Peluru Cinta Sang Jenderal Hafidz

Peluru Cinta Sang Jenderal Hafidz
Menikah (End)


__ADS_3

Akmal berjalan meninggalkan mereka, menuju ruangan di sampingnya. Dia tak menemukannya. Terlihat bekas-bekas pertempuran. Di ujung ruangan, terlihat ada beberapa orang yang tergeletak tanpa nyawa, sepertinya anak buah Dokter Fath. Syukurlah, bukan mereka. Ada secercah harapan untuk mereka selamat.


Akmal keluar dari ruangan, menyusuri lorong yang menghubungkannya ke sebuah bangunan tua bergaya klasik abad 13 di tengah taman kecil dengan pohon-pohon tinggi di sekelilingnya.


Dari jauh dia melihat Sellin sedang menolong Aisye yang sedang terluka.


"Aisye." Dia berjalan cepat mendekatinya. Belum sempat dia membuka suara, Aisye sudah berteriak terlebih dahulu.


"Kak Akmal, cepat susul Ayu. Dia tadi ke sana."


"Kamu?"


"Aku tak apa-apa. Sudah ada suamiku." Akmal segera berlari ke arah yang ditunjuk Aisye.


Tiba di bangunan itu, semua tampak sepi. Seperti tidak pernah terjadi apa-apa. Namun samar-samar dia mendengar suara seseorang yang menangis. Bayangan yang buruk menghantui pikirannya.


"Ayu, kamu kah itu?" Tak ada jawaban. Dia terus melangkah menuju sumber suara. Seperti berasal dari di salah satu ruangan yang ada di sebelah ujung.


Ngiiiik ... Bunyi suara pintu terbuka terdengar begitu keras karena gema dalam ruangan yang beratap tinggi.


Akmal hanya menemukan seorang yang berpakaian putih di sana. Sepertinya Dia seorang dokter. Dia duduk dengan menopang wajahnya, membelakanginya. Di hadapannya terbujur kaku seorang anak kecil yang mungkin berumur 7 tahun.


"Kenapa dia?"


Bukannya jawaban yang Akmal terima namun kemarahan. Bahkan dia berkata-kata tanpa mau melihatnya sama sekali.


"Dia putraku, tak seharusnya kalian perlakukan seperti ini. Aku sudah turuti kemauan kalian. Tapi mengapa kalian menginginkan anakku juga."


Akmal terpaku. Kini dia semakin mengerti dengan peristiwa yang ada di hadapannya.Akmal yang memang sedih, bertambah sedih lagi mendengar kata-kata dari lelaki yang ada di hadapannya. Subhanallah ... Ini kejahatan yang luar biasa.


"Maaf." Akmal menutup kembali pintunya. Dia beralih pada ruangan di sebelahnya, ternyata itu adalah sebuah laboratorium. Ia pun menutupnya kembali.


Di dekat pintu keluar, dia melihat bercak darah berceceran. Jangan-jangan ... perasaannya menjadi was-was dengan nasib Jamilah.


Dia terus mengikuti bercak itu sampai keluar ruangan.


Beberapa langkah dari tempatnya berdiri, dia menemukan 2 pria tak bernyawa terkapar di lantai dan 3 orang lainnya di rumput taman. Dia hanya bisa berucap, "Innalilahi ...." lalu meninggalkannya begitu saja. Maaf kalau saat ini dirinya lebih mementingkan mencari wanita yang sudah lama bertamu di hatinya.


Akmal meneruskan langkahnya hingga sampai di kebun belakang. Di sana, dia disuguhi oleh pemandangan yang indah dari pohon tabebuia dan soga. Dia terus melangkah.


Memang indah pemandangan yang tersuguh di depannya. namun semua tak bisa menepis kekhawatiran yang kini benar-benar menguasai kesadarannya.


"Di mana kamu, Ayu?" Akmal bergumam lirih.


Tiba-tiba dia mendengar suara tembakan. Dia segera berlari ke arah sumber suara itu ada. Yaitu berasal dari sebuah ruangan cukup jauh dari tempatnya berdiri. Dia pun masuk ke dalam dengan cepat.


Dia menyaksikan salah satu dari anggota pasukannya tengah menghadapi seorang anak kecil yang telah berubah menjadi manusia pohon. Dalam salah satu tangannya ada sebuah pistol yang berhasil direbut dari lelaki itu. Untungnya tembakan itu meleset.


"Nak, percayalah kami tidak akan menyakitimu."


"Kalian jahat. Aku ingin orang tuaku."


"Iya nak nanti kami akan mempertemukanmu dengan orang tuamu."


Dia menarik pelatuk pistol itu namun tak ada peluru yang keluar. Dia sangat kecewa. Dia pun menangis.


"Kalian jahat. aku ingin Mama Papa."


"Kami janji. Pasti akan membawamu ke mama dan papamu."


Terlihat emosinya menurun. Dia kembali kepada keadaan semula. Seperti anak-anak pada umumnya. Lelaki itu pun langsung memeluknya, mendekatnya dengan penuh kasih sayang.


"Akmal?" Dia menatapnya.


"Kamu lihat Jamilah?"


"Dia ke sana." Dia menunjuk ke arah bangunan yang cukup unik. Ada mainan ayunan dan selorotan di sekitarnya.


Ini pasti bangunan untuk anak-anak ... Ada senyum dan ada juga kekhawatiran dibenaknya.


Dia tersenyum karena membayangka bahwa Jamilah berhadapan dengan anak-anak. Ya ... kalau anak-anak normal, pasti menyenangkan. Tapi kalau anak-anak dengan keadaan yang seperti baru saja dia lihat, mengkhawatirkan juga. Dia pun mempercepat langkahnya.


Langkah Akmal terhenti, ketika dia mendengar suara anak-anak ramai berucap,

__ADS_1


"Te*ois, te*ois. Takut ...."


"Hai, jangan lari. Kakak kan capek mengejar kalian."


Masya Allah ... Akmal ingin tertawa, mentertawakan dirinya sendiri. Orang yang dikhawatirkan, ternyata sedang asyik kejar-kejaran dengan anak-anak. Alhamdulillah.


"Ayu ... Ayu ... "gumamnya lirih.


Ketiganya langsung berhambur ke arah Akmal. Dia merentangkan tangan, siap-siap akan menangkapnya.


"Om Aku takut ... Itu ada te*ois ... Mau nangkep kami."


"Mana?"


"Itu." Jari mungilnya menunjuk ke arah Ayu Jamilah sedang berlari ke arahnya.


Senyum Akmal mengembang, "Jangan takut. Itu te*ois yang baik hati." Tangannya memeluk mereka semuanya.Ketiganya bergelayut manja di pangkuan Akmal.


Jamilah berhenti tepat dihadapan Akmal. Dia menundukkan kepala.


"Alhamdulillah kamu selamat."


"Ya, Kak. Tapi aku sedih."


"Kenapa?"


"Ikut Ayu."


Dengan menggandeng dua anak tadi, Akmal mengikuti langkah Jamilah yang menggandeng seorang diantaranya.


Tiba di ruangan di ruangan yang sesaat lalu Jamilah tinggalkan, Akmal melihat tiga anak yang merintih di atas tempat tidur mereka.


"Jaga mereka, Ayu. Aku mau ambil serum di markas."


"Ya, Kak. Cepatlah!"


Akmal segera menghubungi Kris dan juga satu anggota yang lain agar bisa membantunya di ruangan itu, sebelum meninggalkan tempat itu.


Akmal baru datang satu jam kemudian dengan membawa serum yang dibutuhkan oleh mereka. Alhamdulillah anak-anak sudah bisa tidur dengan nyenyak dan tidak mengalami kesakitan.


Menjelang tengah hari, Jamilah pun berpamitan.


"Kak, aku harus balik. Besok ada tugas.""


"Ya aku mengerti. Oh ya Abid juga sudah sembuh. Sekarang kalian sudah ditunggu sama papa Hasan. Nanti kalian akan dibawa oleh salah satu dari kita, di mana papa berada. Kalian bisa langsung pulang bersama-sama."


"Makasih Kak atas bantuannya."


"Tapi itu tidak gratis."


"Berapa yang harus Ayu bayar."


"Hahaha ... Aku hanya bercanda. Sudah pergilah."


"Orang dijawab serius, malah ditertawakan," ucap Ayu lirih.


"Benar mau bayar. Baiklah ... setelah menikah aku kasih tahu."


Seketika mata Ayu melotot.


"Assalamualaikum ...." ucap Ayu dengan kesal.


"Wa alaikum salam ...."


"Aku titip Kakakku ya ...." ucapnya saat berjabat tangan pada Santosa.


"Jangan Khawatir."


Akmal melepas Jamilah, Santosa dan Devra sampai mereka menghilang di angkasa.


Aisye dan Sellin terpaksa mereka tinggalkan di sana bersama pasukannya, untuk perawatan lukanya.


Untuk sementara Akmal dan beberapa orang dari pasukan tetap di sana untuk melakukan pengobatan pada orang-orang yang sudah terkontaminasi oleh zat X10MZBY1.

__ADS_1


Mereka menjadikan pulau itu sebagai tempat perawatan dan juga observasi perkembangan zat tersebut.


🌟


Kurang dari satu bulan dari kejadian itu di sebuah masjid islamic center, duduk seorang laki-laki berhadapan langsung dengan Hasan, menjabat erat tangannya, mengucapkan sumpah janji setia di hadapan penghulu.


"Aku terima nikah dan kawinnya Jamilah binti Hasan dengan mas kawin satu unit helikopter dibayar tunai."


"Bagaimana saksi?"


"Sah ...." Jawab mereka serentak menggema ke seluruh ruangan. Terutama suara para lelaki yang ada di sana. Seperti Santosa, dokter Irsyad, William, Bahrul Ulya, Mustofa, Akram, Sellin, dan lain-lain.


Senyum merekah tampak terlihat di bibir gadis berbaju putih dengan cadar sewarna. Dia diapit oleh Bunda Zulfa dan mama Naura. Ikut serta di belakangnya Aisye, Devra, Malika, Tante Rima, Umi Ridwan. Ya nggak kesebut nanti diundang di resepsi. Ok ....


Tak lupa pula diramaikan oleh pasukan bocil. Ada Humasa, Alif, Abid, Nayla dan Najma si kembar dari paman Akram. Pasukan bocil tidak boleh banyak-banyak ya nanti bikin rame. Takut kalian nggak bisa tahan untuk tertib. Kan sedang di masjid.


Pada malam harinya diselenggarakan resepsi pernikahan di sebuah hotel bintang lima. Semua keluarga hadir, teman sejawat, bahkan anak yatim tempat Jamilah dibesarkan.


Sayang di tengah-tengah resepsi telepon Akmal berbunyi. Ada panggilan tugas mendadak.


"Yang, kayaknya kita nggak bisa ngelanjutin resepsi deh."


Wajah Jamilah seketika menjadi redup.


"Nggak apa-apa." Jawabnya setengah terpaksa.


"Jangan cemberut gitu ah. Boleh pergi sama kamu kok."


"Bener?"


"Iya, Sudah yuk kita pergi."


"Dengan baju seperti ini?


"Nggak masalah kan?"


"Oke ...."


"Sebentar-sebentar."


"Ada apa?"


Jamilah menengok ke kanan dan ke kiri mencari seseorang.


"Itu dia. Tiara ... Sini dong!"


Wanita yang menjadi penerima tamu itu pun mendekatinya. Dia adalah adik tirinya dari Bunda Zulfa.


"Ada apa Kak?"


"Satu lagi ... Itu dia. Rahman ... Sini!"


Laki-laki yang terlihat dewasa itu pun mendekatinya. Dia adalah adik sepupunya, putra dari Tante Redha. Kakak Papa Hasan.


Bukankah mereka sudah akrab sejak kecil waktu di panti asuhan.


Mutiara Rahman .... Jamilah tersenyum sendiri mengingat masa kecil mereka berdua.


"Kalian berdua gantikan Kakak ya. Kakak ada tugas." Pernyataan Jamilah yang tak boleh ada bantahan. Dia menyerahkan bunga pengantin pada Tiara.


"Lho kok!"


"Adik itu harus nurut sama kakak. Urusan di sini aku serahkan pada kalian berdua. Kalau ada yang ngasih sesuatu boleh kok kalian ambil, sebagai gantinya."


"Kakak ini apa-apaan sih." Tiara ikut protes, tapi tersenyum juga pada waktu ada seseorang yang menyalaminya.


"Kakak Tinggal. Da ....."


Mau menulis tentang Mutiara Rahman, tapi entah kapan.


(kalau readers bingung dengan masa lalu tokoh-tokohnya, bisa tengok di karya author yang berjudul, MAHABBAH RINDU dan KETABAHAN ZULFA)


TERIMA KASIH UNTUK READERS SEMUANYA YANG TELAH SETIA MEMBACA KARYA AUTHOR YANG MASIH RECEH INI. SALAM SAYANG UNTUK KALIAN SEMUA 🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰

__ADS_1


__ADS_2