warahmatullahi wa barokatuh."
__ADS_1
"Wa alaikum salam warahmatullahi wa barokatuh."
Kami mengantarkannya sampai menghilang di balik lorong paviliun ini.
"Asyik, dapat coklat lagi."
"Nggak boleh. Ini coklat terakhir biar untuk Jamilah saja, Kak."
"Indah Ayu Jamilah!"
Selalu begitu. Kata-katanya yang menginterupsi membuat aku tak berdaya untuk menyerahkan benda itu padanya. Tapi ini coklat terakhir. Aku pingin tahu rasanya gimana.
"Please, Kakak. Ini untuk Jamilah."
"Adik manis. Kok begitu."
Di hadapannya selalu saja dia memperlakukanku sebagai anak kecil, yang mudah di goda. Ini sangat-sangat menjengkelkan. Awas! Hari ini tak kan ku berikan coklat yang hanya sebatang ini. Bukan berarti membuka hati pada komandan. Tapi aku ingin tahu rasanya.
Aku lega saat melihat dia mengalah. Meski pakai nafas berat pula. Biarkan saja ... Sekali-kali.
Dia mendorong kursi roda ini sampai di kamar dengan aksi diamnya. Tapi seingatku Kak Akmal memang begitu, tak banyak bicara. Sekali-kali ku dengar nafasnya yang berat. Apa karena sikapku ya? Ah, sudahlah. Peduli amat. Amat (nama orang) saja tak peduli.
Sampai di kamar, dia masih diam. Dia pun mengambil buah yang ada di atas nakas. Mengupasnya lalu memberikannya padaku.
"Ini, makanlah."
Aku jadi nggak enak hati dengan sikap diamnya.
"Baik, ini coklatnya untuk Kakak."
"Nah, itu lebih baik." Dia menerimanya dengan tawa yang membuatku jengkel. Aku kena tipu lagi. Rasanya mau ku uyek-uyek itu orang. Jari-jari ini rasanya sudah gatal.
"Pingin?"Dia menghentikan gigitannya. Dan menyodorkannya padaku.
"Nggak!" Rasanya dada ini mau meledak. Masa coklat sudah digigit diberikan padaku. Yang benar saja.
"Marah ya ... Maafkan Kakak. Nanti aku ganti nunggu kamu sembuh."
"Nggak usah!"
__ADS_1