
Ups, perang dunia sepertinya akan digelar.
"Adakah yang tak berkenan dengan kehadiranku di sini?" Anggun sekali jawaban Kak Akmal, namun cukup membuat Santoso tersentil.
Dia melotot. Kalau tidak terhalang oleh kacamata mungkin bola matanya sudah lepas. Aku merasa Kak Akmal juga menjawabnya dengan sikap yang sama. Lihat, bahunya bersentuhan dengan kasar. Lalu kedua tangannya berkacak pinggang, menantang ingin berkelahi. Mereka saling berputar, memandang dari ujung rambut sampai ujung kaki, sebelum membuang muka. Persis Abid kalau sedang marah dengan temannya. Hehehe ....
Jamilah dan Devra saling berpandangan. Lalu mundur beberapa langkah. Mereka mencari batu besar, yang akan dipergunakan duduk agar bisa menikmati sajian drama yang akan diputar dengan nyaman.
Astaghfirullah al adzim... Tidak memisahkan tetapi menikmatinya. Jangan ya, itu tak sopan. Tak ada akhlak, kata anak zaman sekarang.
Ayo bulan, berikan sinarmu untuk menerangi semua. Jangan bersembunyi di balik awan agar aku dapat melihat putihnya buih di lautan, deburan ombak yang datang berkejaran menuju tepian yang mungkin terlewatkan oleh orang sedang berkelahi di sana atau bahkan memberikan irama penambah semangat bagi keduanya melanjutkan aksinya, bisik lirih Jamilah dibalik senyum tipis di bibirnya. Ini baru boleh ... Apa yang dipandangnya melebihi dari apa yang terlihat di depan matanya.
Dia menopang dagu dengan kedua tangannya,
"Hai." Devra menepuk bahu Jamilah.
"Ist ... Lagi asyik nih," ucap Jamilah sambil mengibaskan tangan Devra.
"Seneng ya, melihat calon sama pengagum berkelahi. Aku jadi iri." ucapnya serius.
"Sedikit." Dia menjawab tanpa menoleh padanya.
Asyik juga nich, ikutan ah ....
Devra meniru sikap Jamilah, menopang dagunya dengan kedua tangan, menikmati pemandangan yang langka. Seumur-umur Baru kali ini Akmal berkelahi dengan tujuan yang tak jelas, apalagi soal wanita.
Hehehe ...
"Hayo, kakak lagi memperhatikan Komandan ya," goda Jamilah, usil menyenggol lengannya.
"Eeeee ... Kamu lah yang begitu. Nggak rela kan melepaskannya."
"Apa yang perlu dilepaskan. Tautan saja nggak ada. Itu sejak awal kita kenal loh. Jadi kalau Kak Devra ada tumbuh rasa nggak apa-apa, lanjutin aja semoga bisa segera halal. Kita dukung kok."
"Issh ... Kau."
"Bahkan alam pun mendukungmu. Seolah-olah kalian sudah ditakdirkan untuk bertemu. Ngerasa nggak, waktu kita bersama, dia selalu curi-curi pandang penuh makna. Akhirnya kalian jalan beriringan kan? Mau menghindar pun, dia tak bisa. Bahkan harus bertemu di pesawat yang sama."
"Hei, mengapa kata-katamu aneh begitu. Lebay amat. Apa ini efek rindu atau cinta?"
"Mungkin. Yang pasti bukan karena efek patah hati. Hahaha ...."
"Nyindir ya ...."
Jamilah tersenyum sejenak menatap wanita yang ada di sampingnya.
"Baru kemarin dia melamarmu. kok sekarang sudah berubah haluan. "
"Itu namanya realistis. Sah-sah saja kan."
"Itu namanya nggak punya prinsip."
"Lah, nggak punya prinsip gitu gimana?" Dahi Jamilah sampai berkerut dengan mata membulat sempurna mendengar sanggahan Devra.
"Prinsip sih prinsip Kak. Tapi nggak harus merana terus kan?"
__ADS_1
"Kamu nich."
"Sudah deh kak diterima aja kalau komandan ngelamar."
"Kalau nglamar, kalau nggak, merana lagi dong. Nasib ... nasib ...." Jawabnya serius tanpa melihat Jamilah sedikitpun. Dia masih tetap asik menyaksikan perkelahian itu.
"Kasihaaaaaan ... " Ucap Jamilah sambil nyengir kuda dan tanpa dosa hingga membuat Devra makin dongkol.
"Salah Kak Devra juga, Mengapa suka menyakiti diri sendiri. Pakai lihat komandan sampai melotot begitu, pasti itu akan timbul rasa. Ingat! DARI MATA TURUN DOSA."
"Iya, Ustadzah yang cantik Sholihah. Tapi gini ini juga niru Ustadzah loh," ucap Devra dengan gaya lebay menggoda Jamilah.
Kak Devra ... Kak Devra, guman Jamilah sesaat. Dia pun asik kembali menikmati ombak dan juga angin laut yang berhembus sepoi-sepoi.
Mata bergeser sedikit sudah terlihat indahnya laut. Mengapa harus melihat mereka yang berkelahi, Apalagi itu Kak Akmal, bisa-bisa dada ini dag dig dug, bergetar tak beraturan. Sabar ya, belum halal.
Sesaat kesunyian melanda di antara mereka. Hingga tiba-tiba Devra berteriak jengkel.
"Sellin!" Sambil menepuk pasir yang ada di dekatnya dengan kesal.
"Kenapa dengan Kak Sellin?"
Tanpa memperdulikan pertanyaan Jamilah dia berkomentar sendiri dengan gemeess ... Karena drama action yang mengasikkan baginya dihentikan secara paksa.
"Kenapa mesti datang sih. Jadi berhenti deh."
Jamilah melirik ke arah mereka sejenak. Terlihat keduanya sedang diceramahi oleh Sellin.
"Penonton kecewa," seloroh Jamilah dengan muka bahagia.
"Yuk ke sana. Kita lihat introgasinya Kak Sellin. Lagian kita sudah cukup beristirahat."
Bersamaan dengan itu, Komandan memanggil mereka. Kebetulan, apa kebetulan?
"Mbak Devra ...." Dari keras lalu melembut, disertai wajah cerah lalu menunduk. Maksudnya apa, Pakai istilah 'Mbak' juga.
Jangan salahkan Jamilah kalau tiba-tiba mendapat serangan batuk mendadak ketika tiba di hadapan mereka.
Ehem ... Ehem ... Ehem.
"Tuh, benar. Kalau kalian mulai ada rasa." Dia sedikit menyenggol lengan Devra. Membuat dia menunduk malu
"Ngapa sih kamu," ucapnya lirih bersungut, sambil memandang Jamilah dengan ekor mata saja. Malu-malu kuciaaang, begitu ceritanya ....
Kembali pada Santosa ....
Bagaimana Santosa tak menundukkan kepala, karena baru saja dia selesai membicarakannya dengan Akmal. Bahkan jadi bahasan utama dalam 'perkelahian' yang baru saja terhenti.
"Nggak usah ragu, langsung saja ke paman Mustofa kalau punya niat baik. Kan enak, nanti aku kasih panggil kamu, 'kakak ipar'." bisik Akmal dengan tawa merekah.
Mereka asyik saja saling menggoda sambil mempersiapkan diri untuk aksi selanjutnya, sampai tak menyadari dengan keberadaan Sellin yang makin gelisah dan jengkel.
"Kalian ini, Benar-benar tak punya hati! Berkelahi sendiri nggak peduli sama Sanin-ku yang sekarang ini aku nggak tahu keadaannya. Ingin nyusul tak tahu di mana posisinya."Suara terdengar parau. Wajahnya tiba-tiba sendu. Ujung jari mengusap matanya. Ah, rupanya dia menangis.
"Iya itu Kak Sellin. Dia-nya enak-enakan, padahal anak buahnya berjuang keras sampai lemas banget, mabuk udara, gara-gara terbang 1 jam di bawah helikopter ... Mengorbankan anak buah, maunya selamat sendiri. Apa ini yang dinamakan komandan?" Ucap Akmal dengan nada tinggi.
__ADS_1
"Makanya aku pingin menghajarnya tadi, tapi kok ya susah kenanya, pandai kali dia menghindar." Alis mata Akmal terangkat, geleng-geleng kepala lalu menunduk dengan kesal, seakan-akan marah.
"Benarkah?" Sellin menengok Akmal tak percaya. Dia langsung mengibaskan tangannya ke samping dengan amat kuat, sampai mengenai tubuh Santosa.
Bugh ... Karena tak siap, dia terjungkal, duduk bengong 😕. Menengok Sellin sebentar lalu melanjutkan membersihkan senjata yang dia pegang sambil duduk. Dia geleng-geleng kepala. Orang bucin memang benar-benar tak bisa dimengerti.
"Berarti kamu sudah tahu keadaan Sanin-ku."
"Untung lah tak sampai tertangkap. Dia berhasil selamat meskipun harus istirahat sebentar saat ini."
"Di mana dia?"
"Dalam pasukan kita. Di balik bukit kecil itu."
Dia langsung balik badan disertai kibasan tangan yang kuat untuk Akmal. Yang menyebabkan harus bernasib sama seperti Santosa.
"Dasar kakak ipar tak ada akhlak. Menyembunyikan istriku."
Dia berlari menuju bukit kecil yang tak jauh kami beristirahat, meninggalkan kita semua yang memandangnya bahagia.
"Lha istrinya itu kan adikku. Kok marah ke aku juga."
"Makanya jangan suka ngobongi-ngobongi orang lagi galau. Kena juga kan akhirnya." Santosa tersenyum penuh kebahagiaan
Hehehe ... Kami tertawa lepas menatap kepergian Kak Sellin. Tapi tawa kami harus terhenti manakala melihat 2 sosok manusia yang berdiri di atas bukit. Seorang yang berpakaian sedikit lebar berlari menuruni bukit.
"Tatlim ...."
"Sanin ...."
Yeaach ... trailer film Bollywood lewat tanpa permisi. Jamilah langsung membuang muka.
Akmal tersenyum melihat Jamilah yang sampai saat masih imut dan mungkin merasa aneh dengan semua itu.
"Jangan aneh. Mereka tak pernah pacaran. Jadi wajar kalau sekarang mereka sangat menikmatinya setelah halal."
Jamilah menunduk, malu sendiri. Nggak ada pengalaman, kan belum menikah. Saat ini untuk mengendalikan getaran rasanya saja sudah merasa berdosa. Belum terlintas memikirkan hal lainnya, makin bingung dan makin merasa berdosa.
"Sudah Yuk. Komandanmu sudah siap."
"Kakak mau balik."
"Tidak. Komandan Kakak malah kirim ajudan Kakak ke sini. Itu dia."
Dia menunjuk dengan kepalanya pada lelaki yang kini berjalan tenang di belakang Kak Sellin dan Kak Aisye. Kalau tak salah namanya Robby. Dia menghampiri Akmal dan berbincang-bincang sebentar.
"Tetap kamu pimpin, Komandan. Aku di belakangmu," ucap Akmal pada Santosa.
"Makasih Akmal."
"Kedatangan kalian sudah aku laporkan. Cuma tunggu sebentar, tunggu mereka masuk lebih dulu. "
"Baiklah."
Setelah hampir 5 menit menanti, sesuai instruksi kini mereka harus berjalan menembus hutan kecil menuju pusat sarang penculik prof Amar dan dokter Irsyad.
__ADS_1
Entah bisa kembali dengan selamat atau pulang tinggal nama, tak tahu. Setidaknya sudah bisa menikmati 15 menit dengan bahagia bersama.