Peluru Cinta Sang Jenderal Hafidz

Peluru Cinta Sang Jenderal Hafidz
Tawan-menawan


__ADS_3

Christ tersenyum ringan. Bagaimana ya, apa dia perlu  cerita kalau dia diberi tugas khusus oleh Akmal untuk membawanya. Atau biarkan  begini saja, biarlah Jamilah penasaran.


“Bagaimana aku tidak tahu kamu yang selalu menyerang kami dengan membabi buta. Sampai-sampai kami kewalahan.”


“Hanya karena itu kah?” Jamilah merasa ada sesuatu yang disembunyikan oleh Chris. Karena sejak bertemu, menunjukkan tidak ada permusuhan di antara mereka. Yang ini seharusnya terjadi karena saat ini mereka memang sedang berperang walaupun itu bukan yang sebenarnya.


Christ pun tertawa lebar sehingga menampakan giginya yang putih yang berbaris rapi.  Bahagia rasanya menikmati wajah yang terbengong-bengong.


“Heeemmmm ....” Crist sejenak berpikir. Sesekali dia melirik pada Jamilah,seolah-olah menertawakannya. Ini membuat Jamilah sedikit jengah dan kesal. Chris yang seolah-olah mempermainkan dirinya.


Sebenarnya maunya orang ini apa. Pakai acara melirik-lirik juga. Kalau ada udang di balik batu, aku tak minat, gemuruh bisikan dalam dada Jamilah. Dia benar-benar tak suka dengan sikap Christ.


“Saya mau balik. Anda sebaiknya keluar atau saya keluarkan! Kalau tidak ada lagi yang ingin anda sampaikan ke saya.”


“Maaf, Jamilah. Tak ada maksud mengulur waktumu. Ada sedikit informasi untukmu. Kamu pernah mendengar nama Akmal.”


“Akmal?” Angan Jamilah kembali pada masa 10 tahun yang lalu. Ketika pertama kali dia menginjakkan kakinya di bandara Turki. Saat itu dia bertemu dengan seseorang yang serupa, sama persis dengan sosok yang lebih dikenal dengan nama Bara. Apakah Akmal dan Bara itu sama. Sampai sekarang Jamilah belum mengetahui. Atau kah Akmal dan Bara itu saudara kembar yang identik. Jamilah juga tidak tahu.


Lalu Apa hubungannya dengan lelaki yang yang ada di sampingnya saat ini. Atau mungkinkah Dia kak Akmal. Tapi  mengapa tak ada mirip-miripnya sama sekali. Suara maupun penampilannya.


“Andakah Kak Akmal?”


“Hahaha ...” tawa Christ meledak. Sebenarnya Jamilah itu kenal Akmal atau tidak. Kok sampai tak bisa membedakan antara Akmal dengannya.


 “Menurutmu?” Kali ini Christ menatap Jamilah penuh. Kesannya sok perhatian.


Jamilah benar-benar membuat Christ  terhibur. Sungguh menyenangkan menikmati malam purnama di atas lautan bersama musuhnya, sekaligus calon adik ipar.


Tit ... tit ... tit ...


“Maaf, sepertinya kita kehabisan bahan bakar,” kata Jamilah.


Ups, aku lupa. Kalau  bahan bakarnya telah aku ambil,  hanya sedikit yang tersisa. Seketika  tawa Chrits berhenti. Dia melihat ke bawah. Hanya ada deburan ombak  terlihat bergulung-gulung. Astaghfirullah al adzim. Takut juga kalau sampai jatuh terjebur. Kemampuan berenangnya masih jauh di bawah standar, meski pun bisa.


“Anda lebih tahu daerah ini. Dimana kita bisa mendarat.”


Dari Landasan pangkalannya, tak seberapa jauh. Tapi tak mungkin. Siapa yang mau mendarat di daerah musuh. Itu sama saja dengan menyerahkan diri.  


Hanya satu tempat yang bisa didatangi.  Sebuah pulau sangat tersembunyi. Hanya Aku dan  Akmal yang tahu. Semoga dirinya tak marah, bila aku membawanya ke sana.


“Coba arahkan pesawat pada koordinat jam 2, 30 menit, 5 detik.”

__ADS_1


“Itu markasmu?”


“Jangan Su’udhon. Kita mau terjun  atau selamat?” Christ agak keras dalam berkata, karena bunyi alarm itu makin sering. Mungkin bahan bakar sudah benar-benar habis.


Jamilah segera mengarahkan pesawat ke koordinat yang ditunjukkan Christ, dengan kondisi yang mulai ngadat. Dalam keadaan seperti ini kemampuan Jamilah benar-benar diuji. Tanpa penerangan, atau lampu light landasan dirinya harus mendaratkan pesawat. Cahaya bulan tidak cukup meneranginya.


Terlihat dari jauh tampak  bayangan yang gelap dan padat. Kemungkinan itu  hutan. Berarti di sampingnya pasti pantai. Pesawat itu pun merendah dengan sendirinya. Tetapi masih dalam kendali Jamilah.


Alhamdulillah, akhirnya pesawat bisa mendarat sempurna di pinggir pantai.


“Di mana ini?”


 “Tak tahu lah. Pulau ini agak tersembunyi. Mungkin belum berpenghuni,” kata Christ sambil menyeringai.


“Kamu tunggu di sini sebentar, aku lihat situasi.”


“Aku ikut.”


“ Tak boleh.”


“Bagaimana kamu meninggalkan wanita sendirian di sini?”


Dia pun segera melepas sabuk pengamannya, membuka pintu pesawat.


“Aku mau ikut!”


“Bagaimana dengan pesawatmu?”


Terlihat Jamilah berfikir. Rupanya kata-kata itu berhasil menghentikan niat Jamilah mengikuti dirinya. Bisa gagal rencananya nanti.


“Tak mungkinlah Aku bersamamu Jamilah. Siapa  mau jadi tawananmu? Selamat tinggal. Nikmati kesendirianmu,”bisiknya dalam hati.


Dia terus berjalan ke dalam hutan hingga menembus sisi hutan yang lain. Dan sampailah di tepi dermaga kecil yang ada di pulau itu. Kebetulan di sana ada sebuah perahu yang masih bisa digunakan.


Saat kakinya hendak melangkah ke dalam perahu, Dia teringat Jamilah. Dia pun Dian dan berfikir. Kasihan juga dia ....


Akhirnya dia pun kembali ke tempat semula, mendapati Jamilah tertidur pulas.


Hehehe ... Untung dia tidur. Dia tak tahu kalau bahan bakar itu masih ada di dalam pesawat ini.


Ah, kurasa cukup sudah bermain-main dengan gadis kecil ini.

__ADS_1


Kris segera mengembalikan bahan bakar yang sesaat lalu dicurinya ke tempat semula. Baru setelah itu dia menghampiri Jamilah.


“Jamilah.” Christ memanggilnya pelan. Namun tak ada sahutan sama sekali. Rasanya tak tega untuk mengganggunya.


Uaaaghhh ... Alhamdulillah  Jamilah bangun.


“Bagaimana, dapat?”


“Alhamdulillah, aku temukan  bahan bakar di  dekat dermaga. Semoga cukup untuk kamu terbang.”


“Sudah Kakak isi?”


“Sudah,” jawab Christ sambil menutup pintu.


Mungkin istilah air susu dibalas dengan air tuba cocok untuk keadaan Christ saat ini. Karena tiba-tiba Jamilah menyerangnya. membuat dirinya terjungkal  terlempar dari pesawat.


Jamilah segera menutup pintu pesawat itu secara otomatis. Menerbangkannya dengan cepat.


“Terima kasih Kak Akmal.”


Akmal!! Waduh, Jamilah salah mengenali dirinya. Bisa marah nich si Akmal kalau tahu. Tapi biarlah ... Salah sendiri tak bertanya.


Christ pun duduk merasakan sesak karena dada yang tersentuh oleh eh biji-biji kerikil yang ada di pantai. Dasar Jamilah. Sudah dikasih bahan bakar, meski itu bahan bakarnya sendiri. Tapi tak ada terima kasihnya. Apalagi meninggalkan dirinya begitu saja.


Christ terus menggerutu sambil memandang pesawat yang terbang semakin tinggi. Ah, sudahlah ... Bukankah masih ada perahu kecil yang bisa digunakan.


Dia pun bangkit, melangkah menyusuri jalan yang dilaluinya sesaat lalu. Tapi Baru beberapa langkah, terlihat pesawat Jamilah kembali lagi ke pantai. Terlihat Ada sesosok laki-laki di belakangnya.


Ah, rupanya Bastian.


Dia secara sembunyi-sembunyi masuk ke dalam pesawat tanpa Jamilah sadari. Mungkin saat  tertidur waktu Christ meninggalkannya. Atau sesaat sebelum Jamilah terbang. Yang pasti mereka bertemu kembali.


“Chris aku bawa kembali tawanan kita. Bagaimana, diapakan Dia?”


Kris tersenyum lebar menatap ketidakberdayaan Jamilah di bawah todongan senjata Bastian. Sekarang saatnya balas dendam. Rasakan ....


Jamilah menatap sendu padanya.


“Kak Akmal,” ucapnya memohon.


Ups, Dia mengira diriku Akmal.

__ADS_1


 


__ADS_2