
9 bulan kemudian.
Kehamilan Milea sudah berusia sembilan bulan, jadwal persalinan sekitar dua Minggu lagi.
Saat ini calon ibu muda itu sedang berada di pusat perbelanjaan bersama Leonardo juga Sekertaris Alan, yang tidak pernah ketinggalan kemana pun Leonardo pergi.
Pokoknya akan selalu Leonardo ajak bersama, bukan tanpa alasan yang pasti untuk melindungi Leonardo dari kemarahan Milea, ternyata selama hamil Milea suka marah-marah tidak jelas.
Leonardo pernah di hukum bersihin WC saat membuat Milea marah hanya karena mie ayam milik Milea direbut Leonardo dan dihabiskan pria itu.
Pernah juga saat di pusat perbelanjaan, Milea melihat badut, dan meminta Leonardo harus jadi badut, lagi-lagi karena Milea marah saat itu Leonardo telat menjemputnya.
Apa lagi kalau tidur di luar, sering Leonardo lakukan, hanya karena alasan Milea yang tidak masuk akal, mengatakan Leonardo bau.
Tapi anehnya hanya waktu malam hari, kalau pagi hari Milea nempel terus, entahlah Leonardo dibikin pusing dengan tingkah Milea selama hamil.
Dan sekarang baru saja sampai di pusat perbelanjaan, Milea sudah ambil-ambil barang yang entah perlu atau tidak.
Sekertaris Alan sampai geleng-geleng kepala, apa lagi melihat wajah Leonardo yang berubah pias takut dikerjain Milea lagi, Sekertaris Alan jadi ingin tertawa.
Nona Lea memang unik, lihatlah dia mampu membuat Tuan Leonardo takut, pria yang tidak pernah takut sama siapa pun ternyata bisa tunduk sama istrinya, batin sekertaris Alan.
Leonardo hatinya ketir-ketir melihat Milea yang terus memasukkan barang belanjaan, lihatlah sekarang keranjang troli sudah hampir penuh, ini baru belanjaan kebutuhan makanan belum belanja kebutuhan bayi.
Hah tau gini Leonardo tadi membawa sepuluh pelayan untuk menemani dirinya belanja. Bisa repot kalau cuma berdua dengan sekertaris Alan.
Leonardo berbicara dengan bahasa mata meminta Sekertaris Alan untuk menegur Milea supaya sudah mengambil belanjaan lagi karena sudah banyak.
Tapi Sekertaris Alan menggelengkan kepalanya, mana berani melakukan hal tersebut, bisa jadi malah dirinya terkena amukan Milea.
Leonardo menghela nafas berat, dirinya juga tidak berani meminta Milea untuk menyudahi aksinya, sementara Milea saat ini masih mengambil botol kecap dan botol saus, karena di rumah memang sudah habis.
"Ok sudah selesai, sekarang kita belanja baju bayi," ucap Milea dengan semangat setelah memasukkan botol kecap dan botol saus ke dalam keranjang.
__ADS_1
Milea mau segera berjalan tidak pedulikan Leonardo juga Sekertaris Alan yang harus mendorong troli, namun Leonardo segera memegang lengan Milea.
"Mele?"
Milea menoleh. "Kenapa," ucapnya ketus seolah tidak suka dihalang-halangi.
"Pelan-pelan? Jangan lari-lari," ucap Leonardo ahirnya kalimat itu yang keluar dari bibirnya, sungguh Leonardo tidak bisa marah sama Milea, niat hati tadi ingin bicara tegas tapi yang keluar malah kelembutan yang langsung membuat Milea tersenyum.
Dan melihat Milea tersenyum seketika rasa kesal Leonardo pada Milea barusan hilang. Ya begitulah Leonardo mau semarah apa pun dan pada siapa pun akan langsung mereda amarahnya tiap kali melihat senyum Milea.
Senyum Milea bagaikan obat manjur untuk Leonardo.
Ahirnya mereka berjalan bersama menuju kasir, sampai di sana, Leonardo dan Milea meninggalkan sekertaris Alan untuk menyelesaikan administrasi, sementara Milea dan Leonardo menuju toko penjual pakaian bayi.
Hah apes-apes mereka pergi aku ditinggal sendiri, dengan belanjaan sebanyak ini, batin sekretaris Alan.
meskipun hatinya kesal sekretaris Alan tetap melakukan perintah Leonardo, melihat belanjaan segitu banyak belum juga pakaian bayi, sekertaris Alan sudah merasa capek lebih dulu padahal belum melihat berapa banyak belanjaan perlengkapan bayi.
sementara itu sekretaris Alan yang sudah selesai melakukan administrasi membawa barang-barang tersebut ke mobil dimasukkan ke bagasi mobil setelah semua selesai sekretaris Alan menemui Leonardo di toko pakaian bayi.
sampai di sana sekretaris Alan ingin tertawa melihat Leonardo meletakkan penutup kepala bayinya di kepala Leonardo, sementara milea ingin mengambilnya tapi Leonardo tidak mengizinkannya.
"Tuanku kemarikan penutup kepalanya, nanti bisa rusak!" ucap kesal Milea karena Leonardo terus menahannya.
Hahaha!
Leonardo malah tertawa, ahirnya Milea pasrah tidak mau merebut lagi. Milea milih fokus mengambil pakaian yang belum Milea ambil.
Dan benar saja, setelah berbelanja perlengkapan bayi ternyata setelah dimasukkan ke dalam kantong menjadi banyak kantong, melihatnya saja Sekertaris Alan sudah menghela nafas panjang.
Tangan kanan kiri Leonardo juga tangan kanan kiri Sekertaris Alan penuh dengan belanjaan yang isinya semua perlengkapan bayi.
Jemari Leonardo semakin terasa sakit untuk membawa kantong itu, tapi tidak bisa mengeluh, dan saat Milea melihat wajahnya, Leonardo tersenyum.
__ADS_1
Milea tidak tahu apa yang sedang Leonardo dan Sekertaris Alan rasakan.
Setelah semua keperluan di beli, mereka memutuskan untuk pulang. Rasanya langsung lega setelah duduk di dalam mobil, tidak kebayang andai bumil masih lanjut belanja lagi, rasanya tidak kuat lagi Leonardo untuk berdiri, lelah? Itu lah yang Leonardo rasakan.
Sekertaris Alan yang saat ini sedang mengemudikan mobil sampai menggerak-gerakkan jemarinya yang terasa kaku.
Tiba-tiba Milea tertidur dan menjatuhkan kepalanya di pundak Leonardo. Leonardo langsung melirik Milea.
Hah sudah lelah capek tapi harus gendong nanti kalau sudah sampai rumah begitulah arti lirikan Leonardo.
Setelah tiga puluh menit mobil sampai di rumah utama, benar saja Leonardo menggendong Milea yang lagi tidur dibawa masuk ke rumah.
Saat hamil berat badan Milea tentu nambah, tapi Leonardo tidak mengeluh tetap terus menggendong Milea melewati tangga sampai tiba lantai tiga, masuk ke dalam kamar dan segera membaringkan Milea di atas ranjang dengan perlahan.
Tapi setelah itu nafas Leonardo ngos-ngosan, sudah seperti habis lomba lari.
Hah! Hah!
Leonardo masih diam duduk di pinggiran ranjang, belum menyelimuti tubuh Milea, Leonardo masih mengatur nafas.
Setelah nafas kembali teratur Leonardo menyelimuti tubuh Milea, mengecup kening Milea begitu dalam sebelum ahirnya pergi dari sana.
Leonardo turun ke lantai satu, memerintah pelayan untuk mengambil barang belanjaan, seperti kebutuhan makanan yang cepat rusak harus segera dimasukkan ke dalam almari pendingin.
Sementara perlengkapan bayi harus segera dimasukkan ke dalam kamar calon bayinya. Sekertaris Alan yang membantu memasukkan perlengkapan bayi ke kamar bayi langsung menghela nafas panjang sampai di sana.
Tugas baru yang harus dikerjakan, nyatanya yang dikatakan kamar bayi belum terbentuk seperti kamar bayi malah terlihat seperti gudang, karena belum dirapihkan.
"Alan jangan pulang dulu nanti bantuin saya membereskan kamar bayi!"
Nah kan baru saja di batin Ayah calon bayi sudah memberi perintah.
"Baik Tuan," jawab Sekertaris Alan dari dalam kamar sana, dengan berteriak juga.
__ADS_1