
Selama mobil berjalan Milea hanya diam, mau memulai bicara tidak enak hati, karena Hansen bukan temannya, hanya beberapa kali bertemu dan dia adalah konsumennya. Milea milih diam dari pada salah bicara.
Hansen melirik Milea yang hanya diam saja dan menunduk, Hansen tersenyum kecil.
"Kamu takut sama aku?"
"Tidak," jawab Milea langsung mendongakkan kepalanya.
"Lalu kenapa menunduk seperti orang takut?" Hansen melihat Milea sekilas kemudian fokus lagi ke depan.
Milea tertawa. "Tidak apa-apa." Tersenyum.
Hansen mengangguk. "Jangan lupa pesanan roti aku diantar ya."
"Ah, iya pasti tidak akan lupa saya, Tuan." Milea menjawab cepat seolah takut dimarahin.
Hansen tergelak tawa mendengar Milea bicara, sangat lucu kedengarannya.
Milea mendelik seraya berpikir apakah salah bicara mengapa dia malah tertawa, tersenyum kikuk seraya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
Tidak lama kemudian mobil sampai, memisahkan mereka berdua, setelah mobil benar-benar berhenti, Milea membuka pintu mobil.
Melambaikan tangan ke arah Hansen sebelum kaca mobil tertutup, sampai Hansen membawa mobilnya pergi.
Usia Hansen sekitar sama dengan usia Leonardo, mengingat nama pria itu Milea membuang nafas kasar, teringat kelakuannya tadi malam.
Sembari berjalan menuju toko rotinya, Milea memukul pelan kepalanya supaya tidak kepikiran Leonardo terus, Nindi yang melihat hal itu mengernyitkan dahi. Milea terlihat lucu dan aneh.
Sampainya di dalam toko Milea menghentikan aksinya itu, melihat dua temannya yang sudah sibuk bekerja.
"Apa kalian sudah sarapan?" Meletakkan tas di atas meja.
"Sudah Kak," jawab Nindi dan Tata kompak.
"Jika belum beli sendiri, aku biarin." Selesai bicara disusul tawa Milea.
Dua temannya mendengus.
Armada Group.
Pria tampan pemimpin perusahaan yang dikenal mendunia, saat ini sedang duduk di kursi kebesarannya di ruang kerja, di atas meja tidak ada pekerjaannya sama sekali, pria itu mencoret-coret kertas kosong di hadapannya, seraya tersenyum kadang juga tertawa.
Tidak peduli dilihat aneh oleh sekertarisnya yang sedari tadi terus melihat ke arahnya, Leonardo asyik dengan dunianya sendiri.
Alan hanya diam, selama Tuannya merasa senang dirinya tidak akan terusik, meringankan pekerjaannya pula, karena bila pria itu sudah marah dan kesal dengan keadaan, dirinya yang akan pling direpotkan, jadi biarlah Leonardo berbuat dan bertingkah sesuka hatinya.
Selama pria itu happy semua akan aman, diam pilihan terbaik, dan kalo bisa terus membuat pria itu happy.
"Alan."
Tiba-tiba namanya dipanggil, Alan langsung duduk tegap yang tadi sedang bersandar.
__ADS_1
"Iya Tuan."
"Dia sangat lucu."
Hahaha! Leonardo tertawa.
Alan diam mendengarkan.
"Semalam aku mengerjainya sampai dia ketakutan."
Hahaha! tertawa lagi seraya mencoret-coret kertas, membuat gambar lingkaran-lingkaran.
"Dan apa kamu tahu Alan?" Melihat Alan.
Alan diam memberi gelengan kecil.
"Menikahlah supaya kamu tahu."
Hahah! tertawa lagi seraya bersandar di kursi.
Apa an sih tidak jelas banget, apa maksudnya? apa hubungannya dengan ku yang harus menikah? batin Alan yang tidak mengerti ucapan Leonardo.
Alan kembali bersandar menghela nafas panjang, Leonardo masih terdengar suara tawa pria itu.
"Alan."
Namanya di panggil lagi duduk tegap lagi, kini Leonardo masih duduk bersandar tanpa melihat Alan.
Alan mendekat memberikan bantal untuk kepala Leonardo, lalu duduk di sebelah pria itu, mata Leonardo terpejam.
Hening.
Terdengar tarikan nafas panjang.
"Alan, aku merasakan sesuatu setiap aku dekat dengannya, seperti perasaan yang pernah aku rasakan diwaktu bersama Kharisma."
Leonardo membuang nafas berat hanya sekedar menyebut nama gadis itu, gadis yang menjadi kisah terburuknya dalam sejarah Leonardo.
Alan mendengarkan, dengan tatapan kesal juga mengingat nama gadis yang Leonardo ucapkan, gadis itu membuat dirinya susah menghadapi Leonardo dalam waktu cukup lama.
"Aku bingung gimana caranya membuat dia jatuh cinta padaku, aku melihat dia begitu membenciku." Leonardo menghela nafas lelah.
Dia takut karena ulah Anda sendiri Tuan, Alan ingin bicara begitu tapi hanya mampu dalam hatinya.
Leonardo membuka matanya. "Aku mencintainya Alan."
Terdengar sedih suara Leonardo, Alan sampai menoleh untuk melihat ekspresi wajahnya.
"Aku ingin melindunginya, aku ingin membahagiakannya, aku ingin tunjukan pada semua orang bahwa dia berharga."
Alan melihat Leonardo meneteskan air mata saat bicara kata-kata itu.
__ADS_1
Benarkah yang aku lihat ini, Tuan menangis hanya sekedar curhat mengenai perasaannya pada Nona, apa kah Nona sudah masuk ke dalam hati Tuan begitu dalam, batin Alan yang semakin ingin tahu.
"Menurutmu aku harus bagaimana?" Menatap langit-langit ruangan.
Alan juga bingung harus gimana, ditanya seperti itu pikiran cerdasnya mendadak tidak berfungsi, seumur-umur belum pernah pacaran.
"Kau juga pasti bingung, kau kan jomblo akut."
Hahah! tertawa mengejek Alan, padahal dirinya sendiri juga tidak tahu harus berbuat apa, masalah cinta membuat dua pria cerdas mendadak bodoh.
Ahirnya selama satu hari penuh yang mereka berdua bahas bukan masalah pekerjaan, tapi masalah perasaan Leonardo yang sedari tadi putar-putar terus pada kalimat itu itu aja, dan belum juga mendapat jawabnya.
Sore hari Milea yang mau pulang, tiba-tiba melihat nenek tua penjual nasi bakar, Milea kasihan melihatnya kemudian membeli nasi bakar itu, ternyata hanya tinggal lima biji, keadaan sudah sore mau turun hujan, ahirnya Milea membelinya semuanya.
Nenek itu bahagia dan mengucapkan terimakasih pada Milea.
Milea menuju pulang bersama Abang ojek, dua puluh menit sudah sampai, sore hari jalan sedikit macet.
Sampainya di dalam rumah, Milea langsung menuju dapur, lima nasi bakar Milea bagikan pada pelayan yang lain, makan bersama-sama di dapur, mereka duduk di lantai dengan melingkar.
Nasi bakarnya dipindah ke piring-piring, bungkusnya masih didekat mereka makan, tidak langsung dibuang.
Di halaman rumah Leonardo baru sampai, bertanya pada pelayan soal Milea, pelayan menjawab Milea sudah pulang, dan sedang makan di dapur.
Leonardo mengibaskan tangan pelayan boleh pergi, dengan langkah lebar pria itu berjalan menuju dapur, ingin menemui Milea.
Terkejut saat melihat Milea makan bersama para pelayan duduk di lantai tanpa alas.
Pelayan yang ikut makan saat melihat Leonardo datang memberitahu Milea, gadis itu menoleh dengan mulut penuh makanan, Milea tersenyum kikuk.
Di mata Leonardo sangat lucu, pria itu penasaran dengan yang Milea makan, ahirnya berjalan lebih dekat.
Mereka semua langsung berdiri, Leonardo berdiri diantara mereka, matanya terbelalak saat melihat nasi bakar yang Leonardo sendiri tidak pernah makan begituan apa lagi namanya saja Leonardo tidak tahu.
"Apa itu?" tunjuk Leonardo pada daun pisang yang gosong.
"Itu daun pisang." Milea menjawab.
"Mau kamu makan!" suaranya terkejut.
Milea dan yang lain tertawa kecil. "Tidak nanti aku buang."
"Tuan mau mencobanya?" tanya Milea yang siap mau menyuapi Leonardo.
"Tidak, apa itu hitam-hitam."
Milea menghela nafas panjang, begini saja tidak tahu Tuan pikirnya.
Leonardo mengibaskan tangannya. "Sudah habiskan setelah ini aku tunggu kamu di kamar." Menatap Milea.
Setelah bicara Leonardo langsung melenggang pergi, Milea dan yang lainnya lanjut makan lagi.
__ADS_1