Peluru Cinta Sang Jenderal Hafidz

Peluru Cinta Sang Jenderal Hafidz
Oh Abid


__ADS_3

Saat mengiringi Jamilah, ada yang mengganjal dalam benak Akmal. Mengingat lambang yang tergambar di truk kontainer itu. Adakah sesuatu yang buruk saat ini sedang mengintai jiwa Abid?


Tak mungkin dia ungkapkan pada Jamilah. Apalagi saat ini Jamilah tampak sangat fokus pada mobil itu. Melihat buruannya keluar dari sarangnya, segera tancap gas, ingin mengejarnya.


Lain yang dipikirkan Jamilah, lain pula yang ada dalam pikian Akmal. Dia tak yakin kalau Abid masih di dalam mobil itu. Mungkin saja sudah berpindah ke kontainer kemas. Tapi itu hanya sebuah kemungkinan. Bisa benar bisa salah. Ada baiknya kalau dirinya menyelidiki dulu sebelum bertindak lebih jauh. Dan sekaligus menyusun rencana lebih matang.


Dia tak ingin berdebat, hanya buang-buang waktu saja.


"Bisakah kita ke sana?"


Terlihat ada sisi dimana dua jalan itu sangat dekat. Bisa dijadikan jalan pintas untuk menyongsong mereka.


Akmal menunjuk mobil yang kini melaju cepat jauh di bawah mereka dan juga menunjuk truk kontainer. Lalu menunjuk sisi jalan yang berdekatan itu.


"Maksud Kakak."


"Kita bagi tugas. Kamu kejar truk itu. Aku ke mobil itu. sekaligus memastikan Abid dimana."


"Baiklah." Untung lah Jamilah cepat mengerti dan tak banyak tanya. Dia bergerak cepat ke arah yang ditunjuk Akmal.


Pada saat ini, mobil itu tak menyadari, kalau Jamilah dan Akmal masih menguntit mereka. Mungkin karena mereka di bawah sedangkan Akmal dan Jamilah jauh di atas mereka. Sehingga mereka tak melihatnya.


"Aku turun di sini."


"Ok."


Jamilah segera menepi, berhenti sejenak di pinggir jalan. Akmal pun membuka pintu dan keluar.


"Tak usah ditunggu. Lanjutkan jalanmu. Kakak pasti akan menyusul."


Jamilah mengangguk, "Hati-hati, Kak."


Lalu dia melaju kencang mengejar truk peti kemas itu. Meninggalkan Akmal yang berjalan menuruni bukit.


Sesampainya di dekat jalan yang akan dilalui oleh mobil itu, Akmal diam dan memandang mobil sedang berjalan itu. Untuk sementara sebaiknya dia bersembunyi di antara rumput ilalang yang tinggi. Menunggu mobil itu mendekat


Dari jauh terlihat mobil itu melaju tak sekencang waktu berada di jalan layang. Terlihat lebih santai. Begitu dekat ... Brugh ... Sekali lompat Akmal sudah benar-benar dia atas mobil mereka.


Mendengar ada sesuatu yang menimpa atap mobilnya, salah seorang dari mereka membuka pintu, mendongak ke atas. Mengetahui ada seseorang, Dia pun mengeluarkan sepucuk pistol. Mengarahkan padanya.


Namun belum sempat menarik pelatuknya, Akmal segera merampas pistol itu dan menghadiahi satu tendangan di punggungnya. Menyebabkan dia terjungkal, keluar dari mobil. Akmal segera turun dengan mengayunkan kakinya sampai mengenai kepala lelaki yang ada di belakang kemudi. Menyebabkan pelipisnya berdarah dan mobilnya bergerak tak tentu arah.

__ADS_1


Tidak saja sampai di situ. Akmal terus menyerang, hingga diapun terlempar keluar, menyusul temannya. Kini mobil sudah benar-benar Akmal kuasai. Dia langsung berbalik arah mengejar mobil Jamilah yang berjalan agak melambat.


Saat ini Jamilah sedang mengkhawatirkan Akmal. Kalau-kalau Akmal terluka. Karena dirinya masih ingat kalau penculik itu bersenjata. Apalagi membayangkan kalau Abid bersama mereka. Kekhawatirannya semakin bertambah. Membuat Jamilah semakin ragu melanjutkan laju mobilnya.


Tak berapa lama, Jamilah melihat mobil hitam melaju cepat menyusul dirinya. Terlihat lambaian tangan. Mungkinkah itu tangan Kak Akmal?


Pada mulanya Jamilah masih ragu. Tapi setelah kepala Akmal nonggol dari balik pintu mobil, Dia menjadi yakin kalau Akmal sudah bisa mengatasi penculik itu. Bahkan ia patut bersyukur. Karena Akmal berhasil menguasai mobilnya pula. Alhamdulillah ... Terima kasih Tuhan.


Belum sempat Jamilah menambah kecepatan mobilnya, kini Akmal sudah menyusulnya. Dan dia melaju dengan kecepatan penuh melewatinya.


"Ayo!" seru Akmal saat berpapasan.


"Ya." Jawab Jamilah senang melihat Akmal selamat. Kini tinggal satu, yaitu Abid. Semoga kita bisa menyelamatkannya pula.


Setelah beberapa saat, truk peti kemas itu pun terlihat. Mereka mengejarnya dengan saling beriringan.


Dor ... prakkk ....


Tak disangka, mobil Jamilah mendapatkan serangan. Satu tembakan berhasil membius kaca depan. Untung tidak mengenai Jamilah. Peluru itu hanya melintas di sampingnya saja. Namun cukup membuat Jamilah terkejut luar biasa. Karena serangan itu amat tiba-tiba.


"Mundur!" Akmal segera berseru keras agar Jamilah memperlambat mobilnya dan mengambil posisi di belakangnya.


"Ya, Kak."


Dia pun mundur berlahan. Melaju di belakang Akmal.


"Kamu berhenti. Tunggu di sini!"


"Eeeee ...." Belum sempat Jamilah menjawab. Akmal sudah meninggalkannya. Melesat jauh ke depan. Menyusul truk peti kemas itu.


Tak disangka, pintu belakang truk peti kemas itu terbuka. Dan dia mengeluarkan tangga yang landai. Dari jauh Jamilah melihat Akmal yang masuk dengan mudah ke dalam truk peti kemas itu.


Jamilah melihat itu semua dengan takjub. Baru dia sadar, apa yang sedang direncanakan oleh Akmal saat ini. Dia pun memperlambat mobilnya dan berhenti menunggu di pinggir jalan dengan posisi siap-siap untuk pergi. Kini hanya doa yang bisa dia panjatkan, semoga Kak Akmal secepatnya kembali dan Abid bisa diselamatkan.


🌟


Sementara itu Akmal yang kini sudah berada di truk kontainer itu, merasa bersyukur, karena inilah yang direncanakan. Mereka mengira kalau dia adalah temannya yang sedang mendapatkan serangan dari mobil yang satunya. Sehingga mereka mempersilahkan masuk begitu saja.


Dari dalam mobilnya dia melihat ada sekitar lima orang berada di ruangan itu. Seorang dengan pakaian kaos hitam dipadu dengan celana loreng hijau dan berkaca mata. Ada alat komunikasi di telinganya dan mikrofon kecil di mulutnya. Dia memegang senjata berat laras panjang. Berdiri tegak di pinggir pintu yang terbuka.


Sedangkan di depannya ada 1 orang perempuan dan 3 orang laki-laki yang berpakaian atasan putih, seperti tenaga medis atau dokter.

__ADS_1


Dua orang tampak mengamati sesuatu yang ada dalam botol. Yang 2 sedang menangani Abid. Salah seorang memangku Abid yang tak sadarkan diri. Sedang wanita itu tampak serius menyuntikkan sesuatu ke di lengan Abid.


"Astaghfirullah al adzim." Akmal segera keluar tanpa mematikan mesin mobilnya. Segera memberi hadiah satu tembakan yang mematikan pada lelaki yang membawa senjata. Menyebabkan dia langsung terkapar.


Lalu dia segera menampik tangan dokter perempuan itu. Menyebabkan jarum suntik nya terlepas dari tubuh Abid. Sepintas dia melihat cairan dalam jarum itu telah berkurang beberapa inc. Yang artinya zat itu telah berhasil masuk ke tubuh Abid meski tidak seluruhnya.


Akmal mengambil tubuh Abid dari lalaki yang memangkunya. Lalu menendangnya hingga terjungkal.


"Tangkap dia." Perintah wanita yang menyuntikkan zat itu pada tubuh Abid.


Namun 3 laki-laki itu tampak bengong, terkesima dengan apa yang terjadi. Tak merespon dengan yang di perintahkan pada mereka.


"Apa kalian tidak mendengar perintahku," teriak wanita itu.


Baru kemudian mereka memasang kuda-kuda untuk menyerang Akmal. Tapi rupanya mereka bukanlah orang yang terlatih dalam bela diri. Memasang kuda-kuda saja salah. Sehingga dengan sekali tendang ketiganya sudah jatuh terduduk.


Akmal tak mau membuang-buang waktu lagi, Segera dia gendong Abid menuju mobil. Namun sebelum pergi, Dia sempatkan pula untuk mengambil senjata dari lelaki yang terkapar itu. Lalu melemparkannya ke dalam mobilnya. Dengan sekali hentak, maka mobil itu sudah lari mundur keluar dari truk peti kemas itu.


Dalam perjalanan mundur, ada cairan bening keluar dari sudut matanya. Dia menangis. Satu tangannya memegang kemudi, satu tangannya membelai rambut Abid.


"Maafkan Kak Akmal, Abid. Semoga kamu baik-baik saja." bisiknya lirih.


Dia masih berjalan mundur sampai menemukan mobilnya yang dikendarai Jamilah. Diapun berhenti dan segera keluar.


Jamilah yang melihat Akmal keluar menggendong Abid, segera menghampirinya.


"Alhamdulillah, Kalian selamat," serunya gembira.


Akmal pun memberikan tubuh Abid dengan segera, diam tanpa bersuara. Membuat Jamilah heran.


"Kak, ada apa?"


Akmal tak menjawab. Dia terus berjalan ke dalam mobil itu, lalu mengambil senjata berat itu. Mengarahkan senjata itu pada truk kontainer yang terlihat berjalan mundur. Segera dia menembakkannya. Tak ada kegembiraan di wajahnya. Hanya kesedihan yang menyelimutinya.


Dhuuuaaasrrrr ... Terlihat truk kontainer itu meledak. Ada kepulan asap yang menyelimutinya.


Maafkan diriku. Tak ada sedikitpun niat membunuh kalian. Tapi kalian telah bermain-main dengan penemuanku. Silahkan selamatkan diri kalian, kalau kalian bisa. Jika kalian selamat semoga tak melakukan ini lagi.


Lalu Akmal melempar kembali senjata itu ke dalam mobil yang di tinggalkan. Mengambil pistol kecil yang tersisa. Lalu dia menembak mobil itu dan melempar pistol itu ke dalam kobaran api yang menyala dari mobil yang ditembaknya.


Dan dia segera berbalik menghampiri Jamilah yang berdiri termangu.

__ADS_1


"Ayo, kita pergi."


Jamilah tak berani berkata atau bertanya. Dia bisa merasakan kalau Kak Akmal nya kini sedang bersedih. Terlihat ada embun bening di bola matanya yang biru. Dia segera masuk ke dalam mobilnya, diikuti Akmal yang duduk di belakang kemudi. Mereka segera meninggalkan tempat yang dipenuhi kobaran api yang menyala, dalam keadaan diam seribu bahasa.


__ADS_2