
AkmaI melihat heran Santosa yang memakai pakaian batik rapi dengan peci hitam di atas kepalanya. Busana asli Indonesia yang sudah diakui dunia. Sungguh amat pantas dan mempesona. Sampai-sampai dirinya merasa insecure dengan penampilannya sendiri. Yang hanya memakai hem lengan panjang dengan jas garis-garis sewarna dengan celana polos biru lautnya.
Itu juga karena Akmal mengikuti saran Mama dan adiknya. Tak bisa dibayangkan seandainya dia bersikeras memakai baju sesuai keinginannya. Hem putih dan celana hitam. Bisa-bisa dikira mau ke kantor atau dianggap mahasiswa salah alamat. Bukannya suruh masuk rumah, bisa jadi suruh ikut ospek dulu. Mana wajah masih imut gitu. Kan baby face, hehehe ....
Ah sudahlah, masalah baju saja kok dibuat repot.
Akmal yang biasanya selalu perfeks, kali di buat berantakan hanya karena masalah lamaran. Coba bayangkan nanti kalau menikah, apakah masih sama.
Sekali lagi Akmal melirik pada Santosa .....
Jangan-jangan mereka punya niatan yang sama dengan dirinya. Sampai detik ini, nggak di sana nggak di sini saingannya tetap, Santosa. Sebeeeel.
Meskipun di dada masih berkecamuk berbagai pertanyaan seputar komandannya Jamilah yang membuat panas hati, tapi tak menyurutkan niatnya melangkah lebih dulu ke pintu rumah Jamilah yang kini terbuka lebar untuk dimasuki. Sampai-sampai dia tak mau mendengar seruan komandan Santosa.
"Jenderal Akmal, tunggu ...."
Ogah, silahkan susul langkahku kalau berani.
🌟
Papa Hasan dan anggota keluarga yang lainnya dibuat heran dengan kedatangan tamu yang tak terduga. Yang datangnya bersamaan pula. Kalau Akmal dan keluarganya, dia sudah tahu maksud dan tujuan sebelumnya. Tapi dengan keluarga komandan Jamilah, kok tak ada konfirmasi lebih dulu ya ....
"San, itu ada dua?" kata Abah Ridwan yang berdiri mendampingi Hasan menyambut para tamu.
"Iya, Kak. Aku juga nggak ngerti, kok bisa dua yang datang." jawab Hasan dengan wajah benggongnya.
"Sudahlah kita hadapi saja. Kita nggak tahu juga rombongan ini bawa satu maksud atau dua maksud. Lha kita belum tanya." Hasan pun mengangguk pasrah.
Pandangannya tak lepas dari orang-orang yang kini berjalan menghampirinya. Ada aura persaingan yang dia tangkap antara Akmal dan Santosa, meski keduanya menampakkan senyum indah.
"Assalamualaikum," sapa Papa Ulya yang segera mendapat sambutan hangat dari sahabatnya itu.
"Waalaikumsalam wr.wb." Mereka pun berpelukan hangat layaknya jumpa sahabat lama.
Lalu disusul pula dengan laki-laki yang kemarin sudah ditesnya.
"Papa, Akmal datang sama orang tua. Akmal benar-benar serius."Dia membungkuk takzim, mencium punggung tangan kanan Hasan.
Hasan tersenyum tipis mendengar kata-kata lirih yang keluar dari bibir calon mantunya itu. Ini pemberitahuan atau intimidasi ya ...
__ADS_1
"Ya, Papa ngerti. Masuk dulu." sahutnya lembut sambil menepuk punggung Akmal pelan.
"Kamu Nak Bara. Yang dulu ngantarkan pulang Setyawati? Abah nggak nyangka kamu sudah dewasa dan tampan pula."
"Abah." Ternyata kenangan kecil itu masih diingat dengan baik oleh lelaki yang sudah berumur ini. Membuatnya tersipu malu.
Dengan senyum mengembang dia meraih tangan Abah Ridwan, menciumnya dengan takzim.
Sapaan yang membahagiakan buat Akmal. Tapi tidak untuk lalaki yang kini berdiri tak jauh darinya.Santosa langsung mencelos menanggapinya. Namun tak berani menampakkan. Dia bungkus dengan senyum mengembang di bibir.
Setelah keluarga Akmal berlalu, baru kemudian keluarga komandan Santosa menemui Papa Hasan dan pria-pria dari keluarganya yang masih setia menyambut tamu-tamunya.
"Papa nggak kira kamu datang. Itu orang tuamu?"
"Iya, Pa. Mau kenalan sama adik Jamilah sekalian melamar."
"Kok kemarin nggak bilang. Kenapa mendadak."
"Kemauan dari orang tua saya, Pa."
"Oooo ... Yaudah. Ayo masuk!" ajak Hasan dengan hati ketar-ketir. Beberapa kali dia menoleh pada Abah Ridwan, kakak kandungnya.
"Kak, ini gimana? Dia juga melamar."
"Mau gimana lagi. Kita hadapi saja. Tamu itu selalu membawa berkah. Begitu kan?" jawab Abah Ridwan sambil melirik ke arah jajaran para wanita yang menyambut tamu mereka.
Ya ... Membawa berkah. Seperti yang dibawa oleh para wanita yang di sana. Membawa banyak bingkisan. Satu tangan sampai membawa 2-3 bingkisan. Belum lagi yang dibawa oleh keluarga komandannya Jamilah. Benar-benar tamu yang berkah. Batin bersyukur namun hati bingung. Kalau begini mau menolak bagaimana?
Kelihatannya para emak-emak tidak mengerti dengan apa yang dipikirkan oleh Hasan maupun Abah Ridwan. Terlihat mereka begitu antusias menerima bingkisan hantaran yang dibawa oleh tamu. Mungkin mereka mengira yang datang adalah satu rombongan keluarga saja.
Begitu sampai di depan pintu segala hantaran sudah berpindah tangan. Dengan segera Umi Ridwan, Tante Redha membawanya ke ruangan dekat dapur dan sebagian dataran yang berupa peningset di letakkan di kamar Jamilah.
Setelah itu mereka kembali lagi, untuk menemui rombongan tamu mereka. Bercengkrama hangat di ruang tamu.
Untung saja ruang tamunya besar jadi bisa memuat seluruh yang hadir.
Apa Ridwan dan Papa hasan saling menatap.
"Ini sih masih mendingan, daripada istrimu dulu. Saat ijab kabul malah ada yang datang untuk melamar. Mungkin keturunan kali." Ucapnya ringan. Agar ketegangan yang mereka rasakan bisa sedikit kendor.
__ADS_1
"Kakak ini bisa saja." Hasan tersenyum sendiri mengingat peristiwa 22 tahun yang lalu. Saat mempersunting Mama Jamilah. Tak disangkanya setelah mereka selesai mengucapkan ijab qobul, ada rombongan keluarga yang membawa hantaran lamaran.
Mau tak mau keluarga Mama Jamilah saat itu ya menolaknya. Untunglah mereka ikhlas menerimanya. Bahkan hantaran yang telah mereka bawa dihadiahkan untuk pernikahan mereka.
"Terus ini acaranya gimana Kak?" Tanya Hasan setelah mengobrol beberapa saat dengan tamu mereka.
"Kalau kita ajak makan-makan dulu gimana. Sudah siap belum? Kita bahas masalah ini nanti aja setelah makan, biar tenang." Jawab Ridwan memberikan solusi.
Hasan mengangguk. Dia pun berlalu ke dalam menemui istrinya yang masih sibuk dengan Abid.
"Bunda, makannya sudah siap belum?"
"Insya Allah sudah, Pa."
"Cukup?"
"Semoga. Aku lihat Malika tadi menambah porsi makanannya."
"Ya sudah."
Hasan pun terlalu. Dia mendekati Ridwan membisikkan hal itu padanya.
Alhamdulillah, ada alasan untuk mengulur waktu. Segera saja abah Ridwan mengajak semuanya untuk menikmati hidangan yang sudah disediakan.
Untuk kali ini Bunda Zulfa tidak bisa menemani mereka makan bersama, karena Abid yang belum mau turun dari gendongannya. Dia masih tetap rewel. Hingga Bunda Zulfa mengajaknya keluar ruangan untuk mencari udara yang segar agar Abid menjadi tenang.
"Maaf, Jamilah itu yang mana ya?" Tanya wanita paruh baya yang duduk di samping Umi Ridwan. Dia adalah ibu dari komandan Santosa.
Umi Ridwan menengok ke segala arah namun tidak menemukan sosok Jamilah. Dia baru menyadari bahwa ponakannya yang diasuhnya sejak lahir itu belum ada bersama mereka.
"Mungkin masih di dalam kamar. Dia malu keluar. Tapi sebentar akan kami panggilkan."
Lalu Umi Ridwan melambaikan tangan kepada Malika yang saat itu sedang berdiri di samping pintu.
"Panggil adikmu!"
"Ya, Umi."
Malika bergegas menuju kamar Jamilah. Betulan kamarnya tidak terkunci.
__ADS_1
Clek
Kok kosong, kemana dia?