Peluru Cinta Sang Jenderal Hafidz

Peluru Cinta Sang Jenderal Hafidz
Pilihan Jamilah


__ADS_3

Sepasang bola mata dari seorang gadis cantik berbalut gamis lebar, berwarna biru tosca dengan cadar sewarna, mengawasi setiap tamu yang datang dari balik jendela perpustakaan keluarga.Yang salah satu pintunya mengarah ke taman.


Terlihat kegelisahan di raut wajahnya. tanpa disadari keringat dingin terasa mengalir di dahi dan telapak tangan. Dia melihat rombongan keluarga Akmal maupun komandan memasuki pelataran rumah dengan gugup. Dia sama sekali tak menyangka kalau mereka akan datang dalam waktu yang bersamaan.


Meskipun dia tahu keduanya akan datang hari ini, tapi tak berharap mereka akan datang dalam waktu yang bersamaan. Tuhan, mengapa diriku menjadi bingung dan ragu.


Ingin keluar menyambut mereka, namun dia urungkan. Dia merasa belum siap bertemu keduanya.


Saat ini dia hanya bisa meruntuti dirinya mengapa tak bisa mengatakan pilihan hatinya sejak awal perhatian demi perhatian yang diberikan Santosa hanya karena segan.


Jamilah pun duduk di atas karpet tebal dengan tangan menopang dagu di atas dampar oval yang ada di tengah ruangan. Wajah termangu menatap keluar.


Andai dirinya bisa berharap, moga-moga Papa dan Abah bisa menyelesaikan masalah ini, tanpa kehadirannya.


"Hai." Dia tersentak dari lamunan, mendengar suara yang tak asing di telinganya. Dia menoleh, menatap seorang yang ditunggunya namun tak berani menemuinya.


"Kak Bara." Ada perasaan lega bercampur senang saat melihat orang yang sedari pagi selalu dinantinya.


Akmal ...


Dia yang memang sudah gerah satu ruangan dengan Santosa, diam diam meninggalkan tempat pertemuan itu saat perjamuan makan. Berkeliling taman kecil sekedar mencari hawa segar yang bisa membuatnya nyaman, tak sengaja melihat sesosok wanita yang dicarinya berada di bangunan kecil bersebelahan dengan ruang tamu. Oh, kamu di sini rupanya ...


"Kenapa Kakak ke sini?"


"Tak tahulah. Yang pasti Kakak merasa gerah di sana. Ada Santosa. Mengapa mereka ke sini, sih." ucapnya kesal.


"Kakak marah?"


Mau marah gimana. Itu bukan haknya untuk melarang seseorang datang ke keluarga Jamilah.


Tapi yang jelas ada rasa sedikit kecewa Mengapa Jamilah tidak memberitahu sebelumnya.


"Maafkan Ayu, Kak. Ini mendadak. Baru tadi malam Ayu tahu."ucap Jamilah dengan wajah tertunduk dan takut.


Bolehlah dirinya kini merasa senang menemukan orang yang dicarinya. Sosok yang seakan menghilang sejak dia masuk ke ruang tamu.


"Sembunyi ya ... Lari dari kenyataan," goda Akmal pada gadis yang selalu membuatnya rindu. Akmal menghampiri Jamilah yang masih duduk diam di tempatnya.


"Ayu sedang bingung, Kak."


Entahlah ... pada Akmal, Jamilah selalu bisa terbuka bahkan bermanja. Meski dirinya tahu kalau saat ini Akmal bukan siapa-siapanya.


"Senang atau bingung?"


"Seandainya Kakak dalam posisi Ayu bagaimana?"


Bikin gemes, deh. Bukannya menjawab tetapi balik bertanya.


"Kakak juga sih yang salah. Sejak dulu Aku ingin menolaknya. Tapi Kakak nggak boleh. Jangan salahkan dia kalau menganggap kedekatan Kita ini hanya sebagai saudara yang harus saling menolong karena tugas." imbuhnya.


"Sudah mulai membela dia, nich."jawab Akmal tertawa ringan untuk menutupi perasaannya yang takut akan kehilangan wanita yang senantiasa dia sebutkan dalam doa.


"Kakak kok ngomong gitu sih, cemburu?"

__ADS_1


Dulu-dulu dirinya bisa berdamai dengan Santosa tetapi untuk hari ini rasanya itu sulit dilakukan. biarlah dikatakan egois. Tapi dia masih tahu diri. Bahwa antara Santosa dan dia masih sama. Masing orang lain bagi Jamilah.


"Nggak boleh ya, Kakak cemburu?"


Jamilah semakin merasa bersalah. Dia pun tertunduk sedih.


"Lalu aku harus bagaimana? Aku ...." Dia pun lirik terisak tak bisa meneruskan kata-katanya.


"Kenapa?" tanyanya lembut.


"Apa Papa memaksamu untuk memilih komandanmu itu?"


Jamilah menggelengkan kepala.


"Tidak." jawabnya lirik.


"Aku hanya ingin menangis saja, tak lebih. Karena keputusanku sama. Tapi Aku takut nanti ada yang kecewa"


"Aku rasa baik komandan atau aku bisa memahami apapun yang akan engkau putuskan."


"Kakak tak marah."


Akmal melengos sedikit, membuang pandangannya ke tempat yang lain. Tak bisa dipungkiri ada rasa sakit tersendiri seandainya Jamilah memilih selain dirinya.


Namun dia mencoba menguatkan hati dengan apa yang akan diputuskan oleh Jamilah.


"Marah sih tidak, tapi sedikit kecewa kalau kamu tidak memilihku." jawabnya dengan tertawa yang agak dipaksakan. Dia mencoba jujur terhadap dirinya dan dengan apa yang dirasakannya.


"Sudah menentukan pilihan?"


Jamilah diam dia memutar bola matanya dan tersenyum, lalu kembali menatap Akmal yang duduk di depannya dan mengangguk.


"Sudah kamu pikirkan resikonya?"


"Apa resikonya?" Tanya Jamilah dengan wajah serius.


"Kalau kamu memilih Santosa kamu masih bisa tinggal di sini dan tak ada hambatan untuk meniti karirmu kecuali kalau dia menginginkanmu menjadi ibu rumah tangga."


Jamilah tertawa kecil. Bisa-bisa nya Kak Akmalnya ngomong seperti itu. Seolah-olah dia menginginkan dirinya berjodoh dengan Santosa. Padahal jelas terlihat kalau itu membuat dada Kak Akmal sendiri sesak. Terdengar nafas panjang dan berat yang dihembuskannya berkali-kali.


"Kalau aku memilih Kakak, bagaimana?"


"Bahagianya hatiku karena itu yang aku harapkan. Tak sia-sia aku bela-belain datang ke sini, meski harus berdebat dengan atasan Kakak dulu." Dia menepuk dadanya lembut lalu membuang tangannya ke atas. Ingin menunjukkan kalau dia sedang bahagia. Padahal masih banyak keraguan dia rasakan saat ini.


"Narsis sekal," ucap Jamilah tersipu malu.


"Tapi Kamu mungkin tak bisa melanjutkan karirmu karena kakak juga seorang prajurit. Dan tak mungkin Kakak meninggalkan negara kakak. Tapi kalau memang sudah takdirmu di jalur itu, di mana pun berada pasti ada jalan."


"Teka-teki dong, untuk karirku."


"Kamu tahu itu pertanyaan yang tak mungkin bisa Kakak jawab. Semua sudah tertulis. Kalau kita sudah menjalani dan berusaha baru kita tahu bahwa itulah takdir kita."


Jamilah tersenyum dia pun menutup muka dengan tangan dan geleng-geleng kepala. Terus terang dia tidak begitu mengerti dengan apa yang dikatakan Akmal.

__ADS_1


"Jadi begini. Baik kamu sama dia atau sama Kakak hasilnya sama. Karirmu bisa lanjut, bisa juga berhenti. Tergantung pilihanmu mau lanjut atau berhenti. Itu saja."


"Ya ... sama dong. Nggak ada pilihan. Tapi harus milih."


"Hmmm ... Bisa jadi begitu. " Akmal tertawa. Sesaat kemudian Jamilah ikut tertawa.


Sekilas dia melihat wanita yang ada di depannya dengan senyum. Senang rasanya bisa melihat dia tertawa lepas begitu. Setidaknya dia bisa mendengar tawa Jamilah sebelum mendengar pilihan Jamilah yang membuat hatinya berdebar-debar.


"Ayu, ternyata Kamu di sini." Keduanya langsung menghentikan tawa.


"Bunda." Keduanya menoleh pada pemilik suara yang kini berdiri di tengah pintu. Yang memandang dengan mereka heran dan juga bingung.


"Jamilah, bunda jadi khawatir. Dari tadi dicari sama tamu. Kamunya nggak muncul-muncul."


Jamilah beranjak meninggalkan duduk ternyamannya yang bisa membuat dirinya menghindar sejenak dengan permasalahan yang dihadapinya saat ini.


"Maafkan Setyawati, Bunda."


"Sudah nggak apa-apa. Ayo ke sana. Bunda tak enak dengan mereka," ajak Bunda.


"Nak Bara, kamu juga di sini?"


"Maafkan Bara, Bunda." Akmal segera menghampiri Bunda Zulfa memberi salam serta mencium tangannya dengan takzim.


"Om Akmal." panggil lelaki kecil yang buru-buru turun dari gendongan. Wajahnya yang tampak sayu kini berubah ceria.


"Hai," sapa Akmal. dia pun berjongkok dan mengepalkan jari-jari tangannya untuk melalukan tos ala-ala anak muda. Lalu meraih tubuh mungil itu dalam dekapannya.


"Om, badan Abid sakit semua sejak semalam. Seperti digigit semut nakal. Panas dan sakit sekali," adunya.


"Di bagian mana?"


"Semuanya, Om."


Mungkinkah ini efek yang ditimbulkan oleh zat X10MZBY1. Tanpa sadar Akmal membuka bahu Abid, mengusapnya lembut, meniupnya pelan. Dan sepertinya Abid pun menikmatinya.


Zulfa memandang heran dengan apa yang dilakukannya. Apalagi Abid terlihat tenang dalam dekapannya dan sedikit manja. Membuat bunda Zulfa merasa sungkan.


"Abid."


"Nggak apa-apa, Bunda." Akmal pun berdiri, meraih Abid dalam gendongannya.


Bunda Zulfa yang memang sejak awal tak bisa konsentrasi dengan acara untuk putrinya ini. Karena hampir semalaman Abid selalu menggodanya dan tak mau lepas dari dirinya. Begitu ada yang bisa menggantikannya, dia tersenyum lega.


"Nak Akmal, Kenapa nggak gabung sama mereka."


"Ingin ngobrol sama Ayu, Bunda," jawabnya terus terang.


"Kita ke sana dulu aja yuk. Nanti bisa dilanjutkan lagi ngobrolnya,."


Tanpa banyak bicara Mereka mengikuti Bunda Zulfa, kembali ke ruang tamu, melewati pintu depan. Alhamdulillah semua telah selesai menikmati hidangan. Kini semua sedang berbincang-bincang. Kelihatannya pembicaraan yang serius.


"Nah ini orangnya," ucap Abah Ridwan ketika melihat mereka masuk, membuat Jamilah sedikit deg-degan. Namun dia berusaha untuk tenang.

__ADS_1


__ADS_2