
Brakk!
Suara pintu mobil yang ditutup kencang oleh Suci, karena marah campur kesal semua rencananya gagal total.
Ah! bug bug.
Suci memukul setir mobil untuk melampiaskan rasa amarahnya.
"Semua gara-gara wanita jelek itu! siapa sih dia! beraninya dia melawan aku!"
Suci makin kesal saat teringat Milea membuat suhu ruangan makin terasa dingin, tadinya Suci belum mau pergi masih mau berusaha lagi untuk merayu Leonardo, karena sangat yakin Leonardo mau menoleh ke padanya.
Namun semua diurungkannya karena merasa kedinginan dan sudah tidak kuat berada di sana.
"Aku benci wanita jelek itu! aku benci!" teriak Suci di dalam mobil, mengeluarkan segala uneg-uneg dalam hatinya.
"Bagaimana bisa aku kalah dengan wanita jelek itu." Suci bersandar di sandaran kursi mobil, memikirkan dirinya yang sudah berdandan cantik dengan sempurna tapi sedetik pun Leonardo tidak sama sekali melihatnya.
Sosok yang dikagumi banyak laki-laki, yang meliki paras cantik serta bentuk tubuh yang aduhai indah, di campakkan begitu saja oleh Leonardo.
Tidak terima, itulah yang Suci rasakan saat ini.
Suci bingung memikirkan semuanya. "Apa wanita jelek itu menggunakan pelet, sampai Leonardo jadi lengket sama dia."
Bertanya pada diri sendiri sembari berpikir mengurutkan hal aneh yang menurut Suci tidak mungkin Leonardo sampai mau bermesraan bila Milea tidak menggunakan ilmu hitam untuk mengguna-guna Leonardo.
Malah hatinya semakin tidak terima saat mengingat Leonardo mencium bibir Milea dengan panas.
Ah! Kesal kesal!
Suci tidak mau berdiam di dalam mobil dan ingin segera menjalankan mobilnya untuk pergi dari tempat itu, namun suara bunyi ponselnya mengurungkan niatnya.
Dilihatnya yang menelpon adalah Ibu Alenta, dengan malas Suci mengangkat panggilan telepon tersebut.
"Suci bagaimana rencana kamu berhasil, kan?"
Pertanyaan pertama yang langsung Suci dengar dari bibir Ibu Alenta di sambungan telepon.
Di seberang sana Ibu Alenta sudah senyum-senyum merasa yakin bahwa Suci berhasil membuat Leonardo takluk, mengingat Suci wanita yang sangat cantik.
__ADS_1
"Gagal!"
"Apa!" suara Ibu Alenta di sambungan telepon yang terdengar terkejut, namun Suci biasa saja, malah jadi malas mau menjelaskan lagi, karena hanya mengingatkan dirinya dengan Leonardo yang mencium bibir Milea.
"Suci! bagaimana bisa kamu sampai gagal, apa kesalahan yang kamu sudah perbuat, hah!" bentak Ibu Alenta di sambungan telepon, di seberang sana Ibu Alenta mengepalkan tangannya, kesal dengan berita yang didengarnya.
Bukan berita ini yang Ibu Alenta mau, tapi malah berita gagal yang dirinya dengar, pujiannya tadi pada Suci seketika hilang menjadi makian bodoh dan tidak pecus.
"Aku tidak melakukan kesalahan apa pun, tapi saat aku sampai di sana sudah ada wanita jelek yang duduk di pangkuan Tuan Leonardo."
Duarr! Ibu Alenta seketika terkejut seraya memegangi dadanya mendengar pengakuan Suci, wanita jelek? bertanya-tanya mengenai wanita jelek yang duduk di pangkuan Leonardo, pikirannya langsung menjurus pada Milea.
Sialan! umpat kesal Ibu Alenta, marah campur geram mendapati semua rencananya berantakan gagal total.
"Jadi Tante jangan menyalahkan aku."
"Tentu kau salah! kenapa kau bisa kalah dengan wanita jelek itu, hah!" sarkas cepat dengan marah Ibu Alenta di sambungan telepon.
Suci terdiam, apa yang barusan Ibu Alenta ucapkan itu benar, dirinya memang kalah dengan wanita jelek itu, sangking jeleknya bahkan Suci tidak mau mendengar nama wanita itu.
Mengingat rambutnya yang keriting saja, Suci sudah merasa jijik, sungguh jauh beda dengan rambut miliknya yang lurus panjang hitam berkilau.
"Kenapa diam, jawab!"
Suci membuang nafas berat yang lagi-lagi mendengar suara makian Ibu Alenta di sambungan telepon.
"Iya iya! Suci akui bila Suci kalah sama dia, tapi Suci sudah berusaha mengalihkan mata Leonardo untuk melihat saya Tante, tapi sama sekali Leonardo tidak melihat aku, dan hanya fokus melihat wajah wanita jelek itu!"
Hah! Suci frustasi sendiri harus menjelaskan panjang lebar pada Ibu Alenta, yang hanya bisa menyalahkan dirinya tanpa tahu kronologi yang sebenarnya.
"Tetap saja kau bodoh! bodoh karena tidak bisa menarik perhatian Leonardo!"
Suara Ibu Alenta di sambungan telepon yang tidak menerima alasan apa pun itu, dan terus menyalahkan Suci yang menurutnya sudah tidak pecus bekerja.
"Hah! terserah Tante mau bicara apa! yang jelas sekarang Suci mau pulang, panggilan telepon aku matikan!"
"Hei! beraninya kau mau matikan sambungan teleponku!"
"Apa lagi sih Tante?"
__ADS_1
Aaaaa! Suci makin frustasi dibuat oleh Ibu Alenta, sudah lelah dan kesal ingin cepat pulang dan istirahat malah harus meladeni ibu-ibu rempong yang tidak menerima kegagalan.
"Ya sudah pulanglah! kau tidak pecus bekerja!" ucap Ibu Alenta dengan kasar sebelum ahirnya dimatikan.
His tidak jelas, gerutu Suci seraya melihat layar ponsel yang menyala.
Suci melempar ponselnya ke kursi sebelahnya, kemudian menjalankan mobilnya pergi dari area gedung Armada Group.
Ibu Alenta saat ini sedang berdiri di pinggir kolam renang, barusan ia sedang bersantai di sana, tiduran sembari menikmati jus jeruk, penasaran dengan hasil kerja Suci, dan setelah dihubungi kabarnya mengecewakan.
Ibu Alenta geram memaki nama Milea terus menerus, ponsel yang ia pegang ingin dilemparkan karena kesal, tapi tidak jadi karena merasa sayang.
"Milea! Milea! Milea ...."
Tangannya terkepal erat, giginya saling bergelatuk. Menahan kekesalan, tidak ingin hanya berdiam saja, Ibu Alenta mau menemui Leonardo sekarang.
"Aku harus sampai di perusahaan sekarang! tidak mau menunggu Leonardo sampai pulang." Ibu Alenta kemudian berjalan, namun karen tidak hati-hati malah membuatnya terpeleset.
Byuur!!
Ibu Alenta jatuh ke kolam renang.
"Tolong ... hub ... tolong!"
Ibu Alenta tidak bisa renang terus berteriak minta tolong, mulutnya sudah meminum air kolam renang.
Ada pelayan yang datang mendengar teriakan Ibu Alenta, namun bingung mau berbuat apa karena juga sama tidak bisa berenang, ahirnya memilih memanggil temannya yang bisa berenang.
"Hei tolong aku kau mau kemana!" teriak Ibu Alenta saat melihat pelayan wanita itu berlari pergi.
Ibu Alenta sudah mau kehabisan nafas, air yang diminum sudah banyak, matanya sudah memerah, ponsel yang tadi dirinya pegang sudah terlepas dari genggaman tangannya jatuh entah kemana.
Namun ditengah dirinya dalam bahaya saat ini, Ibu Alenta masih mengumpat Milea dalam hati, semua kesialan terjadi karena Milea, rencananya berantakan karena Milea, dirinya jatuh ke kolam renang karena Milea.
Tidak lama kemudian pelayan yang bisa berenang datang dan dengan segera menyelamatkan Ibu Alenta.
Nafas Ibu Alenta terengah-engah merasakan takut luar biasa, tidak bisa kebayang bila tidak dengan segera diselamatkan oleh pelayan.
Kemudian ada dua pelayan wanita yang datang sudah siap membawa handuk untuk mengeringkan tubuh Ibu Alenta.
__ADS_1
Dua pelayan wanita itu membantu Ibu Alenta untuk berdiri dan mengantarkan Ibu Alenta menuju kamarnya.