Peluru Cinta Sang Jenderal Hafidz

Peluru Cinta Sang Jenderal Hafidz
Bukan Kamar Untukku


__ADS_3

Tapi untuk berfikir lebih jauh lagi, rasanya angan masih tersangkut pohon mimpi.


"Kamu yang namanya Jamilah, kah?"


Jamilah menghentikan langkahnya dengan setengah sadar. Eh ... Dari mana mereka tahu namaku?


Dia menatap orang yang menyapanya dari balik cadar. Sepertinya aku pernah melihat orang ini. Tapi dimana? Kurasa bayangannya masih samar bagiku. Yang aku tahu hanya Christ dan Bastian. Ataukah dia orang yang datang di pulau itu. Ah ... Kok pusing amat memikirkan orang yang tak jelas. Untuk melangkah saja aku hanya mengikuti arahan. Karena diriku masih mengantuk ....


Jamilah melanjutkan langkahnya mengikuti teman-temannya. Tanpa melihatnya terlebih dahulu. Langkahnya terhenti manakala akan masuki sebuah ruangan. Mana teman-teman yang wanita? Dia menengok ke kanan dan ke kiri. Lho ... Kok cowok semua. Uaaghh ... malunya diriku. Apakah ini berarti hanya dirinya, prajurit wanita yang tertangkap. Inna lillahi wa inna ilaihi rojiun .... Naas benar nasibku.


Sebelum semua menyadari, Jamilah balik badan, meninggalkan rombongannya. Begini ini kalau masih ngantuk suruh pindah tempat. Hampir-hampir terbawa arus yang salah. Diapun geleng-geleng kepala. Lalu menghempaskan dirinya di atas sebuah kursi yang ada di depan bangunan itu. Beberapa kali menguap dan tekluk-tekluk. Melanjutkan mimpi yang tertunda.


"Jamilah, Aku tunjukkan tempatmu."


Suara lembut membangunnya. Matanya terbuka, meski dengan sedikit terpaksa. Eh ... Lagi-lagi orang itu. Aku rasa dia baik. Ikuti saja ... Sekarang penglihatan agak dicerah-cerahkan sedikit. Agar tak salah alamat.


Kalau sudah punya tujuan jelas. Ringan sekali waktu melangkah. Hingga tak terasa aku sudah di depan pintu sebuah bangunan yang unik. Lain daripada yang lain. Sepertinya diantara bangunan utama yang ada di tempat itu Dan ini sepertinya ... Aku jadi ragu.


"Aku tinggal dulu."


"Oh ya, makasih."


Dengan setengah sadar, dia mengamati bangunan di depannya.


Kenapa sunyi sepi seperti ini. Apa bangunan ini tidak berpenghuni. Tapi lampunya terang benderang?


"Assalamualaikum ...."


Tak ada jawaban. Bikin penasaran. Tapi aku tak punya keberanian untuk masuk. Alhamdulillah ... Ada sersan muda, perempuan pula. Bisa dijadikan teman.


" Kenapa tak langsung masuk?"


"Apa ini aman untukku?" Suasana perang membuat diriku selalu waspada.

__ADS_1


"Apa kamu masih mencurigai kami. Perang sudah benar-benar usai satu jam yang lalu. Sekarang kita bisa santai," jawabnya dengan bahasa Inggris yang fasih. Serta senyum penuh persahabatan dan ramah.


Jamilah memberikan senyum terbaiknya sebagai jawaban. Bukannya tak bisa bahasa Inggris. Tapi benar-benar tak nyaman bila dirinya yang masuk duluan.


"Tenang saja, kamu sudah berada di tempat yang benar. Aku teman sekamarku. Ayo!"


Ku rasa tak sepatutnya kalau diriku masih menyimpan rasa curiga. Wanita ini sangatlah ramah. Kini saatnya melanjutkan mimpiku. Ruangan terlihat sangat berbeda.


Aku heran mengapa ada mikroskop kecil dan rak buku. Ini seperti bukan kamar tidur. Lebih sesuai dengan laboratorium. Hebat kali, ada tempat seperti ini ada tempat seperti ini.


"Kakak seorang peneliti, kah?"


"Bukan. Itu semua milik Jendral," jawabnya. Ini membuatku gugup. Dan berprasangka yang bukan-bukan. Jangan-jangan ... Bayangan buruk tiba-tiba mampir di kepalaku.


"Jadi ruangan ini milik Jendral?"


"Benar."


Jamilah memandang Wanita itu dengan tatapan tajam, kesal dan marah. Lupa sudah dengan rasa kantuk yang amat sangat. Yang sesaat lalu dia rasakan. Jamilah keluar, akan membuang segala rasa itu. Wanita itu diam dan tersenyum tanpa ingin menghalangi langkahnya. Bahkan dia mengekor, ikut keluar juga.


"Mengapa keluar?" Pertanyaannya yang tak membuat prasangka buruk ini menghilang.


Langkah Jamilah pun terhenti. Dia menoleh ke belakang. Dengan senyum tipis, dia meraih tangan Jamilah. Akan mengajaknya kembali ke dalam.


"Lepaskan! Aku tak mau dalam kamar ini!"


Mulanya enggan melepaskan tangan Jamilah. Bahkan dia seolah-olah mengintimidasinya agar Jamilah mengikuti kemauannya.


Tapi tak berapa lama ada senyuman terlukis di wajahnya. Seiring dengan melepas tangan Jamilah. Ada suara kecil yang terlepas dari bibirnya. Yang seolah-olah mentertawakan sikapnya yang kekanak-kanakan.


"Anda amat waspada. Salut aku sama Anda."


Ah ... basa-basi. Entahlah aku masih curiga pada dirinya.

__ADS_1


Saat dia mengangkat tangan dan diletakkan di depan kepala seperti memberi hormat, disertai dengan bola mata membulat sempurna dan juga alis tebal yang diangkat. Baru aku merasakan kalau prasangka ku salah. Tapi entahlah, aku ingin juga mencandainya saat ini. Mumpung di sini, kesempatan cari teman.


Aku pun melanjutkan langkahku. Karena, aku juga sudah merasa tak nyaman lagi bila harus di kamar itu. Kamar pria. Nanti dicurigai yang bukan-bukan. Aku melanjutkan langkahku yang sempat terhenti. Kembali ke beranda yang sesaat ku lalui tanpa aku peduli.


Setelah kaki ini menyentuh rerumputan. Kita pun berhenti, dan menghempaskan tubuh di hamparan rumpun yang mulai berembun. Sedangkan dia hanya mengikuti diriku dengan senyum tulusnya.


"Boleh aku menemanimu?"


Menikmati malam dengan melihat indahnya alam, lebih menyenangkan dari pada dalam ruangan. Apalagi dengan mengobrol ringan. Kapan lagi dapat ku temukan kesempatan seperti ini.


"Ku rasa ini lebih membuatku nyaman."


"Maafkan kami, kalau penyambutan ini, membuatmu salah sangka.Tak ada dalam benak kami sedikitpun untuk memperdaya tamu. Ini adalah bentuk penghormatan kami."


Sebenarnya aku hanya tak nyaman bila harus di kamar pria itu saja. Tapi untuk mengatakan itu, khawatir menyinggungnya.


"Benarkah perang selesai. Bukankah masih ada satu hari lagi?"


" Jiwa prajurit. Maunya perang terus. Apa kamu nggak capek?" Ledeknya. Membuat Jamilah jadi tersenyum sendiri.


"Siapa juga yang mau perang."


Iya, siapa sih yang ingin perang. Inginnya damai, aman, sentosa, tak ada gangguan, bikin kita tentram. Tapi kalau sewaktu-waktu ada sesuatu. Lalu tak siap, bagaimana? ...


"Besok kita sudah bertukar tawanan. Setelah Komandan kami datang, baru kami bisa memperlakukan kamu layaknya tamu. Maaf kalau tadi memperlakukanmu seperti itu. Itu aturan kami."


Jamilah hanya senyum-senyum gemes. Karena kalau mengingat dari sisi itu, sedih banget. Tapi kalau dirasakan dari sisi yang lain seperti melihat suasana malam di bawah langit yang berbeda, ada rasa tersendiri yang membuatnya bisa bersyukur.


Setelah sekian lama berbincang-bincang dengan kawan baru membuat diriku lupa waktu. Kalau bukan karena kantuk yang makin berat, mungkin bincang-bincang kami tak akan berhenti. Akhirnya aku tertidur di hamparan rumpun itu. Hingga adzan subuh membangunkanku.


Mata ini belum sempurna benar terbuka, saat ku lihat sesosok pria memasuki kamar yang akan menjadi kamarku. Tak lama dia pun meninggalkan tempat itu dengan berpakaian rapi dan sebuah kopyah di atas kepalanya. Sosok itu sepertinya tak asing. Bukan Bastian, bukan Chrits, bukan pula laki-laki yang menyapa diriku tadi malam.


Sepertinya, dia sosok sudah ku kenal. Dan sangat familier. Apakah ... Apakah ... dia ....

__ADS_1


__ADS_2