
Tangan Abid menggapai Hasan, ingin digendongnya pula. Wajahnya yang sayu semakin nampak layu karena merasakan sakit di seluruh tubuhnya.
"Papa, ini makin sakit." Dia mengadu manja di dada Hasan. Sesekali mengusap air matanya.
Siapa yang tak sedih melihat putranya menahan sakit yang amat sangat. Hasan segera meletakkan kepala Abid di pundaknya. Lalu mengusap rambutnya dengan lembut.
"Habis ini kita ke dokter Arsya, minta obat ... Biar nggak sakit lagi.". Dia mengangguk. Agaknya pelukan Hasan sedikit bisa membuatnya nyaman. Dia terlihat lebih baik daripada sesaat yang lalu.
"Ayo kita masuk!" ajak Hasan. Hanya mereka berdua yang kini berada di luar. Yang lainnya sudah meninggalkan mereka masuk kembali ke ruang tamu. Melanjutkan acara yang sempat tertunda.
"Sebentar, Pa. Sebenarnya ada yang ingin Akmal sampaikan pada Papa tentang Abid," cegah Akmal.
"Ada apa?" Dia menghentikan langkahnya.
Hasan melihat raut wajah AkmaI yang gelisah, mengurungkan niatnya ke dalam rumah. Sebenarnya Hasan tak ingin diganggu lagi, agar acara silahturahmi keluarga sekaligus tukar cincin ini cepat selesai. Dia ingin membawa Abid ke dokter secepatnya. Terlihat sehat tapi selalu mengeluh sakit.
Tapi pandangan Akmal yang memohon membuatnya penasaran. Penting sekali kah?
"Ayo!" Hasan mengajak Akmal menjauh dari tempat itu. Menuju ke sebuah bangku yang ada di bawah bunga bougenville. Terletak di depan perpustakaan keluarga.
"Ada apa?" tanya Hasan sekali lagi, setelah duduk tenang di bangku bersama dengan Akmal.
Tak ada jawaban dari Akmal. Membuat sedikit jengkel.
"Apa yang ingin kamu sampaikan." Tanpa basa-basi Hasan bertanya langsung pada pokok persoalannya.
"Papa. Akmal ingin membawa Abid ke Turki?"
Ke Turki ... Hasan menegakkan kepalanya seketika. Serta merta menatap Akmal tajam penuh tanda tanya.
"Akmal. Sebenarnya Apa yang terjadi? Katakan saja pada papa, Jangan ada yang kau tutup-tutupi. Aku berhak tahu, apalagi ini tentang anakku." Hasan tak bisa lagi menutupi kegelisahannya. Karena dirinya pun merasa aneh dengan tingkah laku Abid seharian ini.
Akmal merasa tak enak sendiri dengan Hasan. Sampaikan apa tidak ya ... Aku takut Papa Hasan akan syok kalau tahu yang sebenarnya. Akmal menimbang-nimbang lagi keputusannya.
Sampaikan saja lah ... Aku tak mungkin tega melihat Abid merintih kesakitan. Papa Hasan juga terlihat sudah kelelahan. Lihat saja kantong matanya yang terlihat tebal. Mungkin dia tak bisa tidur semalaman.
"Maafkan Akmal, Pa. Nggak bisa melindungi Abid. Penculik-penculik itu sudah berhasil menyuntikkan zat berbahaya pada tubuh Abid. Mungkin rasa sakitnya itu berasal dari reaksinya."
"Maksudmu apa Akmal? Apakah adikmu sekarang dibuat kelinci percobaan seseorang."
"Zat itu yang sangat berbahaya, Pa."
"Aku tak akan memaafkan mereka, yang telah menyakiti putraku." Rona wajahnya memerah dan juga geram Tangannya mengepal. Orang tua mana yang tak marah bila putranya teraniaya seperti ini.
"Kamu tahu mereka siapa?"
__ADS_1
Akmal menggelengkan kepala.
"Apa nggak sebaiknya kita mengobati Abid dulu, Pa. Sebelum mencari penculik-penculik itu."
Hasan menggangguk, "Mengapa harus ke Turki. Tak bisakah dengan dokter Irsyad seperti yang kamu rekomendasikan."
"Aku tak tahu kalau zat itu bereaksi cepat dalam tubuh Abid, Pa. Kasihan dia."
"Tapi ... Tidak adakah obatnya di sini."
"Andai ada," jawab Akmal sedih.
Sesaat suasana sunyi. Baik Akmal maupun Hasan tidak bersuara.
"Baiklah. Papa percaya padamu. Kita sembuhkan adikmu. Kalau memang harus ke Turki, Papa akan turuti."
"Akmal mohon dukungan Papa, semoga serum yang Akmal temukan bisa mengobati Abid."
"Apakah serum itu sudah pernah diuji cobakan?"
"Baru pada benda mati. Pada manusia ..." Akmal geleng kepala. Lebih baik jujur sejak awal, dari pada nanti akan kecewa kalau ada sesuatu yang tidak dinginkan.
"Berarti kamu juga ingin menjadikan adikmu sebagai kelinci percobaan?"
Akmal hanya berharap reaksi kimia serum Y21MNS14 bisa menghentikan reaksi dari X10MZBY1. Agar Abid bisa normal kembali.
"Baiklah Papa mencoba percaya sama kamu. Tapi papa juga harus ikut."
"Terima kasih Pa." spontan dirinya memeluk Hasan.
"Sudah, kasihan adikmu." Hasan menghentikan pelukan Akmal karena dia sedang menggendong Abid yang mulai tertidur. Anak itu lelah menangis. Akmal pun melepaskan pelukannya.
"Tapi ... bisakah Papa tidak memberitahu Bunda, Akmal khawatir Bunda tidak akan tega."
"Papa paham."
"Kita langsung berangkat sehabis acara ini, Pa."
"Ya, semakin cepat semakin baik," ucap Hasan bersemangat.
Dari arah pintu, Abah melambaikan tangan memanggil mereka.
"Ayo kita ke sana," ajak Hasan
Akmal mengangguk. Hasan dan Akmal berjalan beriringan menuju ke ruang tamu, dimana seluruh keluarganya telah berkumpul menantikan acara penyematan cincin pertunangan sebagai langkah awal untuk menunjukkan adanya keseriusan hubungan Akmal dan Jamilah.
__ADS_1
Saat itu juga sudah menentukan tanggal pernikahan mereka. Insyaallah akan diadakan sebulan kemudian.
🌟
Setelah acara selesai Akmal dan William bersiap-siap untuk pergi terlebih dahulu meninggalkan keluarganya yang masih ingin melanjutkan liburan mereka di sini.
Demikian juga Hasan tak ingin membuang waktu lagi Dia mendekati istrinya ingin berpamitan.
"Bunda Abid mau aku ke Turki untuk berobat. Doakan segera sembuh ya...!"
"Kemanapun Papa membawanya, Bunda pasti setuju, kalau itu akan mbuat Abid sembuh."
"Ya ... ini kemauan calon manapun. Agar cepat tertangani. Kelihatannya Abid sudah sangat menderita."
"Bunda nggak boleh ikut, Pa?"
"Aku nggak enak sama calon mantu kita. nanti kalau Bunda ikut takut dia jadi repot. Doakan yang terbaik saja dari sini. nanti kalau Abid sudah sembuh, Bunda akan saya ajak kemanapun Bunda mau."
"Aku nggak mau kemana-mana Pak Aku hanya ingin Abit sembuh," Dia pun menyerahkan tas kecil yang berisi pakaian Abid.
"Ya sudah Pa, baik-baik di sana. Kabari aku terus bagaimana perkembangan Abid."
Hmmm ... cup. Hasan memberikan kecupan lembut di pucuk kepala istrinya. lalu melangkah menghampiri William dan Akmal yang sudah menunggu di luar.
"Papa," Jamilah menghentikan langkah Papanya.
"Oh iya putriku, Papa lupa tidak berpamitan sama kamu." Dia segera menyambut putrinya yang mencium tangannya dengan takzim.
Tak lupa Jamilah memberi sun sayang kedua pipi Abid yang masih tertidur pulas.
"Cepatlah sembuh, Abid anak shaleh."
Cup ... satu kecupan manis, Hasan hadiahkan untuk putrinya tercinta sebelum melangkah pergi.
"Kak Akmal, sembuhkan Abit ya dan juga Tazkia."
Dahi Akmal berkerut seketika, Mengapa Jamilah tahu tentang Tazkia pula. Jangan-jangan ...
"Maaf Kak, aku sudah mendengar semuanya."
Akmal tersenyum dan juga mengangguk-anggukan kepalanya.
"Jaga Bunda, jangan sampai dia tahu."
"Jangan khawatir, Kak. Ayu tak akan membocorkannya."
__ADS_1