Peluru Cinta Sang Jenderal Hafidz

Peluru Cinta Sang Jenderal Hafidz
Baju untukku


__ADS_3

Belum juga kesadarannya kembali. Wanita itu menepuk bahuku. membuatku tersentak sehingga rasa kantuk pun hilang.


"Kenapa nggak bangunkan aku?"


"Aku juga baru bangun."


Kita pun segera bangkit. Mengibas-ibaskan baju dari rumput rumput kering yang menempel di baju. Meski dengan baju seadanya, aku pun pergi mengikuti langkah kakinya ke arah Masjid, untuk melaksanakan salat subuh.


Selesai sholat subuh, rasanya aku masih enggan untuk turun. Meninggalkan tempat ku bersujud. Masih terasa sekujur tubuh ini pegal-pegal. Maklumlah latihan perang telah menguras seluruh tenagaku. Bagaimana pun tubuh telah terlatih, kalau diforsir terus-menerus akan lelah juga. Sebentar rebahan, ku rasa tak apa-apa.


Tapi, Belum juga lama diriku bersandar. Ada seruan agar kita berkumpul bersama di lapangan. Memangnya ada apa? Mengapa sich mereka seakan tak rela melihat kita sedang santai sejenak. Katanya kita tamu. Bukan lagi tawanan. Tapi perlakuannya kok seperti ini? Membuat diriku berfikir ulang tentang perang yang katanya sudah usai. Sabar ... Sabar ... Orang sabar dicintai oleh Tuhan.


Meski demikian aku ikuti seruan itu. Tapi Bukan karena perintah mereka. Melainkan karena ingin memulai hari sebagai mana biasa aku lakukan. Menikmati pagi dengan sedikit kegiatan ringan. Jogging ataupun senam. Menikmati segarnya udara pagi. Yang belum terkontaminasi oleh polusi. Dan juga menatap indahnya mentari yang mulai tersenyum di balik awan. Yang masih malu-malu menampakan wajahnya dengan sinar kemerah-merahan. Persis seperti diriku kalau sedang dipuji orang ... Whuuaalllahhh ... Narsisnya keluar.


Lepas dari paraduan tempatku bersujud, aku melihat teman-temanku yang tertawan, kini sudah berkumpul di tengah lapang. Kelihatannya akan melakukan senam bersama. Mungkin hanya menunggu diriku untuk memulainya. Tapi jangan harap aku mau memimpinnya. Sorry .... Bukannya apa. Ini murni karena musiknya. Yang membuat pusing kepala. Nggak ngerti artinya juga.


"Jamilah, Ayo senam!"


"Baiklah." Ikuti saja. Menyenangkan lawan ... Eee ... Teman.


Ternyata bukan hanya kita. Tapi dari pihak yang kemarin kita lawan, melakukan senam juga. Kita gabung. Instruktur dari mereka. Jadi seru dan ramai. Apalagi ditutup dengan lomba tarik tambang. Ini yang membuat diriku geleng-geleng kepala.


Bagaimana mungkin, latihan bertahun-tahun jadi prajurit. Lombanya hanya tarik tambang?!


Yang benar saja!


Sudahlah, nikmati saja ... Toh aku bukan pemainnya. Hanya sebagai regu sorak yang ada di pinggir lapangan.


Berjam-jam kita menikmati pagi dengan bersenang-senang. Tak terasa peluh sudah banyak keluar. Membuat badanku semakin bau. Apalagi belum ganti baju. Dan juga belum mandi lagi sejak setelah dari sarang buaya. Jangan dibayangkan bagaimana aromanya ... Aku sendiri tak ingin menciumnya. Apalagi kalian.


"Kak, di mana kamar mandinya?"

__ADS_1


"Ya ... di kamar yang tadi malam."


"Tapi, itu kan kamar Jendral! Apa dia tak marah?"


"Apa kamu mau mandi di kamar itu?" Ekor matanya mengarah pada bangunan tempat teman-teman bermalam.


Astaghfirullah al adzim ... Ah, yang benar saja. Masak mandi di kamar mandi mereka. Pria semua. Begini ini kalau di tempat orang. Semua serba terbatas.


Kalau begini ... Aku jadi ingat rumah. Punya kamar mandi sendiri. Di kamar lagi. Tak usah ke mana- mana. Dan bisa menikamati privasiku dengan bebas. Bagaimana keadaan Bunda Zulfa dan Papa. Dan tentu dengan adik kecilku ... Kangeeeeen ....


"Hai, kenapa melamun?"


"Kangen rumah."


"Sudah ... pilih yang kamar Jendral saja. Kan orangnya tak ada. Ada kakak juga. Aman!"


"Habis ini kita ada latihan. Sekaligus kami akan perkenalkan pesawat baru sama kamu. Nanti bisa kamu coba."


Dia tersenyum, dan mengangggukkkan kepala.


"Sudah, mandi dululah. Habis ini kita sarapan. Lalu seperti yang kamu inginkan."


Ini yang membuat diriku bersemangat. Mencoba pesawat baru. Apalagi pesawat itu yang membuat diriku bertekuk lutut. Dengan begitu aku bisa mempelajari kelebihan dan kekurangannya. Sewaktu-waktu menghadapi pesawat ini tak kelabakan dan bisa mengalahkannya.


Bersama kakak yang cantik ini, diriku memasuki kamar Jendral, meski dengan langkah ragu. Tak sangka di atas meja telah ada sebuah paper bag. Dan di atasnya ada tertulis namaku. Tapi benarkah? aku tak berani menyentuhnya. Abaikan saja ....


Kulanjutkan langkahku menuju kamar mandi. Yang sederhana tapi cukup nyaman. Belum sampai kakiku melangkah masuk. Kakak cantik itu memanggil namaku.


"Jamilah, ini untuk kamu."


Eh ... Ternyata benar. Sudah memang rizkiku. Aku terima saja. Kebetulan saat ini bajuku memang benar-benar bau. Mau pakai lagi, kok rasanya nggak nyaman.

__ADS_1


Aku meraih paper bag dari genggaman kakak cantik itu. Ku lihat, di dalamnya. Ada sebuah baju berwarna coklat tua berpadu dengan coklat susu. Itu warna kesukaanku.


"Untukmu. Dari Jenderal." Dia memberikannya sambil senyum-senyum. Terus terang diriku menjadi curiga. Terima apa nggak ya ... Apa setiap tamu yang ke sini selalu diberi hadiah? Jangan-jangan ada udang di balik batu. Bisa jadi masalah kalau begini ....


"Jendral kakak baik banget."


"Hm ...." Lagi-lagi dia tersenyum penuh arti padaku. Tapi maksudnya apa ... Aku tak mengerti. Benar-benar membuatku curiga.


"Tak ada apa-apanya, kan?"


" Sudah janganlah berfikir yang macam-macam. Yang penting ada ganti. Dari pada pakai baju kumel itu. Gitu aja kok repot."


Hehehe ... Tapi memang benar. Pakaian yang ku pakai harus segera diganti. Agar tak malu bila bergabung dengan mereka nanti.


Ku bawa paper bag itu ke dalam kamar mandi. Agar bisa berganti, tanpa diketahui oleh Kakak cantik itu. Begitu selesai bersih diri, aku pun mencoba baju yang diperuntukkan untukku. Bener-bener pas di badan. Nyaman sekali saat baju itu melekat di badan ku.


Aku pun memasukkan baju yang sudah kumal itu, ke dalam paper bag. Menggantikan tempat baju baru yang kini melekat di tubuhku.


Keluar dari kamar mandi, sudah tidak kutemui lagi Kakak yang cantik itu. Ke mana dia? Oh, mungkin ada keperluan. Anggap saja begitu.


Badan sudah segar. Pakaian juga sudah berganti. Kini saatnya untuk mengisi perut. Memberi makan penghuni di dalamnya. Aku bergabung dengan teman-temanku yang sudah lebih dulu ada di ruang makan. ternyata kakak yang cantik itu juga sudah ada di sana bersama dengan teman-temannya.


Baru setelah itu kita menuju ke lapangan. Di situ sudah ada beberapa teman. Berbaris rapi menunggu instruktur yang akan memberikan petunjuk kepada kita bagaimana menerbangkan pesawat mereka.


🌟


Sementara itu, di ruangan yang baru saja ditinggalkan oleh Jamilah. Duduk pria bermata biru. Dia tampak serius memandang sebuah foto yang ada ditangannya. Sesekali tampak senyum di wajahnya.


Dulu kamu masih kecil, masih imut. Bikin labolatorium ku hancur. Dan kamu tidak berhenti menangis untuk bisa mendapatkan maaf dariku. Apa kamu masih mengingatku?


Aku masih mengingat siapa namamu, Indah Ayu Setyawati.

__ADS_1


__ADS_2