
Akmal pun meninggalkan mereka berdua menuju ruang tamu.
Dia sama sekali tak tahu kalau William memperhatikanya sejak tadi. Meski bibir sedang komat-kamit melafadzkan apa yang sedang dipegangnya, namun sesekali matanya melirik Akmal yang sebentar-sebentar ke dalam ke luar, bikin orang senewen.
"Cie ... Yang mau lamaran. Sudah tak sabar ingin jumpa."
"Apaan sih kamu." Tak pelak William yang tengah duduk manis denga Qur'an di tangan jadi sasaran. Dengan sedikit kesal dia mendaratkan tubuhnya di sofa depan William duduk.
Iseng-iseng Akmal membuka HP.
[Kak, jangan sampai terlambat ya ... Papa dan kita semua menunggumu]
Hah, dikirim sebelum subuh.
Inikah yang membuatku gelisah sejak bangun tidur? ... Nah kan menduga yang nggak-nggak lagi.
Akmal menatap chat Jamilah sambil senyum-senyum. Tak biasanya Jamilah seperti ini. Apakah dia mulai merindukanku ... GeEr ... Atau jangan-jangan ada sesuatu. Kok aku jadi khawatir.
Ah, buang jauh-jauh prasangka yang tidak perlu.
[Kakak sedang siap-siap, sebentar lagi berangkat], balasnya singkat.
"Ini sudah jam 7 lho, Ma."
Akmal menunjukkan jam yang melingkar di tangannya pada Naura yang kini duduk bersanding manis di samping Papa tercinta, di atas sofa yang ada di ruang tengah, dengan wajah sedikit sendu.
"Nich, Anak nggak sabaran banget." ucap Naura kesal. Dia sudah benar-benar terganggu dengan sikap Akmal yang tak seperti biasanya. Mondar-mandir tak karuan, sebentar-sebentar lihat jam.
"Anak siapa juga." goda Papa Ulya sambil menaikkan kaca matanya sedikit.
Dia menikmati sekali keributan kecil antara putra satu-satunya yang belum menikah ini dengan Mama tercintanya. Dia paling manja, paling sulit dapat jodohnya. Umur 28 lebih, masih kuat menjoblo. Rupanya sedang menunggu gadis kecilnya tumbuh dewasa. Salut buat Kakak ...
"Papa ini juga nambahi kesel Mama saja, dech."
Ulya melirik sebentar kekasih sepanjang masanya itu dengan senyum menawan. Lalu melipat koran yang dia baca.
"Oke lah Kak."
Papa Ulya luluh juga. Dia pun bangkit dari duduknya. Menggerakkan badan ke kanan dan ke kiri . Lega rasanya, meskipun tak bisa menghilangkan rasa capek, setidaknya mengurangi sedikit encoknya.
__ADS_1
"Aisye cepat ya. Itu tante Rima juga sudah datang lho!"
Orang yang punya nama pun tergopoh-gopoh menghampiri kedua orang paruh baya itu dengan menggandeng tangan mungil bidadari kecil yang masih belum sempurna memakai baju.
"Mana tante Rima, Ma?"
"Eh ya, bukan."
Saking tak tahannya dengan rengekan Akmal, begitu mendengar suara mobil disangkanya itu mobil tante Rima. Padahal itu mobil tetangga yang sedang lewat. Mama Naura benar-benar gagal fokus. Berakibat cubitan kecil mendarat di hidung mancungnya dari kekasih halalnya yang menikmati sajian drama pagi offline dengan senyum yang tak bisa lepas dari bibir.
"Sudahlah, ayo kita berangkat. Kakakmu sudah enggak sabar tuh." Papa Ulya menimpali.
"Ya ... ya," jawabnya kesel sambil merapikan baju gadis kecil yang tersenyum manis tak mengerti dengan kesibukan orang dewasa di sekitarnya. Yang di tahu pakai baju baru, pasti diajak pergi senang-senang.
"Kita mau ke mana, Ma,"
"Mau lihat Tante cantiknya Om Akmal."
"Humasa boleh kenalan?"
"Boleh ... ngajak main juga boleh."
"Asyiiiik ..."
"Ya, Ma."
Seorang laki-laki yang cukup tampan datang menghampiri menghampiri istri tercintanya yang sedang ngedumel sendiri sambil membawa tas kecil berisikan perlengkapan bocil.
"Maaf aku, Tatlim. Jadi ngerepotin kamu."
Tak ada kemarahan di wajahnya. Justru Dia tersenyum. Tanpa mengeluarkan kata-kata, dia berjongkok membantu istri tercinta merias sang bidadari kecil. Menyisir rambut pirangnya. Memakaikan kerudung serta bando di atas kepalanya.
"Dah cantik. Sapa Oma Opamu, kasih sun sayang."
Dia melepas bidadari cantiknya dengan senyum mengembang. Siapa tahu dengan begitu kedua mertuanya bisa tenang. Terutama mama Naura yang masih terlihat kesal dengan kakak iparnya yang teramat matang itu.
Terang saja, kehadiran putri kecil itu memberikan warna sendiri pada pasangan manis yang sudah tak lagi muda. Mereka balik memberikan sun sayang pada cucu perempuan satu-satunya dalam keluarga. Lalu berjalan bergandengan tangan meninggalkan ruangan itu menuju halaman, tempat mobil-mobil terparkir rapi menunggu untuk dijalankan.
"Kak Akmal ini kenapa juga. Biasanya tuh tenang, nggak banyak bicara, kita itu seneng lihatnya. Tapi sejak pagi sudah bikin heboh.'
__ADS_1
"Biasalah, Sanim. Lagi nervous. Ini baru lamaran. Nanti nikahan tambah heboh lagi, lho."
Meski ditengah kepanikan, panggilan sayang sanim dan tatlim tak lupa disematkan. Bikin adeeemmm ... deh.
Keduanya melangkah mengikuti pasangan yang telah membawa pergi bidadari cantiknya hingga sampai di halaman depan.
Di sana telah menunggu 4 buah mobil. Papa dan Mama Naura satu mobil dengan Aisye, suami dan anaknya. Sedangkan Akmal bersama William. Satu mobil ditempati hantaran yang kalau dihitung lebih dari 27 buah. Mobil yang satunya tak bisa dipakai. Tahu sendiri kan ... Kacanya bolong belum diperbaiki.
Untunglah tak lama kemudian orang yang ditunggu-tunggunya benar-benar datang. Satu mobil Pajero berhenti di jalan. Sepertinya menunggu mereka keluar.
Saat melintas, Akmal melambaikan tangan.
"Om, Tante!" sapa Akmal yang duduk tenang di mobil yang dikemudikan oleh William.
Mereka membalasnya dengan memberikan isyarat untuk berjalan terlebih dulu.
🌟
Begitu turun dari mobil, keringat dingin mulai membasahi telapak tangannya. Rasanya benar-benar gugup, padahal sudah ada orang tua di sampingnya.
"Om Akmal kenapa?" tanya bidadari kecil yang tiba-tiba saja sudah ada di sampingnya, ditemani gadis dewasa yang tertawa kecil sambil menatapnya.
"Kak Devra, membuat aku tambah gugup saja."
"Apa dia, gadis kecil itu."
Akmal tertawa kecil. Semua sudah tahu bahwa Akmal menaruh hati pada Jamilah sejak masih imut dulu. Cuman tak menyangka kalau sampai ke hubungan yang serius.
"Kakak kapan?"Yang ditanya hanya memasang wajah sendu. Hilang sudah tawa yang sesaat lalu menghias wajah cantiknya.
"Maafkan aku, Kak." Lama tak jumpa, apalagi tinggal berjauhan membuat Akmal tak tahu apa-apa tentang kakak angkatnya itu.
Akmal jadi tak enak hati. Sepertinya tanpa sengaja menyinggung perasaannya.
"Hai kenapa dengan adikku yang tampan ini ... doakan saja aku segera menyusul." ia pun menyudahi pembicaraan yang kalau diteruskan membuat hatinya perih. Lalu Devra berjalan bersama menuju rumah Jamilah. Diiringi William yang santai mengiringinya.
Tak ada lagi obrolan. Yang ada kini Akmal sibuk menata hatinya agar tak semakin gugup.
Baru juga setengah jalan, dia melihat ada yang memarkir mobil di halaman Jamilah. Siapa lagi ya ... Perasaan keluarganya sudah lengkap. Mereka juga membawa hantaran sama sepertinya.
__ADS_1
Akmal berjalan sambil memperhatikan orang-orang yang keluar dari mobil itu.
Lho, ada apa dengan Santosa? Ada perlu apa dia?