Peluru Cinta Sang Jenderal Hafidz

Peluru Cinta Sang Jenderal Hafidz
Bersama Keluarga Paman Mustofa


__ADS_3

Untunglah Papa tidak ada halangan, waktu mengambil cuti pada saat itu. Sehingga kita dapat melaksanakan umroh bersama.


Sesuai jadwal, dua minggu setelah itu, Paman Mustafa pun datang ke panti asuhan untuk menjemput kita semua bersama keluarganya. Papa, aku, Paman Ridwan dan juga Umi, semua berangkat dengan mengendarai mobilnya Papa dan juga Paman Mustofa. Lalu untuk pesawatnya kita naik pesawatnya kakeknya Kak Bara, begitu kata Om Mustofa.


“Sebentar lagi kita sampai, Ayo semangat!”  Terlihat senyum merekah di bibir Jamilah mendengar perkataan Papa Hasan yang duduk di sampingnya. Apalagi saat mendengar suara pramugari mengumumkan bahwa pesawat akan mendarat. Dengan sigap Jamilah memasang sabuk pengamannya, tanpa bantuan dari Papa Hasan.


Begitu pesawat mendarat sempurna, Dia segera melepaskan sabuk pengamannya. Dan menuju pintu keluar.


“Terima kasih Kakak,” sapa Jamilah ketika melewati seorang pramugari yang berjaga di samping pintu.


“Hati-hati Adik, jangan sampai lepas dari Papa ya, biar tidak tersesat.”


Dengan riang Jamilah menganggukkan kepala. Begitu keluar dari pesawat dia menatap sekelilingnya, keadaan bandara yang begitu besar, membuatnya terkagum-kagum.


“Subhanallah,” ucapnya lirih dengan tangan memangku dagunya serta mata yang  membulat sempurna.


Setapak demi setapak Jamilah menuruni anak tangga pesawat dengan memegang erat tangan Papa Hasan. Matanya selalu berkeliling seakan belum puas untuk mengagumi bandara yang baru saja diinjaknya.


Begitulah anak-anak ... Selalu saja kagum terhadap hal yang baru meskipun itu sama saja antara bandara yang satu dengan bandara yang lainnya, tak jauh beda. Standarnya sama kan tiap bandara?!


Demikian juga pada saat menempuh perjalanan menuju kota suci Mekkah. Pandangan Jamilah tak lepas untuk melihat keadaan di luar mobil yang mereka tumpangi. Selalu saja timbul pertanyaan pada dirinya apalagi saat melihat, sejauh kendaraan ini berjalan, jarang sekali dia menemukan pohon seperti kebanyakan ada di Indonesia.


“Pa, mengapa di sini jarang sekali ada pohon?” Pertanyaan yang wajar.


“Setyawatiku Sayang, ini daerah gurun , Nak. Jarang ada hujan. Tanaman susah tumbuh.”


Papa Hasan selalu memanggil putrinya dengan panggilan yang terbaiknya. Sehingga Jamilah selalu manja  padanya, meski sudah tak kanak-kanak lagi.


 Jamilah manggut-manggut, mencoba memahami penjelasan Papa Hasan. Meski tak mengerti-mengerti amat.


Tak berapa lama mereka pun tiba di tanah suci Mekah dan bersiap-siap melaksanakan umroh. Setelah meletakkan barang-barang mereka di hotel, mereka menuju ke miqot. Agar bisa segera melaksanakan ibadah umrah.


“Bagaimana Jamila, sudah siap?”


“Siap Paman.”


Dia berjalan paling dulu meninggalkan keluarga Paman Mustofa yang sedang bersiap-siap juga. Termasuk mempersiapkan kereta dorong untuk adik bayinya Kak Devra. Jamilah menatap dari kejauhan dengan gembira. Lalu balik kembali ke mereka, karena tak tahu harus melangkah ke mana. Apalagi ada seorang sopir yang menyapanya untuk masuk ke dalam mobilnya. Pakai bahasa asing lagi. Meskipun dirinya bisa bahasa tersebut. Tapi kan tak kenal orangnya. Takut ah ....

__ADS_1


“Ada apa Jamilah?”


“Tak ada apa-apa, Paman.”


“Sama Kak Devra ya,”  ucapnya sambil membantu tante Rima meletakkan adik bayi di keretanya. Oh ... Ternyata adik bayi juga ikut umroh. Dia berpakaian putih-putih seperti kita.


Dari tempat itu kita berangkat menuju Mekah untuk melakukan thawaf, sai dan melempar jumroh. Minum air zam-zam juga, air yang begitu jernih dan mengandung banyak khasiat, begitu Papa menerangkan. Setelah bertahallul, selesai sudah pelaksanaan umrah kita kali ini.


“Bagaimana Jamilah?”


“Capek Paman, tapi Jamilah senang banget.”


“Bagaimana kalau nambah lagi. Balik ke tempat tadi, umroh lagi. Mumpung kita di sini.”


Belum juga Jamilah menjawab,  Tante Rima sudah protes duluan.


“Kasihan Alif, Pa.”


Mendengar itu om Mustofa segera menghampiri kereta adik bayi. Dan meraih Alif dalam pelukannya. Serta menciumnya berkali-kali, hingga Alif tertawa terpingkal-pingkal.


“Paman, Jamilah boleh gendong adik?” Jamilah benar-benar dibuatnya terpesona dengan adik kecil itu. Maklumlah  anak tunggal. Jadi belum pernah merasakan punya adik kecil.


“Boleh.”  Mustafa memberikan adik kecil itu pada Jamilah. Dengan pelan-pelan Jamilah menerimanya dan memeluk dalam gendongannya. Hanya sayang, adek Alif tiba-tiba menangis. Hua ....


“Jangan nangis dong, Dik. Kak Ayu nggak akan menyakitimu, kok.” Sungguh kata-kata yang menghibur tapi sayang tidak membuat adik Alif diam. Bingung dech?


“Tadi Jamilah ngomong apa?”


Ya ... memang Jamilah mengucapkan nama lain dari namanya, yaitu Ayu. Apa karena itu ya?


“Oke ... oke. Kakak Indah.” Kembali dirinya menyebutkan nama yang lain lagi. Ternyata, hiks ... hiks ... hiks ... Adek Alif tidak mau menerimanya. Kembali dia menangis dengan keras. Kakak Jamilah dibuatnya benar-benar bete plus kesel. Perkenalannya dengan adik kecil gagal total. Ditambah pula Papa, Umi dan Paman Ridwan tertawa terbahak-bahak. Membuat wajahnya seketika menjadi muram.


“Ya udah deh, panggil Kakak Jamilah saja.” Akhirnya dia mengalah juga. Alhamdulillah dengan nama ini, adek Alif tiba-tiba diam dan tersenyum. Kini dia bisa menggoda adik, tertawa bersama-sama.


Semua itu tidak lepas dari pengamatan Musthofa, Tante Rima dan juga Kak Devra. Mereka semua mengernyitkan dahi. Bertanya-tanya, sebenarnya Jamilah ini namanya siapa sih?


“Jadi nama Jamilah itu Indah Ayu atau Setyawati?”

__ADS_1


Jamilah tak hendak mmenjawabnya Dia mengabaikan pertanyaan Mustofa dengan berpura-pura tak mendengarnya. Rahasia dong, biar mereka penasaran.


“Untuk keluarga Paman Musthofa panggil saja Jamilah. Titik tidak pakai koma.” Tegas sekali ... Jawaban yang membuat  Mustofa dan keluarganya terkejut. Tak memberikan kesempatan bagi mereka untuk bertanya lebih lanjut.


Mustofa bisa membelalakkan mata dengan jawaban Jamilah yang sangat sangat tegas. Tapi ya, sudahlah. Anak-anak ... Asal mereka senang , gembira, tak jadi soal. Toh bukan kali ini saja dirinya mendengar nama panggilan yang sangat berbeda dari nama sebenarnya.


Abaikan soal itu. Karena kini terlihat Alif mulai kelelahan terus-menerus digoda.


“Sudah ya, Kak Jamilah. Alif haus. Biar sama mama. Oke?”


Untuk sesaat Jamilah  enggan  memberikan  Alif kepada Mustafa. Dia ingin bermain-main dengan adik kecil. Tapi karena Alif terlihat tidak lagi respon terhadap godaannya, ia pun mengembalikannya pada Mustofa.


“Kakak Jamilah sayang kamu dech.”


Muuuaaach ... Muuuuaaach ...


Jamilah memberikan banyak ciuman, baik di perut, pipi maupun di kepala sebelum mengembalikan kepada Tante Rima.


“Baiklah kalau gitu, kita balik ke hotel. Biar nanti bisa shalat jamaah haji Masjidil haram, agar dapat pahala 100. 000 kali dari shalat di masjid yang lain. Besok selepas subuh kita ke Madinah seharian. Agar dapat pahala yang banyak pula. 1000 kali dari sholat di masjid yang lain. Bagaimana?”


“Sebanyak itukah Paman?”


“Benar kata Paman Musthofa, Setyawati.” Paman Ridwan menimpali.


“Wah kalau seperti itu, Jamilah nggak mau balik ke Indonesia. Maunya di sini. Biar dapat pahala yang banyak sekali.” Senyumnya merekah sempurna. Mengungkapkan kebahagiaan impian yang tercipta dalam bayangannya.


Waduh, kok jadi gini ... Bisa berabe. Tak begitu yang diinginkan Mustofa. Itukan hanya untuk merayu Jamilah supaya bersemangat ibadah. Tapi kalau keterusan seperti ini siapa yang bertanggung jawab.


“Sama siapa di sini?”


“Sama Papa lah.”


Hasan meranjat, mendengar penuturan polos Setyawati. Ia benar-benar dibuat pusing oleh pemikirannya. Menghadapi Putri satu-satunya ini harus benar-benar ekstra cerdas. Kalau tidak begitu bakalan ngambek Itu anak. Lebih parahnya semangatnya akan kebaikan bisa-bisa menghilang. Itu semua tidak kita inginkan bukan?


“Papa nggak mungkin menemanimu, Setyawati. Papa kan kerja. Sudah ... Papa doakan semoga suatu hari nanti kamu bisa bertempat tinggal dekat sini. Jadi bisa umroh berkali-kali, bisa salat jamaah di masjid al-haram, bisa ke Masjid Nabawi. Terserah kamu dach.”


 

__ADS_1


__ADS_2