
Belum sempat Robby menghidupkan mesin, bantuan datang. Mereka membawa beberapa personil dan juga ambulans. Salah seorang menghentikan mobil Robby ketika melihat Akmal terluka.
"Jangan pergi dulu," cegahnya.
Robby menengok Akmal. Dia mengangguk dengan berat. Kali ini dia tidak bisa menolak, membiarkan mereka menjalankan tugas sesuai dengan aturan.
"Ya, baiklah." Terpaksa Akmal turun dari mobil. Dia menurut ketika salah seorang memeriksa lukanya lalu mengambil beberapa obat dan juga perban untuk membalut lukanya.
"Jangan khawatir, sebagian teman kita sedang mengejarnya."Dia mencoba menghibur AkmaI.
Akmal diam, pikirannya saat ini bukan pada masalah mengejar pencuri itu tetapi apa yang akan mereka hadapi nanti.
"Sudah," ucap lelaki itu membuat Akmal tersadar dari lamunannya
"Makasih."
Akmal masuk ke dalam mobil kembali. Mereka pun mengizinkannya pergi.
Salah seorang ingin membawa Tazkia kembali ke markas. William bingung tak bisa mencegahnya. untung Akmal melihatnya.
"Biarkan Tazkia ikut William, dia akan melanjutkan pengobatan dan penelitianku."
"Oh maaf, aku tak tahu."
Mereka pun berbagi tugas. Sebagian mengantarkan William dan sebagian lain membawa jenazah-jenazah ke rumah sakit terdekat.
"Aku pergi dulu." Pamit Akmal setelah melihat hampir semuanya beres.
"Ya,"jawab teman yang betisnya kini terbalut rapi.
Robby membawa mobil itu melaju kencang, meninggalkan mereka. Dia ingin segera menyusul penculik Profesor.
"Kita mampir ke markas dulu. Aku mau ambil sesuatu."
"Baiklah." Robby segera membelokkan mobilnya ke arah yang diminta Akmal.
Akmal turun dan menghilang ke dalam markas. Tak lama kemudian kembali bersama Chris dengan membawa sebuah alat untuk menembak hanya saja dengan bentuk yang sedikit aneh dan rumit di tangan mereka. Keduanya duduk di belakang.
Meskipun Robby penasaran senjata apa itu, tetapi dia tidak berani bertanya.
"Sudah saatnya kita menggunakan senjata ini."
"Kamu yakin?" Chris masih bertanya-tanya, Mengapa Akmal mengajaknya tiba-tiba, dengan membawa senjata itu pula. Senjata ciptaan Akmal dan juga Profesor Amar yang selama ini masih mereka rahasiakan.
"Ya. Yang kita hadapi musuh yang tak terduga. Seperti keadaan Tazkia saat ini." Mau tak mau Akmal harus menjelaskannya.
__ADS_1
"Ada apa dengan Tazkia?"
Huuaaah ... Akmal membuang nafasnya dengan kasar.
"Yang pasti bukan sesuatu yang baik. Unsur yang ada dalam dirinya berbeda dengan kita."
"Maksudmu?"
"Dia benar-benar sudah terkontaminasi. sebagian jaringan tubuhnya kadang bisa menjadi sebuah jaringan tumbuhan." Sekali lagi Akmal membuang nafasnya dengan kasar dan pandangannya jauh ke depan. Terlihat Dia sangat terbebani dengan keadaan Tazkia saat ini.
"Oh, maafkan aku."
"Siap-siap saja dengan keanehan
yang nanti akan kita hadapi."
Chris benar-benar belum bisa membayangkan apa maksud Akmal
"Semoga kita berhasil." Meskipun belum tahu apa yang akan dihadapi, bolehlah dirinya sedikit berharap.
"Aamiin," sahut Akmal sambil memejamkan mata. Terlihat tetesan bening di ujung matanya.
Entah kenapa, setiap kegagalan yang disebabkan oleh dirinya menimpa pada orang lain selalu menjadikannya lemah, tanpa daya. Meskipun itu terjadi karena ketidaksengajaan.
Hanya pada yang kuasa lah, dirinya bersandar. Dalam diam, dia mencoba mengurai lara yang menghimpit nuraninya. Mengadukan rintihan kalbu, tentang kegagalan, upaya dan keinginannya yang kini membuat jiwanya mulai lelah.
Chris yang melihat Akmal memejamkan mata, mengira sedang tidur. dia pun ikut memejamkan mata juga. sampai tertidur pulas di samping Akmal. Dia tidak menyadari kalau Akmal sudah membuka matanya,
Akmal tersenyum memandang dirinya. Dia tak tega membangunkannya. Biarkan saat ini dia istirahat, mengumpulkan tenaga untuk nanti, saat bertemu musuh.
"Alhamdulillah sudah terlihat rombongan kita," ucap Robby tiba-tiba.
"Ikuti mereka. Tak usah mendahului."
"Oke, Jenderal."
Akmal mengangkat telepon mencoba menghubungi pimpinan Komandan pasukan yang saat ini tengah mengejar penculik profesor. Memberitahu kalau saat ini dirinya sudah berada bersama mereka.
Laju kendaraan mereka tidak berkurang sedikitpun.
Di tengah perjalanan, telepon Akmal berdering. Sesaat detak jantungnya berirama mesra, melihat nama yang tertera di layar handphonenya. Tapi kemudian perasaanya menjadi was-was. Ada apa ? tak biasanya Jamilah menelepon, kalau tak urgent sekali.
"Assalamualaikum, Ada apa Ayu?"
"Maaf Kak. Dokter Irsyad diculik."
__ADS_1
"Diculik??" Masalah satu belum selesai kini datang lagi masalah yang lain.
"Iya Kak, baru saja. Kejadiannya di depan rumahku."
Akmal baru ingat, dia belum memberitahu Irsyad bahwa Abid telah dia bawa.
"Sekarang aku sedang di pelabuhan ngikutin dia."
"Sendiri?"
"Terus gimana lagi."
Anak ini selalu saja nekat. Mungkin dia tidak tahu kalau aku mengkhawatirkannya.
"Hentikan Ayu, lapor saja pada pihak berwenang!"
"Tak bisa Kak. Soalnya yang menculik itu sama dengan yang menculik Abid kemarin. Kalau aku lapor, pasti hasilnya zonk. Kasus ditutup kayak kemarin."
Aku mengerti akan rasa ingin tahunya yang amat tinggi namun keselamatannya jauh lebih penting.
"Ayu yang kamu hadapi itu bukan satu orang loh. Mereka memiliki senjata juga."
"Terus menurut Kakak gimana, aku nggak mau kali ini mereka lepas lagi."
Bagaimana ya ... Kalau aku mencegahnya, dia pasti akan berangkat juga.
"Kakak, Kenapa diam? Atau aku minta tolong saja sama komandan secara pribadi bukan institusi?"
"Jangan!"
"Mengapa? Jangan bilang kalau kakak cemburu."
Mana bisa dia bilang kalau aku tak cemburu, aku kan calon suaminya. Pergi dengan orang yang kemarin dia tolak. Boleh dong curiga, kesempatan buat dia untuk balas dendam ada orang yang telah membuat hatinya hancur berkeping-keping.
"Tak boleh kah Kakak cemburu."
"Tak boleh, belum halal."
"Oke-oke, Kakak mengerti. Sekarang hubungi kak Devra sama Aisye saja."
"Baiklah. Tapi aku juga perlu komandan karena mungkin saja komandan tahu sesuatu yang aku perlukan."
Dicegah pun takkan bisa. Akhirnya Akmal memilih untuk mengalah.
Ya Tuhan lindungi mereka semua, jiwa dan raganya akan selalu patuh pada aturanmu. Hingga selamat saat kita bertemu.
__ADS_1
"Ya bolehlah. Tapi tetap waspada dan hati-hati."
"Baik, Kak."