Pembantu Tuan Muda

Pembantu Tuan Muda
BAB 20. Tidak bisa menolak.


__ADS_3

Yang terkejut tidak hanya Ibu Alenta dan sepuluh gadis di ruangan tersebut, tapi Milea lebih terkejut yang saat ini masih berada di pelukan Leonardo. Tubuh Milea membeku matanya sampai melotot mau copot.


"Ikuti permainan aku atau keluargamu aku kembalikan hidup susah seperti dulu," bisik Leonardo tepat di telinga Milea, masih dalam memeluk Milea.


Deg!


Gila dasar pria gila! Kenapa kau membawa-bawa aku dalam masalah mu! batin Milea memaki Leonardo, di lihatnya Leonardo yang ternyata saat ini malah tersenyum menyebalkan ke arah Milea, rasanya Milea ingin menjewer telinga Leonardo, gemas campur kesal.


Ibu Alenta yang sedari tadi masih diam karena terkejut, sekarang langsung berdiri berjalan mendekati Leonardo, menarik Leonardo sampai pelukan Leonardo terlepas.


"Omong kosong apa yang kau ucapkan itu Leon!" bentak marah Ibu Alenta seraya menunjuk wajah Leonardo.


Leonardo menurunkan tangan Ibunya yang menunjuk wajahnya. "Bukan omong kosong, aku milih akan menikah dengan Milea, wanita yang sudah aku kenal, dari pada mereka yang aku tidak tahu tujuannya apa mendekatiku," ucap acuh Leonardo dengan sinis melihat para gadis yang masih duduk.


"Leon! Kau mempermalukan Ibu!" Ibu Alenta mengangkat kedua tangannya dengan geram.


"Aku rasa semua sudah selesai." Leonardo menarik tangan Milea meninggalkan tempat tersebut, dan membawa Milea masuk ke dalam ruang kerjanya.


Karena ada yang harus Leonardo bicarakan dengan Milea.


"Lepas!" bentak Milea seraya menarik tangannya yang saat ini sudah berada di ruang kerja Leonardo, entah mendapat keberanian dari mana, Milea bisa bicara dengan nada tinggi.


Leonardo seketika menoleh ke arah Milea, tangan Milea sudah terlepas, gadis itu terlihat mengusap-usap tangan yang tadi Leonardo genggam dengan melihat ke arah lain, Milea wajahnya ditekuk cemberut.


Leonardo tidak pedulikan wajah Milea yang di tekuk, Leonardo berjalan ke arah meja kerjanya lalu mengambil sesuatu di dalam laci meja. Berjalan mendekati Milea lagi seraya memberikan kertas putih yang ada di tangannya untuk Milea.


"Baca!" titahnya dengan tegas, membuat Milea mau tidak mau menerima kertas itu dan membacanya.


Seketika mata Milea membola saat membaca surat perjanjian di rubah, kini menjadi surat perjanjian pernikahan selama dua tahun.


"Tu-tuan serius dengan ucapan Tuan ta-tadi," ucap Milea dengan gugup, bahkan saat ini kakinya sudah bergetar hebat.

__ADS_1


"Menurutmu?" Leonardo berjalan mendekati Milea, Milea mundur sampai membentur dinding.


Milea menggigit bibir bawahnya tiba-tiba menangis, entah mengapa hatinya merasa sesak, harus menikah dengan pria yang tidak dirinya cintai, lebih-lebih pria itu adalah orang yang sangat menyebalkan, dan menikah adalah sesuatu yang sakral.


"Jika aku tidak mau!" ucap Milea dengan nada tinggi.


Leonardo maju selangkah, tangannya menyentuh dinding mengunci tubuh Milea. "Bila kau tidak mau, maka gampang bagiku tinggal membuat perusahaan ayah kamu bangkrut." mundur dua langkah membuat gerakan meniup debu di telapak tangannya.


Deg! Milea merinding melihat itu, bila sudah mengancam soal keluarga, Milea sudah tidak ada keberanian untuk menolak, ah! Lagi-lagi Milea harus pasrah dengan keadaan.


Tiba-tiba Milea teringat anu-anu, bila menikah pasti anu-anu, Milea langsung mengusap air matanya dengan kasar, membalas tatapan Leonardo yang saat ini berdiri tepat di depannya.


Tangan Milea membentuk silang di depan dada. "Tapi Tuan tidak boleh menyentuh aku!" ucapnya ketus, yang langsung membuat Leonardo menyeringai.


Leonardo menyentil kening Milea. "Dasar otak mesum."


Ow! Sakit!! Milea mengusap-usap keningnya yang terasa panas. Bibirnya mengerucut tajam.


"Tuan ... Tuan jangan menyentuh aku!"


Brak!


Krek!


Bersamaan Milea berbicara pintu ruang kerja Leonardo di tutup dan bersamaan itu terdengar suara pintu yang langsung di kunci.


Milea ahirnya pergi dari tempat tersebut, tidak tahu mau kemana, entah ke kamarnya atau di halaman belakang, intinya Milea ingin menyendiri memikirkan masalah hidupnya, bagaimana bisa sudah terjebak menjadi pembantu Leonardo, kini malah berganti terjebak akan menjadi istri Leonardo.


Milea benar-benar merasa sial, dalam pikirannya tentu akan lebih sulit peran menjadi istri, membayangkan akan tidur satu kamar, aaaaa! Milea menjerit dalam hati, sungguh takut dan tidak ingin bila sampai mahkotanya diambil Leonardo, meski nanti sudah menjadi suaminya tapi kan Milea tidak cinta pikir Milea.


Dan di sini lah sekarang Milea, duduk di bangku di halaman belakang di bawah lampu, Milea duduk sendiri sembari bibirnya kunyah-kunyah cemilan, tadi saat melewati dapur Milea mengambil satu toples cemilan dan membawa teko juga untuk nanti bila haus.

__ADS_1


Dalam keadaan pusing Milea biasa melamun sambil ngemil, bibirnya ngedumel merutuki Leonardo yang menyebalkan, untung saja bibirnya tidak ke gigit.


Sementara Leonardo yang saat ini sudah berada di dalam kamar, sedang berbaring di atas ranjang, baru selesai mandi, tiba-tiba merasa telinganya panas, Leonardo mengusap-usapnya supaya rasa panasnya hilang.


Sedangkan Ibu Alenta, saat ini sedang marah-marah di dalam kamar, semua bantal Ibu Alenta lempar ke lantai, marah kecewa jadi satu karena ulah Leonardo.


"Aku tidak mau miliki menantu miskin seperti dia!"


Ngocehnya terus sembari berteriak, meluapkan emosi dalam diri Ibu Alenta, benar-benar tidak habis pikir dengan Leonardo yang akan mempermalukan derajat Ibu Alenta, membayangkan saja tidak sanggup bila para teman sosialitanya menertawakannya.


"Leon ...."


Teriknya seraya melempar bantal lagi, tidak puas Ibu Alenta menarik separi sampai sobek, rasa marahnya penuh dalam dada, bagaikan akan melahap orang.


Berbeda dengan Leonardo yang kini malah tersenyum puas, puas berhasil keluar dari rencana Ibunya, dan soal Milea, Leonardo tahu bahwa gadis itu sangat penurut tidak tahu apa-apa.


Wajahnya yang ketakutan, serta mata polosnya mampu menarik Leonardo, pria itu saat ini tengah senyum-senyum sendiri mengingat wajah Milea saat ketakutan yang terlihat lucu menggemaskan.


Tanpa sadar kini Milea lah wanita pertama yang mampu membuat Leonardo tersenyum lagi setelah merasakan kecewa yang teramat dalam ulah wanita di masa lalunya.


Berbeda lagi dengan Milea, saat ini yang merasa kesal sudah ngemil habis satu toples tapi rasa kesalnya belum hilang, malah nyamuk menggigit tangan dan kakinya bahkan mencuri menggigit pipinya juga.


Plak! Plak!


Suara tangan Milea menangkap nyamuk di lengannya.


"Hei nyamuk! Kau tidak tahu aku lagi marah, tapi kau malah menggigit ku, sini tunjukan kepala kamu biar aku gigit!"


Milea mau menangkap nyamuk dan mau menggigitnya.


Aaaaaaa! Milea berteriak, kesal intinya Milea kesal, tidak ingin di gigit nyamuk terus-menerus, Milea putuskan masuk ke dalam rumah, bibirnya masih ngedumel dengan kaki yang di hentak-hentakkan.

__ADS_1


__ADS_2