Pembantu Tuan Muda

Pembantu Tuan Muda
BAB 85. Tepung cinta.


__ADS_3

Siang hari ini Milea sedang berada di dapur toko rotinya, Milea sedang mau membuat roti, karena stok roti tinggal sedikit, bersyukur tadi pagi ada pembeli datang yang hampir memborong semua roti.


Milea saat ini sedang memakai sarung tangan dari plastik supaya roti yang dibuatnya tidak kotor, ya meskipun tidak Milea pegang juga, karena ada cetakan khusus untuk membentuk roti setelah selesai diadonin.


"Kak Lea."


Suara Nindi menghentikan kegiatan Milea, yang tadinya dalam posisi berdiri membelakangi Nindi, kini Milea balik badan, dan seketika terkejut melihat seseorang yang berdiri di belakang Nindi.


"Ada-."


"Sang pangeran datang," potong cepat Leonardo sebelum Jihan melanjutkan ucapannya.


Jihan matanya mendelik mendengar suara Leonardo berada di belakangnya.


Tuan Leonardo berada di belakang aku, mengapa aku tidak menyadarinya, pantesan saja bulu kudukku merasa merinding, ternyata ada pria tampan di belakangku, bukan? tapi tadi dia bilang sang pangeran, haha lucunya, batin Jihan masih berdiri membelakangi Leonardo, yang kemudian sedikit menyingkir untuk memberikan Leonardo akses jalan.


Sementara Milea hanya menyebikkan bibirnya mendengar ucapan Leonardo tadi.


Leonardo yang sudah berdiri di depan Milea, tangannya menyentuh pipi Milea kemudian matanya beralih melihat ember berisi adonan roti.


"Kamu mau membuatnya?" tanya Leonardo matanya masih tertuju melihat adonan roti.


"Iya, Tuanku. Emm Anda ada apa datang ke sini?"


"Hei, memang aku tidak boleh menemui istriku yang cantik jelita ini, hem?" Leonardo menundukkan kepala kemudian mencium bibir Milea.


Aaaa! Jiwa jomblo Nindi seketika meronta-ronta melihat pemandangan manis itu, bukannya menutup mata Nindi malah semkin melebarkan matanya untuk melihat adegan itu.


"Nindi ... Nindi!" teriak Milea setelah ciuman mereka terlepas.


Nindi langsung kabur ketahuan masih berada di tempat tersebut, sebenarnya bukan salah Nindi, karena Nindi pikir nanti Milea akan butuh bantuannya makanya tidak segera beranjak pergi dari tempat tersebut, eh malah melihat pemandangan adegan berciuman.


Milea menghela nafas panjang setelah melihat Nindi berlari terbirit-birit.


"Kenapa dia," ucap Leonardo yang tidak peka maksud Milea.

__ADS_1


Milea langsung memukul lengan Leonardo. "Mengapa Tuan menciumku tidak melihat sekeliling dulu ada siapa saja," ucap Milea ketus, karena malu dilihatin Nindi.


"Memang mau mencium harus absen dulu gitu melihat ada siapa saja di tempat tersebut, cium ya cium saja mengapa peduli sama orang lain," ucap sembarang Leonardo, Milea langsung geleng-geleng kepala dan ahirnya memilih mengalah.


Milea kembali melanjutkan pekerjaannya tadi yang mau membuat roti, Leonardo melihat ember sebesar itu kemudian melihat tangan ramping Milea yang sedang mengaduk adonan roti menggunakan alat.


Tiba-tiba Leonardo memegang tangan Milea, membuat Milea menghentikan kegiatannya.


Milea melihat wajah Leonardo. "Ada apa? Tuanku."


"Biar aku saja yang melakukannya aku khawatir nanti tangan kamu patah, kasihan itu ramping sekali pergelangan tangan kamu, sepertinya setelah ini kamu harus makan banyak supaya tidak terlalu kurus." Leonardo merebut alat adonan roti di tangan Milea.


"Aku tidak mau gendut," protes Milea, karena menurutnya berat badannya saat ini itu ideal tidak mau menambah lagi.


"Gemuk itu cantik," jawab Leonardo sembari menghidupkan alat adonan roti, namun tiba-tiba Leonardo lepas begitu saja membuat alat itu jatuh di dalam ember campur adonan roti.


"Mengapa dia bergetar, aku terkejut." Leonardo mengibas-ngibaskan tangannya.


Milea menghela nafas panjang. "Sudah aku bilang Anda pasti tidak bisa."


Bagaimana mungkin tangan yang biasanya hanya memegang pena coret-coret di atas kertas kemudian memegang beginian, batin Milea sembari menggelengkan kepala.


Saat mata Leonardo melihat tepung sisa pembuatan adonan roti, tiba-tiba muncul iseng di otaknya, Leonardo menoel tepung itu kemudian mengoleskan ke pipi Milea.


"Tuanku jangan," keluh Milea yang tidak mau diganggu, tapi bukan Leonardo yang kemudian berhenti begitu saja saat asyik ingin menjahili Milea.


Leonardo mengolesi pipi Milea kanan dan kiri dagu sampai kening Milea juga.


Milea menggelengkan kepala merasa risih, tapi Leonardo malah tertawa dilihatnya Milea lucu.


Leonardo terus mengolesi pipi Milea dengan tepung, setelah itu Leonardo ratakan kini wajah Milea jadi putih bagai bedakan pakai tepung.


Leonardo tertawa setelah puas menjahili Milea, apa lagi saat melihat bibir Milea yang mengerucut tajam.


Milea langsung menghentikan pekerjaannya, tangannya bersendakep di depan dada sembari menatap Leonardo yang masih tertawa.

__ADS_1


"Aku akan balas!"


Setelah bicara Milea langsung mengambil tepung sebanyaknya di tangan kemudian Milea ratakan ke seluruh badan Leonardo membuat jas hitam yang Leonardo pakai menjadi berubah warna abu-abu.


Hahah, tawa renyah Milea saat berhasil membalas Leonardo.


"Hah, kamu berani membalas aku ya," ucap Leonardo sembari mengketekin kepala Milea.


Leonardo balik mengolesi Milea tepung lagi, keduanya saling sama-sama mengolesi tepung ke bagian yang mereka mau, disusul tawa antara keduanya yang terdengar bahagia.


Mereka berdua sama-sama berubah putih, tidak hanya wajah terkena tepung, tapi rambut Leonardo sampai jas hitamnya semua jadi terlihat putih banyak tepung yang menempel.


Milea juga sama sampai rambut-rambutnya juga.


Milea tertawa melihat Leonardo yang berubah putih banyak tepung.


Nindi dan Tata yang mendengar suara tawa-tawa mencoba mengintip, dan seketika hati mereka tersentuh melihat pemandangan itu, baginya Milea dan Leonardo sangat romantis bermain tepung sampai baju mereka kotor.


"Aku kapan ya dapat pacar yang romantis seperti itu," celetuk Nindi sembari matanya terus melihat ke arah Leonardo dan Milea yang masih belum berhenti bermain tepung.


"Iya aku juga." Tata ikut menimpali.


Sementara itu Milea dan Leonardo saat ini sudah menghentikan bermain tepungnya, Leonardo menarik tubuh Milea sampai menempel di tubuhnya, Leonardo sedikit mendongakkan kepala Milea sembari mengusap wajah Milea. "Aku mencintaimu."


Milea tersenyum. "Aku juga Tuanku."


Mereka berdua kemudian berpelukan.


Nindi dan Tata yang mendengar serta melihat adegan itu hatinya langsung meleleh sembari membayangkan seandainya dirinya yang berada di posisi Milea, pasti bahagia sekali.


Nindi dan Tata kembali pergi dari tempat persembunyiannya saat mendengar suara pembeli memanggil.


Leonardo mengusap rambut Milea. "Pulang sekarang saja, pakaian kamu sudah kotor, biarkan pekerjaan ini dilanjutkan oleh dua temanmu itu."


Milea mengangguk, kemudian mereka berdua berjalan menuju keluar dari dapur sembari berpegangan tangan.

__ADS_1


Saat melewati toko dan dilihatin Nindi juga Tata ada juga tiga pembeli di sana, Milea hanya senyum-senyum malu, apa lagi saat ini terlihat seperti orang kapelan. Baju mereka ada tepungnya semua.


Tiga pembeli itu sampai lihatin dua orang yang dimatanya terlihat lucu sampai Leonardo dan Milea masuk ke dalam mobil.


__ADS_2