
Jari ini sudah ingin menyentuh nomor-nomor yang ada di benda pipih ini. Namun dia urungkan seketika saat melihat arah jarum jam dinding masih menunjuk ke angka 2 lebih sekian. Masih terlalu pagi untuk menghubungi Papa. Yang saat ini mungkin baru saja turun dari sholat subuh. Daripada membuat orang tua terkejut, lebih baik ditunda saja. Menunggu saat dirinya selesai sholat subuh juga.
Suntuk, membosankan dan gelisah. Rasa itu bergantian mampir dalam jiwa. Ingin tidur lagi, mata ini tak mau terpejam. Meski semalaman, telah terjaga.
Jamilah keluar kamar menuju ke dapur. Dia mencoba membuat sesuatu yang bisa dijadikan sebagai minuman hangat. Untuk dijadikan teman saat membaca buku-buku yang telah dibelinya.
Ah tidak! Lebih baik mengambil sebuah buku yang ada di perpustakaan. Mungkin itu lebih baik, daripada novel-novel yang ia miliki. Meskipun novel lebih menarik. Takut angan ini akan menjadi sesat apalagi saat hati ada tumbuh rasa berbunga-bunga. Pada akhirnya akan berkhayal tentang dia.
Baru juga, aku membersihkan kulit ari jahe yang telah aku ambil dari dalam kulkas. Ada tangan yang menyentuh pundak ini. Seketika bulu kudukku meremang. Ku kira hantu rumah ini yang lagi iseng. Ternyata Bibi Umaimah. Hampir saja aku piting dia. Refleks ... Untung tidak jadi.
"Nona mau bikin apa?"
"Bikin wedang jahe, Bi."
"Saya bikinkan saja, Nona."
"Tidak, Bi. Ini sudah hampir selesai. Tinggal tuang airnya saja."
"Ya sudah. Apa perlu bibi buatkan pisang goreng. Buat teman minum."
Hem ... Sepertinya kalau ini, aku sulit untuk menolaknya. Tapi, malam-malam begini sudah bikin keributan di dapur. Apa tidak mengganggu Tante Naura dan Om Ulya.
"Tidak Bi,"
Dia pun meninggalkanku. Dia mengambil lauk-pauk lalu menghangatkannya. Menyiapkan piring dan lainnya di atas meja. Malam-malam begini, menyiapkan makanan?
"Bibi, untuk siapa?"
"Untuk Nyonya dan Tuan. Bukankah besok hari Kamis. Biasanya mereka puasa sunnah."
"Oh ...."
"Apa Nona juga mau ikut sahur? Biar bibi siapkan."
Diriku jadi tersentuh ... Eh ... Tersentil. Lama tak pernah puasa. Selalu sibuk dengan tugas. Mumpung ada yang mengajak. Apa salahnya kalau aku mulai sekarang.
"Boleh, Bi. Nanti panggil aku kalau Mama sudah bangun. Aku ada di perpustakaan."
"Ya, Non."
Minuman yang ku buat kini sudah siap untuk aku bawa.
__ADS_1
Aku sungguh heran, meskipun Tante Naura orang Turki, tapi bahan-bahan makanan yang dia simpan tak jauh beda dengan kebanyakan yang Bundaku punya. Banyak rempah-rempah, empon-empon dari Nusantara. Kereeeen ....
Aku membawa minuman jahe itu ke perpustakaan. Menikmatinya sambil membaca sebuah buku sejarah. Sesuatu yang sangat aku sukai. Seperti membaca sebuah dongeng. Hehehe ....
Entah sudah berapa jam, aku menikmati buku itu. Sampai lupa waktu. Dan berhenti manakala ada suara Tante Naura dari tengah pintu.
"Ayu, kamu sudah bangun."
"Iya, Ma. Nggak bisa tidur."
"Kangen?"
Aku tersenyum. Ya pastilah aku kangen sama Papa Bundaku di Indonesia. Masak harus ngomong. Ku rasa itu pertanyaan tak memerlukan jawaban.
"Sama putra Mama atau sama Papamu?"
E ... Tante Naura ini bicara apa sih. Aku benar-benar nggak mengerti. Arah pertanyaan ini kemana? Tante Naura benar-benar menjebakku.
Haruskah aku jawab. Kalau aku sedang memikirkan Papa dan juga Kak Akmal. Mana jantung ini berdebar-debar bila mendengar namanya. Whualah ... Apa macam begini bila hati sedang tersentuh rasa. Tidak?! Aku tak boleh memberikan ruang itu sebelum benar-benar halal.
Tante Naura tampak tersenyum lebar sambil berjalan menghampiriku. Dia tampak gembira berhasil membuatku salah tingkah. Lalu dia menatapku lama. Aku tak bisa membalas tatapannya dan hanya bisa menunduk. Rasanya malu sekali. Sampai-sampai aku tak berani mencegahnya, manakala tangan kanannya melepas cadar yang menutupi wajah ini.
"Secantik yang punya nama. Kamu sudah siap menerima kekurangan dan kelebihan Akmal."
"Meskipun kamu tak menjawab sekarang. Tapi Mama sudah tahu tahu jawabannya, wajahmu merona." Dia pun tertawa
Aku hanya bisa meruntuki diriku. Kenapa tak bisa menyembunyikan perasaan ini.
"Mohon bimbingannya, Ma."
Lalu dia kembali memasangkan cadar yang sempat dia lepas sesaat lalu. Dan masih dengan senyumnya yang lebar.
"Biar aku pakai sendiri, Ma."
"Ya sudah. Ayo kita sahur. Mau puasa, kan?"
"Ya, Ma."
"Mama tunggu di meja makan."
"Baik, Ma."
__ADS_1
Tante Naura berjalan meninggalkanku seorang diri, yang masih merapikan cadar. Setelah selesai, aku pun mematikan saklar lampu perpustakaan. Lalu pergi mengikutinya dengan membawa cangkir yang sudah tak berisi lagi.
Sampai di meja makan, hanya ada Tante Naura. Dia sedang mengisi satu piring yang dia letakkan di sampingnya. Di hadapan kursi yang kosong. Mungkin itu untuk Om Ulya, suaminya.
"Ayo sahur!"
Uap panas dari makanan yang baru dihangatkan, membangkitkan selera makanku. Aku menuju ke sebuah kursi kosong, menanti giliran menyendok nasi itu.
Tak berapa lama, aku melihat Om Ulya menuruni tangga. Dengan wajah yang sudah bersih dan cerah menuju meja makan ini.
"Kamu juga mau sahur, Ayu?"
"Iya Pa. Ingin puasa Sunnah juga."
Tak ada lagi kata yang keluar dari bibirnya. Dia menarik kursi yang sudah tersedia piring lengkap dengan isinya.
"Jangan malu-malu Ayu. Makanlah! Nanti keburu subuh."
"Ya Ma."
Sesekali aku melihat Tante Naura mengupas kan lobster untuk Om Ulya. Atau sebaliknya, Om Ulya menyuapkan lobster yang sudah terkelupas pada Tante. Sepertinya mereka tak peduli dengan keberadaanku. Aku senyum-senyum melihat pasangan yang sudah berumur ini sedang berpacaran persis anak muda.
Wah ... Rasanya aku jadi pengganggu saja, melihat kemesraan mereka.
"Dimakan, Ayu!"
"Ya Ma." Aku melirik Tante Naura. Dia tetap biasa-biasa saja. Sudahlah hati ... jangan tergelitik dan usil. Sah-sah saja bukan mereka begitu. Nggak ada larangan. Justru itu sunnah. Bukankah benar begitu.
Bunda dan Papa juga sering melakukannya.
Tanpa banyak cakap, aku pun menikmati hidangan itu dengan tertunduk. Sampai makanan yang ada di atas piring bersih, tak ada sedikitpun sisa.
Alhamdulillah ... Kenyang. Siap untuk puasa sunnah.
Selesai sudah acara sahurnya. Om Ulya jugah sudah meninggalkan meja makan. Aku membantu Tante Naura membereskan meja makan. Lalu gosok gigi serta berwudhu menyambut subuh.
Peristiwa sesaat yang membuat diriku bahagia. Sampai-sampai aku melupakan niatan untuk menelpon Papa pagi ini.
Selesai sholat subuh, jalan-jalan ke kebun buah yang ada tak jauh dari rumah. Jangan ditanya berapa luasnya., Berhektar-hektar. Hanya separuh jalan, diriku sudah lelah. Ditambah pula mentari sudah mulai meninggi. Aku pun balik ke rumah, dengan menyusuri jalanan beraspal seorang diri. Ah bukan, ada beberapa orang yang sejak aku keluar rumah sudah mengikutiku dengan setia. Meskipun mereka mengambil jarak yang cukup jauh dengan diriku.
Macam aku orang penting saja, sampai harus dikawal.
__ADS_1
"Hai ...."
Aku pun menengok sumber suara dari sebuah mobil yang tiba-tiba berhenti, persis di sampingku.