Pembantu Tuan Muda

Pembantu Tuan Muda
BAB 96. Usaha terakhir Kharisma.


__ADS_3

Pagi yang cerah ini menggambarkan juga hati yang cerah pada seorang gadis cantik berambut panjang hitam lurus, dilihat dari kilauan rambut itu jelas gadis itu sering perawatan untuk menjaga rambutnya tetap indah.


Bulu mata yang lentik begitu indah saat matanya berkedip serta bibirnya yang ditarik membentuk garis lengkung, sangat manis senyumnya.


Berjalan dengan anggung untuk menemui kekasih lamanya, hari ini gadis itu akan memperjuangkan cintanya untuk yang terakhir kali.


Kharisma, tidak mau menyerah begitu saja sampai apa yang ingin didapatkannya terwujud.


Bahkan di jam segini gadis itu sudah sampai di gedung Armada Group, padahal baru pukul sembilan pagi, dimana jam kantor masih sibuk-sibuknya.


Dengan penuh percaya diri Kharisma melangkah masuk dan segera menuju lift menekan tombol tempat lantai ruang kerja Leonardo berada.


Selama di dalam lift Kharisma tersenyum penuh percaya diri sampai lift terbuka dan keluar dari sana.


Di dalam ruang kerja Leonardo.


Pria itu saat ini memang lagi banyak kerjaan, banyak tumpukan file-file di atas mejanya, tapi belum juga Leonardo pegang, bahkan saat ini Leonardo berada di dalam kamar rahasia yang ada di ruang kerjanya.


Baru keluar dari sana setelah bodyguard yang menjaga di depan pintu ruang kerjanya itu memanggilnya.


"Lepaskan aku!" bentak Kharisma yang memaksa segera masuk padahal Leonardo belum memberi perintah.


Tapi saat ini Kharisma sudah berada di dalam dengan kedua tangan di pegang bodyguard Leonardo.


Kharisma melihat Leonardo dengan tatapan mengiba, seolah mengatakan bodyguard itu telah keterlaluan.


Leonardo mengangkat tangannya, seketika bodyguard itu melepas tangan Kharisma, menunduk hormat pada Leonardo, kemudian undur diri.


Leonardo berjalan menuju kursi sofa, duduk di sana dengan satu kaki di angkat bertumpu pada kaki satunya, tangannya merentang memegangi sandaran kursi, dengan tatapan penuh arti melihat Kharisma.


Sakit rasanya hati Kharisma saat mendapati sikap dingin Leonardo, jauh beda tidak seperti dulu, yang pasti akan langsung memeluknya tiap kali datang.


Kharisma berjalan mendekat dengan perasaan bergejolak dalam dada.


Kharisma memasang wajah sangat sedih. "Leon, aku minta maaf sudah pergi meninggalkan kamu tanpa berpamitan, aku tahu aku salah ... Dan aku datang kemari untuk minta maaf."


"Terlambat, aku tidak butuh penjelasan sekarang. Pergilah dengan hidupmu yang baru," ucap Leonardo sinis menganggap tidak penting.


Kharisma menggeleng. "Tidak Leon, aku ingin kembali padamu, asal kamu tahu Leon aku pergi karena ibumu yang minta, ini salah ibumu. Percaya padaku Leon."

__ADS_1


Hahahah! Tanggapan Leonardo.


Kharisma tercengang saat Leonardo malah tertawa, dan setelah tawa itu lenyap berganti tatapan menusuk ke arahnya.


Deg.


Kharisma sampai susah menelan ludah, ini kali pertama melihat Leonardo menyemburkan api amarah, Kharisma tidak menyangka bahwa Leonardo bisa semarah ini.


"Ingat! Bagiku itu semua tidak penting, mau semua itu kesalahan ibu atau kamu tidak penting bagi aku ... Aku sudah tidak butuh kamu, sekarang pergilah," usir Leonardo lagi tapi Kharisma tidak mau mengikuti dan tetap kekeh ingin mendapatkan maaf Leonardo.


Kharisma mendekati Leonardo, dan ternyata wanita itu membawa tubuhnya meluruh kemudian memegangi kaki Leonardo, kharisma menangis di sana, Kharisma akan memanfaatkan air matanya, ia yakin Leonardo akan belas kasih.


Kharisma masih menganggap Leonardo hanya main-main sampai membuat wanita itu nekat.


"Leon ... Aku mohon tolong maafkan aku kita mulai lagi hubungan kita dari awal, kita bisa hidup bahagia lagi, tidak ada yang menghalangi kita lagi."


Leonardo menunduk seraya mengangkat dagu kharisma untuk melihatnya, Kharisma merasakan Leonardo menekan kuat dagunya.


"Hubungan kita sudah selesai, pergi jangan ganggu aku lagi atau aku akan membuat keluarga mu susah." Leonardo bicara penuh penekanan.


Namun siapa sangka Kharisma begitu berani dalam gerakan cepat tangan Kharisma menarik leher Leonardo dan mencium bibir pria itu.


Kharisma senang bukan main dalam hati, merasa berhasil, dan penuh percaya diri bahwa Leonardo tidak akan menolak ciumannya.


Leonardo melepas ciuman itu seraya mengusap bibir Kharisma yang basah. "Ciuman terakhir."


Deg!


Kharisma menggeleng mendengar ucapan Leonardo barusan, ciuman terakhir? tidak! Itu tidak mungkin pikir Kharisma.


Namun belum hilang rasa terkejutnya, Kharisma melihat sosok wanita yang menyembul keluar dari dalam.


Milea, gumam Kharisma tenggorokannya tercekat melihat Milea ada di sini.


"Duduklah di sini," titah Leonardo yang meminta Milea untuk duduk di pangkuannya.


Kharisma semakin menggangga mulutnya melihat pemandangan itu, dadanya seketika terasa sesak, dan apa itu? Mata kharisma sampai terbelalak lebar saat melihat Leonardo mencium bibir Milea dengan mesra dan kelembutan.


Setelah ciuman bibir terlepas Leonardo menoleh melihat Kharisma yang saat ini sudah menangis hancur.

__ADS_1


"Aku mencintaimu ... Itu salah. Aku mencintai istriku." Leonardo mencium bibir Milea kembali.


Sudah ada lima belas menit Kharisma di dalam, Sekertaris Alan membuka pintu dan masuk ke dalam.


Seketika Kharisma merasa malu sangat malu, tidak hanya malu di depan Leonardo dan Milea tapi lebih malu dengan Sekertaris Alan yang tadi sempat berdebat dengan pria itu sebelum masuk ke dalam.


Dengan penuh percaya diri Kharisma mengatakan bahwa Leonardo masih mencintainya, tapi nyatanya apa sekarang? Kharisma terlihat begitu mengenaskan wajahnya basah dengan air mata sembari duduk di lantai.


"Maaf Nona silahkan Anda pergi sekarang," ucap tegas sekertaris Alan, sebenarnya ia enggan untuk bersikap baik setelah yang diperbuat Kharisma.


Karena sudah tidak miliki harga diri lagi, Kharisma ahirnya membawa tubuhnya berdiri, tanpa melihat ke arah Leonardo lagi Kharisma langsung berjalan pergi begitu saja.


Hatinya sudah terlanjur sakit dan kecewa bahkan malu, semua sia-sia.


Setelah kepergian Kharisma, Milea menarik telinga Leonardo tidak peduli pria itu mengaduh kesakitan.


AW AW! Mele!


"Kau kenapa tadi mencium bibir wanita itu, hah!" Milea membentak kali ini Milea yang menjadi galak, Leonardo sampai merinding ternyata istri imutnya bisa galak juga.


"Ayoh jawab!" bentak Milea lagi dengan mata melotot masih menarik telinga Leonardo.


"Iya aku jawab tapi hentikan tarikannya ini sakit," keluh Leonardo dengan tatapan memohon, ternyata bumil kalau lagi marah mengerikan batin Leonardo.


Sekarang merasa lega karena Milea sudah tidak menarik telinganya lagi, Leonardo mengusap telinganya yang terasa panas.


Milea melipat kedua tangannya di depan dada seraya membuang muka, Leonardo menghela nafas berat melihat tingkah Milea.


Leonardo memeluk Milea dari belakang. "Aku hanya memberikan pelajaran sama dia, toh aku sudah bilang bahwa aku hanya mencintaimu sayang."


"Tidak bisa begitu," sahut Milea ketus.


"Maksudnya?"


"Malam ini kau harus tidur di luar jangan tidur sekamar dengan aku," bicara ketus lagi.


Leonardo menghela nafas berat.


Hah tidak lagi deh memancing bumil marah repot jadinya kalau sudah begini, batin Leonardo yang merasa sudah kapok.

__ADS_1


__ADS_2