Peluru Cinta Sang Jenderal Hafidz

Peluru Cinta Sang Jenderal Hafidz
Komandan Melamar


__ADS_3

"Apa sudah puas berkelahinya." Sapa Jamilah sambil berjalan mendekat.


"Kekasihmu kah?" Kata-kata yang tidak penting-penting amat, keluar dari bibir William. Tak ada respon dari Akmal. Dia terlalu fokus pada wanita bercadar yang ada di depannya.


Nich orang kenapa ... William senyum-senyum saat Akmal mengabaikannya begitu saja.


Daripada bengong, mengganggu dan jadi nyamuk saja diantara mereka, lebih baik meneruskan niat awal. Pergi menghilang ....


William pun melangkah menuju mobil sedan yang ada di sisi lain dari tempat parkir itu. Meninggalkan mereka berdua dengan senyum dikulum.


Eh ... Tapi, Pamitan dulu lagi geh ....


"Assalamualaikum, Mal." sapa William dari dalam mobil yang kini berjalan berlahan melewati Akmal, sambil tersenyum. Iseng kali ...


"Eh ya, Maaf. Waalaikumsalam," jawab Akmal setengah gugup. Dia baru menyadari kalau William masih bersama dengannya. Dia pun tersenyum dan melambaikan tangan sampai mobil itu hilang dari pandangannya.


Kini hanya ada mereka berdua.


"Tadi kamu kemana?" Tanya Akmal agak gelisah. Sambil berdoa dalam hati semoga saja Jamilah tidak mendengar apa yang dia bicarakan dengan William.


"Ke toilet sebentar," jawab Jamilah cuek.


"Memang ada apa?" Ucap Jamilah sambil mengibas-ngibaskan tangannya untuk mengeringkan air yang menempel di jari-jarinya.


"Tak ada apa-apa."


"Tadi kakak ngomong apa sih, kok lama sekali?"


"Biasalah ketemu kawan lama, banyak yang perlu diomongkan."


"Oh. Moga-moga nggak omongin aku."


"Ke-gr-an banget tuh."


Hehehe ....


Tawa Jamilah membuat Akmal sedikit lega. Sepertinya dia tak tahu apa-apa.


"Berkelahi dulu?"


"Biasalah, laki-laki ...." Jawabnya asal. Ditambah tertawa pula membuat Jamilah gemas. Dia langsung manatap dengan ekor matanya yang tajam pada Akmal. Seketika membuat tawa Akmal berhenti. Lucu aja nich orang ...


"Kita pergi, Yuk!" Ajaknya seketika. Tak ingin berlama-lama dalam situasi yang sudah memang beres.

__ADS_1


"Ok."


Kini keduanya kembali lagi ke mobil Xenia yang beberapa saat lalu dia tinggalkan. Setelah sampai, Akmal segera membukakan pintu untuk Jamilah. Membuat Jamilah tertegun.


"Kakak, apaan sih?" Dia yang tak biasa diperlakukan seperti itu merasa sedikit risih dengan perhatian Akmal saat itu.


"Ya tidak ada apa-apa. Cuman pingin kamunya cepet aja." Ujarnya dengan senyum tipis di bibir.


Tak tahukah Jamilah bahwa itu salah satu bentuk perhatiannya terhadap wanita yang yang istimewa baginya.


"Makasih Kak."


Setelah melihat Jamilah duduk manis di tempatnya, Akmal segera menutup pintu yang dilewati oleh Jamilah. Dia menuju ke sisi yang lain. Membuka pintunya dan duduk dengan tenang di belakang kemudi.


Setelah memasang safety belt pada tubuhnya, demikian juga dengan Jamilah. Akmal pun menghidupkan mesin mobil dan berjalan perlahan meninggalkan tempat itu menuju jalanan yang kini sudah sangat padat. Bertepatan dengan kepulangan karyawan dari beberapa kantor ataupun pabrik.


Namun demikian tak serta merta Akmal menambah kecepatan mobilnya. Nanti bisa kena tilang lagi. Meski waktunya sudah semakin mepet.


Cukuplah satu mobil yang jadi masalah. Tak perlu membawa-bawa mobil yang lainnya. Apalagi ini mobil Kak Aris, kakak ipar Jamilah dari kakak tirinya.


Untung jarak yang dia tempuh tidak jauh. Sehingga tidak memerlukan waktu lama untuk sampai.


Begitu turun dari mobilnya, Akmal langsung melihat jam yang melingkar di tangannya. Ada waktu sekitar 30 menit sebelum kantor ditutup. Oke ....


Tak perlu waktu lama untuk menunggu panggilan, karena hanya dia sendiri yang saat ini mengantri.


Untunglah urusan cepat beres, tidak ribet-ribet amat. Ditanya ini itu, lalu bayar denda di tempat. Cukup banyak juga sih ... Tapi tak apalah yang penting selesai.


Mereka pun berjalan beriringan meninggalkan kantor kepolisian. Jamilah mengantarkan Akmal sejenak untuk menuju tempat mobil itu diparkir. Setelah Akmal memasuki mobilnya Dia pun pergi menuju halaman depan kantor kepolisian di mana mobil yang dibawanya terparkir.


Baru juga dia menghidupkan mobilnya terlihat mobil Akmal melintas di depannya.


"Ayu, aku duluan ya ... Assalamualaikum."


"Oh ya Kak. Makasih banyak ... Waalaikumsalam."


Mobil yang dikendarai oleh Jamilah, berjalan mengikuti mobil Akmal. Sampai mereka tiba diperempatan jalan, baru mereka memisahkan diri. Akmal menuju ke arah pertokoan yang beberapa waktu lalu ditinggalkan. Untuk mengambil perhiasan yang telah dibelinya serta menjemput sopir pribadinya. Jamila melanjutkan ke arah rumah sakit di mana Abid dirawat.


Dalam perjalanan, beberapa kali handphone Jamilah berdering. Tapi Jamilah enggan untuk mengangkatnya, setelah melihat nama yang tertera di layar handphone-nya itu.


"Ada apa sih ... kok komandan Santoso telepon-telepon. Ntar ada tugas lagi. Aku kan juga mau menikmati hari istimewa saat diriku dilamar. Hehehe ..."


"Lagian saat ini aku lagi sedang konsentrasi mengenudi. Nggak bagus kan, terima telepon." Hati Jamilah ngedumel sendiri.

__ADS_1


Dasar Jamilah. Mulai dech sifat keras kepala, cuek, semaunya sendiri muncul.


Sekali, dua kali, tiga kali dibiarkan berbunyi. Meskipun membuat pusing kepalanya tapi dia tak ingin mengangkatnya juga. Pada akhirnya dering telepon genggamnya itupun berhenti dengan sendirinya.


"Akhirnya capek juga komandan."tampak senyum seringai menghiasi bibirnya.


Namun tak berapa lama terlihat notif notifikasi wa masuk ke dalam handphonenya.


"Idiiiihh ... banyak banget sampai lebih dari 10. Kelihatannya penting banget. Nanti aja aku buka setelah sampai ya ...."


Sesampainya di rumah sakit, rupanya Jamilah terlupa dengan notif-notif wa yang telah masuk ke dalam handphonenya. Baru menjelang tidur dia membuka hp-nya.


"Astaghfirullahal adzim, maaf komandan. Anak buahmu ini suka teledor." Bisik kecil di hati, mentertawakan dirinya yang tak segera merespon wa yang masuk.


Pertama, surat tugas. Memberitahukan bahwa dirinya akan dikirim ke perbatasan.. berangkatnya masih lama, kurang lebih 2 hari lagi.


"Ini sich enggak lama gimana," gerutu Jamilah


Kedua, lagi-lagi pemberitahuan. Dalam memperingati hari ulang tahun lembaganya dia diberi tugas untuk ikut dalam sebuah atraksi kedirgantaraan. Waktunya setelah pulang dari tugas di perbatasan.


"Asyik ... " Soraknya sambil senyum-senyum sendiri.


Lanjut ... Lanjut ....


Sepertinya enggak penting-penting amat hanya menanyakan kabar ... dan Kenapa nggak dibalas ... dan dan lain-lain ... dan lain-lain.


Sebentar ... sebentar. Ini apa?


Jamilah memelototi kalimat-kalimat terakhir yang ada di WA tersebut.


[Maafkan aku memberitahumu mendadak. Kebetulan orang tuaku hari ini datang. Saat ini bersamaku.]


[Mereka ingin berkenalan denganmu sekaligus melamarmu untukku]


[Besok orang tuaku akan datang ke orang tuamu]


[Aku harap kamu tidak terkejut dengan berita ini]


[Bahkan aku berharap kamu akan bahagia dengan kesungguhanku padamu]


[Sampai jumpa besok pagi]


What!!

__ADS_1


Wajah Jamilah pucat seketika. Sesaat detak jantungnya pun berhenti. Dia masih kurang percaya dengan kalimat-kalimat yang ada dalam handphonenya.


__ADS_2