
Namun buku itu pun tidak bisa membuatnya tenang. Bahkan membuat berprasangka lebih mendalam. Bukan sebagai adik-kakak yang selama ini dia duga. Namun sebagai hubungan antara pria dan wanita. Ada rasa di sana yang kini membuatnya gelisah. Apakah ini sebuah kewajaran ataukah sebuah kesalahan? Aku merasa itu sebuah kesalahan.
Kalau melihat dari judul buku yang diberikannya padaku, Dia akan mempersiapkan sesuatu yang penting dalam hidupnya yaitu pernikahan. Tak baik untuk melanjutkan rasa bila tidak pada tempatnya.
Ya Tuhan, Sebenarnya apa yang telah terjadi dengan diriku. Mengapa diriku memikirkannya. Padahal kami tidak mempunyai ikatan apa-apa. Astaghfirullah al adzim.
Blimbing hati ini Tuhan untuk selalu mengingatmu. Agar tak tergelincir pada jalan yang tak Engkau sunnahkan.
Cukuplah hari-hari kemarin sebagai rangkaian dari kesalahan yang tidak bisa diriku menghindari . Bermanja dengannya ... karena aku mengira dia kakakku yang sebenarnya. Padahal dia bukan saudaraku.
Aku berharap engkau akan memaafkan wahai Yang Maha Memaafkan.
Jamilah melangkah keluar dari kamarnya. Menyusuri ruang tamu. Melihat foto-foto yang berjajar. Momen-momen yang penting yang berhasil mereka abadikan. Kalau melihat ini semua, dugaanku benar. Bahwa Kak Akmal itu adalah Kak Bara. Dia pun tersenyum sendiri. Mentertawakan kebodohannya. Tapi, apakah maksud Kak Akmal menyembunyikan ini semua? Sudahlah, Aku tak mau memikirkannya.
Dirinya pun ingin kembali ke kamar. Namun tiba-tiba teleponnya bergetar. Ada panggilan yang masuk, dari Kak Akmal.
'Ya, Ada apa Kak?"
"Sudah makan belum?"
Kak Akmal sangat perhatian. Jangan salahkan aku bila mempunyai rasa.
"Belum."
"Makanlah! Jangan tunggu Kakak. Mungkin Kakak malam ini tidak bisa pulang. Jaga kesehatanmu." Mulai lagi dech. Siapkan telinga, agar jangan sampai ada yang terlewat apa yang dikatakannya.
"Ya, Ustadz Akmal,"jawab Jamilah.
"Kakak nggak bisa mengantarkanmu pulang, kalau kamu kurus kering. Nanti kakak pula yang disalahkan sama keluargamu."
"Ya. Jamilah ngerti kok."
"Ya sudah, Assalamualaikum."
"Wa alaikum salam warahmatullahi..."
Kak Akmal ... Mungkin ini caranya pula, untuk menghindariku. Tak menemaniku lagi saat makan yang biasa dilakukannya. Tapi tak apalah, ku rasa itu lebih baik.
Yang begini ini, yang membuat pikiran selalu merindukannya. Astaghfirullah ... Mengapa aku jadi memikirkannya. Bukankah sebaiknya aku melupakannya.
Atau sebaiknya aku membuka diri pada komandan. Dia Jelas-jelas menginginkan ... dengan perhatiannya selama ini. Ah tidak, rehat saja dulu, seperti niat semula. Ada yang berhak kurindu, Papa dan Bunda di sana.
__ADS_1
Alhamdulillah nomornya masih kuingat. Jamilah pun keluar dengan membawa handphone-nya.
"Assalamualaikum, Papa?"
"Waalaikumsalam Gimana kabarmu, Putriku?"
"Baik, Pa."
"Sudah selesai urusannya. Kerasan kali di Turki. Sampai lupa sama Papa."
Ternyata keluargaku tidak mengetahui sama sekali tentang keadaan Ku di sini. mereka menyembunyikan semuanya. Ya ... Mungkin begitu prosedurnya.
"Sudah Pa. Cuman mungkin 2 hari lagi aku bisa balik."
"Alhamdulillah kalau gitu. Papa kepikiran sama kamu. Teman-temanmu sudah pada balik. Hanya kamu yang belum. Nggak kasih kabar Papa pula."
"Aku sekarang di rumahnya Om Ulya. Teman Papa yang ada di kota Turki itu lho ..."
"Kok Bisa?"
Papa memang orangnya tak bisa dibohongi. Tapi untuk jujur, rasanya tak elok juga.
"Jamilah ketemu sama tante Naura. Diajak lah mampir. Nggak enak kan menolak permintaannya."
"Papa! Sekarang kan Jamilah sudah besar."
Iiiihhh ... Papa ini menjengkelkan sekali. Masih ingat saja kejadian waktu kita di sini dulu. Hanya karena aku ingin menaiki burung unta yang mereka punya. Akhirnya semua binatang peliharaan mereka, keluar kandang. Hampir seluruhnya. Tak terkecuali kuda hitam, yang kata Kak Akram itu miliknya Kak Akmal. Untung saja mereka baik hati. Dan punya banyak pelayan. Sehingga semua masalah bisa diatasi. Termaafkanlah Aku. Hehehe ....
Samar diriku melihat sebuah gerakan dari belakang. Satu tinju hampir-hampir mengenai kepala. Spontan aku menghindar.
"Papa, Sudah ya. Nanti Setiawati telepon lagi. Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
Segera Aku menutup telepon ini dan memasukkannya ke dalam saku. Lalu berbalik menangkis tendangan yang tiba-tiba mengarah ke tubuhku lagi.
"Ini orang tidak ada sopan santunnya. Orang sedang telepon, diserangnya pula." Jamilah ngedumel sendiri.
Siapa pula orang ini? wajahnya tak nampak. Cahaya yang remang-remang dari lampu taman tak bisa membuat diriku mengenalinya. Atau karena orang itu memakai penutup wajah. Kalau dilihat dari fisik dan cara bergeraknya, sepertinya dia seorang wanita.
"Siapa kamu?"
__ADS_1
Orang itu tak menjawab. Bahkan menyerangnya dengan brutal. Untung saja Dia memiliki ilmu beladiri. Juga sudah sabuk hitam. Sehingga mudah baginya untuk mengimbangi serangannya bahkan mengalahkannya.
"Tazkia."Jamilah benar-benar terkejut saat berhasil membuka penutup wajahnya. Tazkia, Dia adalah wanita yang telah mendorong dirinya dari pesawat. Menyebabkannya jatuh ke samudra yang luas. Kalau saja tak ada Jenderal yang saat itu menyelamatkannya, mungkin saat ini dirinya tidak akan ada lagi di dunia.
"Aku tak pernah punya dendam sama kamu. Dan aku tidak pernah menyakiti kamu. Mengapa kamu selalu ingin mencelakai aku. Hah!"
Pembawaan kali ya ... Meskipun sedang melancarkan tendangan pukulan pada lawan, bahkan tangkisan-tangkisan. Ternyata bibirnya ikut beraksi juga. Lebih anehnya, Tazkia kuwalahan meskipun dia sangat fokus menyerang Jamilah.
"Satu kesalahanmu. Mengapa menjadi orang yang dekat dengan Jenderal Akmal."
Ini orang ngomong apa? aku tidak mengerti sama sekali .
"Memangnya dia pacarmu? Aku tak ada bakat berebut, apalagi soal laki-laki. Bukankah jodoh sudah ada yang ngatur. Sia-sia banget kalau menyoal itu."
"Banyak kali kamu bicara," sahut Tazkia.
Kembali dia melancarkan serangan dengan cepat. Tak bisa melumpuhkannya dengan tangan kosong, Tazkia mengeluarkan pisau dari kakinya. Untung saja Jamilah waspada sehingga dapat terhindar dari tusukan pisau yang mengarah pada dirinya.
Dengan 2 jurus, Jamilah bisa melepaskan pisau itu dari tangannya, lalu meringkus Tazkia dengan tenang.
"Nona, apa yang terjadi?" kata Pak Satpam yang baru muncul diantara mereka.
"Ya ... Semua sudah selesai. Paman datangnya terlambat sih," sahut Jamilah.
"Maaf Nona."
"Ya sudah, Ini orangnya Paman. Silahkan dibawa ...." sambil menyerahkan Tazkia yang sudah tak berkutik.
Jamilah memandang kepergian keduanya ke tempat satpam. Lalu dia pun dengan santai kembali ke dalam rumah sambil merenung.
Mengapa dirinya selalu mendapatkan musuh di negara ini. Apakah karena latihan perang kemarin? Tapi tak mungkin. Bukankah itu untuk persahabatan bukan permusuhan.
Baru tadi siang, dirinya berhadapan dengan Bastian. Sekarang sedang berkeinginan menikmati kesendirian, dirinya harus menghadapi Tazkia pula. Apakah ini berhubungan dengan dirinya ataukah berhubungan dengan Kak Akmal? Tak tahulah. Memikirkannya, membuatnya menjadi lapar.
Dia menuju meja makan. Barangkali itu akan bisa mengusir kegundahan dan kekesalannya.
"Bibi hangatkan dulu ya?"
"Boleh, Bi."
Kurang dari lima menit, semuanya sudah tersaji kembali.
__ADS_1
"Ayu Jamilah, Apa yang terjadi?" Akmal setengah berlari menghampirinya.