
Aku sudah tak punya kata lagi untuk ku kabarkan pada Papa. Mau mengelak bagaimana. Pada kenyataannya sekarang aku berada di rumah kak Akmal.
Kesedihan yang tergambar jelas di wajah Papa, menyadarkankanku bahwa aku salah.
"Papa, Maafkan Jamilah."
Tak ada kata yang terucap. Hanya bening air mata yang tampak menetes di wajah Papa. Hati ini bertambah gundah. Aku amat menyesal menyampaikan kabar ini pada Papa. Aku mengira hal itu baik, dan akan membuat Papa gembira. Tapi tidak! Pada kenyataannya Papa sangat sedih mendengarnya.
"Papa, bicaralah!"
"Papa yang salah, Nak. Tak bisa jaga kamu."
"Maksud Papa apa?"
"Tidak apa-apa. Papa sayang kamu."
"Papa jangan salah faham.Tak terjadi apa-apa antara aku dan Kak Akmal."
"Papa percaya itu. Hanya ...."
Pandangan Papa mengarah pada sesuatu yang ada di belakangku. Wajahnya mengeras menampakan kemarahan yang mendalam pada sosok yang ada di belakangku itu. Aku pun membalikkan badan. Baru Aku tahu, siapa sosok yang ada di belakangku itu. Dia adalah Kak Akmal. Sejak kapan dia telah berada di sana? Aku sungguh tak menyadarinya. Apakah dia telah menguping pembicaraan ku dengan papa. Aku segera mengusap air mataku. Meskipun kesedihan itu tak bisa aku sembunyikan darinya.
"Berikan telepon itu pada dia. Papa ingin bicara."
Aku pun menyerahkan telepon genggamku. Dia tampak tenang saat menerimanya.
"Kamu!" Satu kata yang amat keras meluncur dari bibir Papa. Aku tak mengira Kalau papa akan berkata begitu padanya.
Wajah Kak Akmal yang lelah, sesaat terlihat tersentak. Namun demikian dia tetap tenang. Tidak terpengaruh sedikitpun dengan perkataan Papa.
"Maafkan saya, tidak memberi kabar tentang ini pada Papa. Kami khawatir, Ini akan membuat Papa cemas. Ini juga atas pertimbangan otoritas kami. Tapi percayalah. Jamilah aman. Aku menjaganya sebagaimana aku menjaga adikku sendiri."
Papa!! ... Kak Akmal menggunakan kata itu untuk menyapa Papa. Bukan Om atau paman, sebagaimana biasa dia gunakan untuk menyapa orang yang lebih tua. Aku takut papa akan semakin marah. Tapi tidak ... Papa seolah tak peduli. Meski beberapa saat aku tak mendengar suaranya, seolah-olah diam untuk berpikir.
"Dia Putriku. Aku berhak tahu apapun tentang dia. Menginap di tempat kamu berhari-hari, itu sama saja dengan kamu menculik dan menyembunyikannya dariku." Kudengar Papa masih juga berteriak dengan nada yang sama. Membuat diriku semakin sedih dan tak mengerti. Aku berharap Kak Akmal tidak marah dengan sikap Papa yang demikian.
"Aku tak berpikir seperti itu, Pa. Menculik atau menyembunyikan dari Papa. ini semua untuk kesembuhan Ayu. Kalau itu menyinggung Papa, maafkan Akmal. percayalah, Pa. Dia akan pulang dengan selamat dan baik-baik saja."
"Meski kamu putra sahabatku. Tapi tak serta merta aku mempercayaimu. Kalau sampai ada apa-apa dengan putriku. Aku tak mengampunimu."
__ADS_1
"Ya, Papa."
"Satu lagi! Apa kamu sungguh-sungguh dengan putriku?"
Kulihat Kak Akmal tersenyum tipis. Seolah-olah dia menanti pertanyaan itu sejak tadi. Ekor matanya melirik padaku sesaat. Dia pun tersenyum.
"Mohon bimbingannya, Pa."
"Sudah, pergi sana!"
"Assalamualaikum." Kak Akmal menutup pembicaraan dengan Papa. Wajahnya tanpa senang, gembira dan mungkin juga bahagia. Haruskah aku senang, atau mungkin terharu dengan ketegasannya. Satu titik terang sebagai penghibur iya. Tapi apakah itu menghilangkan suasana hatiku yang sedang gundah-gulana saat ini. Itu sulit.
"Waalaikumsalam. Berikan teleponnya pada Setyawati."
"Baik, Pa."
Dia ulurkan benda pipih itu kepadaku. Aku masih sedih dan belum mengerti dengan sikap Papa yang demikian. Tak pernah aku menyaksikan Papa dalam keadaan seperti itu. Memarahiku, menangis, sangat emosi saat berhadapan orang lain di depanku. Ini baru pertama kalinya. Sebenarnya apa yang terjadi dengan papa. Aku masih takut dengan kemarahannya. Jangan-jangan masih berlanjut.
"Papa ingin bicara." Kata-kata Kak Akmal menyadarkanku. Aku pun menerima handphone itu dari tangannya.
"Nggak usah nangis. Papa berniat baik."
Sulit bagiku untuk mencerna sikap Papa dan Kak Akmal. Suasana hatiku masih kelabu. Aku hanya bisa menyesali dengan perkataanku bahwa kak Akmal akan melamarku. Tapi apalah daya, itu sudah terlanjur. Untungnya Kak Akmal tidak menolak. Bahkan memberikan ketegasan.
"Kalau nanti kamu sudah tiba, tolong telepon Papa. Papa stand by di bandara."
"Baik, Pa."
"Jaga dirimu baik-baik. Papa tunggu kamu kembali. Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
Menghadapi desingan peluru atau gelegar granat itu sudah biasa ,tapi menghadapi kemarahan Papa rasanya aku tak sanggup. Ini membuatku sangat sedih dan ingin menangis.
"Kalau ingin menangis, Menangislah!"
Bayangan kemarahan Papa masih saja mengusik anganku hingga tanpa sadar air mata ini pun kembali menetes. Untuk beberapa saat kak Akmal membiarkanku menangis sampai aku lelah dan menyadari bahwa tangis itu tidak ada gunanya. Aku pun menghentikan tangisku. Dengan ujung cadarku aku mengusap sisa-sisa air mata yang keluar dari sudut mata ini.
"Yakinlah. Semua itu Papamu lakukan karena dia sangat sayang sama kamu."
__ADS_1
Akupun mengangguk, tak menolak pernyataan itu. Meskipun aku tak mengerti dengan cara mengungkapkan rasa sayangnya itu. Semua akan menjadi jelas kalau nanti sudah bertemu Papa. Semoga kemarahan Papa berhenti dan aku bisa tenang ketika Mama Naura dan Papa Ulya datang ke rumah Papa.
"Bersiap-siaplah. Papa Mama sudah menunggu."
Aku pun kembali bangkit untuk menyiapkan bunga-bunga itu agar bisa kubawa.
"Bukankah lebih baik di sini. Atau kamu tidak menginginkan kembali ke sini?"
Ada-ada saja omongan Kak Akmal ini.
"Untuk Bunda Zulfa."
"Baiklah."
Dia pun ikut membantuku mengepak tanaman itu. Lalu membawanya ke depan.
"Kakak tidak bersiap-siap?"
"Tidak. Aku pulang Ini juga mau menyampaikan ke kamu. Saat ini aku nggak bisa ikut. Ada sesuatu yang harus aku selesaikan. Kamu nggak keberatan, kan?"
Mengapa rencananya tiba-tiba berubah. Setelah semuanya matang. Bahkan tadi sempat ku dengar ada ketegasannya, menyatakan pada Papa. Tetapi Mengapa saat ini Kak Akmal tidak ikut serta dengan keluarganya untuk datang ke Papa. Apakah hanya perwakilan saja. Kurasa itu tidak akan memuaskan Papa setelah apa yang baru saja terjadi.
Aku sadar tugas kak Akmal sangat banyak. Aku tak mungkin mengganggunya. Tapi apa Papa bisa memahami itu. Aku menjadi takut.
"Kumohon Kakak hadir saat lamaran itu."
"Insyaallah. Nanti aku akan ngomong dengan Papa Mama serta dengan atasanku di kantor, agar bisa nyusul kamu dan aku bisa hadir saat lamaran itu."
"Aku sangat berharap Kak."
"Berdoalah semoga observasi ku kali ini cepat selesai."
Meski jawabannya tidak memuaskanku, setidaknya itulah salah satu jalan agar aku bisa berharap.
"Kak, boleh aku bertanya satu hal saja. Kemarin-kemarin aku kepikiran sesuatu."
"Siapa yang ngelarang. Tanya saja!"
"Aku dengar Papa ngomong tentang Kakak dengan Tazkia. Mengapa Kakak tidak mengikuti kata Papa."
__ADS_1
Kak Akmal tertawa lebar sampai-sampai terlihat giginya.
"Aku tahu soal Tazkia, Papa tak tahu. Sudah jangan kamu pikirkan."