
Tempat ruang kamar bayi sudah mulai dirapihkan oleh pelayan, barang-barang di susun rapi.
Leonardo bersama Sekertaris Alan sedang menyusun ranjang bayi, tapi dari tadi belum kelar-kelar juga, ada saja yang salah padahal sudah melihat buku panduannya.
"Tuan bagian ini yang atas." Sekertaris Alan memberi tahu.
"Bukan, ini benar yang bawah," jawab Leonardo yang tidak mau disalahkan.
Sekertaris Alan ahirnya milih diam, sembari melihat hasilnya nanti, dan benar saja baru saja selesai di pasang ternyata salah.
Hah Leonardo jadi pusing karena salah mulu.
Sekarang yang ambil alih Sekertaris Alan, membongkar semuanya dan menyusunya kembali, sekarang sekertaris Alan lebih berhati-hati lagi karena tidak mau salah lagi.
"Ini sepertinya yang sebelah kiri Alan." Leonardo menunjuk yang Sekertaris Alan pegang, setelah sekertaris Alan memperhatikan gambar, ternyata benar untuk yang sebelah kiri.
Begitulah seterusnya mereka berdua saling bekerja sama, yang ahirnya ranjang bayi jadi mereka berdua langsung bernafas lega.
Leonardo langsung berbaring di sofa, di dalam ruangan tersebut ada kursi sofa panjang, sementara sekertaris Alan langsung tiduran di lantai.
Dua pria itu langsung tepar merasa lelah, habis dari pusat perbelanjaan, dan setelah sampai rumah harus menyusun ranjang bayi. Jadinya ya beginilah mereka kecapean.
sore hari tiba.
Milea yang sudah bangun tidur mencuci mukanya lebih dulu, setelah selesai Milea keluar kamar, namun saat Milea menoleh ke kanan tempat kamar calon bayinya pintunya terbuka, Milea melangkah mendekat ingin melihat di dalam sana.
Dan ... Milea langsung menghela nafas panjang setelah matanya melihat ke dalam kamar itu.
Milea geleng kepala mendapati Sekertaris Alan tiduran di atas lantai dengan ngorok terlihat begitu nyenyak, Milea berjalan mendekati sofa, di sana Leonardo juga lagi tidur dengan satu kakinya menjuntai kelantai yang satunya tetap di sofa.
"Kenapa mereka seperti ini cara tidurnya." Milea bicara lirih tidak mau menganggu mereka yang masih tidur.
Tapi saat ini pandangan Milea teralihkan dengan sebuah keranjang kecil yang imut nan lucu.
"Ah keranjang tidur anakku." Milea bahagia melihatnya dan langsung mendekatinya.
Saat tangannya menyentuh pinggiran ranjang bayi, Milea meneteskan air mata, rasanya sangat bahagia, tidak bisa dijelaskan seperti apa.
Satu tangan Milea menyentuh perutnya. "Nak, sebentar lagi kita ketemu, bantu Ibu saat nanti lahiran ya," ucap Milea dengan sang calon bayi, yang tiba-tiba mendapat sebuah tendangan kecil dari dalam perut, seolah sang bayi menyetujui.
__ADS_1
Setelah cukup lama Milea berdiri di sana, ahirnya Milea melanjutkan niatnya yang tadi ingin turun ke bawah mau ambil minum.
Sampainya di dapur Milea mengambil minum air putih, meneguk minuman itu sampai habis.
Di dapur saat ini para pelayan bagian memasak sudah memulai untuk memasak. Milea bangkit dari duduknya dan mendekati mereka, mengintip dari belakang punggung pelayan untuk melihat masakannya.
Aroma wangi masakan itu langsung tercium indera penciuman Milea, seketika bikin laper.
"Apa sayurnya sudah matang?" celetuk suara Milea bertanya, mengagetkan pelayan yang lagi mengaduk sayur kangkung.
Ya, memang sayur kangkung tapi warna dan aroma lezatnya menggiurkan, Milea tidak bisa kalau tidak mencicipinya.
"Belum Nyonya, tunggu sebentar," jawab pelayan itu.
"Baiklah aku tunggu di kursi meja makan, sekalian nanti sama nasinya dikit ya," pinta Milea yang langsung mendapat anggukan cepat pelayan itu.
Milea menunggu di ruang makan, tidak lama kemudian Leonardo datang duduk di sebelahnya.
Sekarang wajahnya sudah tampak segar, belum mandi sih tapi sepertinya habis cuci muka.
"Tadi aku cariin di kamar tidak ada ternyata disini," ucap Leonardo dengan bibir mayun, ternyata rasa malas masih ada dalam tubuhnya.
Leonardo tersenyum meringis.
"Tadi kamu tidur di kamar bayi kita, aku lihat loh." Milea memberi tahu.
"Hehe, iya tadi aku kelelahan jadi tidur di sana." Leonardo menguap seperti masih mengantuk.
"Sekertaris Alan sudah bangun?"
Pelayan datang membawa satu piring berisikan nasi + sayur kangkung + bakwan jagung. Setelah diletakkan di meja tepat depan Milea, Leonardo langsung menelan ludah kasar. Pengen jadinya.
Fokus Leonardo malah ke isi piring Milea, lupa tidak menjawab pertanyaan Milea.
Milea langsung menyantap setelah pelayan pergi, glek-glek Leonardo jadi ngiler melihat Milea makan terlihat nikmat sekali.
Saat Milea mau menyuap lagi, sendok yang sudah diarahkan ke mulut Milea Leonardo belokkan ahirnya masuk ke mulutnya. Kunyah-kunyah dan rasanya memak lezat.
"Kenapa? Enak?" tanya Milea sinis.
__ADS_1
"Mau, ambil sendiri lah ini punyaku," ucapnya lagi dengan bibir maju. Huh Leonardo jadi gemas sendiri melihatnya.
Cup, Leonardo mengecup bibir Milea sebelum ahirnya pergi menuju kamarnya meninggalkan Milea dalam kekesalan.
"Ih, dia selalu," gerutu Milea yang sudah biasa diperlakukan sama Leonardo yang suka main cium-cium.
Milea ahirnya melanjutkan makannya dengan tenang setelah Leonardo pergi tidak ada lgi yang mengganggunya.
Leonardo ternyata membangunkan sekertaris Alan untuk diajak main basket, masih ngantuk-ngantuk sekertaris Alan harus menuruti kemauan Leonardo.
Sekertaris Alan harus cuci muka lebih dulu supaya matanya bisa melek, kalau tidak nanti terkena bola serangan dari Leonardo.
Sementara Leonardo sudah berada di tempat permainan basket yang ada di rumah utama.
Ada sebuah ruangan cukup besar dan luas, di sana tempat olahraga basket berada, biasanya Leonardo sering olah raga basket dan lawan mainnya hanya sekertaris Alan, karena ya mau siapa lagi yang ada cuma sekertaris Alan, jadi manfaatkan saja dia. Begitulah pikirnya.
Leonardo memantul-mantulkan bola ke lantai kemudian menangkapnya dan melemparnya ke dalam ring.
Sekertaris Alan masuk ke dalam, pakaian luarnya sudah di lepas, saat ini hanya memakai kaus dalaman, begitu juga Leonardo. Dua pria itu makin terlihat cool dengan tanpa baju. Dan sekarang keduanya mulai bertanding.
Leonardo dan Sekertaris Alan merebutkan satu bola, saat ini bola dalam kuasa Leonardo, dan sekertaris Alan mau merebutnya, namun tidak bisa, ahirnya Leonardo berhasil memasukkan ke dalam ring.
Bola jatuh di ambil sekertaris Alan dan sekarang dalam kuasanya, Leonardo bergantian mau merebut namun tidak bisa, kali ini Sekertaris Alan yang berhasil memasukkan bola ke dalam ring.
Begitu pun seterusnya permainan basket di lakukan sampai ahirnya selesai tidak ada yang kalah juga tidak ada yang menang, keduanya mendapat skor yang sama.
Tepat pukul enam sore Sekertaris Alan diijinkan pulang.
Leonardo segera membersihkan diri, menunggu beberapa saat sampai keringat di tubuhnya kering.
Setelah memastikan kering Leonardo segera mandi, sementara Milea rebahan di atas ranjang sembari membaca majalah edisi terbaru milik Armada Group.
Waktu menjelang mau tidur.
Leonardo gelisah tiduran di ranjang, Milea menoleh ingin melihat wajah Leonardo.
"Kamu kenapa?" tanya Milea sembari menyentuh wajah Leonardo.
Leonardo memegang tangan Milea yang menyentuh wajahnya. "Lahirannya operasi saja ya, jangan normal aku takut," ucap Leonardo sembari menunjukan wajahnya yang begitu khawatir.
__ADS_1