
Keesokan harinya.
Gedung Armada Group.
Sebuah mobil sport warna hitam baru saja tiba di halaman depan Gedung Armada Group, Leonardo menyembul keluar lengkap dengan kaca mata hitam, mengusap rambutnya ke belakang dengan gerakan elegan, kemudian berjalan masuk ke dalam gedung disusul sekertaris Alan di belakangnya.
Senyum manis Leonardo pagi ini, diam-diam tertangkap kamera yang diam-diam dilakukan oleh karyawan pengagum Leonardo.
Yang miliki foto sampai yang hanya melihat Leonardo saja, mereka semua jingkrak-jingkrak senang, ahirnya bisa melihat senyum manis Presdir tampannya.
Bagaikan musim semi, karena sepanjang mereka bekerja tidak pernah melihat Leonardo tersenyum, wajah pria itu selalu datar dan dingin, meski begitu tetap ganteng dan banyak fansnya.
Tidak menyangka ternyata Sekertaris Alan balik lagi, mereka semua para karyawan langsung gelagapan segera kembali ke kursi kerjanya masing-masing.
Sekertaris Alan tahu bahwa barusan mereka semua sedang bergosip, dan pasti gosipin Leonardo pikirnya menebak, mata sekertaris Alan menatap dingin ke arah mereka semua yang saat ini terlihat menunduk sok fokus dengan pekerjaannya.
Cih dasar! umpatnya seraya berlalu menuju pintu keluar, ada yang mau Sekertaris Alan ambil di dalam mobil, bekal makanan buatan Milea, kelupaan tidak Leonardo bawa.
Senyumnya pagi Leonardo ada alasannya, Sekertaris Alan membatin pasti karena Milea dan ada sangkutnya dengan bekal di tangannya sekarang.
Di ruang Presdir.
Leonardo tertawa mengingat tadi pagi mengerjai Milea, sampai berujung gadis itu membuatkan bekal makanan untuk Leonardo.
Kejadian sebelum berangkat kantor.
Milea sedang membuat kue di dapur, udah ada bahan tepung dan telur dan bahan kue lainnya, Milea mulai mencampurkan bahan kue tersebut dan mulai mengaduknya.
Tiba-tiba Leonardo datang dengan kejahilannya mengambil telur lalu Leonardo pecahkan dan dimasukan ke dalam adonan kue yang sedang Milea buat.
"Tuan sudah Tuan, ini nanti kebanyakan telurnya," protes Milea ingin menahan Leonardo supaya menyudahi kejahilannya, namun tidak berhasil, ahirnya Milea kesal mengambil satu telur kemudian Milea pecahkan ke lengan Leonardo, karena gemas dengan tingkah pria itu.
Leonardo terkejut.
Milea bertolak pinggang menatap kesal ke arah Leonardo.
Pelayan yang ada di dapur yang juga ikut menyaksikan semuanya jadi tegang sendiri, karena melihat Tuan Muda dan Nona Mudanya saling menatap tajam.
__ADS_1
"Kau apa-apaan membuat baju aku kotor!" Leonardo pura-pura marah seraya melihat lengannya yang kotor kena telur ulah Milea, dalam hati Leonardo sedang tertawa keras karena melihat wajah lucu Milea yang saat ini menatap marah kepadanya.
"Jangan salahkan aku, Tuan yang salah mengapa mengganggu aku!" Milea membentak seolah lupa dengan siapa saat ini berhadapan.
Sumpah pelayan di sekitar dapur jadi merinding sendiri.
Leonardo mendekati Milea lengkap dengan senyum menyeringai, memegang dagu Milea. "Minta maaf sekarang."
Deg.
Mata Milea mendelik baru sadar bahwa dirinya sudah kelewatan. "Maaf Tuan." Melihat wajah Leonardo masih masam, Milea memutar otak untuk mencari solusi. "Pagi ini aku buatkan bekal makanan, tanda maafku, Tuan."
Berhasil, wajah masam Leonardo sedikit tersenyum, kemudian menjauhkan tangannya dari dagu Milea.
Milea bernafas lega setelah Leonardo pergi dari dapur.
Kalo bapaknya seperti itu lalu anaknya seperti apa? ah amit-amit, batin Milea sudah berpikir kemana-mana, tidak lagi melanjutkan membuat kue, Milea membuat bekal makanan untuk Leonardo.
Kembali ke waktu sekarang.
Hahahah.
Mendekati meja kerja pria itu dan menyerahkan kotak bekal makanan di atas meja.
"Alan duduklah."
Mendengar perintah untuk duduk, sekertaris Alan menurut.
Senyum-senyum Leonardo masih nampak di bibirnya, sekertaris Alan juga ikut tersenyum, hatinya tenang bila Leonardo dalam keadaan mood baik.
"Aku mau mengabadikan bekal makanan ini, karena ini yang pertama kali," ucap Leonardo seraya meraih hp dan siap mengambil gambar bekal makanan itu melalui kamera foto.
Sekertaris Alan sampai mendelik, berpikir tidak salah dengar kan, namun sejak kapan Tuannya mau repot-repot mengabdikan hal beginian, sama yang kekasih dahulu saja tidak pernah ribet-ribet foto segala.
Hahah. "Alan hasil gambarnya bagus tidak." Menunjukan foto ke sekertaris Alan.
Sekertaris Alan mau tertawa tapi ia tahan, bagaimana tidak mau tertawa karena hasil gambar Leonardo buram.
__ADS_1
Tuan Tuan, apa Anda ini hanya ahli di dunia bisnis sih, batin Sekertaris Alan seraya geleng-geleng kepala.
Sekertaris Alan mau bicara, namun diurungkan saat pintu terbuka.
"Tuan ada Nona Anggun yang ingin bertemu," ucap Staf Elis memberi tahu, yang saat ini berdiri di ambang pintu.
Leonardo hanya mengangguk, tidak lama kemudian Anggun menyembul masuk, staf Elis kembali menutup pintu tersebut.
Leonardo pindah duduk di sofa, Anggun menuju ke sofa dan duduk di sana.
Anggun memasang senyum manis tidak pernah pudar sedari tadi, tatapan mata yang teduh, serta duduknya yang sopan, bulu matanya yang lentik makin terlihat indah saat Anggun mengedipkan mata.
"Ada apa." Leonardo bicara tanpa ada basa basi, ya seperti inilah Leonardo aslinya cuek dan angkuh, tidak peduli mau sama sahabat, atu kolega bisnis, apa lagi karyawannya.
Anggun tersenyum seraya bicara dengan suaranya yang lembut, "Leon ... aku mau bekerja di perusahaan ini, apa kah ada bagian yang kosong untuk aku?"
Leonardo beralih menatap sekertaris Alan, pria itu mengangguk bertanda bahwa ada bagian yang kosong.
"Ada, tapi kamu harus tetap mengikuti prosedur, kamu harus memasukkan surat lamaran kerja ke perusahaan ini, meskipun aku sahabat kamu, tapi ketentuan diterima atau tidak ada di keputusan HRD," jelas Leonardo tanpa memberi harapan.
"Terimakasih Leon," ucap Anggun senang, kemudian berdiri dan mendekati Leonardo, Anggun mengajak Leonardo untuk berjabatan tangan.
Leonardo berdiri menerima jabatan tangan Anggun, dengan segala triknya yang Anggun miliki karena ingin memeluk Leonardo.
"Leon ... ada kecoa!" Anggun berteriak seraya memeluk Leonardo, Anggun terus pura-pura ketakutan.
Sekertaris Alan mendekat ingin mengecek kecoa itu, namun saat dilihatnya tidak ada.
"Tadi ada di situ," ucap Anggun seraya menunjuk di bawah meja, masih dalam posisi memeluk Leonardo.
Leonardo menatap Anggun bahwa semuanya baik-baik saja, seraya menjauhkan tangan Anggun dari tubuhnya.
Anggun masih pura-pura nampak ketakutan, tapi Leonardo sudah menolak untuk ia peluk, ahirnya tidak memaksa.
Dan setelah Sekertaris Alan cari namun tidak menemukan kecoa juga, ahirnya berhenti mencari menganggap kecoa sudah pergi.
Anggun pura-pura percaya, kemudian ijin pulang karena urusannya sudah selesai, dan akan kembali lagi besok menyerahkan surat lamaran kerja.
__ADS_1
Setelah kepergian Anggun, Sekertaris Alan meminta bagian cleaning servis untuk membersihkan ruangan kerja Leonardo.