Peluru Cinta Sang Jenderal Hafidz

Peluru Cinta Sang Jenderal Hafidz
Gulungan Surat


__ADS_3

"Hai, apa itu?"


Bisa berabe nih ...


Aku lupa belum menyimpan surat itu. Ia masih tergeletak di pangkuanku. Begitu mawar ku angkat untuk ku letakkan dalam vas, Kak Akmal melihatnya.


"Surat dari komandan. Mungkin surat perintah," jawabku sekenanya.


"Surat perintah dengan kertas warna merah jambu diikat pakai tali yang manis dan diberi bunga mawar. Keren sekali surat perintahnya."


Uaaghh ... Orang ini bener-bener bikin Aku gemes. Ini kan urusanku yang amat privasi. Ingin tahu saja.


"Jangan-jangan ...."


Selalu saja meledekku.


"Apa?"


"Jangan-jangan perintah mau ajak nikah."


"Kakakkkk ...." Spontan aku memukul pundaknya dengan gulungan kertas itu.


"KDRT ini." Dia memegang tanganku dan memandangku lama. Tak ada kata yang terucap. Lalu dia tersenyum. Mungkin mentertawakan diriku yang sedang gugup. Lalu menurunkan tanganku perlahan.


"Ada apa Indah Ayu Jamilah? "Bening bola matanya menatapku tajam.


Astaghfirullah al adzim. Tak sanggup untuk membalasnya. Segera ku alihkan pandanganku.


"Maaf Kakak."


Mata itu ... Seperti mata yang sangat ku kenal. Selalu hadir dalam mimpiku. Dan mengusik anganku. Dia ... Kak Bara.


"Kenapa tak dibuka?"


"Ayu belum siap."


Memikirkan diri sendiri saja belum mampu. Apalagi memikirkan hal yang seserius itu. Bisa-bisa kembali pada posisi awal lagi. Nanti saja kalau sudah siap akan ku buka.


"Nih, Kakak simpan saja." Kuserahkan gulungan itu padanya.


"Yakin?"


"Sebenarnya aku penasaran tentang isinya. Tapi takut. Aku ingin tenang dulu. "


"Kasihan dong Komandan."


"Terus, Ayu harus bagaimana? Ayu nggak ada rasa sama komandan. Ayu hanya ingin berteman sama dia."


Entahlah, dengan Kak Akmal aku bisa begitu terbuka. Mungkin karena dia adalah orang yang pertama kulihat. Saat diriku siuman setelah lama tidak sadarkan diri. Apalagi kemudian dia memperkenalkan keluarganya padaku seakan-akan aku adalah bagian dari keluarganya.


"Lega rasanya."


"Apanya yang lega?"


"Anak kecil. nggak boleh tahu. Nanti tanya sama Papamu saja ya."

__ADS_1


Ini nih yang bikin pusing kepala. Aku itu tidak tahu Papa, tapi disuruh tanya Papa. Siapa dia, dimana dia, bagaimana dia, dan selama aku sakit ini mengapa tidak pernah menjenguk?


Sepertinya Kak Akmal tahu semuanya tentang diriku. Tapi sampai sekarang dia seakan-akan bungkam. Tidak mau menjelaskan.


Aku hanya tahu dari komandan kalau aku berasal dari Indonesia. Yang lain-lainnya aku tidak tahu.


"Kak. Papaku siapa?"


"Mau tahu? Sehat dulu. Pasti kakak akan ceritakan ke kamu. "


"Aku sudah sehat, Kak."


"Sehat sih sehat ... Tidak sekarang. Kakak nggak sempat. Mau ke markas dulu."


Kak Akmal itu banyak pertimbangan. Mau cerita saja menunggu ini menunggu itu. Pada akhirnya dia pergi melarikan diri. Tak bertanggung jawab . Alasan klasik. Aku sibuk, Aku ada tugas, Ada panggilan.


"Selalu gitu, dech."


Aku lihat dia termenung sejenak. Mungkin mempertimbangkan keinginanku.


"Oke tiga hari lagi, aku akan ceritakan itu semua. Disiapin fisik dan mentalnya, ya."


"Ya ...."


Ini sih penghinaan. Menganggapku seperti orang tak waras. Benar-benar keterlaluan. Kalau saja kakiku tidak seperti ini, pasti orang ini akan ku tendang-tendang, ku banting-banting, ku pukul-pukul, sampai tak berbentuk, seperti ayam geprek.


"Jangan lupa buah-buahan yang dari kakak dimakan. Nanti sore Kakak jemput. Sudah saatnya kamu rawat jalan."


"Oke ... Oke ... Ya ... Ya ... Silakan pergi kakakku yang tampan."


Jangan harap aku mengulanginya lagi. Ini sangat-sangat menjengkelkan.


"Pergi sana! Nanti terlambat." Ku keluarkan saja jurus ketusku. Agar dia segera menghilang dari pandanganku.


"Ok, Assalamualaikum ...."


"Wa alaikum salam ...."


Dia pergi tanpa dosa dan beban. Seakan-akan tidak terjadi apa-apa. Sedangkan aku masih berkutat dengan segala pertanyaan yang masih tersimpan. Membuat dada ini kadang-kadang terasa sesak.


🌟


Hari ini benar-benar sibuk. Banyak sekali laporan masuk. Salah satunya tentang sebuah tanaman. Yang kini ada di tangan Bastian. Tanaman biasa tetapi baginya itu sangat menarik. Tanaman yang tak diperhitungkan. Makanya pengamanannya level bawah. Tak masuk dalam daftar dalam dalam lorong waktu.


Terakhir tanaman itu ada masalah. Perlu penelitian lebih lanjut untuk mengetahui sebabnya. Tapi sayang sekarang di tangan orang yang salah. Bisa berbahaya ini! Ini tak bisa dibiarkan.


Tindakan yang tepat dan cepat adalah menemukannya kembali. Atau membuat anti dari pada tanaman tersebut.


Semua perlu perencanaan dan kerja tim. Begitu memasuki markas. Jadwal dari Robby sudah tersusun. Rapat koordinasi, pengecekan hasil penelitian dari yang level atas sampai dengan level bawah. Dan lain-lain yang banyak menyita waktu. Sehingga urusan Jamilah sampai terlupakan.


Aku baru sadar ketika selesai melaksanakan shalat magrib.


"Astaghfirullahaladzim, Bagaimana mungkin aku sampai lupa pada Jamilah."


Segera dia beranjak dari tempat sujud nya menuju mobil yang ada di tempat parkir. Perlahan Dia menghidupkan mobil, meninggalkan markasnya. Melaju dengan sedikit kencang ke tempat Jamila sedang dirawat.

__ADS_1


"Moga-moga dia bisa sabar. Tapi kalau marah, biarkan saja. Wajahnya lucu kalau marah."


Saat tiba di ruangannya, Kulihat dia masih khusu' berdzikir dan juga berdoa di kursi roda. Dengan rukuh yang masih belum lepas.


Dia belum sadar saat ini diriku sudah ada di sisinya. Dia tetap melanjutkan dzikirnya dan dilanjutkan membaca Al Qur'an.


"Assalamualaikum."


Dia pun menghentikan membaca Alquran. Tak ada wajah marah. Seperti saat ku tinggalkan pagi tadi.


"Wa alaikum salam. Alhamdulillah kalau kakak sudah datang. Ku kira batal, Kakak akan membawaku pulang."


"Maafkan Kakak, Jamilah. Hari ini kakak benar-benar banyak urusan."


"Sekarang sudah selesai, kan?"


"Alhamdulillah ... Sebagian sudah. Nanti dilanjut lagi, setelah mengantarkanmu ke rumah Mama."


"Ya. Baiklah." Tangannya melepas rukuh itu lalu melipat dan memasukkannya dalam tas kecil."


"Sudah semua, tak ada yang ketinggalan?"


"Sebentar, sepertinya ada yang belum Jamilah masukkan ke dalam koper."


"Aku tunggu di luar aja ya? Aku selesaikan administrasinya dulu!'


"Ok."


Kini semua sudah siap. Ada satu perawat dan juga satpam yang kumintai tolong membantunya. Mengangkat semua barang milik Jamilah. Bunga-bunga itu dibawanya pula.


"Kak Mama kok enggak jemput?"


"Mama Naura sedang keluar kota sama papa.."


"Jamilah di sana sama siapa?"


"Di sana ada tante fariha dan juga bibi Umaimah."


"Sabar ya.."


"Aku mengerti."


"Syukurlah ... Malam ini kakak juga harus kembali ke kantor. Ada urusan penting yang harus diselesaikan."


Benar-benar awal yang kurang sempurna. Ditinggal pemilik rumah hampir seluruhnya.


"Tante farikhah itu adalah seorang perawat juga. Jadi nanti bisa nemenin kamu. Yang penting apa yang sudah Kakak jadwalkan termasuk makanan yang harus dimakan, tolong ditaati.Jangan makan yang aneh-aneh dulu. Biar cepet sembuh."


Rupanya kak Akmal ini Benar-benar memperhatikan keadaan Jamilah. Sampai-sampai untuk masalah makan pun, dia yang atur. Sudah nikmati saja dengan bahagia.


Tiba di halaman rumah, Jamilah diam sejenak.


Sepertinya diriku mengenal tempat ini, tak asing. dan sepertinya pernah ke sini. Kapan itu, aku tak tahu.


"Kamu ingat sesuatu?"

__ADS_1


"Ya."


__ADS_2