Pembantu Tuan Muda

Pembantu Tuan Muda
BAB 65 .Milea bakery.


__ADS_3

Ahirnya mereka berdua memutuskan untuk pulang saja, karena Milea tidak berminat mau makan siang di luar.


Setelah sampai di rumah dan baru saja menginjak ruang keluarga, Ibu Alenta langsung menghadang Leonardo, membuat langkah pria itu terhenti.


Namun karena bukan urusannya, Milea milih pergi, saat Milea sudah menapaki anak tangga, samar-samar mendengar Ibu Alenta membahas kartu, yang entah kartu apa Milea juga tidak tahu, namun di detik berikutnya Milea terkejut mendengar jawaban Leonardo.


"Minta maaf pada Mele, Bu. Baru aku akan kasih kartu-kartu itu untuk Ibu, karena Ibu yang sudah nyuruh orang untuk mencuri motor Mele."


Milea langsung memegangi dada, hampir tidak percaya dengan yang barusan ia dengar.


Apa! pelakunya Ibu Alenta, mertua aku sendiri, ah aku tidak menyangka dia setega itu sama aku, bahkan kemarin aku sampai ketakutan.


Milea menoleh menatap ke bawah sana dengan perasaan batin yang sakit karena ulah ibu mertuanya.


"Tidak Leon! Ibu tidak mau minta maaf sama wanita licik itu!" teriak Ibu Alenta dengan suara berapi-api, sangat marah.


"Terserah," bicara acuh seraya mau berlalu.


"Leon!" bentak Ibu Alenta lagi seraya menahan lengan Leonardo.


"Ibu butuh kartu-kartu itu sekarang," suaranya kini berubah sedikit pelan, tidak meninggi seperti tadi.


Namun lagi-lagi tercengang dengan jawaban Leonardo, yang semakin menambah memojokkannya.


"Simpel kok Bu untuk mendapatkan kembali, cukup minta maaf sama Mele, tapi Ibu tidak mau." Leonardo menoleh ke arah ibunya bicara santai seraya tersenyum mengejek.


Ibu Alenta hanya bisa diam, tidak bisa menjawab lagi, dengan tangan terkepal menatap punggung Leonardo yang kini mulai berjalan pergi dari hadapannya menuju ke lantai tiga.


Ah! sial sial! jika syaratnya aku harus minta maaf pada Milea itu tidak mungkin aku lakukan! ta-tapi aku butuh kartu-kartu itu secepatnya!


Ibu Alenta dibuat pusing oleh egonya sendiri, dan malah membuat dirinya kesal sendiri.


Sementara Milea tadi segera masuk ke dalam kamar, saat melihat Leonardo mau naik ke atas, Milea pura-pura sibuk dengan ponselnya, yang saat ini duduk di sofa, padahal dalam hatinya juga mengumpat kesal perbuatan Ibu Alenta.


Lihat saja jika syaratnya beneran harus mendapat maafku, aku kan mengerjainya karena sudah menjahili aku, mencuri motor aku sampai membuat aku takut.


Tanpa Milea sadari, Leonardo terus memperhatikan Milea, bibir gadis itu mengerucut tajam, bila dilihat-lihat seperti boneka mainan yang lucu itu, Leonardo menggelengkan kepala seraya terkekeh.

__ADS_1


Keesokan paginya.


Karena tidak ada pilihan lagi bagi Ibu Alenta, dan kartu-kartu yang disita Leonardo sangat penting baginya, ahirnya dengan sangat terpaksa Ibu Alenta pura-pura baik mau minta maaf sama Milea.


Bersamaan dengan Ibu Alenta membuka pintu kamar, Milea juga membuka pintu kamar, keduanya sesaat saling tatap, namun Milea tidak menatap lama, kemudian mau berlalu, namun tiba-tiba suara Ibu Alenta memanggil namanya.


"Lea, bisa kita bicara sebentar?"


Hah pasti mau minta maaf.


"Jika bisa, tolong kita bicara di dalam kamar, Ibu."


Dih! Ibu? sejak kapan mau aku panggil Ibu, sudah ketebak dia hanya pura-pura baik, lagu lama, cibir batin Milea sebelum ahirnya balik badan dan mengikuti permainan Ibu Alenta.


Sembari berjalan menuju kamar Ibu Alenta, Milea ingin juga mengerjai Ibu Alenta, tergambar seringai tipis di bibir.


Ibu Alenta menghela nafas panjang, kini keduanya sudah sama-sama berada di dalam kamar.


Ibu Alenta menatap wajah Milea, namun Milea pura-pura polos dan tidak tahu.


"Lea, Ibu minta maaf."


Ibu Alenta membuang nafas berat, pikirnya Milea akan langsung memaafkan ternyata malah bertanya alasannya minta maaf karena apa.


"Ibu yang sudah melakukan pencurian sepeda motor kamu dengan menyuruh jasa orang lain."


Milea makin pura-pura terkejut sampai matanya terbelalak lebar.


Ibu Alenta kembali minta maaf saat melihat Milea seperti mau marah. "Lea, Ibu cuma iseng saja, nanti Ibu ganti sepeda motor kamu dengan yang baru."


Iseng! enak kali dia bilang iseng, setelah membuat aku ketakutan di sana, bagaimana jika aku juga diculik, apa dia mau tanggung jawab! hah! isengmu kelewatan Bu!


Milea menggelengkan kepalanya. "Tidak Bu tidak! tindakan Ibu sudah kelewatan, tidak bisa semua selesai hanya karena uang, hanya karena Ibu akan memberikan yang baru untuk aku, tidak bisa seperti itu." Milea bicara tegas.


Ibu Alenta berusaha menguasai diri supaya tidak marah mendengar jawaban Milea. Apa lagi wajah Milea yang terlihat sok angkuh, Ibu Alenta makin kesal.


"Lalu mau mu apa," keceplosan bicara ketus.

__ADS_1


Milea tersenyum miring. "Nanti akan saya kabari, Bu." Selesai bicara Milea langsung berlalu, bersamaan dirinya keluar kamar Ibu Alenta, Leonardo juga keluar kamar sudah berpakaian kerja.


Parfum yang Leonardo gunakan aromanya menyeruak ke seluruh ruangan. Membuat milea menghirup dalam-dalam aromanya.


Hemm wanginya suamiku, batinnya seraya bibirnya tersenyum.


Leonardo menoleh saat mendengar pintu kamar ibunya terbuka, ternyata Milea yang keluar dari dalam sana.


Milea berjalan menghampiri Leonardo, pria itu terus memperhatikan Milea, ada apa? begitulah pertanyaan yang Milea simpulkan dari tatapan Leonardo.


"Ibu minta maaf, tapi-." Milea menghentikan ucapannya, menoleh ke belakang, kemudian berjinjit berbisik di telinga Leonardo, "Aku mau mengetes dulu kesungguhan Ibu minta maaf." Selesai bicara Milea menjauhkan wajahnya seraya tertawa kecil.


Leonardo tidak peduli terserah Milea, kini mereka berdua berjalan bersama menapaki anak tangga menuju lantai satu.


Setelah selesai sarapan pagi, Milea mengantar Leonardo sampai halaman rumah, namun sebelum tiba di sana, saat baru sampai pintu keluar pertama, mata Milea langsung menangkap sebuah mobil.


Jika mobil itu adalah mobil mewah yang biasa Milea lihat di rumah ini, mungkin Milea tidak akan begitu terkejut.


Milea bakery, gumam Milea saat membaca tulisan yang berada di mobil bok.


Mata Milea sampai terbelalak memastikan yang dilihatnya itu adalah benar, sampai tidak sadar bahwa sedari tadi tangannya di genggam Leonardo hingga sampai di dekat mobil itu.


"Bagaimana? kamu suka?"


Mendengar pertanyaan Leonardo seketika Milea sadar dari keterkejutannya, beralih menatap Leonardo.


"Tu-Tuan, i-ini."


"Ini mobil kamu untuk jualan roti, mulai sekarang kamu tidak akan lagi kehujanan dan kepanasan," jelas Leonardo yang langsung membuat Milea terharu dengan perhatian Leonardo.


"Tuanku terimakasih," ucap Milea seraya memeluk Leonardo dengan erat.


Dag dig dug. Jantung Leonardo langsung berdetak kencang saat tiba-tiba Milea memeluknya.


Ibu Alenta yang saat ini berdiri di ambang pintu menyaksikan semuanya, wajahnya terlihat marah, dengan tangan terkepal terus menatap tajam ke arah mereka.


Sesaat kemudian Milea baru sadar bahwa sedang memeluk Leonardo, karena terlalu bahagia sampai tidak sadar melakukannya.

__ADS_1


Milea melerai pelukannya. "Maaf Tuan." Milea menunduk.


Leonardo meraih dagu Milea mendongakkan wajah itu kemudian mengecup bibir Milea sekilas sebelum ahirnya masuk ke dalam mobil, dan meminta sekertaris Alan untuk segera melajukan.


__ADS_2