Peluru Cinta Sang Jenderal Hafidz

Peluru Cinta Sang Jenderal Hafidz
Akram


__ADS_3

Kini selesai sudah perjalanan  umrah. Sesuai dengan rencana dan janji Paman Mustafa, mereka akan menuju ke Turki, ke rumah Paman Ulya, papanya Kaka Bara.


Jamilah benar-benar tak mengira bahwa keinginannya untuk bertemu dengan Kak Bara akan secepat itu terwujud. Tapi tak tahu pasti lah ...  


Apakah itu akan membuat dirinya bertemu dengan Kak Bara atau tidak, jangan ditanya. Tapi setidaknya dengan itu, Jamilah menjadi tahu tempat tinggal Kak Bara.


Jamilah sangat tersanjung saat mereka disambut oleh oleh keponakan Paman Mustafa. Yaitu Akram dan Aisye. Dia menatap ke dua orang itu dengan terheran-heran. Dia merasa mengenal laki-laki yang ada di depannya. Seperti Kak Bara, tapi sayangnya dia berbeda.


Akram yang melihat gadis kecil menatapnya dengan intens, segera mengenalinya. Gadis kecil yang beberapa bulan yang lalu diperkenalkan oleh saudara kembarnya. Anak yang telah menghancurkan laboratorium Akmal.


“Hai kamu Jamilah ya ... Kenapa kamu ke sini?” Akram menyapanya sambil bercanda. Dengan muka yang sedikit dilipat agar terlihat agak seram, biar gadis kecil yang ada di hadapannya menjadi takut. Ada saja ....


Ternyata sangkaannya salah. Jamilah dengan berani menatap balik dengan mata lebar dan melotot.


“Aku nggak kenal Kakak, kenapa Kakak melarang-larang aku ke sini.”


Bikin gemes saja. Makanya si Akmal suka sama dia. Lucu ....


“Kamu yang anak Panti Asuhan itu toh?”


“Memangnya kalau aku anak Panti Asuhan, Kakak mau apa?” Jamilah berseru dengan berkacak pinggang. Matanya melotot dan suaranya tinggi dan dibesar-besarkan. Bukannya terlihat galak tetapi malah terlihat sangat lucu.


Tak sangka kalau akan mendapatkan tanggapan seperti itu. Senyum Akmal merekah sempurna. 2 cemolan ke pipi Jamilah mendarat sempurna.


“Ih ... Kakak. Sakit tahu!” Tangan mungilnya mengibaskan  jari-jari  Akram dari pipinya. Tapi sayang, tak juga tangan itu terlepas.


“Mau Jadi adik Kakak?” Akram benar-benar gemas. Sudah lama tak ada adik kecil dalam keluarganya semenjak kelahiran Aisye, membuat kangen terhadap anak kecil.


Jamilah benar-benar dibuatnya kesal, karena tangan Akram yang tak mau lepas-lepas, hingga membuatnya merasakan adanya rasa sakit di pipi. Dengan tanpa takut kembali Jamilah membulatkan matanya, seakan ingin memberitahukan kalau dirinya sedang marah. Yang begini ini, yang membuatnya semakin gemas. Tapi tak tega untuk meneruskan cemolan di pipi Jamilah. Akhirnya Akram melepaskan tangannya.


“Uh ... Jamilah pikir-pikir dulu. Awal berjumpa Kakak sudah jahat.” Jawaban yang tegas, membuat Akram terpana.


Tapi selanjutnya apa yang terjadi. Jamilah meninggalkan begitu saja. Dia mendekati sesosok wanita yang berjalan menengok-tengok seolah-olah mencari seseorang. Dia bermata biru, lebih muda dari pada Kak Defra. Saat pandangannya beradu dengan Jamilah, Dia pun tersenyum.


“Kakak mencari siapa?” Jamilah menyapanya dengan benar-benar ramah. Sehingga mampu mengalihkan fokus  Aisye menjadi tertuju padanya.

__ADS_1


“Tidak,” jawab Aisye dengan senyum ramah pula. Lalu meraih Jamilah dalam pelukannya. Dia memberikan ciuman di kepala dan juga senyum terbaiknya. Tapi sayang tak lama, dia meninggalkan Jamilah seorang diri. Karena sudah menemukan orang yang dicarinya. Yaitu Kak Defra.


Dia pun  berlari menuju ke arah Devra, sepupunya. Untuk melepaskan kangen karena lama tak jumpa.


“Sama Kakak jahat, sama Kakak yang bermata biru ramah. Enggak adil itu.”


“Serah Jamilah, lah. Soalnya kalau orang yang bermata biru, Jamilah jadi ingat sama Kak Bara.”


Akmal lagi, Akmal lagi. Ternyata aku kalah jauh sama kamu. Dirimu benar-benar sudah menetap dalam angannya ....  Ah, hatinya jangan dulu ya ... masih kecil.


“Sudah ah,  Kakak ndak mau berdebat sama kamu. Yuk ke mobil kakak.” Akmal menarik tangan kecil Jamilah, mengajaknya ke tempat parkir yang ada di luar bandara.


Jamilah merasa aneh, sepanjang jalan menuju tempat parkir, dia tak menemukan Papa dan Paman Ridwan. Kemana mereka?


Dia pun memandang Akram dengan curiga.


“Jangan-jangan Kakak mau menculik Jamilah?”


“Hahaha ... bisa jadi.” Akram serasa mendapatkan hiburan, Jamilah ... Jamilah.


Segera saja Jamilah menarik tangannya, mau melepaskan diri. Dia sudah benar-benar khawatir kalau-kalau kakak ini mau menculiknya.


“Kenapa. Takut?”


“Ini ke mana?”


“Ke mobil Kakak.”


“Nggak mau. Aku mau sama Papa.” Dia pun menghentikan langkahnya, membuat Akram juga berhenti.


Jamilah tak menyadari kalau Papa  Paman, serta Umi Ridwan sudah lebih dulu berjalan menuju tempat parkir sesaat yang lalu meninggalkan Jamilah dengan Akram.


“Jangan khawatir. Papa Jamilah mungkin sudah menunggu di mobil Kakak.”


“Jangan bohong.”

__ADS_1


“Kita buktikan saja. Ayo!”


Mau tak mau Jamilah mengikuti langkah Akram yang lebar-lebar itu. Langkahnya yang pendek, membuatnya sedikit berlari untuk menyeimbangkan dengan langkah Akram. Capek, bikin kesal ... Ingin Jamilah marah tapi tak bisa.


Untunglah Akram sadar kalau gadis kecil itu lelah. Dia pun mengurangi kecepatan langkahnya.


Jamilah yang semula terlihat mulai senewen harus mengikuti Akram, kini tampak bersemangat kembali melanjutkan langkahnya. Apalagi saat melihat dari kejauhan Papa dan Paman Ridwan berdiri di samping mobil, seperti dikatakan Akram.


Ditambah pula saat melihat sesosok laki-laki yang sedang berbincang-bincang dengan Papa maupun Paman Ridwan. Orang yang selama ini selalu dinanti kedatangannya. Karena urusan maaf yang masih jadi bebannya.


Penampilannya sudah agak berubah, rambutnya menjadi cepak dan berseragam pula. Tapi Jamilah tak melupakannya. Jamilah ingin memastikan kebenarannya. Jangan-jangan ini hanya ilusi belaka. Segera memanggilnya. Meskipun belum sampai di dekatnya.


“Kak Bara ....”


 Jamilah berlari mendekatinya. Meninggalkan Akram yang bingung dan juga kaget dengan keberadaan adiknya yang tiba-tiba muncul di antara mereka.


Merasa namanya ada yang menyebut, Laki-laki itu pun menengoknya. Memandang Jamilah yang kini sudah hampir mendekatinya. Tapi dia diam, pura-pura tak tahu, atau gimana ....


“Adik memanggil siapa?” Akhirnya tak tahan juga untuk tidak menyahutinya.


“Apa kakak masih marah padaku? Hingga Kakak melupakanku,” bisiknya lirih. Jamilah benar-benar tak menyangka kalau Akmal tak mengenalinya lagi.


Akmal diam. Dilanjutkan apa tidak nich ... sandiwaranya. Rasanya kok ingin menggoda gadis kecil ini.


Jamilah menghentikan langkahnya. Dia memandang lekat lelaki yang ada di samping Papanya. Tak salah, kalau dia Kak Bara. Tapi mengapa seolah-olah tak mengenalnya. Sebegitu dalamkah kesalahannya, sehingga dia tak mau mengenal dirinya lagi.


“Kak Bara ....” Jamilah memanggilnya dengan lemah, karena kini dirinya ragu, benarkah laki-laki di depannya itu Bara. Orang yang dikenalnya dulu. Apalagi saat Akram memanggilnya dengan sebutan Akmal, bukan Bara.


“Hai Akmal. Tumben di sini.”


“Mau berangkat, ada tugas. Aku lihat Aisye. Mampir, kangen Aku sama Kalian.”


Akmal membiarkan Jamilah sedih dan bingung, tanpa mau menanggapinya. Bahkan sampai dia berpamitan, dia tak ingin menyapanya.


“Kak, aku pergi dulu. Salam untuk Mama Papa.”

__ADS_1


“Ya ....”


__ADS_2