
Leonardo tersenyum bukan melihat Milea yang senyum ke arahnya, tapi karena melihat rambut keriting Milea yang berantakan, dan itu terlihat lucu di mata Leonardo.
Leonardo kembali beralih menatap dua wanita yang saat ini tampak sibuk dengan hal yang tak terduga yang barusan terjadi.
Saat ini Leonardo masih berdiri di lima anak tangga, Leonardo berjalan mendekati mereka berdua.
Adelia terus menggaruk-garuk tubuhnya, saat ini makin terasa gatal.
"Tante, aku tidak kuat Tante ..." teriak Adelia yang kini sudah menangis.
Ibu Alenta juga bingung, kini memegangi Adelia, bingung harus berbuat apa. "Leon, ini gimana Leon, tolong Leon!"
"Bawa aja ke rumah sakit," jawab Leonardo yang saat ini berdiri alegan dengan dua tangannya masuk di saku celana.
"Ah, kamu benar, ayo antar Adelia sekarang ke rumah sakit," ucap Ibu Alenta seraya melihat Leonardo, namun tangannya masih membantu Adelia.
"No!" sarkas cepat Leonardo, yang kemudian malah berjalan lagi menapaki anak tangga.
"Leon! Kamu benar-benar, ya!" bentak Ibu Alenta saat melihat Leonardo pergi.
"Sudah Tante anatar ke rumah sakit, ayo?" Ajak Ibu Alenta pada Adelia, yang kemudian langsung berjalan, namun sebelum itu Adelia sempat menatap Leonardo dengan tatapan kecewa.
Milea hanya menyaksikan keadaan ini dengan berdiri mematung, menatap kasihan pada Adelia, semua karena ulah Melia, Adelia seperti itu.
Ya, Milea yang memberi serbuk gatal pada gaun yang digunakan Adelia, untuk menggagalkan rencana Ibu Alenta yang ingin mempertemukan Adelia dengan Leonardo.
Milea melakukan itu dengan sangat sangat terpaksa, karena mendapat perintah Leonardo untuk menggagalkan rencana Ibu Alenta.
Maaf Nona, gara-gara saya Nona jadi tidak nyaman, batin Milea seraya tetap menatap ke arah pintu keluar.
Sementara Leonardo, pria itu saat ini sedang merasa senang, berpikir bila Milea benar-benar bisa dirinya andalkan, rasa senangnya membuat Leonardo malam ini tidur lebih awal.
Milea berjalan menuju kamarnya, dengan perasaan bersalah, seumur-umurnya belum pernah bertindak merugikan buat orang lain.
Ingin menyusul dan mengatakan sejujurnya tapi itu sama saja dirinya cari mati, hah! Milea benar-benar dilema, membuka pintu kamar, dan langsung menjatuhkan tubuhnya ke atas ranjang dengan dramatis.
__ADS_1
Lama Milea terdiam memikirkan kesalahannya, sampai terbawa tidur.
Ibu Alenta yang kini sudah berada di rumah sakit, bersama Adelia, segera memanggil dokter yang terbaik untuk menangani Adelia.
Adelia sangat manja, dari sejak di dalam mobil sudah menangis-nangis dan Ibu Alenta jadi risih.
Dokter menyuntikkan obat ke dalam tubuh Adelia, dan seketika rasa gatal yang Adelia rasakan langsung menghilang, kemudian Dokter memeriksa lagi mencari asal dari mana rasa gatal tersebut.
Saat ini Adelia di minta ganti baju, untuk sementara menggunakan baju pasien, Adelia langsung merasa lebih enakan, tadi meski sudah tidak merasa gatal lagi, tapi belum nyaman.
Dokter memeriksa gaun yang Adelia barusan lepas, Dokter tampak manggut-manggut seperti menemukan jawaban dari dugaannya.
"Bagaimana Dokter?" tanya Ibu Alenta, yang sedari tadi juga masih berada di ruangan tersebut, dan terus mengamati kinerja dokter.
"Tidak ada timbul alergi yang saya dapatkan dari hasil pemeriksaan, tapi sepertinya rasa gatal timbul dari gaun yang Nona gunakan," jelas Dokter panjang lebar, yang langsung membuat Ibu Alenta dan Adelia terkejut.
"Apa!" pekik Adelia dan Ibu Alenta bersamaan, Ibu Alenta hampir tidak percaya dengan pernyataan dokter, tapi saat bertanya lagi, jawaban dokter pun masih tetap sama.
Ibu Alenta mengepalkan tangannya, wajahnya tampak marah, satu orang yang kini menjadi tersangka, dan Ibu Alenta akan mencari tahu kebenaran ini, karena sudah berani menggagalkan rencananya.
Dalam perjalanan Ibu Alenta mengumpat kesal, semua rencananya yang sudah ia susun rapi gagal total gara-gara gaun tidak berguna itu pikir Ibu Alenta yang terus mengumpat.
Setelah menempuh dua puluh menit, mobil pun sampai di halaman rumah, dengan segera Ibu Alenta masuk ke dalam kamar, dan mengecek CCTV dalam ruangan tepat penyetrikaan baju.
Dan benar saja, apa yang menjadi dugaannya sedari tadi, kini Ibu Alenta dengan wajah marah menatap layar komputer yang di dalam sana terlihat Milea sedang menaburkan serbuk gatal ke gaun Adelia.
"Ah! Sial ... Sial! Aku begitu percaya dengan wanita kampung itu, ternyata dia sudah berani mengacaukan rencana aku!" teriak Ibu Alenta dengan marah.
Tanpa pikir panjang, dengan segera Ibu Alenta turun ke lantai satu, berjalan cepat dengan wajah marah, dari matanya terlihat kobaran api yang siap membakar.
Brak! brak!
"Lea, buka pintunya!"
Milea yang tadi sudah sempat tertidur langsung terperanjat kaget saat mendengar namanya di panggil seraya pintu kamarnya yang di gedor-gedor dari luar.
__ADS_1
Seperti suara Nyonya, gumam Milea seraya bangkit dari tempat tidur, lalu membukakan pintu, dan ...
Plak!
Palk!
"Wanita sialan beraninya kau mengacaukan rencana aku dengan memberi serbuk gatal ke gaun Adelia, hah!" ucap marah Ibu Alenta dengan nada tinggi, sembari mendorong tubuh Milea masuk ke dalam kamar.
Milea hanya diam dan menunduk mendapat amarah Ibu Alenta dan hadiah dua tamparan di pipinya.
"Jawab! Kenapa diam!" bentak Ibu Alenta lagi, dan langsung mendapat jawaban Milea dengan suara terbata-bata.
"Ma-maaf Nyo-nyonya, ma-maaf kan sa-saya." Tubuh Milea meluruh ke bawah memegangi kaki Ibu Alenta, memohon ampunan.
"Tidak bisa hanya sekedar Maaf Lea!" bentak Ibu Alenta dengan ucapan penuh penekanan di setiap kata.
Ibu Alenta dengan gerakan kasar menarik Milea ke dalam kamar mandi yang ada di rumah kamar Milea, lalu menyiram Milea dengan air sampai tubuh Milea basah kuyup.
Milea terus mengucapkan maaf sampai suaranya serak karena dirinya juga menangis, tapi Ibu Alenta yang sudah marah campur kesal tidak berhenti di situ saja.
Menarik Milea membawa gadis itu keluar kamar, tidak peduli dengan tatapan pelayannya yang lain menatap iba pada Milea, ini pertama kali bagi mereka melihat Nyonya marah seperti itu.
"Aduh Lea mau di apakan ya."
"Kasihan Lea, kenapa kerja tidak hati-hati Lea."
"Ingin menolong Lea, tapi tidak bisa."
"Semoga Lea tidak kenapa-kenapa?"
Suara-suara pelayan yang menyaksikan Milea kena amarah Ibu Alenta.
Ternyata Ibu Alenta membawa Milea ke sebuah gudang, setelah membuka pintu gudang, Ibu Alenta langsung mendorong tubuh Milea sampai terjerembab di atas lantai.
Ahh! pekik Milea meringis kesakitan di lututnya.
__ADS_1
"Jangan pernah berani melawan saya, atau saya lebih kejam bertindak dari pada ini, ingat! Ada keluarga kamu yang bisa saya lenyapkan!" ucap Ibu Alenta dengan marah seraya menunjuk Milea sebelum ahirnya menutup pintu dan mengunci Milea di dalam gudang.