
Pintu terbuka.
Pembicaraan Leonardo di dalam sana terhenti saat melihat siapa yang datang.
Mele ku datang, Leonardo tersenyum kecil, hatinya bahagia melihat Milea datang ke kamar tanpa ia pinta.
Anggun juga melihat ke arah mata Leonardo yang terus memperhatikan orang yang baru masuk kamar.
Milea senyum-senyum seraya melangkah masuk menuju meja samping ranjang untuk meletakkan nampan yang dirinya bawa.
Mereka bicara apa ya? kenapa malah diam saja dan memperhatikan aku, batin Milea seraya tersenyum menatap ke arah Leonardo juga ke arah Anggun.
Milea menunduk hormat ke arah Anggun.
"Tuan saya bawakan air minum," ucap Milea seraya menunjukan gelas yang barusan ia bawa.
Milea jadi salah tingkah saat Leonardo menatap lekat wajahnya.
Anggun tidak suka melihat Leonardo sampai segitunya menatap gadis yang menurutnya adalah pelayan.
Anggun ikutan bicara untuk memutus pandangan mata Leonardo ke arah Milea.
"Pelayan, saya juga mau minum, boleh minta tolong ambilkan?"
Yang terkejut bukan Milea, tapi Leonardo, pria itu sampai menoleh ke arah Anggun saat wanita itu memanggil Milea seorang pelayan.
Milea mengangguk kemudian ijin keluar untuk mengambil air minum lagi.
Hah Lea Lea, kamu memang cocoknya jadi pelayan, sampai-sampai orang yang baru melihat kamu menganggap kamu sebagai pelayan, batin Milea seraya melihat baju yang ia pakai.
Hah memang ya mau dilihat dari sudut manapun kamu memang hanya pantas dipanggil pelayan, wajah pas-pasan juga, hah sudahlah, batin Milea lagi seraya terus berjalan, fokus mau ambil air minum.
Sampainya di dapur saat Milea menuang air putih di dalam gelas, Milea jahil memberikan sedikit garam.
Biar dia tahu rasa! batin kesal Milea, kemudian membawa air minum itu ke kamar Leonardo.
Milea yang saat ini sudah sampai di depan pintu kamar Leonardo, berdiri di sana ingin menguping pembicaraan di dalam sana.
"Jadi aku sudah tidak bisa bekerja di Armada Group, Leon?" tanya Anggun dengan mata berkaca-kaca.
"Kamu tahu kan, bahwa perusahaan yang aku bangun itu miliki banyak aturan, meski kamu adalah sahabat aku, aku tidak akan ikut campur, semuanya aku serahkan sama bawahan aku."
"Tapi Leon? aku datang kemari lebih dulu karena menjenguk kamu." Anggun menjelaskan alasannya yang tidak datang ke perusahaan untuk menyerahkan surat lamaran kerja.
"Tapi aku kan tidak memintamu datang kemari, harusnya kamu bisa ke perusahaan lebih dulu baru kamu datang kemari."
"Ta-tapi-," ucapan Anggun terhenti saat tiba-tiba pintu kamar terbuka
__ADS_1
Milea masuk ke dalam, berdiri lama di luar juga tidak mendengar apa yang mereka berdua bicarakan, ahirnya Milea milih masuk saja.
Anggun menerima gelas yang Milea berikan.
Milea langsung mau pergi namun langkahnya terhenti saat tiba-tiba mendengar suara Leonardo.
"Suapi aku."
Deg.
Yang terkejut bukan Milea saja tapi Anggun juga, Leonardo minta disuapi, maka dengan senang hati Anggun menyuapi Leonardo dengan sepotong kue.
Saat Milea menoleh ke belakang, melihat Leonardo yang sedang disuapi kue oleh Anggun.
Mata Milea seketika panas melihat pandangan itu, tangan Milea terkepal kemudian pergi dari kamar seraya membanting pintu.
Anggun langsung terlonjak kaget mendengar suara pintu yang dibanting keras.
Leonardo malah tersenyum puas.
Milea yang sadar sudah membanting pintu tidak enak hati, gadis itu masih berdiri di depan pintu, tangannya meraba-raba pintu takut rusak, namun saat teringat kembali Leonardo yang disuapin wanita lain, hati Milea kembali panas. Milea langsung berjalan pergi.
"Kamu tahu-," Leonardo menjeda ucapannya, matanya masih terus menatap ke arah pintu.
Anggun langsung menoleh melihat Leonardo, ingin tahu apa yang akan pria itu mau ucapkan.
Anggun makin penasaran, tidak! bukan penasaran hanya saja bingung kenapa Leonardo malah membahas pelayan pikirnya.
"Dia adalah istriku."
Deg.
Jantung Anggun langsung terpacu hebat, tangannya sampai memegang pinggiran kursi, begitu terkejut mendengar pengakuan Leonardo.
Anggun menggelengkan kepala. "Leon, kamu becanda?" tanya Anggun seraya tersenyum yang dipaksakan.
Leonardo menoleh ke arah Anggun. "Sebelum kau terlalu dalam mencintaiku, sebaiknya mundur dari sekarang."
Leonardo menunjukan foto pernikahannya dengan Milea yang ada di hp nya.
Anggun semakin terkejut, mungkin jika tidak dalam posisi duduk, Anggun sudah ambruk ke lantai.
Leon aku sudah mencintaimu begitu dalam, batin Anggun menjawab dalam keterkejutannya.
"Kamu tahu bila aku mencintaimu Leon?" tanya Anggun, mata yang tadi berkaca-kaca kini menangis sudah.
"Sudah lama, tapi aku tidak bisa membalas cintamu," jawab Leonardo jujur, tanpa ada yang ia tutup-tutupi.
__ADS_1
Anggun langsung memegangi dadanya, sakit seketika rasanya di dalam sana, tidak menyangka pria yang dicintainya secara diam-diam tahu bila dirinya mencintai tapi diam saja dan tidak membalas cintanya.
"Kamu jahat Leon! kamu jahat!" teriak Anggun tidak terima mendengar kejujuran Leonardo, Anggun merasa Leonardo mempermainkannya.
Setidaknya jika Leonardo sudah tahu sejak lama, harus bicara dari dulu, bukan sekarang disaat dirinya mau berjuang, Anggun menangis pilu.
"Kenapa kamu setega ini dengan sahabat kamu Leon? kenapa?" tanya Anggun di sela-sela tangisnya dengan suara yang terdengar begitu terpukul.
"Bukannya cinta kamu yang menyakiti kamu sendiri." Leonardo bicara acuh, suaranya kembali terdengar dingin.
Anggun langsung menghentikan tangisnya, menatap dalam ke arah mata Leonardo.
"Iya! cintaku yang menyakiti aku, cintaku yang tulus untuk kamu, cintaku yang hanya untuk kamu, untuk kamu semua untuk kamu!" Anggun mengatakan semua perasaannya dengan berteriak dan menangis.
Arrgghh!
Anggun bangkit dari duduknya lalu pergi dari kamar tersebut, hati Anggun hancur sudah tidak ada harapan lagi, cintanya kalah dengan pelayan jelek yang barusan ia lihat.
Ibu Alenta yang duduk di ruang keluarga mendadak bingung melihat Anggun yang habis keluar dari dalam kamar Leonardo tiba-tiba menangis.
"Sayang kenapa?" Ibu Alenta menghalangi jalan Anggun.
Anggun memberontak saat tangannya dipegang Ibu Alenta. "Lepas Tante, aku mau pulang!"
Anggun langsung berlari setelah berhasil melepas tangan Ibu Alenta.
"Anggun ... Anggun!" teriak Ibu Alenta seraya mengejar langkah kaki Anggun yang begitu cepat berlari.
Sampainya Ibu Alenta di halaman rumah, Anggun sudah menjalankan mobilnya melesat pergi.
Ibu Alenta hanya bisa menatap mobil Anggun yang baru saja pergi, dengan banyak pertanyaan-pertanyaan dalam benaknya.
Ibu Alenta masuk ke dalam rumah lagi dan kebetulan bertemu Leonardo di tangga, Ibu Alenta berjalan cepat mendekati Leonardo.
Leonardo mau balik badan malas meladeni ibunya.
"Leon tunggu!"
Leonardo tetap terus berjalan kembali naik tangga.
"Leon tunggu!" bentak Ibu Alenta yang kedua kali, kali ini lebih keras suaranya.
Leonardo menghentikan langkahnya.
Ibu Alenta menatap punggung Leonardo "Kenapa Anggun menangis! apa yang sudah kamu lakukan!"
Leonardo menoleh ke belakang. "Aku cuma bilang bahwa Milea adalah istriku," jawab santai Leonardo.
__ADS_1
Kepala Ibu Alenta langsung berdenyut mendengar jawaban Leonardo, berantakan sudah rencananya.