Pembantu Tuan Muda

Pembantu Tuan Muda
BAB 61. Undangan makan malam.


__ADS_3

"Le-leon," ucap Ibu Alenta gugup, saat wajah sang putra terlihat marah yang kini berjalan mendekatinya.


Sebelum bicara Leonardo membanting vas bunga yang ada di atas meja depan Ibu Alenta duduk.


Ibu Alenta menutup kedua telinganya dengan mata terpejam, kaget? itu lah yang Ibu Alenta rasakan.


Tiba-tiba Ibu Alenta kepikiran ulahnya barusan yang mengerjai Milea, tapi yakin tidak mungkin bila Leonardo tahu, karena merasa dirinya sudah membayar mahal orang suruhannya, dan tidak mungkin juga Leonardo menemukan orang suruhannya.


Ibu Alenta masih berusaha menyangkal bahwa kemarahan Leonardo saat ini bukan karena ulahnya barusan, sampai kini mendapat sebuah pertanyaan dari Leonardo yang sulit Ibu Alenta jawab.


"Ibu berikan tas Ibu sekarang." Leonardo bicara dingin seraya mengulurkan tangannya untuk meminta tas yang biasa Ibu Alenta bawa.


"Le-leon, untuk apa?"


Perasaan Ibu Alenta tidak enak, khawatir bila Leonardo akan mengambil semua kartu-kartu miliknya.


Leonardo membungkuk menatap dekat wajah ibunya. "Seperti yang pernah aku bilang, bila Ibu berani menjahili Mele, aku akan memberi perhitungan pada Ibu."


Selesai bicara Leonardo langsung mengambil tas ibunya, membuka isi di dalamnya, dan mengambil semua kartu-kartu milik Ibu Alenta.


Leonardo mengembalikan tas ibunya, kartu-kartu itu Leonardo tunjukan di depan ibunya, kemudian ia bawa pergi.


Ahh!


Sial sial!


Umpat kesal Ibu Alenta, tangannya memukul-mukul kursi sofa, sekarang sudah tidak bisa berbuat apa-apa lagi, tidak bisa belanja juga tidak bisa keluar, hidup tapi seperti mati karena tidak memegang uang.


Melihat masih ada hp, namun kemudian Ibu Alenta banting karena merasa hp tidak berguna.


Arghhhh!


Ibu Alenta berteriak kesal.


Di kamar utama, Leonardo baru saja masuk ke dalam sana, melihat Milea yang tertidur pulas, Leonardo ikut naik ke atas ranjang, tangannya membentuk siku untuk menyanggah kepalnya, Leonardo memperhatikan wajah Milea.


Telapak tangannya diletakkan di kening Milea. "Tidak demam," gumamnya seraya tersenyum.


Maaf ya karena ulah ibuku kamu jadi seperti ini, pasti tadi kamu ketakutan.


Tiba-tiba ponsel Leonardo bunyi, ada yang nelpon, Leonardo mengangkat telepon tersebut.


"Leon, nanti malam bisa datang ke acara makan malam di restoran xx," suara seseorang di sambungan telepon setelah Leonardo angkat.


"Jam berapa, Paman?"


"Jam delapan malam usahakan sudah sampai ya, ajak istri juga ibumu," ucap pria itu lagi di sambungan telepon.


Leonardo melihat jam di dinding, merasa masih ada waktu. "Baik, Paman saya bisa."

__ADS_1


Kemudian sambungan telepon terputus.


Leonardo berjalan ke kamar ibunya untuk memberitahu makan malam bersama Paman nanti malam.


Tidak lama kemudian Leonardo sudah kembali lagi ke dalam kamarnya, duduk di pinggir ranjang, saat ini Milea sudah bangun, baru saja membuka mata, Milea melihat ada Leonardo.


"Tuanku," sapanya sembari duduk.


Leonardo menoleh sekilas kemudian sibuk lagi dengan ponsel di tangannya. Milea mau turun ranjang, mau mencuci muka.


"Bersiaplah, pukul tujuh malam nanti kita keluar."


Milea yang sudah mau berjalan kembali diurungkan saat mendengar ucapan Leonardo barusan.


Milea menoleh. "Tuanku, kita mau kemana?"


Leonardo tidak menjawab, hanya tersenyum manis melihat Milea.


Membuat Milea jadi bingung, apa sih maksudnya pikir Milea.


Tepat pukul tujuh malam, mereka beneran keluar rumah, Milea masih bingung karena Leonardo tidak menjelaskan, Ibu Alenta kesal melihat sikap sok polos Milea.


Kini semua sudah berada di dalam mobil yang sedang melaju, mereka pergi bersama sopir.


Milea duduk di belakang bersama Ibu Alenta, Milea merasa hawa-hawa tidak enak duduk bersama ibu mertua.


Karena sudah dapat dipastikan bila Leonardo mengajak Milea ke butik mahal karena ingin mendandani Milea supaya cantik.


Kampungan ya tetap kampungan! batin kesal Ibu Alenta.


Di dalam butik, Milea saat ini sedang didandani, sudah memakai baju bagus, tapi Milea masih bingung.


Apa kita akan ke pesta? aaaa romantis banget Tuanku, batin Milea berbunga-bunga.


Tidak lama kemudian Milea sudah selesai, Leonardo terbengong saat melihat penampilan cantik Milea.


Leonardo meraih tangan Milea untuk ia genggam berjalan bersama, namun baru dua langkah tiba-tiba Milea mau jatuh.


Leonardo menoleh melihat kali Milea.


"Aku tidak bisa berjalan menggunakan sepatu hak tinggi."


Dua pelayan butik yang tadi membantu Milea senyum-senyum mendengar ucapan Milea.


Leonardo yang tidak mau waktunya terbuang-buang hanya karena menunggu Milea yang berjalan pelan.


Ahirnya milih menggendong Milea ala bridal style, dua pelayan butik tadi menggangga mulutnya saat melihat Leonardo begitu romantis.


Ibu Alenta makin jengah saat melihat Leonardo menggendong Milea yang kini mulai berjalanan mendekati mobil.

__ADS_1


Setelah duduk di dalam mobil, Milea senyum-senyum seraya melirik Ibu Alenta yang bibinya cemberut, membuat Milea makin tersenyum.


Mobil kini melaju lagi, dengan perjalanan kurang lebih tiga puluh menit, mobil sudah sampai di restoran tempat undangan makan malam dari paman.


Ibu Alenta berjalan lebih dulu tidak mau melihat kemesraan Leonardo dan Milea.


Sementara itu Leonardo harus berjalan pelan karena Milea tidak bisa berjalan cepat, jalannya susah saat menggunakan sepatu hak tinggi.


"Alenta, apa kabar?"


"Baik, Arya."


Mereka berdua saling berpelukan, Arya adalah adik dari Ibu Alenta.


"Kamu sendiri? Leon dimana?" tanyanya saat melihat Leonardo tidak datang bersama Ibu Alenta.


Ibu Alenta langsung membuang nafas panjang tahu bila Milea jalannya lambat seperti keong.


Dasar kampungan jalan saja lambat! batin kesal Ibu Alenta terhadap Milea.


Ibu Alenta mau menjawab, tapi Arya lebih dulu melihat Leonardo yang saat ini berjalan dengan seorang wanita.


"Leon," sapanya setelah Leonardo berdiri di depannya, kemudian beralih menatap Milea. "Ini istri kamu?" tersenyum ke arah Leonardo.


Leonardo mengangguk.


"Wah ... istrimu cantik sekali, silahkan duduk."


Milea dan Leonardo ahirnya duduk setelah dipersilahkan. Menu makanan baru mau dipesan setelah semuanya kumpul.


"Istri dan anak kamu tidak datang?" tanya Ibu Alenta pada Arya.


"Tidak, mereka ada kesibukan sendiri."


"Padahal kita sudah lama tidak kumpul, Paman." Leonardo ikut menimpali, Milea hanya tersenyum bingung mau bicara apa.


"Ya, begitulah dari dulu kan kamu tahu keluarga Paman seperti apa." Terlihat ada kesedihan di wajah Arya.


"Paman tinggal dimana?" Milea langsung menutup mulut saat sadar sudah ikut-ikutan bertanya, dan ulahnya itu langsung mendapat tatapan tajam Ibu Alenta.


Arya tersenyum. "Leon, ajaklah istri kamu main ke rumah Paman, supaya tahu rumah Paman."


Leonardo hanya tersenyum.


"Leon! hei kamu Leon, kan?"


Seorang wanita cantik tiba-tiba datang menyentuh lengan dan dagu Leonardo untuk menatap balas wanita itu.


Milea bingung saat tiba-tiba ada wanita cantik yang datang juga mengenali nama Leonardo, tapi lagi-lagi Milea sadar, bahwa siapa sih yang tidak kenal Leonardo, hatinya cemburu melihat wanita itu.

__ADS_1


__ADS_2