
Hukuman untuk Milea masih berlanjut sampai pagi ini di hari Minggu, tadi pagi Milea di panggil Leonardo untuk masuk ke dalam kamar pria itu, lalu di suruh memeking baju-bajunya karena alasan mau kemping.
Tapi baju yang diminta Leonardo untuk dimasukan ke dalam tas itu lebih dari sewajarnya.
Satu ransel penuh, Milea sampai berpikir apa kah pria itu akan pindah tempat tinggal, padahal sudah mengatakan bila kemping hanya sehari semalam, Senin pagi sudah tiba di rumah.
Tapi Milea tetap melakukan perintah Leonardo, tidak punya keberanian hanya mengingatkan.
Dan saat ini Milea jelas tahu bahwa Leonardo membawa baju sebanyak itu sengaja untuk mengerjainya.
Milea dan Leonardo juga Sekertaris Alan kini sudah tiba di tempat kemping. Tempatnya memang luas dan semua hamparan rumput, di hari Minggu ini banyak sekali pengunjung yang juga akan kemping bersama keluarganya.
Milea tadinya sempat bahagia diajak kemping ke tempat alam, karena dirinya juga pecinta alam, tapi setelah mendengar perintah Leonardo pada dirinya, seketika Milea jadi malas.
"Aku mau ke puncak gunung itu." Leonardo menunjuk gunung. "Dan aku mau kau Mile harus ikut dan terus bawa tas ransel aku itu, karena aku tidak mau ada yang hilang, bila kamu tinggal di sini," jelas Leonardo seraya menatap Milea dengan tajam.
Hah! Gila apa! kau memintaku mendaki gunung dengan membawa tas ransel milikmu yang berat ini! Kau mau menyiksaku! ucap kesal Milea namun hanya mampu dalam hati.
Sudahlah Milea ikuti saja lah, dia kan memang pria gila, bisik sebagian hati Milea.
Sampai atas kamu kerjain saja dia, supaya tidak seenaknya saja, bisik jahat bagian hati Milea.
"Hah! Sudah-sudah diam!" bentak Milea seraya mengikuti langkah Leonardo yang mulai mendaki gunung.
Gunungnya tidak begitu tinggi, tapi mendaki dengan mengendong tas ransel yang berat kan juga mempersulit dalam mendaki, dan sedangkan Sekertaris Alan ada di bawah, dia bisa menjaga tas ransel pikir Milea.
Hah! Lagi-lagi Milea hanya mampu pasrah, terus mendaki dengan langkah susah payahnya, membuang nafas panjang terus dan keringat mulai bercucuran.
Leonardo menoleh ke bawah melihat Milea yang saat ini kesusahan berjalan, pria itu malah tersenyum kemenangan, tanpa mau membantu Milea, Leonardo kembali berjalan mendaki gunung.
Saat ini orang yang mendaki gunung rumayan banyak, tidak hanya Milea dan Leonardo saja, karena dari cerita orang-orang yang sudah mendaki gunung itu, pemandangan terlihat indah bila dipandang dari puncak gunung itu.
__ADS_1
Milea terus menyemangati diri pasti bisa sampai di atas, Milea melihat ke bawah, tidak berani membayangkan bila dirinya sampai berguling ke bawah. Membayangkan saja Milea takut, dan saat ini melangkah pelan-pelan tapi pasti.
Milea tidak mau buru-buru takut jatuh terpeleset, sembari tangannya berpegangan ranting pohon untuk membantu Milea, supaya mudah untuk berjalan.
Puncak gunung sebentar lagi sampai, Leonardo saat ini sudah berada di atas, sekarang sedang memfoto pemandangan yang indah, kota-kota yang indah terlihat dari puncak gunung.
Milea berhenti sebentar mengambil nafas dalam-dalam, setelah mendapat tenaga lagi Milea lanjut berjalan dan...
Ahirnya Milea sampai di atas gunung dengan selamat.
Lelah dan letih yang Milea baru rasakan seakan langsung hilang, saat netra matanya melihat keindahan alam dari puncak gunung.
Aaaaaaaaaa!
Milea tiba-tiba berteriak melepaskan beban dalam dadanya, Leonardo yang tadi sempat fokus mengambil gambar alam seketika menutup telinganya mendengar teriakan Milea yang tiba-tiba, apa lagi Milea saat ini berdiri di sampingnya, tentu sangat mengganggu.
"Maaf Tuan," ucap Milea seraya menutup mulutnya sendiri setelah menyadari yang barusan dirinya lakukan mengganggu Leonardo.
Leonardo membuang nafas berat dan kemudian berjalan ke tempat lain, tidak ingin diganggu Milea lagi
Leonardo yang tanpa sengaja menoleh melihat Milea yang sedang berfoto ria, dengan gaya yang sok imut dan sok cantik, Leonardo tersenyum kecil, kecil sekali sampai tidak terlihat.
Leonardo yang sudah selesai mengambil gambar, kini berdiri berdiam menatap keindahan alam di bawah sana.
Sementara Milea masih asyik berfoto-foto juga membuat Vidio dirinya, nanti mau ia pamerkan pada dua temannya di toko roti.
Sedangkan Sekertaris Alan, saat ini sedang mendirikan tenda hanya seorang diri tanpa ada yang bantuin.
Di sekeliling juga banyak orang yang lagi mendirikan tenda, jadi nanti malam pasti akan ramai.
Tiba-tiba cuaca mendung yang tadi terang benderang, Milea mendekati Leonardo, yang lain juga sudah tampak mulai turun ke bawah.
__ADS_1
"Tuan, kita sebaiknya turun ke bawah sekarang," saran Milea, yang tanpa Leonardo jawab tapi pria itu lebih dulu berjalan.
Milea menghela nafas panjang kemudian mengikuti langkah Leonardo dari belakang pria itu.
Saat turun ke bawah memang lebih mudah jalannya karena temurunan, tapi Milea harus berhati-hati takut terpeleset, apa lagi ransel yang ia bawa itu berat, tentu keseimbangan tidak setara.
Bila tidak membawa apa-apa lebih mudah karena bisa berjalan cepat, bukan tubuhnya yang sakit yang akan Milea khawatirkan bila jatuh, tapi tas ransel yang dirinya bawa, pasti pemiliknya akan memarahinya bila sampai kotor.
Tidak! Tidak Milea tidak mau kena amarah atau hukuman, sembari terus berjalan Milea menggelengkan kepalanya.
Setelahnya sampai di bawah, tiba-tiba hujan deras langsung mengguyur bumi, Milea dan Leonardo segera masuk tenda, untung saja Sekertaris Alan sudah selesai dalam mendirikan tenda.
Jadi saat ini bisa untuk berteduh dan tidak kehujanan, ada dua tenda yang tadi Sekertaris Alan dirikan, yang satunya untuk Milea, namun saat ini Milea juga ikut masuk ke tenda Leonardo karena terburu-buru tidak ingin kehujanan.
"Tuan maaf bila saya salah masuk tenda Anda," ucap Milea merasa bersalah.
Hem.
Jawab singkat Leonardo yang saat ini masih fokus dengan ponsel nya. Tiba-tiba...
Duar!!
Suara petir menggelegar.
Ah! Milea reflek memeluk Leonardo karena takut dengan suara petir, dengan bibir meracau.
"Jangan sambar aku tolong jangan sambar aku," ucap Milea ketakutan mendengar suara petir seraya memeluk Leonardo.
Leonardo melepas pelukan Milea dengan membuang nafas kasar, seketika Milea terkejut karena sudah berbuat kesalahan berani memeluk Tuannya.
"Ma-maaf Tuan, ma-maaf sa-saya tidak se-sengaja," ucap Milea dengan terbata-bata, seraya menunduk dalam.
__ADS_1
Leonardo berdecak kesal tidak menanggapi permintaan maaf Milea.
Bodoh! Kau Milea bodoh! bagaimana bisa kau tadi memeluk Tuan Leonardo, merutuki kesalahan dalam hati seraya memukul kepalanya, Milea duduk berdiam tanpa suara lagi.