Peluru Cinta Sang Jenderal Hafidz

Peluru Cinta Sang Jenderal Hafidz
Robohnya Dokter Fath (bab-bab akhir)


__ADS_3

Baru saja jari AkmaI menempel pada pelatuk senjata itu sudah memberikan reaksi tersendiri pada tubuhnya. Seperti rasa kesemutan pada jari-jarinya. Senjata apa ini sebenarnya? ...


Sejenak dia berfikir ingin merebutnya, namun semakin tangannya mendekat, reaksi yang ditimbulkan semakin kuat. Dia urungkan niatnya.


Dia tak mungkin berlari. Kurang selangkah lagi apa yang diinginkannya akan tercapai. Jika bisa menguasai Akmal dengan baik, semua keinginannya, ambisinya dan balas dendamnya akan terpenuhi. Tapi bagaimana caranya? Tubuhnya seakan takluk dengan apa yang dipegang Akmal.


Dokter Fath dengan cepat meraih tubuh yang berdiri agak jauh dari mereka. Tubuh cucunya sendiri, Devra. Menjadikannya tameng untuk berhadapan langsung dengan senjata yang dipegang oleh Akmal. Reaksi dari senjata itu, ia rasakan sangat berkurang


Tangan Dokter Fath memegangnya dengan sangat kuat. Menariknya secara paksa, untuk mendekat ke dirinya.


"Kakek, jangan sakiti aku!" Devra sekuat tenaga memberontak ingin melepaskan diri.


"Maafkan Kakek, Cucuku. Kamu harus ikut denganku."


"Tidak mau. Lepaskan aku!" Semakin dia berusaha, semakin kuat pula tangan Dokter Fath menjeratnya.


Santosa tidak bisa tinggal diam mendengar teriakan Devra yang meronta-ronta dalam jeratan tangan Dokter Fath. Dia bersalto sambil melepaskan tembakan. Dor dor ...


Peluru itu tepat mengenai tangan Dokter Fath. Dia terkejut sesaat. Dia hanya menampakkan senyum devilnya dan tatapan kemarahan pada Santosa yang sudah berani bermain-main dengan dirinya.


Tak ada darah yang keluar dan tak ada luka yang ditimbulkannya. Kulit itu menutup dengan cepat, menyerap peluru yang masuk ke dalam tubuhnya.


Santosa berada dalam bahaya. Tangan Dokter Fath mengejarnya. Jari-jarinya yang panjang terulur ingin mencengkeramnya. Beberapa kali bergerak mundur untuk menghindar menjauhinya. Sayang gerakannya kalah cepat dengan tangan Dokter Fath. Dalam tarikan dia sudah berada dalam genggamannya.


Santosa tidak kehilangan akal, dia langsung mengambil belati yang terselip di kakinya.


Kresss ... Satu goresan memanjang berhasil dia lukiskan di tubuh Dokter Fath.


"Aaarrgggg .... " Dia mengerang kesakitan. Ada tetesan bening mengalir dari lukanya. Dan luka itu menganga.


Oh ... ternyata senjata yang mempan pada tubuhnya adalah pisau, belati atau sejenis benda tajam lainnya.


Tanpa pikir panjang, sekali lagi Santosa menggoreskan pisaunya, namun kalah cepat dengan Dokter Fath. Dia pun melemparkannya jauh dari jangkauan Santosa.


Devra melihat peluang untuk melepaskan diri, melakukan hal yang sama. Dia melukai lengan kakeknya baik yang kiri maupun yang kanan berulang-ulang. Santosa bisa lemas, namun dirinya makin erat dalam cengkeramannya.


"Kamu sama aja dengan mamamu yang tak bisa diuntung." Dia ingin mencekiknya.


Akmal makin bingung, bagaimana akan mulai menembak jika dua orang itu menghalanginya. Bisa-bisa salah sasaran. Saat melihat Santosa lepas, mungkinkah ini saat yang tepat. Namun belum sampai melepaskan tembakannya, tubuh Devra menghalangi sasarannya.


Akmal masih sabar, tapi juga khawatir, kalau diteruskan mereka akan kalah. Saat ini juga, dia harus menghabisi Dokter Fath, biang kerok permasalahan ini. Tapi bagaimana ....


Tiba-tiba ada sebuah tangan yang memegang jari-jarinya dan membimbing menarik pelatuk itu. Dan kemudian ....


Thessss ... Thesss ... Terdengar suara yang teramat lembut dan dua cahaya yang berkilauan berjalan beriringan, melesat dengan cepat ke tubuh Dokter Fath. Tepat mengenai jantung dan kepalanya.

__ADS_1


"Aaaaagggghhhrrr ...." Suara Dokter Fath menggema. Tak lama kemudian tubuhnya jatuh tersungkur. Tak ada luka maupun darah yang keluar. Hanya saja tubuhnya memutih dikerubungi kutu kebul. Tak lama kemudian menjadi kaku dan menghitam.


Dia tergeletak begitu saja, tak ada yang berani mendekatinya. Apalagi Profesor Amar dan Akmal melarang mereka. Demi keamanan mereka juga.


Alhamdulillah ... Engkau telah mengijin diriku mengakhirinya.


Akmal menengok ke belakangnya, siapa gerangan yang telah membantu dirinya untuk menembak Dokter Fath.


"Bastian, Kamu di sini?" Akmal terkejut dan juga gembira, karena penembak jitu yang menjadi teman sejak pertama masuk akademi militer, kini berdiri di belakangnya. Dia menunduk, tampak sedih.


"Maafkan Aku Akmal, selama ini sering mengganggumu."


"Sudah aku maafkan. Sejak dulu aku selalu berharap engkau segera sadar dan kita bisa bersama lagi.'


"Sebenarnya aku telah terinfeksi lebih dulu daripada Taskia. Kami tak bisa lepas dari genggamannya."


"Aku tak tahu kalau kamu juga terinfeksi seperti Tazkia. Maafkan aku, telah salah sangka padamu."


"Tidak apa. Aku yang salah."


"Bagaimana kamu tahu, aku ada di sini?"


"Ya ... Beberapa hari yang lalu aku dengar kamu sedang menyembuhkan Tazkia. Aku mencarimu. Sayang aku sedikit terlambat. Kamu telah pergi. Syukur lah aku tahu kalau kamu ke sini. Aku pun menyusulnya. Aku sangat khawatir, karena target utama adalah kamu, orang pertama yang telah membuat revolusi tentang adanya zat trans yang mampu merubah genetik dasar manusia menjadi manusia pohon."


"Untungnya aku datang tepat waktu. Aku tidak tahu apa kalau aku terlambat sedikit saja. Bisa-bisa kurban semakin banyak dan tidak bisa disembuhkan. Dan yang lebih mengerikan adalah keinginan Dokter Fath menguasai dunia dengan keamanan yang dia ciptakan. Sangat mengerikan."


"Tapi bukan itu tujuanku."


"Aku mengerti, tapi dia telah menggunakan untuk itu."


"Aku sangat menyesal. Apalagi sudah banyak jatuh korban."


"Tak apa, masih ada waktu untuk memperbaikinya."


"Terima kasih, kamu telah memberikan padaku secercah harapan. Semoga bisa terwujud ."


"Aamiin ..."


"Itu tak gratis. Kamu harus menyembuhkanku."


"Akan kucoba, bersama yang lainnya juga. Karena sepertinya lebih banyak dari perkiraanku selama ini.


"Ya, aku mengerti. Pasukan itu, kan."


Tentu yang dimaksud Akmal pasukan manusia pohon yang menghadang pasukan mereka.

__ADS_1


"Ya."


Tiba-tiba saja tubuh Akmal luruh, air bening keluar dari sudut matanya. Ada isak tangis lirih terdengar dari bibirnya.


"Akmal?"


Tak ada suara yang keluar sampai beberapa saat. Bastian pun tak berani mengganggunya.


"Namun harus dibayar mahal. Aisye dan Ayu Jamilah harus pergi," ucap Akmal dengan pandangan kosong.


Bastian tak mampu berkata-kata. Dia pun turut larut dalam kesedihan Akmal. Meskipun dia tahu Akmal amat perasa, tapi tak pernah dia menyaksikan Akmal se-emosional ini. Dia menangis ....


Dia hanya bisa menunggu tak bisa apa-apa, ingin menghiburnya, khawatir akan membuatnya semakin sedih.


"Sabar ya ...." Hanya kata itu yang bisa keluar dari bibirnya.


"Terima kasih."


Tak lama kemudian Akmal bangkit. Keadaannya lebih tenang.


"Aku ingin lihat mereka untuk memastikan."


"Itu lebih baik," hiburnya kemudian.


Akmal mencoba menghubungi Chris.


"Bagaimana? Sudah kau temukan mereka?"


"Sampai saat ini, akses ke lokasi terakhir dia ada belum bisa terhubung."


"Tak bisa dilacak, kah?"


"Sudah. Sayangnya kosong. Semuanya komunikasi terputus begitu saja sejak tembakan itu terjadi."


"Kamu bisa hubungi Sellin, kan?"


"Sellin juga nggak bisa dihubungi."


"Oh ... Akan ku coba lagi mencari mereka."


"Makasih, Chris. Kalau ada perkembangan, tolong hubungi aku."


"Pasti."


Tak ada jalan lain bagi Akmal, lebih baik dia mencari sendiri ....

__ADS_1


__ADS_2