Pembantu Tuan Muda

Pembantu Tuan Muda
BAB 11. Bertengkar.


__ADS_3

Hari ini semua orang di rumah utama beraktivitas seperti biasanya.


Leonardo baru saja berangkat kerja, Milea saat ini sedang bersiap untuk pergi ke toko rotinya, Ibu Alenta sudah berada di dalam mobil bersama sopir mau menemui seseorang.


Milea bersenandung ria sembari mengunci kamarnya, dan berjalan menuju pintu keluar, menyapa temannya yang sedang bekerja.


Sampai di depan post sekuriti Milea juga tersenyum, kemudian keluar gerbang setelah dibukakan.


Seperti biasanya Milea menggunakan ojek online untuk mengantarkannya ke toko roti.


Di tempat lain, tepatnya di sekolah SMA.


Di belakang sekolah, tempat yang sepi, anak muda tampan sedang bersandar di dinding di depannya tiga temannya laki-laki yang iri dengan anak muda tersebut.


"Arga! Gue benci sama elo! Karena elo udah merebut princess Bella!" sentak pria bernama Jino, pria yang mencintai Bella sekaligus ketua di geng nya.


Arga berdecih, malas menanggapi ucapan Jino, karena tuduhan Alex tidak benar.


"Kenapa elo diam! Jawab!" bentak Andre seraya meraih kerah baju sekolah Arga.


Arga melepaskan tangan Andre dengan kasar. "Kalian semua bila hanya bertanya seperti itu, gue gax ada waktu!" balas Arga dengan nada tinggi dan jangan lupakan mata tajam Arga yang mampu menusuk serta menguliti.


Melihat Arga yang marah serta tatapan membunuhnya, Alex yang tadi paling sok berani nyalinya langsung menciut, mundur sampai beberapa langkah, Arga langsung melenggang pergi tetap berjalan elegan tanpa harus berlari atau berjalan cepat.


"Arga ...."


Arga menoleh saat namanya dipanggil, Jino dan dua temannya langsung sembunyi saat melihat princess Bella memanggil Arga.


Jino tidak mau princess Bella sampai mengetahui keburukannya, ia hanya mau princess Bella hanya tahu yang baik-baik saja dalam dirinya.


Jino dan dua temannya sembunyi di balik pohon, seraya mengintip ingin tahu apa yang dilakukan Arga dengan princes Bella.


Saat Bella sudah mau dekat dengannya, Arga malah berjalan lagi, namun dengan cepat Bella meraih tangan Arga, membuat Arga menghentikan langkahnya.


Sekarang ini mereka sedang berdiri di ujung koridor sekolahan, karena Arga baru dari belakang sekolahan.

__ADS_1


"Arga, nanti malam kita nonton yuk?" ajak Bella dengan tatapan memohon.


Arga melihat pergelangan tangannya yang masih di pegang Bella, reflek Bella langsung melepaskan dan minta maaf dengan suara kecil.


"Aku lagi banyak tugas," jawab acuh Arga seraya mau berjalan kembali.


"Bella menghalangi lagi. "Tunggu, tugas apa Arga? Kita kan satu kelas tentu aku juga tahu tugas apa yang kamu miliki?"


Arga membuang nafas berat. "Sudahlah intinya aku tidak bisa! Kamu pergi saja sendiri sama teman-teman kamu." Arga melepas tangan Bella yang memegang tangannya, kemudian berjalan pergi.


Sementara Bella hanya bisa menatap punggung Arga dengan kesedihan. Perhatian, dan niat baiknya selalu di tolak oleh Arga, Bella sampai bingung harus berbuat apa lagi untuk bisa mendekati Arga.


Arga terlalu dingin dan kaku, meski Bella tahu Arga bersikap sama pada semua anak perempuan. Tapi memang sekap Arga lah yang membuat Bella jatuh cinta, cowok cool.


Panggilannya adalah Princess Bella, primadona di sekolahan, miliki kecantikan yang tak tertandingi, ternyata parasnya yang cantik, belum mampu meluluhkan hati Arga.


Yang entah type ideal wanita seperti apa yang Arga inginkan, selama ini belum ada yang pernah melihat Arga berjalan dengan wanita.


"Udah ... Tidak usah sedih, nonton baren sama aku aja?" ucap Jino seraya merangkul pundak princess Bella, dan seketika menyadarkan Bella dari lamunannya.


"Apa an sih elo!" sentak Bella seraya melepas tangan Jino yang merangkul pundaknya dengan kasar.


"Jaga ya mulut elo, Arga tetap yang terbaik buat gue!" ucap tegas Bella yang kemudian langsung melangkah pergi seraya mengibaskan rambut panjangnya ke belakang.


Bukannya marah, Jino malah menyukai gaya Bella, di pandangannya terus punggung Bella yang terus berjalan, rambut panjangnya yang terayun indah, tinggi semampai, dengan balutan seragam sekolah yang pas di badan, membuat kecantikannya makin plus-plus.


Jino masih terus mengagumi kecantikan Bella, dan melihat temannya yang juga mengagumi Bella, Jino tidak terima dan langsung memukul lengan temannya, tiba-tiba lonceng berbunyi, semua murid di sekolahan masuk kelas.


Di tempat lain.


Armada Group.


Ibu Alenta yang baru saja bertemu temannya, siang ini mendatangi perusahaan putranya, perusahaan yang dulu milik suaminya, setelah suaminya meninggal, Leonardo yang mengurus sampai saat ini Armada Group makin berkembang pesat.


Para karyawan menundukkan kepalanya saat melihat Nyonya sekaligus ibu dari Presdir telah berkunjung ke perusahaan.

__ADS_1


Ibu Alenta yang pembawaannya ramah dan murah senyum, membuat banyak orang yang menyukai sikapnya itu.


Sebagian dari mereka ada yang karyawan lama, yang tahu kebangkitan Leonardo dari kesakitan setelah ditinggal mati Ayahnya. Karena itu Ibu Alenta tetap bersyukur pada mereka yang masih setia bersama Armada Group sampai detik ini.


Sebelum Ibu Alenta masuk ke ruang Presdir, sekertaris Alan memberitahu Leonardo lebih dulu, bila Ibu Alenta telah berkunjung.


Leonardo membereskan dulu pekerjaannya, merapihkan meja kerjanya, lalu menunggu ibunya di kursi sofa.


Tidak lama kemudian Sekertaris Alan kembali tapi kini bersama Ibu Alenta, setelah mengantar Ibu Alenta masuk, Sekertaris Alan ijin keluar.


Tidak biasanya ibunya datang kemari, Leonardo berdiri menyambut kedatangan ibunya, lalu duduk bersama.


Bila tidak mendatangi Leonardo di tempat kerja, Ibu Alenta tidak ada waktu untuk bicara dengan putranya itu, itu lah alasnya datang kemari.


"Leon, apa kamu sudah memikirkan untuk calon penerus Armada Group?" tanya Ibu Alenta dengan lembut.


"Aku belum terfikir, Bu." Leonardo menatap lurus ke depan tanpa melihat ibunya.


"Jangan belum, Leon. Kamu harus tahu penerus Armada Group sangat penting! Kapan kamu mau menikah." Nada suara Ibu Alenta sedikit meninggi.


Leonardo langsung tidak terima bila kedatangan ibunya hanya membahas pernikahan.


"Jika Ibu datang ke sini hanya membahas hal itu, lebih baik Ibu pulang!" ucap tegas Leonardo dengan marah.


"Leon!"


"Ibu!"


Sentak keduanya bersamaan, dengan sama-sama menatap tajam.


Leonardo menunjuk dadanya. "Ada luka yang belum bisa Leon obati Ibu, ada kenyataan yang Leon belum bisa bila harus bersanding dengan wanita!"


Deg!


Ibu Alenta langsung tersentak dengan ucapan Leonardo, menggelengkan kepala tidak percaya bila putranya miliki alasan masa lalu yang begitu menyakiti hatinya.

__ADS_1


Ibu Alenta seketika menangis campur sedih, Leonardo yang melihat Ibunya menangis mengucapkan maaf, kemudian meminta Alan untuk mengantar ibunya pulang.


Setelah ibunya pergi, Leonardo berdiri di dekat jendela seraya menatap keluar, pikirannya menerawang jauh, tiba-tiba teringat kembali kejadian malam penghianatan.


__ADS_2