
Pintu ruang kamar Leonardo tidak tertutup rapat, masih ada celah yang terbuka, Ibu Alenta yang mendengar suara ribut-ribut di dalam sana mencoba menguping.
"Tuanku, aku benar-benar tidak apa-apa percayalah," mohon Milea yang saat ini duduk di pinggiran ranjang, namun tangannya di pegang Leonardo yang saat ini berdiri di hadapannya.
Mereka berdua saling menatap, bila Milea menatap penuh permohonan supaya Leonardo cepat pergi kerja, berbeda dengan Leonardo, pria itu menatap penuh khawatir dan kecemasan.
Apa aku harus berakting menangis? tidak-tidak, jika aku berakting menangis nanti dia malah tidak mau pergi, aku harus gimana! batin Milea singgung bingung.
"Aku hanya ingin memastikan pantat kamu baik-baik saja, tidak lama sesaat saja."
Aaaaa! bagaimana aku harus menjelaskan lagi sih, hah aku menyesal mengatakan pantatku sakit jika ahirnya malah membuat dia rempong.
"Tuanku aku mohon, tidak usah Anda periksa, aku janji saat Anda pulang kerja nanti sudah sembuh, aku yakin." Milea menatap wajah Leonardo bicara meyakinkan.
Terdiam menunggu reaksi Leonardo, bibir rapat pria itu perlahan menarik garis lengkung, Milea lega saat menangkap senyum kecil Leonardo, dia tidak marah batin Milea.
Leonardo mengacak rambut Milea. "Baiklah jika begitu aku percaya, tapi ingat disaat nanti aku pulang kamu masih mengaduh kesakitan-." Leonardo menghentikan ucapannya, mendekat ke wajah Milea, melengos ke arah telinga. "Aku akan memeriksanya."
Milea langsung mendelik, Leonardo menjauhkan wajahnya dengan seringai tipis di bibir.
Milea hanya menjawab dengan anggukan kepala, seraya bicara dalam hati wus-wus pergi sana.
Ibu Alenta yang mendengar semua pembicaraan mereka berdua, wajahnya makin kesal dan marah, tangannya mengepal kuat.
Dasar wanita penggoda, apa lagi yang diucapkan Leonardo, pantat-pantat! menggelikan, aku tidak bisa membiarkan hidup Milea tenang, aku harus cari akal lagi, batinnya seraya menatap tajam ke arah dalam sana.
Ibu Alenta pergi dari depan pintu kamar Leonardo, sebelum pria itu keluar kamar, jadi saat Leonardo berjalan menuju tangga saat ini, Ibu Alenta sudah berada di tangga satu sebentar lagi sampai lantai satu.
"Ibu!"
Langkah Ibu Alenta terhenti, saat Leonardo memanggilnya, menoleh ke belakang ternyata Leonardo sedang menapaki anak tangga menuju ke arahnya.
"Bu, tolong jagain Mele ya, dia lagi sakit," ucap Leonardo setelah berdiri tepat dihadapan Ibu Alenta.
Ibu Alenta hanya mengangguk.
Sekalian saja dia sekarat terus mati, batin jahat Ibu Alenta.
"Terimakasih, Bu?" ucap Leonardo yang kemudian berlalu, langsung menuju halaman rumah dan segera berangkat kerja.
Milea yang saat ini berdiri di balkon kamar melihat mobil Leonardo yang sudah berjalan keluar gerbang utama.
Milea senyum-senyum mengingat Leonardo.
__ADS_1
Dia memang lucu saat panik seperti tadi, ah aku jadi merasa dicintai xixixixi, cekikikan dalam hati.
Tiba-tiba Milea melihat mobil Ibu Alenta juga berjalan keluar gerbang.
Ibu pergi juga, gumamnya sembari terus melihat mobil Ibu Alenta yang melaju.
Jika dilihat dari arah balkon kamar ini, pemandangan di bawah sana sangat terlihat indah, karena memang rumah ini dikelilingi oleh kebun, banyak pohon dan bunga-bunga yang dirawat.
Bahkan saat ini Milea melihat ada beberapa pelayan di bawah sana yang sedang bekerja memangkas ranting pohon supaya terlihat bagus.
Milea malah jadi kepikiran, jika di balkon kamar ditanami tanaman pot-pot sepertinya akan indah.
Sembari membayangkan Milea berjalan mengelilingi balkon seolah sedang mengukur panjangnya.
"Tapi sepertinya Tuanku tidak akan setuju," gumamnya setelah teringat sikap Leonardo.
Jika Milea saat ini sedang sibuk berpikir merancang kata-kata ingin minta ijin menanam bunga di balkon, berbeda dengan Ibu Alenta yang saat ini sedang menenangkan pikirannya di restoran.
"Hah, aku tidak sudi disuruh jagain menantu sialan itu, lebih baik aku keluar dari pada harus jagain wanita itu," ucap kesal Ibu Alenta yang saat ini sedang menunggu minuman jusnya datang.
Yang Ibu Alenta datangi ini adalah restoran mahal dan mewah, hanya orang-orang kaya tertentu yang datang ke sini.
Pelayan restoran sampai sudah hafal dengan Ibu Alenta, karena Ibu Alenta salah satu pelanggan VVIP di restoran ini.
"Iya, Reno pasti aku akan datang ke sana."
" Iya, ya Reno aku tutup ya telponnya."
Suara wanita yang duduk di meja ujung sana, yang sedang bicara dengan lawan bicaranya di sambungan telepon menarik perhatian Ibu Alenta.
Aku seperti kenal dengan wanita itu, gumam Ibu Alenta, seraya berpikir untuk mengingat-ingat wajah wanita itu.
Anggun, ya dia seperti Anggun, batinnya lagi, karena penasaran dan ingin memastikan, Ibu Alenta mendekati wanita itu.
"Anggun."
Wanita itu menoleh pada seseorang yang saat ini berdiri di samping dirinya yang sedang duduk.
"Tan-tante Alenta," ucapnya hampir tidak percaya.
"Ah, Anggun Tante kangen sekali." Ibu Alenta langsung memeluk Anggun, keduanya sudah lama tidak bertemu membuat saling rindu.
"Tante sampai sulit untuk mengenali kamu, sekarang perubahan kamu wah luar biasa," ucap Ibu Alenta menuju Anggun.
__ADS_1
"Ah, Tante biasa saja."
Kini keduanya sama-sama duduk, Ibu Alenta menatap serius ke arah Anggun.
"Apa kamu sudah menikah?"
Anggun tertawa, dan tawanya terlihat cantik. "Belum Tante, masih mencari belum ketemu."
"Kebetulan, gimana jika kamu Tante jodohkan dengan Leonardo."
"Tante ... aku dan Leonardo adalah sahabatan dari kecil, aku yakin Leon tidak-."
"Kata siapa tidak mau, percayalah sama Tante, semua akan Tante yang urus, kamu tinggal jawab iya sekarang," Ibu Alenta menggenggam tangan Anggun.
Beberapa saat Anggun berpikir, dan setelah yakin Anggun mengangguk kepalanya, Ibu Alenta langsung senang bukan main.
Yang kali ini pasti berhasil, karena Leonardo sudah mengenal Anggun, apa lagi Anggun cantik dan wanita berkarir, cocok.
"Jika begitu kapan kamu bisa bertemu Leonardo?"
"Kapan ya Tante, soalnya Anggun besok dan besoknya lagi sibuk ada pekerjaan di kantor DPR."
"Wah ... sudah cantik anggota DPR lagi," puji Ibu Alenta yang lagi-lagi membuat Anggun semkin terbang tinggi.
"Biasa saja ko Tante." Anggun tersenyum.
"Lua biasa bagi Tante."
Hahah.
Tertawa bersama.
Armada Group.
Leonardo yang baru selesai keluar dari ruang meeting, masuk ke dalam ruang kerjanya, melempar jasnya ke arah sofa sebelahnya, kemudian tiduran di atas sofa.
Sekertaris Alan mengikuti Leonardo, kini duduk di kursi bundar terbuat dari bahan busa.
Alan hanya diam, karena saat ini Leonardo sedang marah, kesal dengan hasil kerja bawahannya yang tidak seperti keinginannya, tadi saja Leonardo sampai marah-marah di ruang meeting.
membanting map, menggebrak meja sampai kopi di atas meja tumpah.
Dan saat ini pria itu sedang menenangkan diri.
__ADS_1