Peluru Cinta Sang Jenderal Hafidz

Peluru Cinta Sang Jenderal Hafidz
Pergi


__ADS_3

“Akmal?” Bastian benar-benar dibuat tersenyum dengan nama baru yang disematkan oleh Jamilah pada Christ.


“Maaf Akmal, aku salah panggil.” Tangannya melambai dan mata pun membulat sempurna, tak henti-hentinya bibir tersenyum.


Ups, sepertinya dia salah mengenali orang.Orang yang selama ini bersamanya disangka Akmal ternyata bukan.Dia adalah Christ, hehehe ...


Sedangkan Christ hanya bisa garuk-garuk kepala yang tidak gatal. Rasanya menggelikan sekali, Jamilah memanggilnya dengan nama Akmal. Sepertinya makin seru kalau dia menghubungi seseorang.


Chris mengangkat alat komunikasi, bicara dengan sembunyi-sembunyi. Sesekali matanya melirik pada Jamilah yang sedang melompat turun dari pesawatnya. Tentu dengan masih di bawah todongan senjata Bastian.


Dia sangat ceria saat berbicara di handphonenya. Lalu menutup handphone itu dengan ceria pula. Gerangan apa yang direncanakan oleh Christ.


Terlihat garis cerah di ufuk timur, bertanda fajar akan terbit. Sebagai petunjuk sholat subuh sudah memasuki waktunya.


Meski tak bisa mendengar suara adzan, tapi tanda alam sudah menunjukkan demikian.


“Bastian, bebaskan saja. Kurasa dia harus melaksanakan kewajibannya sebagai seorang muslim."Chris merasa kasihan dengan Jamilah. Tapi bisa memaklumi sikap Bastian juga. Mungkin dia masih menyimpan marah karena dijatuhkan ke laut beberapa waktu lalu oleh Jamilah.


"Subuh sudah mau datang.”


"Benarkah?"


"Baiklah."


Jamilah bersorak gembira dalam hati, ternyata Christ benar-benar orang baik. Tapi diriku mencium ada udang dibalik rempeyek. Tak mau lah ....


Tak mau diriku menjadi tawanan mereka.


"Jangan coba-coba kamu lari.” Suara Bastian yang keras menggelegar, membuat Jamilah kesal, tak berdaya.


Alhamdulillah, ternyata Bastian baik juga, memberikan kesempatan beribadah padanya. Jamilah pun menyia-nyiakan kesempatan itu. Dia pun berniat pergi meninggalkan Bastian untuk menjalankan kewajibannya.


Baru beberapa langkah, Bastian sudah menghentikannya.


“Serahkan dulu semua senjatamu!”


“Aku sudah tidak membawa senjata.” Jamilah mencoba mengelak.


“Atau perlu aku geledah?”


“Yang benar saja. Tak sudi diriku tersentuh oleh tanganmu”


“Cepat!”

__ADS_1


Orang ini benar-benar menyebalkan banget sih, gerutu Jamilah dalam hati.


Jamilah mengeluarkan senjata yang tersembunyi dalam tubuhnya satu-persatu, sambil menatap Bastian dengan kemarahan.


Bastian bukan seperti Christ, terlihat wajahnya sedikit garang, menampakan bahwa dia seorang pembunuh berdarah dingin yang tak segan-segan menghabisi lawannya.


Semoga dugaannya salah. Tak ingin dirinya berurusan dengan orang-orang semacam itu.


“Cepat!” Lagi-lagi Bastian membentaknya.


Oke ... oke ... sekarang menurut dulu. Takut kehabisan waktu. Jamilah segera menyerahkan senjata yang dibawanya. Dia meletakkannya di bawah kaki Bastian. Lalu Jamilah segera berlari menuju ke laut untuk segera berwudhu.Tanpa memperdulikan Bastian yang memandangnya kesal.


Demikian juga dengan Christ. Dia juga menuju laut di sisi yang lain untuk melakukan hal yang sama. Setelah selesai berwudhu, mereka menuju ke arah yang berbeda untuk melakukan shalatnya. Maaf ya, Christ laki-laki sedangkan aku perempuan, bukan mahrom lagi. Kalau berduaan bikin Su’udhon orang.


Bastian hanya memandang mereka dengan termangu. Dulu dia pernah belajar tentang Islam tapi tidak tahu kenapa kemudian mutung. Dan kini dia tak tahu harus meyakini yang mana. Antara keyakinan yang lama, tak pernah dijalankan, dengan Islam dia juga tak pernah dijalankan. Justru Christ yang lebih dulu bersyahadat, padahal belajarnya baru juga sebentar. Bingung dech ....


🌟


Sementara itu di tempat yang berbeda, terlihat Akmal sedang murojaah Alquran. Waktu yang tersisa setelah selesai melakukan salat malam, senantiasa diisinya dengan Tilawatil Quran.


“Siapa juga ini pagi-pagi sudah telepon,” gumam Akmal. Dia merasa terganggu saat mendengar handphonenya berdering. Tapi mungkin hal penting. Diapun menghentikan tilawahnya.


meraih handphone yang ada di nankas di pinggir ranjangnya.


“Assalamualaikum, Christ. Ada apa malam-malam sudah telepon.”


“Siapa?”


“Pujaan hatimu.”


“Kamu ada-ada saja.”


“Sudah lah daripada berangan-angan terus, lebih baik kamu temui dia.Gunakan waktu ini sebaik-baik, dari pada terlambat dan menyesal nantinya.Sudah, Aku tunggu kamu.”


“Baiklah. Sebentar, aku mau shalat subuh dulu. Tolong jaga dia untukku.”


“Beres, jangan khawatir.”


Alhamdulillah tak berapa lama terdengar suara adzan Subuh dari masjid yang ada di lingkungan departemen pertahanan. Meskipun keinginan hati untuk segera menjumpainya, tapi diurungkan dulu. Penguasa Cinta dari segala cinta, telah memanggilnya. Itu yang lebih berhak untuk didatangi.


Akmal pun pergi menuju ke sumber suara. Untuk melakukan shalat subuh berjamaah. Baru kemudian dia memenuhi panggilan suara hati yang bertaut pada hasrat akan cinta, maksudnya cinta yang ingin dihalalkannya.


“Robby kamu temani aku sebentar.”

__ADS_1


“Kemana?”


“Jangan banyak tanya,ikut saja.” Dia berkata sambil membereskan kan alat shalatnya, tanpa menoleh pada Robby yang baru saja menyelesaikan dzikirnya.


Kalau sudah berkata seperti itu, tak ada pilihan lain kecuali mengikuti tuannya dengan setia. Robby pun menjadi segan untuk menyahutinya, khawatir nanti bisa memperlambat tuannya.


Akmal kemudian meninggalkan tempat sholatnya. Dia menuju ke helikopter yang ada di tengah lapangan diiringi Robby. Pengawal sekaligus sahabatnya.


“Kamu duduk di situ aja. Biar aku saja yang menerbangkan pesawat ini.” Akmal berkata sambil memakai seatbelt. Dia tampak serius duduk di belakang kemudi.


“Ya.” Robby menjawabnya dengan singkat. Pokoknya yang penting 'ya'. Apa permasalahannya tak perlu tahu. Kalau tanya, kok kepo amat. Kan dirinya hanyalah pengawal.


Hanya dia merasa heran


Tumben Akmal mengemudikan pesawat sendiri. Ada apa gerangan?


Keponya disimpan saja, ikuti kata tuan.


Tak lama kemudian dia pun sudah menerbangkan helikopter tersebut, diiringi tanda tanya besar dari dalam diri Robby, si pengawal setia.


Pesawat menyibak angkasa yang mulai terang, oleh mentari yang sudah tak malu lagi menampakan diri. Sinarnya yang cerah, secerah senyum Akmal. Karena melihat pulau yang menjadi tujuannya, mungkin juga tujuan hatinya.


Dari angkasa, dirinya melihat samar-samar sebuah pesawat tempur dan tiga titik hitam yang ada di sekitarnya. Mungkinkah itu mereka. Tak salah!


Mereka adalah Kris dan Bastian. Dan wanita yang tertutup rapat itu mungkin Jamilah, seperti yang diceritakan oleh Chris sebelumnya, semoga.


Berlahan-lahan Akmal pun mulai menurunkan pesawatnya, mendekati mereka semua. Ada kegembiraan dalam senyumnya. Sambil berdoa, semoga yang diceritakan Christ benar adanya. Wanita itu Jamilah, gadis kecil yang selalu ditunggu.


Di saat Bastian dan Christ sedang menatap pesawat Akmal yang mulai turun, Jamilah berlahan-lahan mengundurkan diri, mendekati pesawat tempurnya. Kesempatan untuk kabur. Mumpung semua tidak memperhatikan.


Dua orang laki-laki saja, sudah membuatnya tak berdaya, apalagi kalau bertambah, makin sulit menghadapinya. Jalan satu-satunya kabur, sebelum semuanya menyadari, dan semakin sulit untuk melarikan diri.


Saat Akmal menginjakkan kakinya di pasir, saat itu pula Jamilah menghidupkan pasawatnya. Bey ... Bey ... Semua.


Sontah mereka menengok ke ke arah deru pesawat yang meninggalkan pantai. Bastian segera mengarahkan senapannya pada pesawat yang dikendarai Jamilah.


“Jangan!” Akmal dan Christ mencegah tindakan Bastian.


“Sial,” ucap Bastian marah menatap kepergian Jamilah.


Dia marah bukan karena tak dapat mempertemukan Jamilah dengan Akmal. Tapi karena tawanannya melarikan diri. Itu saja, tak ada yang lain. Apalagi dia seorang prajurit yang sudah menceburkan dirinya ke laut, makin menggebu keinginan untuk mengalahkannya. Tapi kalau sudah melarikan diri begini, harus bagaimana ....


Beda dengan Christ, yang niat pertamanya hanyalah mempertemukan Akmal dengan orang yang selama ini ditunggu-tunggu.

__ADS_1


“Jamilah. Ini Jendral Akmal yang datang ...,” teriak Christ sekuatnya tenaga. Tapi pesawat itu semakin menjauh. Dan akhirnya menghilang.


"Jamilah, kamu kok malah kabur sih," gerutu Christ.


__ADS_2