Pembantu Tuan Muda

Pembantu Tuan Muda
BAB 56. Pantatnya sakit.


__ADS_3

Gedung Armada Group.


Setelah Suci pergi meninggalkan ruang kerja Leonardo.


Tertawa puas dalam hati Milea saat melihat Suci pergi dengan kekesalan, tanpa sadar bibirnya tersenyum, dan Leonardo melihat senyum itu.


Leonardo memencet hidung Milea. "Kenapa kau nakal sekali sampai berani mengerjai klien aku, hem."


"Em- em lepas," ucap Milea yang kehabisan nafas.


Leonardo berhenti memencet hidung Milea, seketika Milea bisa menghirup oksigen, Leonardo menatap Milea dengan seringai tipis di bibir.


Leonardo mendorong wajah Milea ke belakang sampai membentur sandaran kursi sofa, dengan keningnya.


Membuat kini wajah mereka begitu dekat bahkan kening mereka saling menempel, posisi tangan Leonardo melingkar di pinggang Milea, gadis itu hanya bisa mendelik dengan jantung berdebar-debar.


Pandangan mata keduanya saling mengunci melihat satu sama lain, Leonardo perlahan mulai memiringkan wajahnya, mendekat, makin dekat, lebih dekat, menempel bibir Milea.


Pintu terbuka.


"Tuan, CEO dari perusahaan Arashi sudah tiba." Selesai bicara Sekertaris Alan menundukkan kepala, tahu yang duduk di sana sedang apa, dan siap akan mendapat Omelan karena sudah mengganggu.


Batin Milea lega mendengar suara Sekertaris Alan, tapi masih bingung karena Leonardo belum menjauhkan wajahnya dan bibir mereka masih saling menempel.


Milea merasakan tangan Leonardo yang berada di belakang pinggangnya terkepal, dan ....


Brukk!!


Aww! pekik Milea saat pantatnya mencium lantai karena Leonardo tiba-tiba berdiri membuat Milea jatuh, karena tadi berada di pangkuan Leonardo.


Sementara Leonardo bersama sekertaris Alan langsung keluar dari ruang kerjanya, untuk bertemu CEO dari perusahaan Arashi.


"Tuan Leonardo ..." teriak Milea menahan kekesalan, bagaimana tidak kesal saat ini merasakan pantatnya sangat sakit.


"Lihat saja aku akan balas perbuatanmu! aku akan balas!" teriak Milea lagi seraya meninju ke udara.


Dengan susah payah, Milea berusaha bangun membawa tubuhnya kembali duduk di kursi sofa, Milea bersandar di sana.


Di ruang lain.

__ADS_1


Leonardo sedang melanjutkan meeting bersama CEO Arashi, mereka membahas proyek pembangunan asrama pondok pesantren yang ada di Jawa timur.


Mereka berdua adalah sahabat, tujuan dari pembangunan ini adalah sebuah hadiah untuk kota tersebut, awalnya cuma Leonardo yang ingin membantu pembangunan asrama itu, tapi CEO Arashi juga ingin ikut membantu.


"Lima puluh persen dari kamu dan lima puluh persennya dari aku," ucap CEO Arashi seraya menunjukan grafis gambar berapa banyak dana yang akan dibutuhkan nanti.


Leonardo menatap intens sahabatnya itu. "Kamu yakin akan menyumbangkan lima puluh persen, tidak keberatan?"


"Tidak, yang aku berikan adalah uang milik ayah, supaya harta ayah lebih berkah."


"Ikhlaskan ayahmu pergi," ucap Leonardo seraya menepuk pundak CEO Arashi.


Setelah semua disepakati, mereka berdua bertanda tangan, dan setelah itu CEO Arashi pamit untuk kembali ke perusahaannya.


Leonardo pun kembali ke ruang kerjanya, sampai di sana melihat Milea yang tidur di atas sofa, Leonardo mendekat hanya berdiri melihat Milea yang lagi tidur.


Leonardo ingin menjahili Milea lagi, tapi saat Leonardo menatap sekertaris Alan, pria itu menggeleng.


Baiklah kali ini aku nurut sama Alan, karena aku kasihan melihat kamu yang terlihat kecapean, kasihan? maaf ya sudah membawa-bawa kamu dalam masalah aku, batin Leonardo seraya mengusap puncak kepala Milea.


Leonardo berjalan menuju kursi kerjanya, di depan meja kerjanya sudah ada Sekertaris Alan yang juga sedang bekerja. Satu meja untuk dua orang, tapi meja kerja milik Leonardo luas dan lebar.


Ya, Leonardo tahu bila Suci wanita suruhan ibunya, tidak perlu banyak tanya dari mana Leonardo bisa tahu, yang orang lain tidak tahu, Leonardo bisa tahu, karena miliki banyak mata-mata.


Bagaimana tidak kecewa, belum nikah disuruh nikah, sudah nikah malah disuruh bubar, kan bikin pusing, Leonardo saja pusing hanya saja malas mikirin.


Ahirnya Leonardo menyibukkan diri dengan pekerjaan, tidak mau mengingat perbuatan ibunya yang barusan dilakukan.


Sibuk bekerja sampai tidak terasa waktu sudah menunjuk pukul dua siang, Sekertaris Alan memesan makanan, tidak lama kemudian makanan pesanannya datang, Leonardo dan Sekertaris Alan makan siang lebih dulu.


Milea masih tidur, Leonardo tidak tega membangun kan, namun Milea sudah dibelikan makan siang.


Selesai makan siang Leonardo dan Sekertaris Alan lanjut kerja lagi, mereka berdua fokus dengan laptop masing-masing.


Pukul tiga sore, Milea bangun tidur, membawa tubuhnya untuk duduk, melihat dua pria tampan yang saat ini masih sibuk kerja.


Milea melihat jam dinding terkejut saat tahu sudah pukul tiga sore, bergumam bahwa tidur sudah lama sekali.


Tiba-tiba mencium aroma makanan yang enak, yang asalnya dari atas meja, Milea melihat ke arah meja, di sana ada bungkusan, yang Milea sendiri tidak tahu jenis makanan apa tapi aromanya lezat sekali.

__ADS_1


"Tuanku, ini untuk siapa?" bertanya seraya tangannya meraih makanan itu.


Tidak mendapat sahutan dari Leonardo, Milea menoleh ke arah pria itu yang ternyata masih sibuk bekerja.


"Aku makan ya ... lapar hehe."


Leonardo hanya menoleh sekilas kemudian fokus lagi dengan laptopnya.


Habis bangun tidur lalu makan, enak sekali hidupmu Milea, begitulah arti tatapan sekilas Leonardo.


Setelah Milea membuka bungkusnya ternyata isinya nasi Padang, Milea langsung tersenyum kemudian segera memakannya.


"Baca doa."


Milea mendelik sampai menghentikan mengunyahnya, saat mendengar ucapan Leonardo yang bicara tapi masih terus fokus dengan laptopnya.


Milea jadi malu, karena lapar sampai lupa tidak berdoa. Sekertaris Alan hanya menggeleng kepala sembari tersenyum kecil.


Sehari ini Milea hanya berada di kantor Leonardo, karena tadi ketiduran jadi tidak jadi untuk datang ke toko rotinya.


Sampai tiba sore hari pukul lima sore, mereka pulang ke rumah. Seperti biasanya sekertaris Alan yang akan mengantar mereka pulang lebih dulu.


Tiga puluh menit mobil yang mereka tumpangi sudah sampai di rumah utama.


Leonardo langsung memerintah Alan untuk pulng, malam ini tidak ada pekerjaan untuknya lagi.


Saat Milea berjalan menuju kamarnya, merasakan pantatnya sakit cenut-cenut, saat dibawa duduk tidak seberapa terasa.


Haduh mengapa begini ya, gumam Milea sembari terus berjalan menuju kamar.


Sementara Leonardo masuk ke kamar Ibu Alenta, melihat putra satu-satunya dan anak satu-satunya datang ke kamarnya, Ibu Alenta langsung berakting nangis dan menunjukan wajah sedih.


"Sayang, tadi Ibu jatuh ke kolam renang."


Huhuhu, Ibu Alenta akting nangis, mengadu musibahnya tadi.


Leonardo yang saat ini duduk di pinggiran ranjang milik ibunya hanya menghela nafas panjang.


"Lain kali Ibu harus lebih berhati-hati."

__ADS_1


"Iya sayang, untung saja tadi ada pelayan yang menolong Ibu, bila tidak ada sudah tidak tahu Ibu."


Huhuhu, akting nangis lagi tapi hatinya tertawa akan menjual kesedihannya untuk mengambil hati Leonardo.


__ADS_2