Peluru Cinta Sang Jenderal Hafidz

Peluru Cinta Sang Jenderal Hafidz
Memulai Pengobatan


__ADS_3

Mereka baru keluar saat menjelang sarapan. Papa Hasan dan juga Abid sudah menunggu mereka di meja makan.


Akmal segera menghampiri Hasan dan memeluknya dengan erat.


"Berkat doa Papa akhirnya percobaan Akmal berhasil. Semoga reaksinya sama ketika zat itu masuk ke dalam tubuh Abid, ya Pa."


"Semoga ..." Jawabnya lirih dan lemah.


"Papa tidak suka?" Akmal agak bingung dengan reaksi calon mertuanya. Tubuhnya tiba-tiba melepas, seperti tidak antusias dengan apa yang dihasilkannya. Dia pun merenggangkan pelukannya.


Sambil menunduk Hasan Berkata, "Alhamdulillah, kamu berhasil. Hanya saja Papa masih ketir-ketir kalau zat itu dimasukkan ke tubuh adikmu ... Papa cemas,Jangan-jangan tidak akan membuat Abid sembuh bahkan semakin parah?"


Akmal pun melepaskan pelukannya, mencari tempat duduk yang kosong di samping calon mertuanya.


"Kalau Papa masih ragu, Akmal tidak akan melakukannya."


Hasan diam. Meskipun berat, tapi itu yang dibutuhkan Abid saat ini.


"Lakukanlah, Papa akan mencoba kuat."


Akmal melonjak gembira. Bangkit menghampiri Hasan, memeluknya sekali lagi.


"Terima kasih, Pa."


Akmal menghampiri Abid yang duduk di samping Hasan. Mengusap kepalanya hingga membuat berantakan rambutnya. Membuat Abid kaget seketika.


"Kenapa sih Om Akmal ini. Nggak tahu ya kalau badan Abid sakit," cicitnya dengan wajah merengut.


"Maafkan Om. Makan yang banyak, biar kuat. Habis ini Om akan obati."


Dia tidak menjawab. Hanya kepalanya mengangguk-angguk pelan dengan raut muka yang masih merengut.


Sedih juga melihat piring abid yang masih utuh dengan makanannya.


"Mengapa nggak dimakan, nggak enak ya?"


"Sakit di badan Abid yang bikin nggak enak makan," jawabnya dengan nada sedikit kesal.


"Ya sudah. Yuk, Om suapin."Dia segera meraih piring itu. lalu mengambil kursi yang tadi didudukinya ke dekat Abid.


Alhamdulillah walaupun agak susah akhirnya habis juga makanan yang ada di piringnya.


"Nah gitu anak Soleh biar penyakitnya pergi, nggak berani lagi tinggal di tubuh Abid."


Sekali lagi Akmal mengusap kepalanya sebelum kembali ke ke tempat duduknya sendiri untuk menikmati sarapannya.


"Akmal Aku mau keluar sebentar." William yang sudah menyelesaikan sarapannya beranjak dari tempat duduknya. Meninggalkan dirinya yang belum menikmati sarapannya sedikit pun.


"Papa abid juga ingin keluar, boleh ya?"


"Tanya sama Om Akmal."


"Tentu boleh, tapi nggak boleh lari-lari ya. Karena habis ini penyakit yang ada di tubuh Abit mau Om ambil. Bisa?"


"Bisa Om." Jawabnya pelan dengan wajah ditekuk.


Om Akmal banyak aturannya. Kadang bikin sebel juga. Abid berjalan sambil ngedumel sendiri. Membuat William pun tertawa kecil. Ada-ada saja anak kecil itu.


"Sini yuk bermain sama Om!"


William meraih tangan kecil itu dan mengajaknya ke taman yang ada di belakang rumah dengan tertawa ceria.

__ADS_1


Akmal tersenyum kecil menatap mereka pergi, lalu dia meneruskan sarapannya didampingi oleh Hasan yang terlihat masih gelisah.


"Tidak ada efek sampingnya, kan?"


Akmal pun meletakkan sendoknya, menghentikan sarapannya, serta menyandarkan punggungnya.


Memang sejauh ini dia belum tahu efek samping dari zat tersebut apabila bereaksi di dalam tubuh. jadi belum bisa menganalisis hal itu.


"Akmal tidak bisa memberikan keterangan apa-apa untuk saat ini. Hanya saja Akmal berharap, kalaupun ada efek sampingnya bisa Akmal atasi."


"Oh iya Paman Akmal nanti akan didampingi oleh Tante Fariha. Dia seorang dokter yang akan memantau perkembangan Abid selanjutnya."


"Mengapa bukan William?"


"Ada pekerjaan yang lebih berat untuk dia. Adiknya terinfeksi zat itu hampir satu tahun yang lalu. Nanti aku mau minta Dia yang akan menyembuhkannya."


Akmal melihat kecemasan di wajah Hasan. Dia pun mengubah posisi duduknya dengan menundukkan kepala di atas meja.


"Atau kalau Papa menginginkan ditunda dulu tidak apa-apa."


"Papa hanya menginginkan Abid segera sembuh."


"Akmal akan berhati-hati. Semoga saja ini berhasil."


Akmal tak berani meneruskan sarapannya. Sehingga membuat Hasan serba salah. Tapi dia pun belum bisa menepis kekhawatiran yang hadir dalam dirinya.


"Sudah sarapan lah dulu. Papa mau shalat Dhuha."


"Terima kasih Pa. Doakan semoga ini berhasil."


"Ya*," jawabnya lemah sambil berlalu meninggalkan Akmal sendiri.


"Assalamualaikum ... Gimana kabar keponakan tante?"


Rupanya tante fariha yang belum lama dia telepon kini sudah ada di hadapannya.


"Waalaikumsalam. Alhamdulillah baik, Tante."


"Kemarin acaranya lancar?"


"Lancar."


"Tante sudah sarapan?"


"Sudah ... Ada tugas apa nih manggil-manggil Tante?"


Kebiasaan Akmal apabila menemui hal yang berhubungan dengan obat ataupun penyakit, dia akan senantiasa menggunakan jasa tantenya yang memang berprofesi sebagai dokter.


"Biasalah Tante. Bantu aku untuk menyembuhkan seseorang."


"Boleh asal bayarannya ...."


Meskipun hanya candaan namun Akmal sudah tahu akan hal itu. Sebelum memanggil tantenya dia akan mentransfer terlebih dahulu beberapa dolar ke dalam rekeningnya.


Akmal tahu betul bahwa tante farihah tidak akan mempersoalkan tentang bayaran. Dia lakukan itu karena ingin menghargai keringat seseorang apalagi menyita waktunya.


"Apa masih kurang?"


"Hehehe ... Tergantung resikonya bagaimana dan berapa lama."


"Obatnya sudah aku siapkan, tinggal Tante suntikan."

__ADS_1


"Alhamdulillah dong nggak ribet."


"Tapi tolong pantau perkembangannya ya, Tante. Karena Akmal mau ke kantor."


"Ya. Tante ngerti kok, udah jangan khawatir."


"Tante masih ingat William? Dia akan nemani Tante."


Fariha nampak diam sebentar lalu mengangguk-nganggukkan kepalanya dengan pelan.


" Ya ... ya ... Tante ingat. Kalian sedang eksperimen?"


Akmal diam sebentar. Dia tak ingin menjawabnya dengan kata melainkan dia menganggukkan kepalanya dengan sedikit membuang nafasnya. Tapi ....


"Ya," Jawabnya dengan penuh keraguan.


"Ah Kalian. Selalu membawa tante dalam masalah. Tak tahukah bahwa itu resikonya besar."


"Ya Tante. Aku nggak punya pilihan." Akmal hanya pasrah bahkan kalau tidak jadi bersanding dengan Ayu. Yang jelas dia tak pernah berharga demikian. Sekarang mau dimarahi atau apalah, dia tidak akan menyahuti apalagi membantah.


"Tante akan bantu semampu tante. Tapi kalau ada apa-apa, jangan salahkan Tante."


Spontan Akmal bangkit dari duduknya karena teramat bahagia. Hampir saja dia akan memeluknya kalau saja Fariha tidak menghentikannya dengan telapak tangan tepat di depan dada Akmal.


"Eeit ... eeiit ... Mau dihajar sama suami Tante?"


"Maaf Tante. Tapi masak dengan bibi sendiri nggak boleh peluk?"


"Bandel juga kamu. Dibilangin nggak mau." Suara boleh tinggi tetapi senyum di bibirnya tidak pernah ketinggalan.


"Sana pergi, siapkan semuanya. buang-buang waktu saja," ucapnya jangan canda.


"Ya Tante."


Akmal segera membereskan peralatan kotor yang sudah digunakan. Membawanya ke dapur sebagaimana yang biasa dilakukan. Ada maupun tidak ada art di rumahnya. Bahkan dia akan mencucinya pula.


"Sudah bibi saja, Tuan."


"Eh maaf, Bik." Dia pun meninggalkan barang tersebut di tempat cucian piring. Lalu mencuci tangannya di wastafel. Mengeringkannya dengan serbet yang ada di sana.


"Makasih, Bik. Akmal tinggal dulu."


Dia pun melangkah menuju kamarnya mengerjakan shalat hajat sebelum menyiapkan segala sesuatu untuk kebutuhan pengobatan Abid. Termasuk menyiapkan jarum suntik yang lebih kecil lagi karena kemarin yang dibawa dirasa terlalu besar cc-nya.


Alhamdulillah, saat dia turun ke bawah, mereka sudah siap. Mereka kini sedang asyik bercanda dengan Abid, terutama Fariha.


"Bagaimana Tampan, udah siap sakitnya diambil sama Tante?" Candanya sambil mengambil jarum suntik dari napan yang dibawa Akmal.


"Iya sudah siap, Bu dokter cantik ...."


Fariha tersenyum, "Wah Tante jadi tersanjung. Cantikan mana dengan mamamu?"


Tanpa dia sadari Papa Hasan telah menyingkap lengannya. Fariha siap menyuntikkan zat itu tanpa diketahui Abid.


"Ya ... cantik kan Bunda. Tante kalah jauh."


Semuanya tertawa mendengar jawaban Abid yang polos itu. Hehehe ...


"Wah, tapi Tante kan baik hati," ucapnya sambil menyuntikan jarum suntik itu ke lengan Abid.


" Aaawwww ...." teriak Abid.

__ADS_1


__ADS_2