Pembantu Tuan Muda

Pembantu Tuan Muda
BAB 8. Sesak sakit jadi satu.


__ADS_3

Tiba malam hari ahirnya hujan reda, Milea keluar dari tenda Leonardo, kini Milea bisa melihat indahnya malam di tempat perkempingan ini, lampu di setiap depan tenda sudah menyala, udara semakin terasa sejuk karena habis hujan.


Para keluarga yang mengajak anak-anak kecil saat ini sedang bermain petasan dan kembang api, para orang dewasa juga ikutan menyalakan kembang api yang menembak langit, membuat langit jadi indah.


Huuuuu! Milea berteriak melihat keindahan malam ini, bersamaan itu Leonardo keluar dari tenda dan geleng kepala melihat tingkah Milea, yang lagi-lagi berteriak karena sedang happy.


Leonardo juga ikutan melihat keramaian yang tercipta di luar saat ini, sementara Sekertaris Alan berjalan pergi untuk membeli makanan, karena makanan untuk dimakan tuannya harus jelas higienis, tidak bisa sembarang makanan.


Sembari menunggu Sekertaris Alan kembali, Leonardo berjalan-jalan yang diikuti Milea di belakangnya.


Untuk Leonardo sendiri, pengalaman seperti ini baru dirasakan pertama kali ini, kemarin saat dirinya mencari tempat yang baik untuk mengerjai Milea, pilihannya jatuh di lokasi pegunungan ini, dan untungnya memang pegunungan ini termasuk tempat wisata, jadi ramai pengunjung.


Leonardo membuang nafas panjang, mungkin sudah lama sekali dirinya tidak berlibur mengistirahatkan pikirannya berhenti dari pekerjaan. Kehidupannya memang berubah setelah dirinya mendapat penghianatan.


Leonardo menoleh ke belakang, melihat Milea yang saat ini tengah tersenyum-senyum ke arahnya sembari menggoyang-goyangkan badan, Leonardo menghela nafas dan kembali menatap fokus ke depan, yang saat ini di depan sana ada yang membuat api unggun, walau tidak besar.


Milea yang saat ini berdiri tidak jauh dari belakang Leonardo, sedari tadi terus memperhatikan Leonardo. Pria itu yang terlihat diam dan tampak melamun tanpa Milea tahu apa yang sedang Leonardo pikirkan.


Dia kan orang kaya yang berpengaruh di negeri ini, pasti perusahaan yang bangkrut dan memohon kepadanya bukan hanya ayahku saja, tapi kenapa aku yang dia pilih untuk dia jadikan penebus hutang ayah, kan bisa saja semua hutang dibayar menggunakan uang, bukan menggunakan aku, batin Milea sembari menyeka air matanya yang tiba-tiba menetes dengan terus melihat ke arah Leonardo.


Sekertaris Alan datang memanggil, mengagetkan Milea dan juga Leonardo yang tadi sama-sama sedang melamun.


"Tuan, ah maaf bila saya mengagetkan," ucap Sekertaris Alan seraya menunduk.


Kemudian mereka bertiga berjalan menuju tenda lagi. Sekertaris Alan sudah menggelar karpet di depan tenda. Kini mereka bertiga makan bersama di depan tenda dengan beralas karpet.


Penghuni tenda yang lain saat ini juga sedang menikmati makan malam, sembari melihat api unggun, malam ini adalah makan malam yang menyenangkan bagi Milea dan bagi semua para pengunjung.


Saat sedang asyik makan dan menikmati api unggun, tiba-tiba Leonardo tersedak sampai terbatuk-batuk.

__ADS_1


Hem, uhuk-uhuk!


"Minumnya Tuan," ucap Milea sembari menyerahkan botol air minum yang sudah Milea buka tutup botolnya.


Milea masih membantu memegangi botol minum itu, Milea juga panik saat Leonardo tiba-tiba tersedak, karena mengingatkan dirinya pada ibunya yang meninggal karena tersedak makan.


"Tuan tidak apa-apa?" tanya Milea memastikan setelah Leonardo selesai minum.


"Apa Tuan perlu datang ke rumah sakit?" tanya Sekertaris Alan yang juga khawatir.


"Atau saya panggil dokter Arman sekarang," ucapnya lagi seraya sudah mau menghubungi dokter Arman, namun Leonardo mencegah dengan mengatakan tidak perlu.


Tadi Leonardo tidak fokus makan karena memperhatikan Milea yang makan dengan lahap seraya tersenyum-senyum memandangi api unggun.


"Kalian lanjutkan makan malam saja, saya mau masuk ke dalam tenda," ucap Leonardo yang kemudian langsung berdiri berjalan masuk ke tenda.


Tidak lama kemudian Sekertaris Alan juga sudah menyelesaikan makan malamnya, dan sekarang tinggal Milea yang belum, bahkan Sekertaris Alan meminta Milea untuk menghabiskan semua makanan yang masih ada di atas karpet.


Karena Milea juga sudah kenyang, ahirnya Milea bawa masuk ke dalam tendanya, dan akan ia makan lagi bila nanti merasa lapar.


Saat ini baru menunjuk pukul setengah sembilan malam, Milea belum mau tidur, karena belum mengantuk.


Saat ini Milea sedang berjalan menuju api unggun, di sana ada beberapa orang yang sedang duduk menghadap api unggun tanpa menggunakan alas.


"Hemm, hangat," ucap Milea setelah sampai di dekat api unggun. Milea duduk sendiri tanpa ada temannya.


Tiba-tiba ada anak muda duduk di samping Milea menggunakan jaket capuchon. "Sendirian saja?" tanya basa-basi pria muda itu.


"Ah, iya," jawab Milea sedikit kaget karena tiba-tiba ada yang menyapanya.

__ADS_1


"Kenalkan nama aku Rezy," ucap Rezy seraya mengulurkan tangannya.


"Milea," ucap Milea seraya menerima jabatan tangan Rezy.


Milea dan Rezy ahirnya saling mengobrol, tanpa Milea sadari, Leonardo memperhatikan ke arahnya dengan pandangan yang entah.


Leonardo masuk ke dalam lagi, tidak lama dari itu Milea kembali ke tenda, karena sudah merasa mengantuk, Rezy terus melihat ke arah Milea sampai Milea masuk ke dalam tenda.


Milea yang saat ini sudah berbaring di dalam tenda, merasakan susah tidur, Milea duduk lagi, berpikir mungkin karena mencium aroma makanan yang lezat jadi mengganggu ia tidur.


Milea kembali memakan lagi sisa makanan tadi, ia habiskan semua, setelah merasa kenyang Milea kembali mencoba tidur lagi, namun tetap tidak bisa.


Meski sudah memiringkan tubuhnya ke kiri dan ke kanan, tetap saja Milea belum bisa tidur.


Tiba-tiba Milea merasa sedih, teringat keadaannya yang sekarang ini, ingin bercerita apa yang dirinya rasakan tapi tidak tahu dengan siapa, karena tidak mungkin Milea cerita sama Tata dan Nindi.


Milea merasa berat jadi pembantu Leonardo, dan entah akan kuat sampai kapan, sementara kontrak kerja dua tahun dan itu masih lama sekali, membayangkan saja Milea rasanya tidak mampu.


Milea memiringkan tubuhnya ke kiri, Milea menangis, Milea rindu kehidupannya dulu sebelum dirinya diminta jadi pembantu, sebelum dirinya dijadikan sebagai penebus hutang.


Milea hidup bebas tidak ada yang mengatur tapi masih tahu batasan, meski ayahnya tidak perhatian tapi Milea tetap bahagia. Miliki usaha sendiri dan berjualan bersama dua temannya.


Tapi sekarang semua jauh berbeda, setelah Milea jadi pembantu Leonardo, hidupnya jadi di bawah kendali pria itu.


Sesak sakit jadi satu, hanya menggumpal dalam dada tanpa bisa Milea keluarkan dan berbagi cerita pada siapa pun untuk meredakan bebannya saat ini.


Mungkin saja Milea bisa menyerah, tapi dirinya memikirkan adiknya Arga yang masih sekolah, Milea tidak ingin Arga sampai berhenti sekolah, satu-satunya adik yang selama ini peduli dengan Milea.


Dan mengingat hal itu Milea semakin menangis tidak bisa melakukan apa-apa.

__ADS_1


...****************...


...Mohon dukungannya ya kak💖 beri bintang 🌟 lima dibagian penilaian. Juga like, vote, dan komen....


__ADS_2