Peluru Cinta Sang Jenderal Hafidz

Peluru Cinta Sang Jenderal Hafidz
Mengejar Penculik


__ADS_3

Jamilah sangat kaget melihat bayangan itu. Dia segera meletakkan perhiasan yang baru saja dia pilih.


"Kak, itu Abid," ucapnya.


Dia segera berlari menuju mobil. Dan segera menghidupkan mesinnya. Hampir saja berangkat kalau diriku tidak berteriak," Jamilah tunggu Kakak!"


"Mbak, tolong bungkus itu. Nanti saya ambil." Aku memberikan kartu debit sebagai jaminan.


"Ya."


Aku segera mengejar Jamilah.


"Ayu biar Kakak yang kemudikan!"


" Tidak, Kak. Ayu lebih kenal daerah ini."


"Tidak!" jawabku mantap. Aku menatapnya, menyuruhnya berpindah tempat. Untunglah Dia menurut. Dia segera pindah, memberikan kemudi mobil kepadaku.


Bukannya aku meragukan kemampuannya, tapi aku merasa tak tega. Khawatir bila trauma di kepalanya, akan kembali kambuh.


"Ke mana dia?" gumamku lirih.


"Itu." Jari Jamilah menunjuk pada mobil hitam yang melaju kencang berada jauh di depan kami.


Aku segera menambah kecepatan, supaya segera tersusul. Namun karena padatnya kendaraan saat itu, sulit sekali mengejarnya


"Kemana lagi dia?" Beberapa kali aku harus kehilangan jejak. Ini membuatku kesal.


"Sudahlah Kak. Ayu saja." mohonnya.


"Baiklah." Kali ini permintaannya sulit kutolak. Benar apa yang dikatakannya. Ini adalah daerah baru buatku. Seluk-beluk dan aturan jalan tidak aku kuasai. Berdoa saja, Semoga apa yang aku khawatirkan tak pernah terjadi. Semoga dia baik-baik saja. Aamiin ...


Aku pun segera bergeser dan memberikan kemudi padanya. Dia berpindah tempat duduk dan dengan sigap menjalankan kemudi yang kini sudah dalam kendalinya. Pandangannya tak lepas dari mobil yang menjadi incarannya. Dia tampak serius,dan terus maju, tak peduli dengan padatnya lalu lintas jalanan. Tak jarang aksinya membuat jantungku berdegup kencang.

__ADS_1


Beberapa kali dia membunyikan klakson agar dapat melewati mobil di depannya. Ketika sudah mendapatkan posisi itu dengan segera melaju meskipun harus melawan arus lagi.


Ciieeeettt ... Aku tersentak karena mendengar decitan rem dari kendaraan yang melaju di hadapan kami.


Astaghfirullah al adzim ... Hampir saja terjadi tabrakan.


Mobil itu memilih berhenti dari pada harus melawan kerasnya laju mobil kami. Entah Jamilah memang hebat, ataukah memang dia nekat, aku tak tahu pasti. Yang jelas dia sangat berani mengambil keputusan. Hingga apapun yang terjadi dia terus melaju tak peduli kendaraan lain yang harus berhenti mendadak menghindari tabrakan. Mau bagaimana lagi, kendaraan yang membawa Abid, semakin jauh meninggalkan kami.


Tak jarang dia akan mengambil posisi di tengah mobil yang jaraknya sangat dekat dengan tiba-tiba. Sontak saja mobil box yang saat itu berada di belakang kami, kaget. Dia pun mengerem tiba-tiba. Untung saja mobil di belakangnya, berkecepatan sedang. Sehingga tak sampai menimbulkan kecelakaan. Andai saja kecepatan penuh, bisa terjadi kecelakaan beruntun. Ya Allah lindungilah kami ...🤲


Kini kulihat Jamilah lebih tenang dalam menjalankan mobil, tak membunyikan klanson lagi. Dengan kecepatan penuh meninggalkan mobil-mobil yang berhenti mendadak karena ulahnya.Dia telah menyebabkan arus lalu lintas benar-benar kacau.


Kini aku bisa mengucapkan, Selamat tinggal semua ... Bye Bye, maaf semua. Kami pergi dulu, mengejar dia yang membawa adik kecil kami.


Entah mengapa, tiba-tiba dia memasuki tempat parkir swalayan yang cukup tinggi.


"Ayu, kamu ...?"


Ah, rupanya dia akan memotong jalan. Karena kurasakan mobil ini tiba-tiba melayang dan jatuh di jalanan yang berbeda. Masyaallah ... Benarkah ini Ayu. Manusia yang sanggup melakukan semua ini. Aku benar-benar tak menyangka.


Ku kira dia perkasa hanya di langit saja. Tak tahunya di darat pun, dia tak jauh berbeda. Mungkin karena dia putri seorang polisi, hingga sanggup dan berani melakukan ini semua. Atau karena jiwa tempurnya yang sudah mendarah daging. Sehingga hal seperti itu bukan sesuatu yang sulit baginya.


"Dia akan masuk tol."


"Ya, Kak. Sudah ku kira, kalau dia akan menuju ke sana." gumamnya lirih.


Semoga ini keberuntungan bagi kami. Ketika kulihat ada rel kereta api tanpa palang sebelum memasuki gerbang tol. Dan dari jauh terlihat rangkaian kereta api yang sedang berjalan. Mereka pasti akan berhenti. Untuk mendahulukan kereta itu lewat.


Tapi ternyata dugaanku salah. Mereka tetap melaju meski jarak kereta itu semakin dekat. Dan ... Mereka berhasil melewati rel itu tanpa halangan. Karena Kereta masih berjarak kurang lebih 500 meter ketika mereka lewat.


Justru kini kami yang bermasalah. Saat kami akan lewat, kereta itu sudah semakin dekat. Sedangkan Jamilah tak ada keinginan untuk menghentikan mobil ini. Dia tetap melaju dengan kecepatan penuh agar bisa melewati rel itu juga.


Aku tak bisa berkat apa-apa lagi. Hanya saja spontan tangan ini menyentuh klakson mobil secara berulang-ulang. Untuk merusak sistem magnet pada rel, agar jangan sampai mobil kami terkunci. Tentu dengan segala doa yang bisa ku ucapkan, meski hanya dalam hati.

__ADS_1


Dan alhamdulillah, kami berhasil melewati rel itu.


"Terima kasih, Kak." Dia berkata tanpa menoleh sedikitpun padaku.


"Ya," jawabku singkat.


Jamilah ... Jamilah. Jantung ini hampir saja lepas mengikuti kenekatanmu.


Kini kami sama-sama berada di jalan tol. Kurasa mereka sudah mulai sada, kalau kami ikuti. Terbukti kecepatannya semakin tinggi dibanding saat sebelum masuk tol.


Dan yang tak ku sangka, mereka membawa senjata. Ku lihat ada sebuah pistol yang keluar dari balik jendela mobilnya. Dan ...


Dor ... sebuah peluru mengarah tepat ke arah roda mobilku. Untung saja Jamilah bisa menghindar. Kami pun lolos dari bahaya. Untuk saat ini. Belum tentu nanti. Karena tak mungkin pistol itu hanya berisi sebutir peluru.


Aksi mereka hanya berhenti di situ. Tak lagi melanjutkan tembakannya. Mungkin mereka takut di ketahui petugas? Karena jalan ini di penuhi oleh cctv. Sehingga semua peristiwa yang terjadi pasti terekam semuanya. Dan akan dengan mudah untuk diketahui. Kecuali kalau sistem sudah dirusak oleh mereka.


Ternyata bukan itu alasannya, sepertinya mereka tergesa-gesa meninggalkan kami. Mereka menambah kecepatannya, sampai-sampai kami sulit mengejarnya. Tapi Bagaimana pun, dia pasti berhenti di pintu tol. Dan itu akan memperpendek jarak kami nantinya.


Kembali dugaanku salah. Ku lihat pintu keluar tol yang sedang padat, tak ku temukan mobil hitam itu di sana. Dia telah menghilang. Jamilah tetap menjalankan mobil ini meski dengan putus asa. Dan kecepatan masih tetap sama sambil berharap menemukan mobil itu kembali.


Jalanan yang kami lewati tampak sunyi. Tak nampak sebuah kendaraan di sana. Benar-benar kosong.


Hingga kami tiba di sebuah jalan yang bercabang. Jamilah tampak bingung harus menentukan jalan mana yang akan dia pilih.


"Kak?"


Aku diam, dan memperhatikan sekitar. Dari atas ini aku hanya melihat truk kontainer yang bergambar elien.


Sepertinya aku kenal dengan gambar ini. Bukankah itu gambar yang sama dengan tanda pada cips yang tertanam dalam tubuh Tazkia.


Yang membuatku kaget. Dari dalam truk peti kemas itu, keluarlah mobil yang kami cari.


"Itu dia, " kataku menunjuk pada jalan yang berada di bawah kami.

__ADS_1


__ADS_2