
Sore hari itu Milea dan Leonardo pulang, tapi tidak langsung pulang ke rumah, mereka berdua menuju suatu tempat, yaitu sebuah wahana permainan.
Sampai di sana hari sudah mulai gelap, saat ini sudah pukul setengah tujuh malam, Milea dan Leonardo sama-sama menyembul keluar dari dalam mobil, yang kemudian di susul juga oleh sekertaris Alan, Leonardo tidak mau sendirian, jadi mengajak sekertaris Alan.
Mata Milea berbinar melihat wahana permainan yang luas itu, apa lagi saat melihat banyaknya permainan yang menantang adrenalin, Milea langsung bersemangat, tapi sebelum kakinya berlari masuk ke sana, Milea mau memastikan sesuatu lebih dulu.
"Tuan, kita benar akan bermain di sini, kan?" Milea mendongakkan kepalanya menatap Leonardo yang berdiri di sampingnya.
Hem.
Yes, batin Milea senang, sudah lama dirinya tidak bermain di tempat seperti ini.
Kemudian mereka bertiga masuk ke dalam sana bersama, membeli tiket masuk lebih dulu, kemudian mereka bisa bebas untuk memilih mau bermain dengan permainan yang sudah disediakan di sana.
"Tuan, ayo kita bermain di sana." Tunjuk Milea di sebuah permainan mobil yang biasa disebut zig-zag.
Leonardo bingung mau menjawab, pasalnya ini baru pertama kali baginya datang ke tempat seperti ini, dari kecil sampai sedewasa ini hidupnya banyak aturan, sampai tidak tahu rasanya bermain seperti yang dirasakan anak-anak atau para remaja.
"Ayo lah Tuan, kan Tuan sudah menghabiskan roti aku tadi, Tuan harus menemani aku bermain."
Haha padahal roti yang dia makan sudah diganti dengan hamburger dan pizza, batin Milea tertawa cekikikan.
Leonardo masih tampak berpikir, Milea yang sudah tidak sabaran langsung menarik tangan Leonardo menuju tempat permainan zig-zag.
"Ayo ikut."
"Mele! Alan ..." Leonardo juga menarik tangan Alan, kini mereka bertiga sama-sama akan bermain zig-zag.
Milea duduk berdua dengan Leonardo dalam satu mobil permainan, di belakang mereka ada sekertaris Alan yang duduk sendirian di mobil permainan.
__ADS_1
Wahana permainan ini terdiri atas beberapa mobil yang bertenaga listrik. Wahana ini dimainkan dengan cara menyetir untuk menghindari mobil lainnya. Permainan ini menggunakan 20 mobil untuk 40 orang. Atau per mobil untuk dua orang.
Milea yang memegang setir mobil dan mulai menjalankan permainannya, diikuti juga mobil-mobil yang lainnya. Leonardo tersenyum kecil merasa seru juga mengikuti permainan seperti ini.
Puas dengan permainan zig-zag, Milea mengajak Leonardo bermain dengan permainan yang lain.
Milea menarik tangan Leonardo kembali, sekertaris Alan berjalan mengikuti di belakang langkah mereka.
Kali ini Milea mau bermain di istana boneka, dengan menaiki sebuah perahu, mereka bertiga berkeliling melihat istana boneka.
Wahana ini berkapasitas daya tampung 336 orang. Bangunan ini memiliki gaya arsitektur Eropa klasik yang diisi oleh lebih dari 600 boneka animatronik nan lucu.
Dengan menggunakan perahu yang berjalan di atas air yang mengalir pada arus tenang, siapa saja bisa menjelajahi dan mengapresiasi budaya etnik seluruh nusantara maupun kekhasan budaya serta lagu dari berbagai negara di wahana ini.
Selama perahu berjalan menjelajahi istana boneka, Milea mengambil banyak gambar sampai galeri hp nya mau hampir penuh.
Permainan yang mereka ikuti tidak hanya dua permainan itu, setelah dari istana boneka, Milea menarik tangan Leonardo kembali untuk mengikuti permainan yang lain begitu terus sampai mereka mengikuti permainan sebanyak enam kali dengan permainan yang berbeda.
Posisi duduk mereka bertiga ini saling berhadapan, tentu sekertaris Alan akan melihat, namun dirinya memalingkan wajah saat Milea dan Leonardo suap-suapan eskrim.
Dan sialnya, setelah sekertaris Alan memalingkan wajahnya, sebelahnya sepasang kekasih sedang berciuman bibir, eskrim di tangan sekertaris Alan sampai jatuh karena terkejut, melihat orang berciuman seperti melihat setan.
Ahirnya malam ini hanya indah dilewati Milea bersama Leonardo, tidak dengan Sekertaris Alan, pria itu hanya bisa elus dada, namanya juga jomblo menemani pasangan suami istri ya pasti akan melihat adegan kemesraan.
Tapi dalam hati sekertaris Alan, dirinya bahagia bisa melihat Tuannya kembali tersenyum lagi, senyum bahagia yang sudah lama menghilang.
Mereka bertiga memutuskan untuk pulang setelah waktu semakin naik, dalam perjalanan pulang Milea tertidur di mobil, kepalanya bersandar di bahu Leonardo, Alan fokus menyetir tanpa menoleh ke belakang.
Tepat pukul sepuluh malam, mobil yang dikendarai Sekertaris Alan tiba di rumah utama.
__ADS_1
Milea terbangun saat mobil berhenti, mengucek mata supaya terang melihatnya, Leonardo memerintahkan sekertaris Alan untuk pulang sekarang, kemudian Milea dan Leonardo berjalan masuk ke dalam rumah.
Milea yang nyawanya belum terkumpul habis bangun tidur, membuat berjalannya sempoyongan hampir jatuh, untung Leonardo segera menahannya, dan ahirnya mereka berdua berjalan bersama menapaki anak tangga menuju lantai tiga tempat kamarnya berada.
Ibu Alenta yang melihat Milea dan Leonardo baru pulang sangat kesal, apa lagi posisi mereka saat berjalan bersama tadi, di mata Ibu Alenta terlihat Milea memeluk Leonardo dengan mesra, padahal sebenarnya tidak, Milea hanya mengantuk dan Leonardo merangkul pundaknya.
Aku sudah tertinggal dengan wanita sialan itu, aku tidak akan biarkan hal ini terjadi lebih lama, aku harus segera memisahkan mereka berdua! batin kesal Ibu Alenta yang terus menatap tajam ke arah tangga yang Leonardo dan Milea lewati.
Sementara itu Milea dan Leonardo sedang bergantian untuk mandi, setelah Leonardo selesai mandi, saat ini gantian Milea yang mandi.
Leonardo memakai kemeja tidur yang sudah disiapkan oleh Milea, warna merah malam ini, punya Milea juga warna merah, karena baju mereka kapel, Leonardo tersenyum kecil melihat bajunya dan baju Milea samaan.
Sudah selesai berpakaian Leonardo naik ke atas ranjang, duduk sembari bersandar di sana, tangannya memainkan hp.
Milea menyembul keluar dari dalam kamar mandi, menggunakan handuk kimono, rambutnya yang basah ia gulung dengan handuk kecil.
Saat berjalan menuju ruang ganti melirik Leonardo sekilas, pria itu sedang asyik bermain hp.
Tidak lama kemudian Milea sudah keluar dari ruang ganti, Leonardo mendengar suara berisik hair dryer, menoleh ternyata Milea yang sedang menggunakan.
Milea yang sudah selesai mengeringkan rambut, mau berjalan mendekati sofa tempat dirinya tidur selama ini, rambutnya dibiarkan berantakan tanpa ia sisir.
"Tidurlah di sini."
Gerakan tangan Milea langsung terhenti saat mendengar suara Leonardo, Milea yang tadi dalam posisi memunggungi Leonardo, kini balik badan dan menatap pria itu.
"Sa-saya tidur di sofa saja Tuan, sa-saya sudah biasa." Tolak Milea yang takut terjadi hal-hal buruk bila harus tidur bersama.
"Tidur di sini."
__ADS_1
Suara yang terdengar tegas itu bagaikan perintah, bagian tugasnya yang tidak bisa Milea tolak.
Dengan perasaan takut campur jantung berdebar-debar, Milea merayap naik ke atas ranjang.