Pembantu Tuan Muda

Pembantu Tuan Muda
BAB 22. Menangis sedih.


__ADS_3

Milea saat ini sudah berdiri di depan pintu rumah ayahnya, dari pembantu yang bekerja di rumah ayahnya, tadi mengatakan bila Ayah Roni sedang keluar bersama Ibu Fera.


Di teras ada sebuah kursi, Milea menuju kursi tersebut dan duduk di sana, sembari menunggu Ayah dan Ibu tirinya pulang.


Kemana mereka pergi ya? Gumam Milea seraya melihat ke depan, yang belum ada tanda-tanda Ayahnya pulang.


Milea ingin menelpon, tapi tidak jadi, Milea milih menunggu saja.


Sementara Ayah Roni dan Ibu Fera yang saat ini mobilnya sudah mau memasuki pelataran rumah, langsung terkejut saat melihat Milea berdiri di teras rumahnya.


Namun keterkejutan yang Ibu Fera miliki hanya sesaat, karena ini suatu kebetulan yang baik, untuk membicarakan soal pernikahan Milea dengan Leonardo pikirnya.


Ibu Fera dan Ayah Roni keluar mobil bersamaan, Milea langsung menjabat tangan ayahnya dan ibunya, dengan wajah sinis Ibu Fera masuk ke dalam rumah lebih dulu, yang kemudian di susul Milea dan Ayah Roni.


Melihat putrinya berkunjung ke rumah, Ayah Roni menyambutnya dengan baik, memeluk dan mencium kening Milea, tapi Milea tidak merasa bahagia sama sekali.


Satu yang akan membuat Milea bahagia, bila Ayahnya mau membantunya untuk tidak sampai menikah dengan Leonardo, sungguh Milea tidak ingin pernikahan ini terjadi.


Kini mereka sudah duduk di ruang tamu, pembantu rumah datang memberikan minuman, saat pembantu itu melihat Milea, langsung tersentak kaget bila saat ini Nona mudanya terlihat tidak bahagia.


"Ayah, Lea mau bertanya sesuatu," ucap Milea setelah pembantu yang mengantar minuman tadi pergi, dari hadapannya.


"Katakan Lea." Ayah Roni menjawab, sementara Ibu Fera sedari tadi hanya tersenyum sinis ke arah Milea.


Aku berasa ingin mencongkel mata wanita tua itu! Dari tadi lihatin aku dengan mata menusuk, batin Milea saat melihat ke arah Ibu Fera. Kesal dengan tatapan wanita itu.


"Ayah ... Tuan Leon ingin menjadikan aku istrinya, dan aku tidak mau bila sampai-"


"Kamu harus mau," sarkas cepat Ayah Roni, dan seketika Milea menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


"Ayah! Tidak! Lea tidak mau!" suara Milea meninggi, sudah cukup baginya harus berkorban, dan kali ini Milea tidak mau bila harus menikah dengan laki-laki aneh itu, yang selalu bersikap semaunya.


Tidak ayah, tidak! gumamnya terus seraya menggelengkan kepalanya.


"Heh! Anak sialan! Masih untung ya kamu mau dijadikan istri oleh Tuan Leonardo, karena kamu bisa hidup enak nantinya, lalu kamu pikir ayahmu akan menolong mu, tidak!" Yang sedari tadi diam saja ahirnya buka suara setelah mendengar penolakan Milea.


Milea masih menggelengkan kepalanya, memang sakit ucapan Ibu tirinya itu, tapi Milea mau berusaha lagi, berharap Ayahnya masih ada rasa sedikit aja untuk Milea, cukup memintanya jadi pembantu, tidak perlu menjualnya sampai harus menikahi pria itu.


Tuan Leonardo! Aku membenci mengenalmu! Benci benci! umpatan Milea dalam hati. Perlahan Milea membawa tubuhnya bersimpuh di kaki ayahnya.


"Ayah ... Lea mohon tolong jangan sampai Lea menikah." Air mata Milea kini sudah membasahi pipi, Milea benar-benar mohon sama Ayahnya sendiri, namun jawaban Ayahnya ternyata begitu kejam dan tajam, sampai Milea seolah tidak bisa lagi menahan rasa sakit itu.


"Tuan Leonardo sudah memberikan suntikan dana 50% ke perusahaan kita, untuk bisa menikah dengan kamu, dan Ayah tidak bisa membalikan itu, jalan satu-satunya kamu harus menikah dengannya."


Duar!!


Tubuh Milea bagai tersambar petir di siang bolong, yang tadi menyentuh kaki ayahnya, langsung terlepas Milea terduduk di lantai.


"Ibu ... Tamara nanti malam mau datang ke pesta ulang tahun teman aku, dan baju Tamara sudah jelek semua, boleh Tamara minta uang untuk beli baju, Ibu?"


Tamara yang baru datang langsung duduk di samping Ibunya, menatap sekilas Milea dengan senyum miring.


"Boleh Sayang nanti Ibu akan memberimu uang," ucap lembut Ibu Fera pada putrinya seraya membelai rambut panjang Tamara.


Dan seketika pemandangan itu membuat Milea semakin marah, dirinya yang harus berkorban, tapi mereka yang menikmati tanpa miliki perasaan.


Merasa kedatangannya ke rumah Ayahnya hanya sia-sia, Milea bangkit lalu keluar dari rumah tersebut, tanpa pamit, tidak peduli bila dibilang anak tidak sopan, hati Milea sudah sangat kecewa, di depan matanya sendiri mereka menyakiti Milea.


Ini kah yang disebut keluarga? gumam Milea terus menerus sembari berjalan yang entah tujuannya mau kemana.

__ADS_1


Bila ke toko roti, Milea tidak ingin kesedihannya di lihat dua temannya itu, bila kembali ke rumah utama, Milea masih malas dan kalo bisa tidak datang ke sana lagi.


Ahhh!!! Milea berteriak, tidak peduli orang-orang yang melihatnya, karena saat ini Milea sedang berjalan di pinggir jalan raya.


Jika yang tidak tahu pasti sudah menganggap Milea orang gila, Milea saat ini benar-benar merasa hancur kesal marah jadi satu. Air matanya mengalir deras di pipi sebagai jawaban serapuh itu Milea saat ini.


Yang entah sudah berapa jauh Milea terus berjalan dan menangis di sepanjang jalan, pikirannya mendadak blank, tidak bisa berpikir jernih lagi, Milea tanpa melihat mobil yang mau melintas di jalanan, Milea langsung menyebrang jalan saja.


Tin!


Aaa!


Brukk!


Milea menjerit sebelum sampai tertabrak mobil, Milea sudah ambruk duluan.


"Ternyata dia di sini," ucap Leonardo yang ternyata mencari Milea, melihat tubuh Milea tergeletak di jalan, Leonardo langsung menggendongnya membawa masuk ke dalam mobil.


"Apa sih susahnya tinggal nurut saja," ngedumel saya meletakkan tubuh Milea di kursi belakang.


Leonardo kembali duduk di kursi depan, Alan yang mengendarai mobilnya saat ini.


"Kita mau kemana Tuan?" tanya Sekertaris Alan, menoleh sebentar kemudian fokus ke depan lagi.


"Sepertinya dia harus aku kurung, kita ke apartemen saja, nanti aku akan minta pelayan untuk menemani dia."


Sekertaris Alan patuh, meski dalam hati begitu terkejut saat Tuan Mudanya bicara akan menempatkan Milea di apartemennya, seperti sebuah keajaiban, karena tidak sembarang orang boleh diijinkan masuk, bahkan Alan yang bekerja sebagai sekertarisnya belum pernah diijinkan masuk ke sana. Dan hal itu bisa diartikan bila memang belum pernah ada siapa pun orang yang ke sana, kecuali Leonardo sendiri.


Apa Tuan Muda mencintai Nona? pikir Sekertaris Alan, entahlah hanya Leonardo yang tahu.

__ADS_1


Mobil kini sudah sampai di depan gedung apartemen, lagi-lagi Sekertaris Alan di buat terkejut saat melihat Leonardo memilih menggendong Milea sendiri membawa masuk ke dalam apartemennya.


__ADS_2