Peluru Cinta Sang Jenderal Hafidz

Peluru Cinta Sang Jenderal Hafidz
Tazkia Dan Bastian


__ADS_3

Tak berapa lama mereka sudah mengudara. Dia menerbangkan pesawatnya ke arah rumah sakit terdekat. Rumah sakit angkatan laut yang terletak di bibir pantai tak jauh dari mereka berada. Hanya perlu waktu sekitar 7 menit untuk sampai.


Saat pesawat mendarat, Akmal segera keluar dari ruang pilot menuju ke ruang perawatan. Agar bisa membantu dalam evakuasi Jamilah. Tapi langsung dicegah oleh salah seorang tenaga medis yang ada di sana.


"Maaf Jenderal, bajumu basah."


Akmal tersadar. Makanya, sejak tadi kok dingin. Ternyata dia masih berbalut kain basah. Terkena air laut. Lepek sekali rasanya. Malu ... Baru kali, dirinya tak memperhatikan kebersihan dan kerapian.


"Ya, Baiklah. Aku tinggal." Akmal pergi ke luar, menghubungi asistennya.


"Robby. Bisa kirim aku baju."


"Baik."


Belum juga handphonenya dimasukkan. Terlihat notif masuk. Rupanya dari Jenderal, Komandannya.


[Aku tunggu laporannya.]


[Baik]


Syukurlah, tak berapa lama Robby datang membawa pakaian bersih, sesuai dengan apa yang dipesannya. Dia menyerahkan dengan wajah agak tegang. Tampak kekhawatiran di wajahnya. Kabar yang baru saja dia dengar, benar-benar membuatnya terkejut.


"Alhamdulillah ... Jenderal selamat."


"Terima kasih Robby. Tapi sekarang Jamilah masih dalam keadaan kritis."


"Setidaknya Jenderal sudah melakukan yang terbaik."


Kata-kata yang menghibur. Tetapi tidak bisa menghilangkan kesedihan yang dia rasakan saat ini.


"Aku mau menghadap komandan. Aku titip Jamilah. Insyaallah nanti mama datang. Tolong tunjukkan kamarnya!"


Mama?!


Apa hubungan antara mamanya dan Jamilah? ...


Mengapa Akmal menunjukkan peristiwa ini pada mamanya? ...


Belum sempat Robby bertanya, Akmal sudah berlalu dari hadapannya. Dia menuju ke kamar mandi, membersihkan diri. Dan alhamdulillah tak lama kemudian kembali. Terus terang dirinya masih penasaran tentang peristiwa itu dan juga yang lain. Termasuk hubungan Jamilah dengan Mama Akmal.


Tapi lagi-lagi lagi dia harus kecewa. Karena Akmal meninggalkan dirinya begitu saja pergi tanpa berpamitan lagi. Dia sudah menghilang dengan sebuah taksi.


Seiring dengan taxi pergi, Robby menuju ke kamar Jamilah dirawat. Dan menunggu kedatangan Mama Akmal. Dan juga mengawasi perkembangan Jamilah. Tentu saja untuk dilaporkan pada Jenderal Akmal, atasannya. Ya ... Beginilah nasib sebagai pengawal.

__ADS_1


🌟


Sampai di markas Akmal segera menemui komandannya untuk melaporkan apa yang terjadi. Bahkan juga tentang kemarahan nya pada Tazkia.


"Assalamualaikum, Jenderal." Kalau ini memang benar-benar Jenderal. Bukan seperti dirinya yang baru Letnan Jenderal. Tapi sudah dipanggil Jenderal oleh teman-temannya.


"Wa alaikum salam. Masuklah Akmal."


"Maafkan Aku. Tak bisa langsung lapor pada Anda, Jenderal."


"Tak apa. Setidaknya dengan apa yang kamu lakukan., bisa mengurangi rasa bersalah kita pada mereka. Untunglah mereka cukup mengerti. Tapi kalau terjadi apa-apa pada Jamilah aku takut mengganggu hubungan kita, sebagai dua negara."


"Tapi saat ini Jamilah masih dalam keadaan kritis, Jenderal"


"Kita doakan saja semoga Jamilah segera bisa melewati masa kritisnya dan dan kembali pulih seperti sedia kala."


"Aamiin." Hanya kata itu saja yang dapat dia ucapkan untuk saat ini.


Kembali kesunyian menghiasi keduanya. Tak ada kata-kata yang keluar. Hanya kadang kala terdengar nafas berat dan panjang keluar dari Akmal maupun Jenderal. Masih tersimpan kemarahan di dadanya. Tapi untuk mengungkapkan, Akmal ragu. Karena sadar, pimpinan juga sedang sedih seperti dirinya.


"Aku tak habis pikir. Bagaimana mungkin seorang Tazkia berani melakukan hal itu terhadap tamu kita. Padahal selama ini dia ku kenal sebagai wanita yang baik."


"Aku juga mengenalnya begitu. Hanya belakangan ini, mungkin sekitar setengah tahun yang lalu. Semenjak dia aku tugaskan bersama Bastian di perbatasan. Ada banyak perubahan dalam dirinya. Aku tak tahu itu dan tidak bisa men-justice seseorang berdasarkan dugaan saja. Baru hari ini aku sadar bahwa dia benar-benar berubah."


"Dia menghilang. Pesawat yang dia bawa dia tinggalkan begitu saja di sebuah pulau kecil. Dan pada saat bersamaan Bastian juga menghilang."


"Maksud, Jenderal?"


"Aku takut kalau dia adalah mata-mata yang dikirim ke markas kita. Dan menginginkan penemuanmu."


"Sejauh itukah, Jenderal?"


"Kemungkinan besar seperti itu."


Kembali keadaan sunyi. Akmal mengetuk-ngetuk pahanya. Sesekali matanya terpejam. Kepalanya pun masih tertunduk. Tazkia ... gumamnya lirih.


Sedangkan komandan yang ada di depannya nya kadang-kadang menggelengkan kepala disertai dengan nafas yang berat.


"Jenderal. Semenjak aku bertemu dengannya sebenarnya diriku telah curiga melihat gelagatnya. Meskipun dia sangat dekat denganku, tapi tidak pernah sekalipun aku mempercayakan penemuanku padanya. Dan Jenderal juga tahu sendiri. Kalau hasil penemuanku itu hampir keseluruhannya aku percayakan pada Christ. Karena dia mempunyai kelebihan dan dalam membuka lorong waktu. Dan aku pun mengadakan penelitian di lorong waktu itu. Sedangkan di luar yang nampak hanyalah penelitiannya biasa-biasa saja. "


"Ya. Kita memang sudah memikirkan hal itu sejak awal ... Aku hanya khawatir Bastian itu kan sudah lama hidup di antara Kita Mungkin saja dia berhasil mendapatkan satu penemuan."


"Aku harap tidak. Semua penemuan itu sudah aku beri kode dan sudah terhubung dalam sistem yang hanya aku ketahui sendiri. Bahkan Christ pun tidak tahu. Aku lihat tidak ada yang berubah.'

__ADS_1


"Alhamdulillah kalau demikian." Lalu dia pun berhenti sejenak. Berfikir ... Dan berkata, "Apakah kamu jatuh cinta pada Jamilah?"


Perkataannya begitu pelan, tetapi cukup membuat Akmal tersentak dan terdiam.


"Apa hubungannya?"


"Tak ada. Tapi mungkin saja ada. Tazkia tahu kalau kamu suka sama Jamilah. Sedangkan sejak lama Tazkia suka sama kamu. Semacam cemburu lah. Hehehe ..."


"Jenderal ada-ada saja."


"Tapi bener kan, kamu nggak jatuh cinta sama Jamilah ... Aku sangat berharap kalau kamu tidak memilih Jamilah."


"Mengapa?"


"Dia itu dari negara asing, Akmal. Bagaimana mungkin kalian akan bersama dan kalian bisa jadi akan menghianati negara kalian masing-masing dengan hal itu."


"Jenderal Jangan berpikir terlalu jauh. "


"Aku sangat berharap kamu tidak melakukan itu."


Akmal tersenyum sambil geleng-geleng kepala. Ada-ada saja pikiran komandanku ini.


"Jenderal. aku balik lagi ya ... mau lihat keadaan Jamilah."


"ini yang aku khawatirkan, kamu terbawa hati padanya."


"Aku hanya mengusahakan, agar tamu kita mendapatkan perlakuan yang sebaik-baiknya."


"Baiklah kalau gitu. Nanti sore mereka akan balik. Apakah sudah bisa dipastikan kapan Jamilah sehat."


"Biarlah mereka melakukan yang terbaik. Kalau hari ini sudah baik dan sudah diijinkan oleh tim medis kita, insyaallah sore ini boleh kembali. Tapi sayang waktu diriku membawanya ke rumah sakit. Keadaannya masih kritis."


Kembali Jenderal menarik nafas. membuang dengan cepat. Di saat sedang menjalin hubungan baik.dengan negara lain. Dia dikhianati oleh anak buahnya dengan melukai Jamilah. Ini tentu pukulan yang amat berat. Meskipun mereka memaafkannya.


"Nanti sampai sore ini belum membaik. Biarlah nanti aku sendiri ke negaranya.'


"Akmal ingat! Jangan jadi penghianat!'


Kembali Akmal tersenyum. Bukannya dia tidak tahu akan kehawatiran pimpinannya. Untuk saat ini dia tidak bisa menerangkan karena soal hati. Bila hati telah memilih, sulit untuk melepaskannya.


Kadang masalah hati kita menjadi lemah. Tapi karena kelemahan itulah kita akan belajar. Bagaimana semua itu akan menjadi lebih baik. Dan menjadi seorang penghianat bukanlah cita-citanya.


"Assalamualaikum." Akmal pun pergi dengan membawa senyuman.

__ADS_1


__ADS_2