
"Itu Kak, Aku nyari buku yang kita beli tadi itu loh. Di mana?"
"Oh itu, ada di ruang tamu."
Plong ... Rasa hati Akmal saat melihat Jamilah pergi dari hadapannya. Kalau saja dia tahu dan menanyakan ini dan itu padaku, aku belum siap untuk menjelaskannya.
"Jamilah ... Jamilah, kamu kok bikin keki kakak sih." Gerutu Akmal pada dirinya sendiri. Dia teramat gemes dengan keputusan hatinya yang tersimpan sejak ... dulu ... kala ... Kala kecil menantinya sampai dewasa. Giliran dewasa, susah ngomongnya.☺️
Daripada bingung, Akmal pun melanjutkan kegiatannya untuk menyambut Maghrib. Terlihat sinar matahari sudah mulai remang-remang. Bertanda sebentar lagi waktunya datang. Sedangkan saat ini dirinya masih lepek dengan baju yang dipakainya dalam pertempuran tadi siang. Belum ganti dan juga belum bersih diri. Dia pun menaiki tangga menuju ke kamarnya tanpa peduli dengan Jamilah yang kini mengobrak-abrik tas yang berisikan buku.
🌟
Sementara itu Jamilah yang sedang meneliti buku-bukunya, terlihat bingung. Karena ada satu buku yang tidak dia kenal. Yaitu berjudul , Ku Ingin Bahagia Dalam Pernikahan yang Berbalut Samara, pengarang Asmara.Dirinya merasa tidak mengambil buku itu.
Tetapi Mengapa ada di antara tumpukan buku-bukunya. Apakah ini milik Kak Akmal? Sebentar! Ini samara dan asmara. Kelihatannya dan kedengarannya mirip. Samara; sakinah, mawaddah, rohmah. Biyuh-biyuh kereeeen ... Itu cita-citaku banget.
"Kak," panggil Jamilah.
Saat itu dia melihat Akmal yang sedang berjalan berlahan di tangga. Turun dari lantai atas sambil memperbaiki letak kancing di lengannya.
Mendapat panggilan seperti itu Akmal segera mendatangi Jamilah. Dia terlihat bingung dengan buku-bukunya.
"Ada apa?" Matanya melirik sekilas pada buku yang yang ada di tangan Jamilah. Ups, dia tersenyum sendiri. Buku itu ....
"Ini buku Kakak?"
Tertangkap basah dech. Tak bisa menghindar lagi. Mau mempelajari buku itu dulu sebelum melangkah lebih jauh. Ternyata sudah ada di tangannya. Okelah, nanti kita pelajari bersama-sama. Mungkin sudah qodratullah. Jalani apa yang sudah menjadi garis kehidupan dengan bahagia. Hehehe ....
__ADS_1
"Ya. Tapi buku itu untuk kamu."
"Jangan ngeledek aku ya ... Calon aja belum punya. Menikah sama siapa? Sama Pussy?"
"Tapi kamu mau menikah juga kan bukan mau sendiri terus?" Sengaja Akmal menggoda Jamilah. Ingin tahu bagaimana reaksi anak itu kalau disebut kata pernikahan.
"Kakak ini ngomongnya ngelantur terus. Pergi sana! Katanya mau shalat magrib." Jamilah jengkel juga mendengar olok-olok Akmal. Apalagi saat melihat Akmal hanya ketawa-ketawa menikmati kemarahannya.
"Mau ikut nggak jamaah di markas?"
"Nggak, Kak. Paling laki-laki semua."
"Iya sich. Ya sudah Kakak tinggal."
"Nanti Kakak pulang, kan?"
"Insyaallah."
"Sekitar jam 8. Ada apa?
" Nanti aja dech. Entar kakak telat magribannya."
"Oke."
Itu kesempatan mengapa datang begitu saja. Anggap saja suatu awal yang baik. Untuk melanjutkan keinginan yang masih tersembunyi.
Kini langkah Akmal menjadi ringan. Meninggalkan rumah dengan tanpa beban. Sedangkan Jamilah membereskan buku-buku yang tergeletak di meja untuk dibawa ke kamarnya. Yang akan dinikmati setelah makan malam dan menjelang tidur.
__ADS_1
Kenapa juga Kak Akmal beli buku ini. Apa dia mau menikah ya ... Syukurlah kalau gitu aku ikut senang. Cuma aku masih penasaran, kak Bara ku pergi ke mana ya? Dia itu Kak Akmal atau Kak Bara? Aku benar-benar bingung. Sepertinya iya tapi semua orang memanggilnya di sini Akmal. Terus aku mau apa Kalau dia memang Akmal. Pusiiing ....
Allahu Akbar Allahu Akbar ... Suara adzan telah membuyarkan lamunanku tentang Kak Bara atau mungkin Kak Akmal. Alhamdulillah ... Saatnya mengistirahatkan anganku dari hal-hal yang tak perlu. Memikirkan cinta dari yang fana. Padahal ada yang lebih kasih sayang dan cinta selamanya. Apalagi memiliki cintanya, pasti itu luar biasa.
Jamilah menuju kamarnya dan berwudhu dan juga mengambil mukena. Kemudian menuju ke mushola kecil yang ada di dalam rumah. Tak lama kemudian bibi Umaimah datang. Mereka pun bersiap-siap untuk shalat jamaah Maghrib saat itu juga. Usai shalat magrib, Jamilah melanjutkannya dengan Tilawatil Quran bersama dengan bibi Umaimah.
Di tengah-tengah dia membaca Al-Qur'an, angannya teringat kembali pada Akmal. Pada saat mereka melakukan sambung ayat di malam itu. Rasanya ingin sekali dia mengulang kembali. Tapi sayang Kak Akmal sekarang di markas. Ingin menghubunginya, tapi apakah itu nanti tidak mengganggunya. Tidak ah ... biarkan saja. Nanti kan kita jumpa lagi di jam 8. Tunggu saja saat itu, kita bisa sambung ayat lagi kalau Kak Akmal tak ngantuk.
"Nona Ayu sudah lapar? Kok berhenti membacanya. Biar bibi siapkan."
"Enggak Bi. Makan malamnya nanti saja kalau Kak Akmal sudah datang."
"Oh ceritanya Nona Ayu kangen sama Tuan Akmal," goda Bibi Umaimah dengan senyum penuh arti.
"Bibi ini ada-ada saja. "
"Pasti Tuan Akmal juga merasakan yang sama."
Bibi Umaimah pandai juga menggoda Jamilah. Sampai-sampai dia tersenyum. Mentertawakan dirinya sendiri. Dipikir-pikir untuk apa dia malu kalau tak ada rasa. Atau saat ini dia malu mengakui, kalau ada sesuatu rasa yang kini sedang bertamu ... Tapi siap-siap untuk kecewa. Bukankah Kak Akmal sebentar lagi akan menikah.
"Bibi! Aku nggak mau memikirkan hal yang terlalu jauh."
Bisa-bisa Dia akan terpojok, kalau candaan ini tidak dihentikan. Maklumlah, Dirinya tak berpengalaman dengan masalah ini. Saat SMP seumuran SD. Saat SMA masih seumuran SMP. Saat masuk kemiliteran masih seumuran SMA. Bagaimana mengenal tentang pacaran? Apalagi saat melihat kakak-kakak SMA itu pacaran lalu pada akhirnya hiks ... hiks ... hiks ... patah hati, kasihan dech. Tak maulah aku seperti itu. Lalu di kemiliteran yang ada hanya tugas dan tugas.
Biarlah diriku berpacaran dengan luasnya langit biru. Akan ku nikmati keindahannya. Akan ku jelajahi di segala penjuru cakrawala. Meski pun yang kutemukan hanya angin, awan dan kesunyian. Ya, hanya kesunyian. Kecuali saat Kak Akmal datang. Sayang, sebentar lagi dia mau menikah. Aku harus membiasakan diri jauh darinya. Dan tak memikirkannya.
Untunglah Tak lama kemudian berkumandang adzan isya dari komplek yang ada di sekitar rumah. Yang mampu menghentikan angannya yang membuatku sedih. Lalu kita melakukan shalat berjamaah kembali.
__ADS_1
Selesai melakukan shalat Jamilah membereskan mukenanya dan kembali ke kamar. Melanjutkan apa yang sudah direncanakannya. Membaca novel ... Sesekali matanya melirik pada buku yang diberikan Akmal. Kadang ingin membukanya. Tapi takut, kalau-kalau akan membuatnya kembali sedih.
Hati menjadi tak tenang. Selalu saja angannya tertuju pada buku itu. Sehingga tak bisa menikmati cerita yang ada dalam novel yang sedang dibacanya. Akhirnya dia letakkan novel itu, dan meraih buku dari Akmal