Pembantu Tuan Muda

Pembantu Tuan Muda
BAB 97. Restu ibu.


__ADS_3

Keesokan harinya.


Milea dan Leonardo memakai pakaian hitam, dari kostum yang mereka pakai sudah bisa ditebak bahwa mereka akan pergi ke makam.


"Kamu sudah siap?" tanya Leonardo yang saat ini berdiri tepat di depan Milea.


"Sudah." Milea tersenyum.


Leonardo mengikis jarak lebih dekat kemudian mencium kening Milea begitu dalam.


"Aku mencintaimu," ucap Leonardo setelah mencium kening Milea.


Milea tersenyum, Leonardo meraih tangan Milea kemudian ia genggam lalu mengajak Milea turun ke bawah bersama.


Sampainya di halaman rumah mereka berdua langsung masuk ke dalam mobil, akan pergi di kota xx tempat kampung ibunya Milea di makamkan.


Beberapa saat kemudian mobil dilajukan dengan sekertaris Alan sebagai pengemudi.


Dari arah balkon kamar tempat Ibu Alenta, wanita paruh baya itu menatap terus mobil Leonardo sampai mobil itu keluar gerbang dan tidak terlihat lagi.


Semalam Leonardo dan Milea sudah meminta ijin bahwa pagi ini akan ke makam ibunya Milea.


Juga mengajak Ibu Alenta namun Ibu Alenta mengatakan tidak bisa karena ada arisan bersama teman sosialitanya, padahal semua itu hanya kebohongan semata.


Sampai detik ini Ibu Alenta masih meyakinkan diri untuk bisa menerima Milea sebagai menantu juga istri Leonardo.


Apa bila boleh jujur rasanya berat untuk menerima Milea jadi menantu karena memandang derajat yang tidak setara.


Tapi jika melihat Leonardo sudah mencintai Milea, serta wanita itu yang kini sudah mengandung cucunya, Ibu Alenta jadi berpikir lagi.


Ibu Alenta membuang nafas kasar, milih kembali masuk ke dalam kamar. langkah Ibu Alenta terhenti di depan almari, tangannya membuka almari yang menyimpan koper, Ibu Alenta menarik keluar koper itu.


Dengan menghela nafas berat Ibu Alenta membuka koper itu, kemudian satu per satu memindahkan baju di dalam almari untuk dimasukkan ke dalam koper.


Tanpa terasa air mata Ibu Alenta berlinang deras membasahi pipi, sesak rasanya tapi Ibu Alenta pikir ini adalah jalan terbaik.


"Leon ... Ibu harus pergi menenangkan hati Ibu, karena Ibu ingin melihat kamu bahagia, tapi saat ini Ibu tidak bisa dipaksakan untuk menerima Milea. Maafkan Ibu kelak Ibu kembali pasti sudah bisa menerima Milea."

__ADS_1


Setelah selesai memasukkan beberapa baju ke dalam koper, Ibu Alenta segera membersihkan diri, supaya nanti saat Leonardo pulang ia bisa langsung bicara.


Tiket penerbangan ke Australia sudah tergeletak di atas meja. Ibu Alenta sudah mempersiapkan semuanya.


Di tempat lain.


Mobil yang sekertaris Alan kendarai baru saja sampai setelah menempuh perjalanan satu jam tiga puluh menit, rumayan jauh kampung tempat ibunya Milea.


Di kampung ini banyak hamparan hijau, gunung-gunung tempat bercocok tanam, dan di ujung sana ada hamparan sawah yang padinya sudah mulai menguning.


Satu kata yaitu indah. Leonardo tersenyum melihat pemandangan alam ini, sampai tidak sadar malah melamun.


Milea menggandeng tangan Leonardo berjalan menuju pemakaman, harus melewati jalan setapak karena mobil tidak bisa masuk.


Sepatu mahal Leonardo jadi kotor, karena tidak biasa jalan di atas tanah, merasa sedikit geli tapi Leonardo tahan karena tidak mau mengecewakan Milea.


"Masih jauh?" tanya Leonardo yang merasa tidak sampai-sampai mana nyamuk sudah mengerubungi padahal sing hari.


"Sudah dekat, itu." Milea menunjuk tempat makan yang sudah kelihatan.


Sampai di sana Leonardo terpaku melihat pemakaman di kampung, bagi orang kampung ini sudah bersih, tapi bagi Leonardo kurang bersih apa lagi dibandingkan dengan pemakaman di kota tentu jauh.


Milea menabur bunga, air matanya tidak bisa Milea bendung, rindu? Itulah yang Milea rasakan, karena ditinggal ibunya Milea masih kecil, tentu kasih sayang seorang ibu sangat Milea rindukan.


Milea meletakkan tangannya di pusara sang Ibu. "Ibu ... Ini Lea datang mengunjungi ibu." Milea tersenyum tapi air matanya mengalir di pipi. "Lea sangat merindukan ibu ... Oh ya ibu saat ini Lea sedang hamil, sebentar lagi ibu mau punya cucu, hiks hiks ibu."


Leonardo langsung mendekap tubuh Milea membiarkan wanitanya menangis dalam pelukannya, Leonardo tahu saat ini Milea sangat sedih.


Hiks hiks hiks.


"Tenanglah kamu harus tenang," nasehat Leonardo sembari mengusap punggung Milea.


Sekertaris Alan juga ikutan sedih menyaksikan secara langsung, yang juga tahu tentang masa lalu Milea dari cerita kecil wanita itu. Yang ia dapat saat mencari informasi tentang Milea.


Cukup lama Milea menangis dalam pelukan Leonardo, dan setelah lebih tenang Milea kembali memegang pusara sang Ibu.


"Ibu yang tenang di sana, sekarang Lea sudah bahagia." Milea mencium pusara ibunya air matanya kembali jatuh.

__ADS_1


"Ibu ... Saat ini Mele akan menjadi tanggung jawabku, aku akan menjaga Mele dan membahagiakannya, aku sangat mencintai putri cantik ibu yang imut ini," ucap Leonardo yang langsung membuat hati Milea senang.


Setelah cukup lama mereka di sana, ahirnya mereka putuskan untuk pulang.


Sore hari mereka sampai di rumah, tadi saat di perjalanan mereka mampir dulu belanja kebutuhan Milea yang habis.


Sampainya di rumah keluarga, Ibu Alenta menghadang langkah mereka, dan meminta Milea juga Leonardo untuk ikut duduk bersamanya.


Milea dan Leonardo yang baru duduk saling pandang dengan sikap Ibu Alenta yang tidak seperti biasanya.


Ibu Alenta menghela nafas panjang. "Leon ... Lea ... Ibu merestui hubungan kalian."


Leonardo dan Milea seketika melongo mendengar kalimat yang baru saja Ibu Alenta ucapkan.


Dan untuk memastikan pendengarannya tidak salah Leonardo memilih langsung bertanya.


"Ibu serius?" tanya Leonardo yang langsung mendapat anggukan kepala cepat Ibu Alenta.


"Ah, Ibu Leon sangat senang terimakasih Ibu." Leonardo langsung bangkit dari duduknya mendekati Ibu Alenta dan langsung memeluk dan mencium pipi wanita yang sudah melahirkannya di dunia ini.


"Ibu juga bahagia Leon ... Maafkan Ibu yang baru bisa menerima Milea sekarang," suara Ibu Alenta terdengar sedih dan menyesal.


"Tidak apa-apa Ibu ... Lea sudah senang mendapat restu dari Ibu," ucap Milea dengan tulus.


Ibu Alenta merentangkan tangannya, Milea berjalan mendekati Ibu Alenta, saat ini mereka berdua Leonardo juga Milea, Ibu Alenta peluk, dan Ibu Alenta ciumi puncak kepala mereka bergantian.


Ahirnya aku merasakan kebahagiaan ini, batin Ibu Alenta sembari meneteskan air mata.


Milea dan Leonardo kembali duduk tegap, Ibu Alenta memandang wajah mereka bergantian.


"Leon ... Lea ... Besok pagi Ibu harus berangkat ke Australia."


"Untuk apa Ibu?" tanya cepat Leonardo dengan terkejut.


Ibu Alenta tersenyum sembari mengusap wajah putra semata wayangnya. "Ibu ingin berlibur sayang, tinggallah kalian berdua di sini dan memulai hidup bahagia."


Sumpah kali ini Leonardo tidak bisa apa bila tidak menangis, Leonardo langsung memeluk ibunya kembali, tidak ingin terpisah tapi apa bila sudah menjadi keinginan sang ibu Leonardo tidak akan melarang.

__ADS_1


"Leon sayang sama Ibu," ucap Leonardo masih meluk ibunya.


"Ibu juga sayang dengan Leon ... Ibu juga sayang dengan Lea." Ibu Alenta kembali memeluk mereka berdua.


__ADS_2