Peluru Cinta Sang Jenderal Hafidz

Peluru Cinta Sang Jenderal Hafidz
Ahmad


__ADS_3

Semuanya berjalan tak sesuai rencana. Perjalanan ke Indonesia yang mulanya hanya ingin melakukan khitbah resmi pada Jamilah, namun dalam perjalanannya siapa sangka akan mendapatkan kejutan-kejutan menguak misteri tentang penemuan yang selama ini masih dalam tanda tanya besar.


Eksperimen yang Akmal lakukan di masa lalu yang belum sempurna kini sudah memakan korban. Yang nyata di depan mata baru dua, Tazkia dan Abid. Tak tahu berapa jumlah korban yang sebenarnya. Akmal diam merenung dengan memejamkan mata di samping Abid yang masih tertidur, antara Hasan dirinya. Tak terasa setetes embun lolos begitu saja dari sudut matanya.


"Astaghfirullah al adzim ...." Bibir berucap istighfar ketika teringat lagi akan peristiwa pada masa itu. Setetes protein trans yang didapatkan dari cacing tanah, dengan sengaja dia suntikan pada tumbuhan yang di dapatnya di Meksiko. Pada mulanya dirinya senang, karena tumbuhan itu tumbuh dengan cepat. Namun siapa sangka ia menjadi liar, saat tanpa sengaja Jamilah memetik buahnya. Bahkan Akmal tak habis pikir, akar tumbuhan itu dapat menyerang. Tubuhnya pun ikut terluka saat harus berjibaku mengendalikan pertumbuhan tanaman itu. Sungguh tanaman yang berbahaya. Ini di luar perkiraannya dan melenceng dari tujuan awal saat akan mulai mengadakan eksperimen.


Saat itu Akmal melakukan percobaan hanya berniat supaya tumbuhan itu mampu bertahan di mana saja berada. Buahnya yang besar tentu akan mudah membuat perut keyang dan menyegarkan untuk dimakan. Tapi tak sangka menjadi demikian berbahaya.


Yang lebih membuatnya semakin sedih, adanya perubahan sifat tumbuhan. Getah buah, daun dan batangnya tak lagi sama dengan tumbuhan pada umumnya. Apalagi saat diamati di bawah mikroskop canggih saat ini maka tampaklah susunan protein-protein yang sangat reaktif. Mungkin karena membawa sifat hewan dari protein trans yang disuntikkan pada biji buah tersebut pada saat awal menanamnya.


Eksperimennya itu belum selesai, saat dirinya harus mengikuti kemauan papa Ulya yang selalu khawatir tentang keselamatannya dan juga hasil penelitiannya.


Terbukti dalam perjalanan kembali ke Turki, tumbuhan itu dirampok. Meskipun bisa mengambilnya kembali tetapi beberapa buah dan juga daun-daunnya yang baru tumbuh telah lenyap. Tumbuhan itu telah jatuh kepada orang yang tidak bertanggung jawab.


Apa yang dikhawatirkan saat itu, kini terjadi. Bahkan lebih dari apa yang dia pikirkan. Kini mereka menggunakan ekstrak getah buah-buahan itu untuk mengendalikan manusia.


Memang bagus mereka dapat mengembangkannya. Hanya sayang mereka menggunakannya untuk sesuatu yang berbahaya bagi kehidupan.


"Astaghfirullah al adzim." Bila yang diincar hanya dirinya karena penemuannya, mungkin tak seberat ini beban yang harus dipikulnya.


Berulang kali kata istighfar terucap dari bibir AkmaI. Untuk melepas beban yang sekarang mendera nuraninya. Menyesal kah ... Tapi untuk apa.


"Astaghfirullah al adzim." Untuk apa mempergunakan waktu panjang hanya sekedar merenung dalam penyesalan.


Akmal sadar Bakan hanya pada orang-orang itu pikirannya berpusat, tapi juga korban-korban akibat serum itu.


Meskipun rasa geram marah sampai ke ubun-ubun, tetapi korban adalah prioritasnya saat ini.


Waktu terbang yang teramat penjang, membuatnya teramat lelah. Sehingga tak terasa matanya pun terpejam, meskipun sejenak. Cukup untuk mengistirahatkan tubuh serta pikirannya. Mumpung Abid sedang tenang juga.

__ADS_1


🌟


Pesawat mendarat pada saat malam sudah sempurna. Hanya langit berhiaskan bulan purnama serta bintang-bintang yang memberikan cahaya pada madyapada yang tak berwarna.


Masih dengan langkah lelah, AkmaI, William maupun Hasan yang menggendong putranya turun dari pesawat.


"Jenderal Akmal." suara yang tak asing baginya. Seseorang yang cukup dia kenal, sedang turun dari mobil.


Tak biasanya AkmaI mendapatkan sambutan seperti itu. Baru turun dari pesawat sudah ada mobil yang menyongsongnya seperti orang penting saja. Berpakaian resmi pula. Sepertinya dia punya tugas khusus, teramat mendesak dan penting


"Ahmad, mengapa kamu di sini?"


Dia tak memberikan jawaban apapun. Akmal punya firasat buruk padanya, tak biasanya Ahmad bersikap seperti ini. Ah mungkin karena kesal harus menjemput malam-malam. Mengganggu waktu istirahatnya, batin Akmal.


Tapi bukannya Robby yang seharusnya menjemputku saat ini, mengapa Ahmad yang datang. Ah mungkin Robby sedang ada tugas. Akmal tak mau bersu'udzon.


"Ya,"jawabnya singkat tanpa ekspresi.


Akmal merasa kurang nyaman dengan kehadiran Ahmad walaupun itu untuk menjemputnya.


"Kamu di tunggu prof. Amar," ucapnya begitu sampai di hadapan AkmaI.


Lho kok ... Biasanya kalau urusan seperti ini Abbas yang akan menjemput dia tapi kenapa Ahmad.


"Sekarang?"


"Ya. Ayok!" Ajaknya tanpa basa-basi. Tak peduli kalau di samping Akmal ada dua orang yang bingung dengan kehadirannya. Membuat Akmal tak enak hati.


"Sebentar. Biar aku antarkan tamuku ke rumah."

__ADS_1


"Tak bisa."


"Baiklah. Aku ajak mereka ke rumah dinas saja."


Wajah Ahmad terlihat kurang senang. Namun demikian, Dia tetap membuka pintu mobilnya, mengajak Akmal segera masuk.


Meski bingung dengan sikap Ahmad yang tidak biasanya, Akmal mencoba mengerti dan menuruti ajakan Ahmad. Dia pun masuk ke dalam mobil itu.


Tapi terhenti saat dia mendengar suara Robby, ajudannya.


"Assalamualaikum, Jenderal."


"Waalaikumsalam. Lho kok yang jemput aku ada dua?" Akmal bingung sendiri dengan kehadiran mereka. Dia pun mengurungkan niatnya untuk duduk di kursi mobil Ahmad. Karena memang Dia merasa tak nyaman dengan sikap Ahmad yang terlihat dingin dan tidak menyenangkan apalagi terhadap tamu-tamunya.


"Ahmad. Kenapa kamu di sini? Kamu kan seharusnya ada di perbatasan," Robby menatap Ahmad dengan penuh selidik.


Bukannya menjawab, bahkan dengan wajah garang dia mendekati Robby yang nampak kebingungan.


"Kamu! Seharusnya aku yang bertanya. Kenapa kamu di sini?" Ahmad balik bertanya dengan marah.


Akmal merasa ada sesuatu yang disembunyikan Ahmad. Namun dia berusaha menepis kecurigaannya itu.


Bodohnya dia Mengapa tidak bertanya pada Ahmad mengapa dia menjemputnya. Untung Robby datang. Dia pun sadar, dan mulai waspada.


"Sorry. Aku sama Robby saja."


Ahmad terlihat sangat kecewa dengan keputusan Akmal. Dia pun meninggalkan mereka tanpa berpamitan.


"Kenapa dia?"

__ADS_1


__ADS_2